Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
TOK, TOK.
Suara ketukan pintu itu mendadak memecah keheningan yang canggung di antara mereka. Benedict langsung menegakkan tubuhnya, sementara Zara mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Pintu terbuka dengan desis halus, dan Dokter melangkah masuk dengan jubah putihnya, diikuti oleh seorang perawat yang mendorong troli berisi peralatan medis dan menu sarapan pagi.
“Selamat pagi, Mr. Franklin, Nona Zara,” sapa dokter. “Maaf mengganggu waktu istirahat anda, saya kesini untuk memeriksa kondisi fisik dan perkembangan luka di leher Nona setelah melewati masa kritis semalam.”
Benedict memberikan satu anggukan dan bergeser dua langkah ke belakang, memberi ruang bagi dokter untuk melaksanakan tugasnya.
Dokter mendekati ranjang Zara. “Bagaimana tidurnya, Nona? apakah kepalanya masih terasa pusing atau ada bagian tubuh yang terasa kaku?”
“Sudah jauh lebih baik, dokter,” jawab Zara pelan. “Hanya…. leherku masih terasa agak perih dan sedikit tegang saat digerakkan.”
“Itu sangat wajar, Nona. Reaksi obat penenang semalam memang membuat otot-otot tubuh menjadi sedikit kaku,” jelas dokter sembari memakai sarung tangannya.
“Saya akan membuka perban luarnya sebentar untuk memeriksa apakah pengobatan yang semalam kita lakukan bekerja dengan baik.”
Dengan gerakan perlahan, dokter mulai melepaskan perekat perban. Dokter mengarahkan lampu sorot medis lebih dekat, menerangi guratan merah di leher Zara. Tangannya menyentuh pinggiran luka yang telah menyatu berkat obat.
“Formasi jaringannya sangat bagus,” gumam dokter. “Tidak ada tanda-tanda infeksi atau pendarahan. Obatnya bekerja dengan sempurna, Nona Zara. Luka ini akan sembuh tanpa meninggalkan bekas.”
Zara menghembuskan napas lega. “Terima kasih, dokter.”
“Namun,” dokter melirik sekilas ke arah Benedict, menelan ludah dengan gugup sebelum melanjutkan, “trauma pada otot gejalanya baru akan memuncak siang ini. Anda mungkin akan merasa sangat kaku untuk menelan atau menoleh selama dua-tiga hari ke depan. Saya akan meresepkan obat analgetik dosis tinggi dan pelemas otot melalui infusan.”
Benedict melangkah maju. “Berapa lama dia harus di rawat di rumah sakit ini?” tanya Benedict.
“Setidaknya tiga hari untuk observasi penuh, Mr. Franklin,” jawab dokter. “Kami harus memastikan tidak ada trauma psikologis yang memincu syok terlambat, mengingat….. kejadian semalam sangat traumatis.”
Benedict tidak menjawab. Ia hanya menatap lekat-lekat leher Zara yang kini kembali ditutup dengan perban yang baru oleh perawat. Kepalanya saat ini penuh perhitungan, tiga hari bukanlah waktu yang sebentar. Menahan Zara dirumah sakit umum, meski dengan penjagaan yang ketat, tetap saja membuka celah bagi musuhnya jika meraka nekat. Namun, memindahkan Zara ke mansion nya dalam kondisi selemah ini juga bukan pilihan yang bijak bagi fisik gadis itu.
“Kami akan kembali siang nanti untuk menyuntikkan sisa obatnya, Mr. Franklin. Permisi,” pamit dokter, lalu bergegas mundur dan menutup pintu tanpa suara.
Kamar kembali hening. Benedict membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Zara.
“Dengarkan doktermu,” ucap benedidt dengan suara yang kembali datar. “Tiga hari. Selama tiga hari itu, kau dilarang keras menapakkan kakimu di luar ruangan ini tanpa izin dariku.”
Zara menatap lurus ke dalam mata Benedict. Bibir pucatnya mengukir senyum tipis.
“Perlakukan aku dengan lembut, Tuan,” ucap Zara lirih. “Aku sedang sakit.”
Ego Benedict runtuh untuk kesekian kalinya pagi ini. Ia menghembuskan napas panjang yang berat, lalu melangkah mendekat. Kembali duduk di kursi samping ranjang Zara.
“Aku tidak bermaksud kasar, Zara,” ucap Benedict. Nada suaranya melembut.
“Aku hanya…. tidak ingin melihatmu terluka lagi. Mengerti?” lanjut Benedict.
“Kalau begitu tetaplah disini,” pinta Zara. “Aku takut sendirian.”
“Yaa, aku tidak akan ke mana-mana,” sahut Benedict.
Zara mengulas senyum tipis, merasa lega karena pria itu mengiyakan permintaannya tanpa banyak berdebat.
