Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu
Waktu semakin larut, Ziano masih terjaga di depan TV. Ia berulang kali menghubungi Raizel tapi tak dijawab. Ia jadi menerka-nerka apakah mamanya baik-baik saja? sepertinya tidak, terbukti dari Raizel yang tak menjawab panggilannya. Media sosialnya juga tak ada postingan baru, WA terakhir diliat saat vidio call dengan dirinya.
Huh! Ziano meniup udara kosong mencoba menenangkan diri. Satu lengannya diletakan di atas mata, mencoba untuk terlelap.
Drrt Drrt
Belum sempat terlelap HP nya sudah bergetar. "Papa?"
Ziano langsung menggeser tombol hijau dan mendudukan diri.
"Mama gimana pah?" tanyanya sedikit panik.
"Mama nggak apa-apa, meskipun tadi sempet pingsan. Sekarang lagi nyiram bunga sama Jeli."
"Hah? nyiram bunga? jam segini pah."
"Biarin yang penting mereka anteng. Ide Jeli itu biar mama nggak ngebahas kamu terus."
"Maaf yah pah udah bikin kacau." ucap Ziano lirih. Dari awal tak ada niatan sampe seperti ini. Niatnya hanya kabur seminggu ke rumah sepupunya di Jogja, Shaka. Siapa sangka malah berakhir di desa dengan penuh drama.
"Papa maafin tapi jadiin pelajaran."
"Iya, pah."
"Soal nikah yang tadi, kamu bercanda kan Ziano?" jujur Dirga juga khawatir meskipun ia yakin putranya tak mungkin bersikap seperti itu. Pacar saja tak punya, setiap gadis yang di dekatnya saja tak ia anggap lebih dari seorang teman.
"Aku serius, pah." suara Ziano sedikit berat. Ia menceritakan detail demi detail tanpa terlewat sama sekali. Dari mulai dirinya pergi, tas hilang hingga terdampar di warung Aki dan mengajari komputer anak pemilik warung.
"Aku berani sumpah, Pah. Aku nggak ngapa-ngapain dia, kami murni belajar. Tapi warga terus ngedesek kami buat nikah." jelasnya panjang lebar.
Dirga memijit pelipisnya sambil mondar mandir di teras, "kamu suka sama dia, Ziano?"
"Nggak, Pah." jawabnya cepat, "maksud aku belum, Pah. Nggak tau deh kedepannya, anaknya baik kok." Dirga mengangguk tak keberatan, meskipun belum cinta yang penting mereka tak saling benci.
"Dia juga seumuran Jeli, Pah. Baru lulus banget, nanti bisa jadi temen Jeli."
"Apa!" Dirga terkejut mendengarnya. Tidak, anaknya akan menikahi gadis SMA. Astaga! dia saja dulu pusing setengah mati menghadapi Kara.
"Ya ampun Ziano!"
"Iya, pah. Tapi papa tenang aja, anaknya dewasa kok." jawab Ziano, "papa juga nikah sama mama waktu masih sekolah kan? setidaknya aku nikah udah lulus kuliah, dia juga udah lulus SMA."
"Pah, aku mohon terima dia yah? keluarga dia aja nerima aku apa adanya. Mereka nggak tau aku anak papa, mereka taunya aku orang yang mau nipu. Tapi terlepas dari itu semua mereka mau nerima aku yang bahkan nggak bisa apa-apa."
Dirga melambaikan tangan membalas lambaian tangan istrinya, tapi pikirannya tetap pada putra sulung yang mendadak minta restu. "Bukan itu masalahnya Ziano."
Dirga memejamkan mata beberapa detik.
Di kepalanya muncul bayangan putra sulung yang dulu selalu pulang tepat waktu, selalu rapi, selalu menjadi contoh bagi adiknya. Kini anak yang sama sedang meminta restu untuk menikahi seorang gadis desa yang bahkan belum pernah mereka kenal. Hidup memang sering memilih jalan yang tak pernah direncanakan siapa pun.
"Pah, aku nggak mungkin ninggalin dia. Papa pernah bilang laki-laki itu yang pegang omongannya, aku mau tanggung jawab pah. Meskipun aku bisa kabur gitu aja, bahkan dia dukung aku buat kabur tapi aku nggak bisa pah."
"Adikku juga perempuan pah. Aku nggak bisa bayangin kalo hal itu menimpa Jeli. Papa sebagai orang tua juga nggak akan terima kan? aku bisa kabur, tapi nama baik dia udah tercoreng pah." lanjutnya menjelaskan dengan hati-hati.
"Ziano maksud papa bukan seperti itu. Papa nggak ngelarang kamu nikah, silahkan. Papa juga nggak akan ngalangin kalo kamu mau bertanggung jawab." ada senyum bangga di bibir Dirga. Anak laki-lakinya sudah bukan bocah lagi, dia bisa bertanggung jawab bahkan memikirkan orang lain.
