Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ospek kampus
Pagi itu Lily terbangun dengan perasaan yang begitu ringan, seolah beban di pundaknya baru saja menguap. Ia menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku dan pegal—bunyi tulang-tulangnya yang berderak halus terdengar samar di keheningan kamar. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara pagi yang dingin dan beraroma embun segar memenuhi paru-parunya. Tangannya meraba meja samping tempat tidur, meraih ponsel untuk mengecek waktu.
06.45
"Ah kesiangan!!!"
Jantung Lily seakan melompat ke tenggorokannya. Matanya membelalak lebar, rasa kantuk yang tadi menyelimuti seketika berganti dengan sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuhnya karena panik. Bisa-bisanya ia kesiangan di hari pertama ospek! Padahal, kumpulnya pukul tujuh pas!
Tanpa membuang waktu, ia melompat turun dari kasur. Langkah kakinya yang telanjang terasa dingin saat telapak kakinya menyentuh lantai keramik, namun ia tak peduli. Ia berlari menuju toilet, membasuh wajahnya dengan air yang terasa menusuk kulit saking dinginnya, sebuah upaya paksa untuk mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut di pelupuk mata.
Beberapa menit kemudian, ia bergegas memakai baju yang beruntungnya telah ia siapkan semalam—seragam SMA kebanggaannya. Tekstur kain katun yang agak kaku di kulitnya terasa asing namun familier. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena terburu-buru, ia memasang topi kerucut dari kertas karton yang terasa kasar dan sedikit gatal di dahi, serta mengalungkan nametag yang terbuat dari kardus. Aroma lem kertas yang menyengat dari atribut ospek itu tercium tajam di hidungnya, menjadi pengingat nyata bahwa petualangannya baru saja dimulai.
"Oke! Sekarang tinggal pakai sepatu!!"
Ia pun bergegas meninggalkan pantulan dirinya di cermin dengan senyuman lebar seakan telah siap untuk menghadapi segala resiko pada hari itu.
Setelah Lily melangkah keluar dari aula utama apartemen, hamparan taman di hadapannya seolah menarik napas panjang. Aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi manis bunga yang sedang mekar menyambut indra penciumannya. Rumput-rumput hijau tertata rapi, terasa dingin dan berembun saat ujung sepatunya tak sengaja bersentuhan dengan helainya.
Serangga-serangga kecil menari-nari di udara, menciptakan suara dengungan halus yang konstan. Di balik itu, kicauan burung gereja yang bersahut-sahutan dari pucuk pepohonan terdengar begitu jernih, memecah kesunyian pagi. Lily menyipitkan mata—sensasi hangat yang tajam dari cahaya matahari menerobos kelopak matanya, menusuk pupil hingga ia harus mengangkat tangan untuk melindungi pandangannya dari silau yang menyengat.
Tin!
Suara klakson itu memekik, menyayat udara pagi dan memudarkan lamunan Lily seketika. Ia menoleh ke arah mobil hitam yang terparkir tak jauh darinya, sosoknya tampak asing dan dingin di tengah taman yang cerah. Bibirnya mengerucut, mengeluarkan decak kesal yang tertahan di tenggorokan. Kakinya melangkah gontai, seolah lantai aspal yang ia pijak berubah menjadi lumpur yang berat.
Begitu pintu mobil terbuka, aroma kulit jok yang apak dan AC mobil yang terlalu dingin langsung menerpa wajah Lily membuat perutnya yang belum terisi merasa mual. Ia masuk dengan bahu yang merosot, membawa serta sisa-sisa kehangatan matahari pagi yang perlahan hilang ditelan atmosfer mobil yang kaku.
Pemuda di kursi pengemudi itu mengerutkan alis. Ia memerhatikan Lily yang duduk mematung dengan tatapan kosong. Bukankah semenit lalu, dari balik kaca spion, ia melihat gadis itu tampak begitu ceria? Apa yang baru saja terjadi di taman itu hingga membuat raut wajahnya berubah sekelam langit mendung?
__________________________________________________
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di kampus. Saat itu jam telah menunjukan pukul 07.15 namun Lily terlihat tenang seakan ia melupakan sesuatu.
"Tau gak ruangan ospeknya dimana?" Tanya Pemuda itu sembari melepaskan tali sabuk pengamannya. Lily mulanya menatapnya bingung sebelum sedetik kemudian dia mulai panik.
"Ya ampun kak!!!! Aku terlambat!!" Pekiknya lalu segera keluar dari mobil. Suasana di sekitaran luar kampus telah cukup sepi. Lily lalu berlari ke arah lobby dan mendapati beberapa orang sedang berbaris. Belum juga masuk, Lily di hadang seseorang.
