Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Penebusan Diri
Keheningan yang menekan menguasai ruang tamu seiring dengan berakhirnya kata-kata pedas Arlan. Shinta berdiri kaku, wajahnya pucat dan napasnya tercekat, tidak mampu membantah kebenaran tentang masa lalu yang baru saja terungkap secara gamblang.
Arlan menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan untuk menenangkan jiwanya yang bergejolak. Walau kemarahannya telah membuat Shinta diam, ia menyadari bahwa menang dalam argumen tidak menyelesaikan masalah inti: hati Mika yang sedang terluka.
Arlan menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Ia menyadari jika ia memaksa dan membawa Mika pulang dalam keadaan marah seperti ini, ia hanya akan semakin memperburuk keadaan putrinya. Ia perlu mundur sedikit agar bisa melangkah lebih jauh.
Arlan merapikan kerah kemejanya yang kusut, lalu memandangi Shinta dengan tatapan yang lebih tenang namun tegas.
“Aku tidak akan membiarkan Mika menjadi korban dari pertikaian kita lagi,” katanya, suaranya terdengar datar dan terkendali. “Untuk sementara, aku akan membiarkan Mika tinggal di sini bersamamu.”
Shinta terkejut, tidak menduga Arlan akan memilih keputusan itu setelah perdebatan hebat yang baru terjadi.
“Tapi jangan salah paham, Shinta,” tambah Arlan dengan nada peringatan. “Ini bukan berarti aku menyerahkannya padamu. Aku melakukan ini hanya demi ketenangan Mika. Aku memberimu kesempatan untuk menunjukkan bahwa kamu bisa menjadi ibu yang bertanggung jawab, bukan hanya menggunakan kehadirannya untuk kepentingan pribadimu.”
Arlan melangkah menuju pintu kamar Mika dan mengetuknya perlahan. Ketika pintu sedikit terbuka, ia tersenyum dengan hangat kepada putrinya.
“Mika sayang,” panggil Arlan lembut.
Mika mengintip dari balik pintu. “Iya, Papa?”
“Papa harus pergi sebentar untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan... merapikan rumah kita supaya lebih hangat,” jelas Arlan, berlutut agar setinggi putrinya. “Mika boleh bermain di sini dengan Mama Shinta selama beberapa hari. Tapi janji ya, Mika harus tetap ceria dan rajin menggambar?”
Mata Mika bersinar mendengar suara ayahnya yang lebih ringan. "Janji, Papa. Papa tidak marah pada Mika, kan?"
“Tentu saja tidak, sayang. Papa sangat mencintaimu,” jawab Arlan, mencium kening putrinya dengan lembut sebelum berdiri kembali.
Arlan berpaling dan menatap Shinta untuk terakhir kalinya sebelum pergi dari rumah itu.
“Aku akan membereskan kekacauan ini. Aku akan menemukan Ghea, menyelesaikan urusan dokumen Mika, dan mengembalikan kebahagiaan di rumahku,” tegas Arlan saat melewati Shinta. “Dan ketika aku datang untuk menjemput putriku nanti, pastikan kamu siap melepaskannya dengan baik.”
Tanpa menanti jawaban dari Shinta, Arlan meninggalkan rumah itu dengan langkah mantap. Angin pagi Jakarta menyentuh wajahnya dengan cara yang baru. Rasa bersalah dari pelariannya semalam tidak lagi membuatnya merasa terpuruk. Sebaliknya, hal itu menjadi motivasi yang membangkitkan tekadnya.
Ia harus membersihkan namanya, menemukan Ghea, memperbaiki hubungannya dengan Mika, dan membuktikan pada dunia—terutama pada dirinya sendiri—bahwa ia layak menjadi ayah bagi putrinya. Perjuangan Arlan untuk menebus kesalahan barunya baru saja dimulai.
