Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Biaya Festival Layang-layang
Sore itu langit di pesisir terlihat cerah, angin berhembus kencang hingga deretan laya-layang kecil milik anak-anak kampung memenuhi udara.
Kai terlihat duduk di atas pasir dekat bibir pantai sambil memperbaiki benang layang-layangnya yang sudah kusut jemarinya begitu hati-hati menyentuh benang tersebut, tatapannya begitu tenang layaknya orang yang sudah dewasa.
Sementara tidak jauh dari sana, anak-anak seusianya terdengar sedang membicarakan sesuatu yang begitu antusias.
"Festival layang-layang akan ada lagi," suara itu terdengar cukup jelas.
"Iya katanya tahun ini lebih besar loh, bahkan pesertanya ada yang dari luar kota," timpal yang lainnya.
"Wih kalau gitu nanti aku mau ajak ayah dan ibukku untuk nonton festival layang-layang itu."
"Aku juga, pastinya sangat seru."
Seketika Kai memberhentikan pekerjaan kecilnya itu. Selama ini ia hanya bisa melihat festival itu dari kejauhan karena tidak mampu untuk membeli tiket masuknya. Tapi untuk tahun ini sepertinya ada harapan meskipun kecil.
Bahkan sejak satu tahun yang lalu ia sudah menyisihkan uang jajannya demi mengikuti festival tahunan itu. Akan tetapi niat Kai tidak hanya menjadi penonton saja, melainkan menjadi peserta dalam festival tersebut.
Kai perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya langsung tertuju pada poster besar yang dipasang dekat dermaga kecil.
FESTIVAL LAYANG-LAYANG PESISIR
Disponsori oleh Ardion Group.
Tanpa sadar mata Kai berbinar kecil. Anak itu langsung berdiri kecil lalu mendekati poster tersebut perlahan. Tangannya menyentuh gambar layang-layang besar yang terpasang di sana.
“Kalau ikut ini…” gumamnya pelan. “Layang-layang Kai pasti bisa terbang paling tinggi.”
Namun beberapa detik kemudian matanya turun pada nominal biaya pendaftaran yang tertulis di bawah. Senyum kecil di wajahnya perlahan memudar melihat biaya yang tidak murah. Sangat tidak murah untuk ukuran kehidupan mereka.
Kai terdiam cukup lama sebelum akhirnya melangkah pulang sambil memeluk layang-layang kecilnya erat. Di dalam perjalanan pulang pikirannya tidak luput dari bayang-bayang nominal yang tertera.
“Tujuh ratus ribu…” bisiknya lirih. “Banyak sekali…”
Untuk beberapa saat langkah Kai melambat. Angin pantai berhembus menggerakkan rambut hitamnya pelan, namun begitu sampai di depan rumah, lamunan Kai langsung buyar begitu saja.
Dari halaman rumah kayu sederhana mereka, terlihat asap tipis mengepul bersama aroma ikan bakar yang menggoda. Alena, Senna, dan Anne tampak sibuk di halaman belakang sambil memanggang ikan hasil memancingnya tadi pagi.
“Ma… Mama?” panggil Kai sedikit kaget.
Ketiga wanita itu langsung menoleh bersamaan.
“Nah, anak gantengnya pulang!” seru Senna heboh.
“Kai, cepat sini,” sambung Anne sambil melambaikan tangan.
Sementara Alena hanya tersenyum lembut melihat putranya berdiri bengong di depan pagar.
“Sayang, masuk dulu,” ucap Alena hangat.
Kai pun berjalan mendekat perlahan. Untuk sesaat, beban di pikirannya tentang festival tadi seolah menghilang begitu saja melihat tiga wanita itu tertawa bersama di halaman rumah kecilnya.
"Harumnya kemana-mana," ucap Kai sambil menghirup aroma ikan tersebut. "Jadi lapar."
"Sabar Nak, tunggu sebentar lagi ya," ujar Alena.
Perlahan langit sore berubah gelap, debur ombak terdengar samar dari kejauhan meninggalkan kesan syahdu saat semburat senja terliha jelas menghiasi langit dan di halaman kecil itu aroma ikan bakar menggugah selera makan mereka.
Sementara Kai duduk di bangku kecil sambil meniup-niup ikan yang masih panas di piringnya. Wajahnya terlihat serius seolah sedang menghadapi makanan mahal di restoran bintang lima.
Sementara di sampingnya, Senna sibuk mengipas bara api sambil terus mengomel karena Anne beberapa kali mencuri ikan yang belum matang sempurna.
“Heh! Itu belum matang!” protes Senna.
Anne malah tertawa santai. “Namanya juga tester.”
“Kamu mah tester dari tadi!”
Tawa kecil langsung pecah di halaman rumah itu. Alena yang sejak tadi duduk sambil menuangkan nasi hanya bisa menggeleng geli melihat tingkah kedua sahabatnya.
Lampu kuning kecil yang menggantung di teras rumah menjadi satu-satunya penerangan malam itu. Tidak mewah, tapi terasa hangat. Apalagi saat kumpul bersama seperti ini mereka sambil video call untuk memanas-manasi Rina yang berada di kejauhan sana.