"Papa cuma mau ngingetin kalo pernikahan itu bukan main-main Ziano. Bertanggung jawab sekarang berarti kamu bertanggung jawab juga atas segalanya yang terjadi setelah pernikahan." lanjutnya.
"Iya pah. Aku ngerti. Aku usahain yang terbaik." Jawab Ziano dengan mantap.
"Ya sudah kalo memang itu keputusan kamu. Kirim lokasinya, papa kesana." Dirga mengakhiri panggilannya.
Dirga membuka lokasi yang baru saja diterimanya, "enam jam. Lumayan juga." ucapnya lirih.
"Apa yang enam jam, pah?" tanya Kara yang baru saja tiba. Tangannya basahnya dikibaskan hingga membasahi suaminya.
"Rumah calon mantu kita mah." jawab Dirga sambil menunjukan maps.
"Kak Razia beneran nikah, pah? bukan prank gitu?" Raizel ikut nimbrung.
Dirga mengangguk.
"Wah jos jis kak Razia, minggat bentar udah bikin tekdung anak orang aja." Raizel kembali asbun.
Kara menampong pelan bibir putrinya, "bibirnya ini loh kalo ngomong! minimal disaring!"
"Ya apalagi coba yang bikin orang tiba-tiba ngebet nikah mah?" ledek Raizel.
"Ampun mah!" Jeli menutup kedua telinganya.
"Jeli cuma bercanda. Kak Razia nggak mungkin kayak gitu." ralatnya cepat.
"Sudah jangan ribut. Kita packing sekarang terus berangkat ke tempat Ziano." lerai Dirga.
Raizel langsung posisi hormat. "siap, laksanakan."
"Asik jalan-jalan." lanjutnya.
"Bawa barang seperlunya saja, Jeli. Awas kalo kamu kayak orang mau pindahan segala dibawa." teriak kara tapi putrinya sudah kabur dengan cepat.
Jalanan tengah malam sangat sepi, hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang, itu pun didominasi oleh truk muatan berat. Dirga menoleh sebentar ke putrinya yang tidur di jok paling belakang sambil memeluk boneka pisang. Akhirnya mobil menjadi tenang setelah sebelumnya Raizel terus adu mulut dengan Naureen. Anak adiknya, Sasa dan Tama. Niatnya berangkat berempat saja dengan supir tapi Raizel maksa ngajak Naureen, katanya kasihan dia di rumah sendiri, papa mamanya lagi dinas luar.
"Tidur, mah." ucapnya pada Kara.
Kara menatap kosong jalanan sepi sambil menghela nafas panjang. "papa serius mau ngebiarin Ziano nikah?"
"Itu bukan salah dia, Pah. Dia cuma difitnah, kalo mereka nikah berarti menyiakan tuduhan warga." ucap Kara lirih.
"Mah, lihat Jeli. Anak kita juga perempuan. Ziano udah mikir jauh ke depan, kita hargai keputusannya." Dirga merengkuh Kara ke dalam pelukannya.
Matahari mulai muncul dengan malu-malu saat alpard hitam itu memasuki desa tempat Ziano tinggal. Sepanjang jalan banyak pasang mata yang memperhatikan bahkan ada beberapa anak yang ikut mengejar mobil mereka di belakang. Mereka berhenti tepat di mana titik yang Ziano bagikan berakhir. Kondisinya lumayan rame.
"Disini tempatnya, pah?" tanya Kara.
"Sharelock nya iya."
Dirga turun dengan jas rapinya, diikuti Kara yang begitu anggun menenteng tas kecil. Warga di sekitar langsung bisik-bisik.
"Wah orang kaya nyasar kayaknya ini."
"Lihat itu tasnya pasti mahal."
"Jelas lah mobilnya aja bagus banget."
Dirga menghampiri warga dengan senyum ramah, "permisi bapak ibu, benarkan ini rumah bapak Nur Kholidin?"
Mereka kompak mengangguk, "betul, bapak cari siapa?"
Belum sempat menjawab Ziano sudah lebih dulu menghampirinya, "Pah... mah"
Semua warga saling tengok, "Pah? mah?"
"Iya, ini papah saya." jawabnya enteng seraya menyalami papanya.
"Mah..." belum sempat mengulurkan tangan, Kara langsung memeluknya. "nakal."
"Maaf mah..." Ziano balas memeluk erat wanita cerewet itu.
Sementara pada warga saling beradu pandang, "gimana ini? ternyata orang kaya beneran."
kalau orangnya kagak🤭
ara kala tau kamu dah di intip murka lah kau🤣
akhirnya pembaca kecewa
🔥🔥🔥
Ziano yg sabar ya... sepertinya kamu mesti baik²in ka Net dehh
🤣🤣🤣
sabar ya razia ...kak net emang jahara ....🤭🤭🤣🤣😍😍😍
happy weekend kak net semoga up nya rajin ya di weekend aamiin
kasihan Ano yang sudah bersemangat untuk unboxing, ternyata zonk😂😂