NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Setelah memilih gaun dan jas. Beberapa pegawai butik mulai sibuk mencocokkan berbagai aksesori yang sebelumnya sempat Nara pilih.

"Tuan, Ini jam tangan yang tadi Nona Nara pilihkan untuk Anda," ujar salah satu pegawai sambil menyerahkan sebuah jam tangan elegan dan tentu saja berharga mahal pada Sagara.

Pria itu baru hendak menolak ketika Nara lebih dulu mengambil jam tersebut lalu memakaikannya langsung pada pergelangan tangannya.

"Bagaimana? Bukankah ini cocok?" tanya Nara singkat.

Sagara refleks menunduk memperhatikan jam tangan yang kini melingkar di pergelangan tangannya. "Apa Anda selalu seperti ini?" tanyanya sambil mengangkat wajah lalu menatap Nara.

Nara justru tersenyum kecil tanpa melepaskan jemarinya yang masih bertengger di pergelangan tangan Sagara. "Aku hanya seperti ini padamu."

Sagara langsung terdiam. Sementara pegawai butik di sekitar mereka mulai mati-matian menahan ekspresi. Jika seperti ini caranya, siapa yang akan percaya hubungan mereka cuma pura-pura?

Tak lama kemudian semua pilihan akhirnya selesai. Kotak-kotak besar berisi jas, sepatu, aksesori, dan gaun mulai dirapikan pegawai butik untuk dikirim ke alamat masing-masing.

Nara kembali mengenakan pakaian kerjanya setelah keluar dari ruang ganti.

"Tolong kirim barang-barang milik saya ke alamat biasa," ucap Nara. Tatapannya lalu beralih pada beberapa barang milik Sagara. "Untuk yang lainnya tolong kirim ke alat yang saya catat tadi."

"Anda mengirimnya ke mana?" sela Sagara cepat.

Nara menoleh lalu menatap Sagara yang berdiri di sampingnya. "Tentu saja ke alamat rumah kontrakanmu."

"Jangan!" Sagara kembali menjawab cepat.

Semua orang langsung menoleh padanya. Wajah Sagara terlihat serius. "Jangan kirim ke kontrakan saya."

Kalau sampai tetangga keponya melihat isi kotak-kotak mahal itu datang ke rumah kontrakannya ... Ia yakin hidupnya benar-benar tamat.

Nara yang langsung memahami alasannya justru menahan tawa. "Kalau begitu kirim ke apartemenku saja," ucapnya santai.

Sagara langsung menatap tajam. "Itu lebih tidak boleh lagi."

Mendengar jawaban ketus Sagara, Nara malah terkekeh kecil, apalagi saat melihat ekspresi frustasi pria itu. Ia merasa sangat puas.

****

Keesokan harinya, suasana bengkel sudah jauh lebih sepi dibanding biasanya.

Hari mulai beranjak malam. Sebagian besar montir sudah pulang sejak satu jam lalu setelah pekerjaan selesai. Hanya tersisa dua orang montir baru yang masih membereskan peralatan sebelum menutup bengkel.

Di dalam ruang kecil belakang bengkel. Sagara berdiri kaku di depan cermin retak yang menggantung di dinding.

Jas hitam yang semalam dipilihkan Nara melekat pas di tubuhnya. Dipadukan dengan kemeja putih bersih dan jam tangan mahal di pergelangan tangannya, membuat penampilan Sagara berubah drastis.

"Buset ...." Suara Andi tiba-tiba terdengar dari balik pintu yang terbuka sedikit.

Sagara langsung menoleh tajam. "Ngapain lu belum pulang?"

Andi malah masuk sambil menatap Sagara dari atas sampai bawah tanpa berkedip. Mulutnya terbuka kagum. "Gila ...," gumamnya pelan. "Lu kalau begini beneran kayak anak orang kaya, Ga."

Sagara mendecak pelan lalu kembali merapikan manset kemejanya. "Mending lu pulang sana."

Bukannya pergi, Andi justru makin mendekat dengan tatapan penasaran. "Jujur deh," katanya sambil menyipitkan mata. "Lu yakin bukan anak orang kaya yang ketuker waktu bayi?"

Alis Sagara terangkat tipis. "Maksudnya?"

"Ya kali aja," jawab Andi santai. "Soalnya muka lu tuh cocok jadi pewaris perusahaan bukan jadi montir yang belepotan oli."

Sagara langsung menendang pelan kaki Andi. "Ngaco! Gue malah bangga jadi montir."

Andi tertawa keras. Namun, tawanya mendadak terhenti saat suara klakson mobil terdengar dari depan bengkel.

Keduanya refleks menoleh keluar.

Sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di depan bengkel yang sudah hampir tutup itu. Lampu depannya memantul terang di lantai semen.

Andi melongo melihatnya. "Anjir ... ayang mbeb beneran dateng."

Tangan Sagara refleks menggeplak bahu Andi lumayan keras. "Sembarangan," semburnya.

Mulut Andi berniat memprotes. Namun, matanya lebih dulu menangkap Nara yang keluar dari mobil.

Wanita itu mengenakan gaun biru tua elegan dengan rambut yang ditata sederhana, namun memikat. Sepasang anting berkilau di telinganya. Tumit heelsnya berdetak pelan saat melangkah mendekati bengkel.

