Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu, Jakarta sedang diguyur hujan gerimis yang membuat suasana semakin nyaman untuk bermalasan. Tapi tidak bagi Alexa. Setelah mendapat bengkel pribadi dari Zyan, semangatnya untuk kuliah dan membongkar mesin makin membara. Alexa turun dari tangga sembari mengikat rambutnya jadi pony tail tinggi, mengenakan jaket bomber tekniknya yang legendaris.
"Om! Gue berangkat dulu ya! Makasih sarapannya, tapi gue makan di kampus aja bareng Rio!" teriak Alexa menuju ruang makan.
Zyan yang sedang membaca koran digital sambil menyesap espresso-nya mendongak. "Tunggu, Alexa. Hari ini saya yang antar. Supir kamu sedang saya tugaskan menjemput tamu penting dari bandara."
Alexa berhenti melangkah. "Tamu penting siapa? Kolega Korea lo lagi?"
"Bukan. Seseorang dari masa lalu keluarga kami. Namanya Clarissa. Dia anak dari sahabat almarhum Papa yang baru saja menyelesaikan studi desain di Milan," jawab Zyan dengan nada datar, seolah itu bukan informasi penting.
"Oh, desainer. Pasti orangnya cantik, tinggi, dan... wangi," gumam Alexa, tiba-tiba ada rasa sedikit perih yang asing di hatinya.
"Kenapa? Kamu cemburu?" goda Zyan sambil berdiri, merapikan kemeja abu-abunya yang sangat pas di badan.
"Dih! Cemburu sama dia? Sorry ya, nggak level!" Alexa melenggang keluar menuju mobil dengan gaya angkuh, padahal di dalam hati dia mulai merasa tidak tenang.
Zyan menurunkan Alexa di depan gedung fakultas. "Pulang nanti saya jemput. Jangan keluyuran ke bengkel umum lagi, kamu sudah punya bengkel sendiri di rumah."
"Iya, iya, Bawel!" Alexa menutup pintu mobil dan segera lari menuju kelasnya.
Namun, sepanjang kelas praktikum, fokus Alexa benar-benar buyar. Bayangan tentang Clarissa dari Milan terus berputar di otaknya. Sampai-sampai, Rio yang ada di sampingnya harus berkali-kali menegurnya.
"Lex! Itu busi mau lo pasang ke mana?! Itu lubang knalpot, bego!" teriak Rio panik.
"Eh?! Sori, sori. Gue lagi... lagi mikirin mesin yang suaranya aneh," dalih Alexa.
"Mesin apa hati lo yang suaranya aneh? Muka lo kusut banget kayak kanebo kering," sindir Rio.
Setelah kelas selesai, Alexa merasa tidak sabar ingin segera pulang atau ke kantor Zyan. Ia ingin tahu seperti apa sosok Clarissa itu. Tanpa menunggu jemputan Zyan, Alexa memutuskan untuk naik motor ZX-nya yang tadi pagi ia titipkan di parkiran kampus sejak kemarin.
"Gue harus liat sendiri itu orang kayak gimana," gumam Alexa sambil memacu motornya menuju Arsalan Group.
Sesampainya di lobi Arsalan Group, Alexa tidak langsung masuk. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm, mengusap noda debu di jaketnya, lalu melangkah masuk dengan gaya sok keren.
"Sore, Mbak Siska. Pak Direktur ada?" tanya Alexa saat sampai di meja sekretaris.
Siska tampak sedikit gugup. "Eh, Mbak Alexa... Pak Zyan sedang ada tamu di dalam. Beliau bilang jangan diganggu dulu."
"Tamu penting yang dari Milan itu ya?"
"Iya, Mbak. Nona Clarissa."
Alexa tidak peduli. Dengan keberanian khas mahasiswi teknik yang biasa nerjang banjir, ia langsung berjalan menuju pintu besar ruangan Zyan. "Gue kan istrinya, masa nggak boleh masuk."
BRAK!
Alexa membuka pintu tanpa mengetuk.
Pemandangan di dalam ruangan itu membuat langkah Alexa terhenti. Zyan sedang duduk di sofa panjang, dan di sampingnya duduk seorang wanita yang sangat... sempurna. Rambutnya pirang kecokelatan yang tertata rapi, memakai gaun simple tapi terlihat seharga motor Alexa, dan aromanya... ya Tuhan, seluruh ruangan itu berbau bunga lili yang sangat mahal.
Wanita itu sedang memegang lengan Zyan sambil tertawa kecil.
"Oh, Zyan, kamu masih ingat kan waktu kita di Paris dulu? Kamu hampir saja membelikan aku seluruh isi butik Chanel karena aku sedang sedih," suara wanita itu lembut seperti mousse cokelat.
Zyan menoleh ke arah pintu dan wajahnya langsung menegang. "Alexa? Kamu kok di sini?"
Wanita bernama Clarissa itu ikut menoleh. Ia menatap Alexa dari ujung rambut sampai ujung sepatu boots-nya yang sedikit kotor. Tatapannya bukan tatapan benci, tapi tatapan... kasihan. Tatapan yang jauh lebih menyakitkan bagi Alexa.
"Zyan, darling... ini siapa? Apakah ini... asisten mekanik barumu? Atau mungkin adik sepupu dari desa?" tanya Clarissa dengan senyum yang sangat manis, tapi kata-katanya setajam silet.
Darah Alexa langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. Ia berjalan mendekat dengan langkah mantap, lalu dengan sengaja duduk di lengan sofa tepat di sebelah Zyan, merangkul leher suaminya itu dengan posesif.
"Kenalin, Tante. Gue Alexa. Istrinya Zyan. Istri SAH, bukan sepupu nya! " ujar Alexa dengan nada bicara yang sangat pedas.
