NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Berbeda

Kenapa Aku Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Bel istirahat berbunyi, nyaring memecah suasana kelas. Anak-anak lain langsung berhamburan keluar, tapi Resty dan Dinda masih duduk diam di bangku belakang.

"Aku kira bakal push up sampai tangan gemeteran," bisik Dinda sambil nyender ke tembok. "Ternyata Bu Maya baik hati juga ya."

Resty ketawa kecil, napasnya lega."Iya...! kita kan baru beberapa hari masuk. mengenalnya juga baru sekarang. Mungkin wajahnya emang kelihatan garang, tapi hatinya baik."

Dinda ngangguk setuju. Dia ngeluarin bekal dari tas, roti sobek isi cokelat. Tanpa bilang apa-apa dia nyodorin separuh ke Resty. "Nih, buat ngilangin tegangnya."

Resty nerima. Roti itu jadi berasa paling enak sedunia setelah drama barusan. Dari depan kelas, suara Bu Maya yang lagi beres-beres buku terdengar pelan. Sekilas Bu Maya menoleh ke arah mereka berdua, terus senyum tipis sebelum keluar kelas.

Senyum itu bikin Resty sama Dinda saling pandang. Kayaknya...!Bu Maya tidak segalak yang mereka kira.

Jam pelajaran pertama terasa lebih cepat dari biasanya. Resty tidak lagi melamun ke jendela. Biasanya akan melamun di jendela sambil melihat bambu-bambu yang bergoyang karena di tiup angin. Anak-anak berhamburan keluar kelas, ada yang kelapangan, ada yang kekantin, ada juga yang memanjat tembok.

Dinda di sebelahnya sudah balik ke mode cerewet. Tapi kali ini bisikannya tidak ngomongin cowok sekelas."Ehhhh...! lo sadar gak? Tadi Bu Maya lihat kita sambil senyum. Kayak...! gak marah beneran."

Resty hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya. Awalnya dia juga berpikiran seperti itu, jadi kita bisa tau, jangan memandang orang lain dari wajahnya. Tidak semua wajah sangar akan terlihat garang.

Setelah 30 menit berlalu. Bel kedua akhirnya bunyi, tanda pelajaran kedua akan dilakukan. Bel memekakkan gendang telinga, getarannya merambat ke seluruh ruangan dan memaksa setiap siswa menegakkan punggung dengan sigap. Suasana yang Riuh, sedetik sebelum nya masih riuh oleh bisik-bisik Dinda langsung berubah menjadi hening yang mencekam, seolah-olah seluruh kelas baru saja disuntik dengan dosis konsentrasi yang mematikan.

Bu Indri melangkah masuk dengan postur yang tegak, sepatu haknya beradu dengan lantai keramik dan menciptakan bunyi "tok tok" yang ritmis, metodis, dan sedikit menakutkan. Setiap langkahnya seperti menghitung detik-detik ketenangan yang tersisa. Mata beliau menyapu seluruh ruangan, tajam dan penuh pengamatan, seakan-akan mampu menembus setiap pikiran yang tersembunyi di balik wajah-wajah muridnya.

Resty seketika menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan meletakkan kedua telapak tangan di atas meja dengan sikap yang paling disiplin yang pernah dia tunjukkan sepanjang sejarah sekolahnya. Di sebelahnya, Dinda melakukan hal yang sama, bahkan lebih berlebihan. Ia sampai meluruskan buku tulisnya sampai ke sudut meja yang paling presisi, seolah-olah kemiringan satu milimeter saja bisa memicu hukuman tambahan.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Indri guru Ppkn. Suaranya tenang tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

"Pagi....Bu Indri," jawab seluruh kelas serempak, suaranya terdengar lebih keras dari biasanya, mungkin karena rasa takut kolektif yang masih membekas dari insiden keterlambatan tadi pagi.