Namun, saat tatapannya beralih meneliti garis-garis halus di wajah Benedict, Zara tidak bisa mengabaikan bayangan gelap dibawah mata pria itu. Wajah lelah Benedict tampak semakin kentara dibawah siraman cahaya fajar.
“Kau terlihat sangat lelah, Tuan. Tidurlah,” ucap Zara lembut.
Bendict mendengus pelan. “Sofa itu terlalu kecil untuk ukuran tubuhku,” jawabnya. “Aku akan tetap duduk disini saja. Perawat sudah menyiapkan sarapanmu, makanlah dulu.”
Zara melirik troli makanan di dekat pintu, lalu kembali manatap Benedict. Perutnya bahkan tidak merasa lapar sedikitpun, tubuhnya terlalu lemas.
“Aku belum lapar, aku ingin lanjut tidur saja,” balas Zara pelan.
Zara menggeser tubuhnya ke sisi kiri ranjang yang luas itu, menyisakan ruang kosong yang cukup lapang di sisi kanannya.
“Kalau sofa itu terlalu kecil untukmu….” Zara menepuk pelan sisi kasur yang kosong di samping tubuhnya. “…..tidurlah disampingku.”
Benedict menatap sisi ranjang yang kosong, lalu beralih pada wajah Zara.
“Jangan konyol, Zara. Tidurlah, aku akan tetap disini.”
“Kenapa? kau takut tidur di sampingku?” tantang Zara. “Lagipula, sebelumnya kita sudah pernah satu ranjang saat di Italia.”
“Kau terlihat sangat kelelahan.” lanjut Zara, sembari menepuk sisi kasur yang kosong. “Jangan keras kepala. Tidurlah disampingku.”
Benedict tidak membantah lagi. Ia pun merasa tubuhnya sudah sangat lelah. Dengan desah napas berat yang pasrah, ia melepas sepatunya lalu bergerak menaiki ranjang. Ia merebahkan tubuhnya di sisi kanan Zara, menjaga jarak beberapa inci agar tidak menyenggol tubuh ringkih gadis itu, lalu melipat kedua tangannya di atas dada.
Sembari menatap langit-langit, Benedict bergumam. “Sepertinya yang terluka adalah otakmu, bukan lehermu.”
Zara tidak bisa menahan senyum kemenangannya mendengar pria itu menggerutu.
“Selamat tidur, Mr. Franklin,” bisik Zara lirih, perlahan memejamkan matanya yang kian memberat.
Benedict tidak menyahut. Namun, begitu mendengar napas Zara mulai teratur, ia perlahan menolehkan kepalanya. Ia menatap wajah damai Zara. Perlahan, satu tangannya turun, membiarkan jemarinya terulur di atas seprei hingga ujung jarinya menyentuh tipis jemari Zara.
“Selamat tidur, Clarance,” gumam Benedict dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, jauh di sudut lain kota New York, atmosfer di dalam ruang kerja berpanel kayu ek hitam itu terasa begitu pekat dan mencekam.
KLIK.
Suara pemantik api memecah keheningan. Pucuk api malahap ujung cerutu, menciptakan pendar kemerahan yang samar di tengah remang ruangan.
Di balik meja kerja, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tegap. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis disisir rapi ke belakang, membingkai wajah tegas yang masih menyisakan sisa-sisa kegagahan masa mudanya.
Ia menghembuskan asap abu-abu tebal dari mulutnya secara perlahan, membiarkan kabut itu menari-nari di udara, mengaburkan ekspresi wajahnya yang tak terbaca.
Di hadapannya, seorang pria dengan setelan jas hitam berdiri kaku. Tubuhnya tegap, namun kepalanya sedikit menunduk. Keringat dingin tampak menetes di pelipisnya.
“Laporkan,” suara pria itu terdengar berat.
Pria di hadapannya menelan ludah dengan susah payah, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak tercekat di tenggorokan.
“Target lolos, Tuan,” lapornya dengan nada gemetar yang ditahan sekuat tenaga. “Saat ini wanita itu sedang menjalani perawatan di rumah sakit di bawah penjagaan ketat Franklin.”
Hening seketika menyergap. Pria yang melapor itu memejamkan mata sesaat, bersiap menghadapi hukuman akibat kegagalannya.
Namun, tidak ada ledakan amarah. Pria paruh baya itu justru membawa kembali cerutu ke bibirnya, menyesapnya dalam-dalam hingga ujungnya kembali menyela merah, menerangi sepasang bertanya yang kelam tanpa emosi. Sebuah seringai tipis yang dingin perlahan terukir di wajahnya.
“Tidak masalah,” ucapnya dengan tenang.
Ia mengetukkan ujung cerutu ya ke asbak dengan gerakan santai, membiarkan abu pembakaran jatuh memudar.
“Karena itu baru permulaan.”