Clarissa tampak sedikit terkejut, tapi ia langsung bisa menguasai diri. Ia tertawa kecil yang terdengar sangat elegan. "Oh, jadi ini Alexa? Wah, Zyan... seleramu berubah drastis ya. Dulu kamu suka yang... ya, kamu tahu sendiri lah, yang setara. Sekarang kamu lebih suka yang... unik? Seperti... cewek tomboy ini?"
Clarissa beralih menatap Alexa lagi. "Maaf ya, Alexa. Saya tidak bermaksud menyinggung. Saya Clarissa, sahabat masa kecil Zyan. Kami dulu hampir bertunangan kalau saja saya tidak memutuskan untuk pergi ke Milan. Zyan sangat terpukul saat itu, ya kan, Zyan?"
Zyan mencoba melepaskan rangkulan Alexa yang terlalu kuat sampai hampir mencekiknya. "Clarissa, itu masa lalu. Tidak perlu dibahas di depan istri saya."
"Tentu, tentu. Tapi aku baru kembali ke Jakarta dan Papa bilang kita harus sering-sering bertemu untuk membicarakan proyek kolaborasi desain interior kantor barumu. Jadi, aku rasa kita akan sering bertemu, Alexa," Clarissa berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang lentik dengan kuku yang dimanikur sempurna ke arah Alexa.
Alexa menatap tangan itu seperti melihat ulat bulu. Ia tidak menjabatnya, melainkan justru mengambil tangan Zyan dan mencium punggung tangan suaminya itu di depan Clarissa. "Sori ya, Tante. Tangan gue bau oli habis benerin motor. Takut kuku mahal Tante jadi item-item."
Clarissa menarik kembali tangannya, senyumnya sedikit memudar. "Begitu ya. Menarik sekali. Baiklah, Zyan... aku pergi dulu. Sampai jumpa di makan malam keluarga nanti malam ya. Mama kamu yang mengundangku secara khusus."
Setelah Clarissa keluar dari ruangan dengan aroma lili yang tertinggal, suasana mendadak hening dan mencekam.
Zyan berdiri, merapikan kemejanya yang berantakan karena ulah Alexa. "Alexa, apa-apaan sikap kamu tadi? Dia itu tamu penting perusahaan."
"Tamu penting atau mantan tersayang yang belum move on, Om?!" teriak Alexa. "Lo liat nggak gimana dia liat gue tadi? Dia nganggep gue kayak sampah di pinggir jalan!"
"Dia memang gayanya seperti itu, dia lulusan Eropa, tentu saja dia elegan. Tidak seperti kamu yang masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu!"
Alexa terdiam. Kata-kata Zyan barusan terasa seperti tamparan keras. "Oh... jadi sekarang lo bandingin gue sama dia? Lo mau bilang kalau gue ini nggak elegan? Gue ini memalukan buat lo?!"
"Saya tidak bilang begitu—"
"TAPI LO MIKIR BEGITU KAN?!" Mata Alexa mulai memerah karena menahan tangis. "Ya udah kalau gitu! Kenapa lo nggak nikah aja sama dia dari dulu?! Kenapa lo mau dijodohin sama gue yang cuma anak motor bar-bar ini?!"
Alexa langsung berbalik dan lari keluar ruangan.
"Alexa! Tunggu!" teriak Zyan, tapi Alexa sudah menghilang di balik pintu lift.
Alexa menuju parkiran dengan perasaan hancur. Ia memakai helmnya dengan kasar, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Ia memacu motor ZX-nya keluar dari gedung Arsalan Group dengan kecepatan tinggi, mencoba membuang rasa sesak di dadanya lewat deru mesin.
Ia tidak pulang ke rumah. Ia pergi ke sirkuit balap liar di pinggiran kota yang biasa ia datangi dulu sebelum menikah. Alexa butuh adrenalin untuk membunuh rasa sakitnya.
Sementara itu, di kantornya, Zyan membanting tumpukan berkas ke mejanya. Ia merasa sangat bodoh karena telah membandingkan Alexa dengan Clarissa secara tidak langsung. Zyan meraih ponselnya, mencoba menghubungi Alexa berkali-kali, tapi nomornya tidak aktif.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari ibunya, Bu Ratna.
' [17.45] Mama:'
Zyan, jangan lupa malam ini Clarissa dan orang tuanya makan malam di rumah kita ya. Bawa Alexa juga, Mama mau kenalkan mereka secara resmi.
Zyan meremas ponselnya. "Malam ini akan jadi bencana," gumamnya.
Zyan segera memerintahkan tim keamanannya untuk melacak keberadaan motor Alexa melalui GPS yang diam-diam sudah ia pasang di motor istrinya itu. "Cari dia sekarang! Jangan biarkan dia melakukan hal berbahaya!"
Di sirkuit liar yang gelap, Alexa sudah bersiap di garis start. Di sampingnya ada seorang cowok dengan motor modifikasi yang menatapnya dengan remeh.
"Hei, cewek cantik! Yakin mau balapan sama gue? Taruhannya apa nih? Motor lo atau... lo jadi pacar gue semalem?" tanya cowok itu sambil tertawa.
Alexa membuka kaca helmnya, menatap cowok itu dengan mata yang dingin dan penuh amarah. "Taruhannya simpel. Kalau lo kalah, lo harus hancurin motor lo sendiri di depan gue. Kalau gue kalah... lo boleh ambil motor gue."
"Wih, berani juga! Oke, deal!"
Suara deru mesin memenuhi malam yang dingin itu. Alexa menggenggam stang motornya dengan kuat, seolah ia sedang mencekik rasa sakit hatinya. " Gue bakal buktiin kalau gue nggak butuh ke-elegan-an buat jadi pemenang, " batin Alexa.
Bersambung....