Bu Indri meletakkan tumpukan buku di meja guru, lalu menatap ke arah seluruh murid dengan tatapan tajam. Jantung Resty dan Dinda berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh pembuluh darahnya.

Jantung Resty dan Dinda berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh pembuluh darahnya, menciptakan sensasi berdebar yang tidak kalah menegangkan dari hukuman push up yang nyaris mereka terima beberapa jam sebelumnya. Tatapan Bu Indri yang tajam itu menelusuri setiap sudut kelas, memeriksa, menilai, dan seolah-olah mampu membaca setiap pikiran yang berisik di dalam kepala para muridnya.

Suasana menjadi begitu hening sehingga suara jarum jam yang berdetak di dinding pun terdengar jelas, berirama monoton yang menambah ketegangan psikologis yang menggantung di udara. Resty menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seketika. Dia berusaha mengatur pernapasannya agar tidak terdengar panik, tapi jantungnya tetap berlari seperti baru saja menyelesaikan lari sprint seratus meter.

Resty dan Dinda adalah murid baru yang baru menginjakkan kaki di sekolah ini beberapa hari yang lalu. Masa orientasi yang singkat itu belum cukup untuk membuat mereka sepenuhnya memahami ritme, karakter guru, dan ekspektasi yang berlaku di lingkungan yang masih asing bagi mereka. Itulah mengapa insiden keterlambatan pagi tadi terasa seperti bencana besar bagi mereka berdua.

Sebagai siswa baru, setiap kesalahan kecil terasa berlipat ganda dampaknya. Mereka belum punya "modal pertemanan" atau reputasi baik yang bisa jadi penebus ketika berbuat salah. Setiap tatapan guru, setiap bisikan teman sekelas, terasa seperti penghakiman yang akan menentukan bagaimana mereka akan dipandang selama tiga tahun ke depan. Tekanan psikologis itu membuat Resty dan Dinda menjadi dua anak yang paling tegang di seluruh ruangan.

"Aku kira masuk sekolah SMP bakal langsung enak," gumam Dinda pelan, setelah Bu Indri mulai membagikan lembar diskusi kelompok. Suaranya hampir tidak terdengar, tenggelam oleh suara kertas yang dibagikan dari bangku ke bangku.

Resty mengangguk tanpa menoleh. Matanya masih fokus ke depan, pura-pura sangat serius membaca instruksi tugas. "Iya. Katanya masa adaptasi. Tapi adaptasi rasanya kayak ujian survival."

Mereka berdua memang belum kenal siapa-siapa. Teman sebangku yang lain sudah punya gengnya masing-masing sejak SMP. Obrolan mereka mengalir lancar, akrab, penuh kode-kode yang hanya dimengerti mereka sendiri. Sementara Resty dan Dinda hanya bisa duduk di bangku paling belakang, membangun benteng dari buku-buku mereka, berusaha terlihat "normal" padahal di dalam hati mereka berdua sama-sama kewalahan.

Sebagai murid baru, mereka belum tahu kalau Bu Maya sebenarnya guru yang paling disegani tapi juga paling adil. Mereka belum tahu kalau Bu Indri tegas di luar tapi sangat apresiatif pada murid yang mau berusaha. Pengetahuan itu baru mereka dapatkan setelah hampir dihukum dan kemudian diberi kesempatan kedua hari ini.

"Lo sadar gak," bisik Resty sambil menulis nama kelompok di atas kertas, "kita udah dapet pelajaran paling berharga di minggu pertama sekolah."

"Pelajaran apa?" Dinda ikut menulis, tulisannya sedikit bergetar karena masih gugup.

"Pelajaran tentang reputasi," jawab Resty. "Sebagai murid baru, kesan pertama itu segalanya. Orang gak akan ngasih kita banyak kesempatan kedua. Jadi kita harus nunjukin dari awal kalau kita serius, disiplin, dan bisa diandalkan."

1
Sarah Bagan
lnjut kak😊😊😊
glaze dark: oke kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!