"Nih lihat... malam ini kita makan ikan hasil tangkapan Kai," ucap Senna dengan bangganya.
"Kalau gitu sisain sedikit untuk aku," rayu Rina sedikit merengek.
"Nanti ya, tak lempar lewat udara," celetuk Senna.
"Memang bisa?" pertanyaan itu membuat tawa mereka kembali terdengar.
Kai diam-diam memperhatikan ketiga wanita di hadapannya, itu yang sedang berbincang hangat dengan satu ibunya lagi.
Mamanya yang terlihat lelah tapi tetap tersenyum. Ibu Senna yang cerewet. Dan Ibu Anne yang selalu tenang serta Ibu Rina yang merajuk karena selalu di iming-imingi momen kebersamaan itu.
Entah kenapa… melihat semuanya itu dada kecilnya terasa penuh.
“Kenapa diam?” tanya Anne tiba-tiba.
Kai langsung tersadar dari lamunannya. Anak itu menunduk kecil lalu berkata pelan.
“Kai cuma merasa… rumah kita hangat.”
Langkah Alena langsung terhenti sesaat. Sementara Senna refleks menoleh cepat.
“Halah, ngomongnya kayak bapak-bapak,” celetuknya sambil tertawa kecil untuk menutupi rasa haru.
Namun tanpa sadar mata Alena mulai berkaca-kaca. Karena di tengah hidup mereka yang serba kekurangan… ternyata Kai masih bisa merasakan hangatnya sebuah rumah.
Selesai makan malam di depan halaman rumah kayu itu, akhirnya kedua wanita cantik itu memutuskan untuk pulang, karena malam mulai larut.
"Len, kita pulang dulu ya, titip salam saja buat Kai," kata Senna mengawali percakapannya.
"Kalian kok kesusu amat," sahut Alena.
"Gak kesusu kita sudah terlalu lama, lagian bukannya besok jadwal kita bertiga di sif pagi," ujar Anne.
Alena mengangguk kecil ia baru teringat jika besok jadwal mereka di sif pagi. "Iya-iya untung diingatkan."
"Tuh kan selalu lupa," gerutu Senna dengan nada candaannya.
"He he. Maaf ya," pungkas Alena sambil mengatupkan kedua tangannya.
Mereka pun akhirnya pulang, Alena mengantarnya sampai depan rumahnya. Setelah itu langkahnya masuk lalu menutup pintu dan mematikan lampu.
Namun sebelum tidur Alena terbiasa mengecek Kai di dalam kamarnya terlebih dahulu, langkah Alena terhenti diambang pintu saat melihat sang anak masih duduk di tepi ranjang seolah memikirkan sesuatu yang cukup berat.
"Nak," panggil Alena pelan.
Kai langsung menoleh cepat. Namun beberapa detik kemudian ia kembali menunduk, seolah tidak ingin memperlihatkan isi pikirannya.
Alena mendekat perlahan lalu duduk di samping anaknya.
“Kenapa belum tidur?” tanyanya lembut sambil mengusap rambut Kai.
“Mama…” panggilnya lirih.
“Iya sayang?”
Kai menggenggam ujung bajunya pelan sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.
“Tadi Kai lihat poster festival layang-layang.”
Gerakan tangan Alena perlahan terhenti.
Anak itu melanjutkan dengan suara kecil.
“Festivalnya besar sekali…” matanya mulai berbinar tipis. “Pasti seru ya, Ma.”
Alena tersenyum kecil sambil mengangguk. “Iya… pasti seru.”
“Tahun ini Kai pengen ikut.”
Deg.
Hati Alena langsung terasa sesak dari mana ia bisa mendapatkan uang pendaftaran yang cukup besar itu. Ia tahu betapa Kai mencintai layang-layang. Bahkan hampir setiap hari anak itu membuat desain sendiri menggunakan kertas bekas dan bambu kecil dari pesisir.
Namun sebelum Alena sempat menjawab, Kai kembali bicara pelan.
“Tapi biayanya mahal.” Suaranya terdengar begitu hati-hati, seolah takut membebani ibunya.
“Tujuh ratus ribu…”
Untuk sesaat kamar kecil itu mendadak sunyi. Kai menunduk sambil memainkan jemarinya sendiri.
“Aku tadi sudah hitung tabungan Kai…” bibir kecilnya tersenyum tipis pahit. “Masih kurang banyak.”
Hati Alena benar-benar terasa diremas. Karena di usia delapan tahun… anak itu sudah belajar menahan keinginannya sendiri.
“Mama…” Kai kembali menatapnya pelan. “Kalau memang nggak bisa, nggak apa-apa kok.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Alena semakin sesak. Sebab anak kecil seusia Kai seharusnya boleh merengek, menangis, atau memaksa. Tapi Kai tidak.
Anak itu terlalu mengerti keadaan mereka.
Refleks Alena langsung memeluk tubuh kecil putranya erat.
“Ma?” Kai sedikit terkejut.
Alena memejamkan matanya perlahan sambil menahan air mata yang hampir jatuh.
“Mama janji…” bisiknya lirih. “Mama akan usahakan.”
Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya meskipun ia masih belum tahu harus mendapatkan uang itu dari mana.
Bersambung...