"Siapa nama kamu!" Bentaknya yang memekik telinga Lily hingga rasanya gendangnya terasa mau pecah.
"Bagus ya terlambat di hari pertama! Kamu tau gak ini jam berapa?!" Bentaknya lagi membuat Lily menundukan kepalanya untuk melihat jam berwarna pink yang melingkar indah tangannya.
"Jam... Jam 7 lebih 20 kak" Jawabnya dengan wajah polos membuat kakak tingkatnya melototkan matanya tak percaya. Dia kan sedang tidak bertanya hal itu.
"Saya tau. Jam berapa kumpul di lobby?" Tanyanya dengan nada suara yang di turunkan. Sepertinya dia akan menyerah pada orang-orang seperti Lily.
"Jam 7 kak"
"Good! Besok-besok jam 7 sudah harus di sini, faham? Udah sana baris di situ!" Tunjuknya pada barisan orang-orang yang tidak mematuhi aturan pertama, datang sebelum jam 7.
Lily pun berjalan pelan menuju barisan orang-orang yang tentunya sama seperti dia. Ada yang tidak memakai nametag, topi, seragam dan yang terlambat sepertinya. Ia hanya terdiam sambil sesekali tersenyum kikuk walaupun senyumannya di abaikan oleh orang-orang yang di sana.
Beberapa menit pun berlalu. Lily masih setia diam di barisan paling belakangnya sembari memperhatikan kakak-kakak tingkatnya yang sibuk sendiri. Lalu datanglah salah satu dari mereka pada mereka.
"Kalian sekarang gabung aja yah sama kelompoknya masing-masing. Udah di sharekan di grup? Tapi nanti pas pulang kalian baris lagi di sini ya! Oke absen dulu nih tulis nama kalian" Ucapnya sembari memberikan sebuah kertas dan pulpen.
"Grup? Aku belum cek lagi" Lily pun membuka ponselnya untuk membaca grup dari aplikasi pesan yang baru kemarin ia unduh.
"Kelompok 7" Gumamnya sembari melihat-lihat nama anggotanya siapa saja.
"Heh kamu!"
Merasa terpanggil, Lily pun menoleh ke sumber suara dengan panik. Ia langsung mematikan ponselnya dan menghadap ke depan. "I-iya kak?"
"Ini list nama kamu, giliran kamu!" Kesalnya dengan menunggu Lily. Ia pun langsung maju dan menulis namanya di kertas.
"Ini beneran nama kamu kan?" Tanya kakak tingkatnya dengan selidik. Bisa saja kan juniornya ini menulis nama samaran?
"Iya kak. Namaku Lily Agatha" Ucapnya membuat kakak tingkat itu sedikit terkejut. Agatha? Bukannya itu marga keluarga Zevan?!
"Sudah sana masuk ke ruang audit!" Titahnya dengan sedikit gelagapan. Ia sangat tahu jika berurusan dengan keluarga kejam itu, hidupnya tidak akan pernah tenang.
Saat pertama kali masuk ke ruang auditorium, Lily merasakan vibe yang sangat berbeda. Di depan sana nampak sebuah panggung yang cukup besar. Di sekitarnya banyak mahasiswa-mahasiswi baru yang sedang duduk lesehan. Ia bingung kelompoknya ada di sebelah mana. Ia pun menghubungi kakak mentor kelompoknya.
"Duhh mana sih... Ah ini" Ucapnya kemudian mencoba menghubunginya.
"Hallo dek, ada yang perlu di bantu?" Tanya seorang pemuda yang Lily kira dia pun panitia ospeknya.
"Iya kak. Aku lagi nyari kelompok aku kelompok 7" Ucapnya dengan bingung.
"Oh mari sini ikut aku" Ucapnya kemudian menuntun Lily ke arah kelompoknya. Ia melewati beberapa orang yang tiba-tiba menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nah inii" Ucapnya pada sekumpulan orang yang sedang duduk berbaris rapi memperhatikan acara yang hendak dimulai.
"Hai!!!! Kamu Lily yah!" Sapa gadis yang duduk paling belakang. Ia tersenyum sangat lebar seakan langsung menyambut Lily dengan hangat.
"Iya! Eh kak makasi ya!"
"Iya" Pemuda itu pun tersenyum lalu langsung pergi dari sana.
"Kamu.. Kenal sama kakak itu?" Tanyanya dengan raut wajah yang aneh. Kenapa orang-orang bereaksi seperti itu?
"Kenapa emang?" Tanya Lily.
"Heii yang di belakang!! Jangan ngobrol!!!" Teriak kakak tingkatnya pada arah Lily dan gadis itu.
Mereka berdua pun terdiam lalu mulai menyaksikan acara yang sudah dimulai itu.
BERSAMBUNG