Suasana hunian megah di daerah Jakarta Selatan itu menyambut Arlan dengan kesunyian yang menakutkan saat ia melangkah ke dalam. Suara pintu yang tertutup rapat di belakangnya seakan menjadi pemisah jelas antara suara bising di luar dan kehampaan yang nyata di dalam.
Huniannya yang biasanya menjadi tempatnya kembali kini terasa sangat asing, besar, dan sejuk—persis seperti yang dikatakan Mika beberapa jam sebelumnya.
Arlan dengan kasar melempar kunci mobilnya ke atas meja konsol kayu di lobi. Bunyi logam yang menghantam kayu bergaung menyakitkan di ruang yang sepi itu. Ia berjalan dengan langkah terhuyung menuju ruang tengah sambil membuka kerah bajunya yang semakin menekan lehernya.
Arlan jatuh ke sofa kulit gelap di ruang keluarga. Ia menyandarkan kepala ke belakang dan menatap langit-langit rumah yang tinggi dengan ekspresi kosong. Kelelahan yang mendalam—baik secara fisik maupun mental—seolah menghujannya tanpa ampun.
Setiap sudut rumah ini sepertinya menyimpan kenangan yang kini menyerangnya kembali.
Tempat di mana Mika sering duduk menunjukkan gambar barunya dengan tawa ceria, sekarang hanya ada kursi kosong yang tertata rapi.
Tempat ia biasa melihat Ghea berjalan tenang, kini sepi tanpa keberadaan siapapun, hanya bayangan malam yang mulai masuk.
Masih sunyi. Tidak ada jawaban dari Ghea. Hanya ada percakapan hampa dengan pesan-pesan sepihak darinya.
Pelarian malamnya di klub dan hotel mewah itu tidak menyelesaikan apa-apa. Alih-alih melupakan masalah, pagi ini ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pulangnya dengan tangan hampa. Putrinya memilih tinggal dengan Shinta—wanita yang sangat ia benci dan satu-satunya yang mengetahui semua kesalahan masa lalunya.
"Arrrgh!!"
Arlan menggeram frustrasi. Ia mengangkat tubuhnya, meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangan yang bergetar. Perasaan bersalah, marah pada Shinta, kekecewaan pada dirinya, dan kerinduan pada Mika serta Ghea bercampur menjadi satu badai emosi yang berat.
Ia berdiri, berjalan bolak-balik di ruang tengah seperti singa terkurung dalam sangkar. Setiap napasnya terasa berat. Ia menatap cermin besar di dinding ruang tengah, melihat bayangan dirinya sendiri.
Pria yang ada di cermin itu tampak sangat berbeda. Arlan yang biasanya teratur, berkarisma, dan memegang kendali atas hidupnya kini terlihat sangat berantakan. Matanya kemerahan dan lesu akibat kurang tidur dan sisa alkohol, sementara rahangnya mengeras menahan gelora emosi.
Arlan mendekati meja kerja kecil di sudut ruangan. Di sana ada selembar kertas berisi gambar Mika yang belum selesai—sebuah gambar rumah dengan tiga sosok manusia di depannya, namun satu sosok belum diwarnai.
Melihat gambar itu, kemarahan Arlan perlahan mereda, tersisa sedih yang dalam dan tekad yang kuat.
Ia tidak bisa terus berada dalam keadaan ini. Menyerah dan meratapi nasib di rumah kosong ini hanya akan membuat Shinta unggul, dan menjauhkan Mika serta Ghea darinya.
Arlan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak menentu. Ia merapikan rambutnya, kemudian mengambil ponselnya. Kali ini, ia tidak akan mengirim pesan penuh keputusasaan. Ia mencari kontak asisten pribadinya dan beberapa orang yang dipercayanya.
Jika ia ingin membawa Mika pulang dan menemukan Ghea, ia harus menuntaskan kekacauan ini dengan pikirannya, bukan emosinya. Langkah pertama untuk merebut kembali hidupnya harus dimulai saat ini juga.