Tatapan Nara langsung jatuh pada Sagara. Ia bahkan sempat terpaku sejenak sebelum sorot matanya bergerak perlahan menelusuri penampilan Sagara dari atas sampai bawah. Jas yang semalam di pilihnya ternyata benar-benar cocok.

Sudut bibir wanita itu terangkat tipis. "Ternyata kau memang cocok berpakaian seperti itu."

Andi langsung menyenggol lengan Sagara pelan sambil berbisik heboh. "Woi ... Pacar lu aja sampe bengong gitu."

Sagara langsung melotot tajam. Namun, Andi malah menyeringai lebar sebelum buru-buru mundur menjauh.

"Oke oke gue pergi!" katanya cepat sambil mengangkat tangan menyerah. "Daripada jadi obat nyamuk di sini."

Nara terkekeh kecil melihat tingkah Andi. Sementara Sagara justru terlihat makin tidak nyaman.

"Sebaiknya kita pergi sekarang, Nona," ucap Sagara.

Nara mengangguk santai. "Ayo." Ia lalu berbalik menuju mobilnya lebih dulu.

****

Mobil melaju membelah jalanan malam kota yang dipenuhi cahaya lampu. Susana di dalam mobil terasa jauh berbeda di banding saat mereka biasa berboncengan motor menuju warung bakso atau angkringan pinggir jalan. Kali ini semuanya terasa mewah ... dan juga lebih menegangkan.

Sagara duduk tegak di kursi penumpang belakang Tatapannya beberapa kali melirik keluar jendela. Sementara Nara yang duduk di sampingnya duduk santai sambil berbalas pesan dengan Tiwi yang sudah menunggunya di tempat acara.

"Kau gugup?" tanya Nara tiba-tiba.

Sagara menghela napas pendek. "Menurut Anda?"

Sudut bibir Nara terangkat tipis. "Tenang saja," ucapnya santai. "Aku hanya ingin memberitahu beberapa hal penting sebelum kita sampai."

Sagara menoleh padanya.

Nara menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Malam ini yang berulang tahun adalah Kakekku. Dhanubrata. Dan beliau bukan tipe yang mudah dibohongi."

Tatapan Sagara menyipit tipis.

"Karena itu jangan banyak bicara," lanjut Nara. "Jawab seperlunya saja. Sisanya biar aku yang mengurus."

Sagara mengangguk pelan.

"Selain Kakekku, akan ada paman, bibi, sepupu, dan beberapa relasi bisnis keluarga yang datang," jelas Nara lagi. "Sebagian besar mungkin hanya penasaran melihatmu."

"Mereka tahu soal saya?"

"Hanya kakek yang tahu," jawab Nara santai. "Oh iya," lanjut wanita itu lagi. "Ada satu orang lagi yang harus kau waspadai selain kakek."

"Siapa?"

"Seokjin," jawab Nara.

Nama itu membuat alis Sagara sedikit terangkat.

Nara melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali menatap jalan di depan. "Dia cucu keluarga utama juga," jelasnya. "Bisa dibilang ... orang yang paling disukai kakek selain aku."

"Kekasih Anda?" tanya Sagara datar.

Nara langsung menoleh cepat. "Kau bercanda? dia itu sepupuku."

Jawaban itu terlalu cepat sampai membuat Sagara sedikit menahan senyum tipis.

Nara mendecak pelan sebelum kembali melanjutkan. "Dia baru pulang dari luar negeri. Kudengar salah satu anak perusahaan di sana sedang bermasalah dan dia turun tangan langsung di sana."

"Kalau begitu dia pasti sibuk."

"Mm." Nara mengangguk kecil. "Tapi untuk acara keluarga seperi ini, Seokjin hampir tidak pernah absen."

Mobil kembali dipenuhi keheningan sejenak.

"Tolong ingatlah untuk tidak terlalu terpancing dengan ucapan Seokjin. Dia itu ...."

"Apa dia menyukai Anda?" potong Sagara tiba-tiba.

Nara sempat terdiam. Lalu perlahan wanita itu justru tertawa kecil. "Kau ternyata cukup suka bertanya soal kehidupan pribadiku."

"Saya tidak bermaksud seperti itu," jawab Sagara cepat.

Mobil mewah itu akhirnya melambat memasuki area lobi sebuah hotel berbintang di pusat kota. Cahaya lampu kristal yang memantul dari dinding kaca langsung menyambut begitu mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

Seorang petugas hotel buru-buru membukakan pintu mobil untuk mereka.

Nara turun lebih dulu dengan anggun, disusul oleh Sagara yang ikut turun dari sisi lain mobil.

Pria itu sempat terdiam sesaat melihat suasana hotel yang begitu megah. Ia jelas tahu siapa pemilik hotel megah itu.

"Kenapa diam?" tanya Nara pelan.

Sagara menghembuskan napas pendek. "Saya cuma merasa salah tempat."

"Aneh," gumam Nara santai. "Padahal menurutku justru banyak orang di sini yang kalah cocok dibanding denganmu."

Sagara menoleh cepat. Namun, sebelum sempat membalas, Nara tiba-tiba menyelipkan tangannya ke lengan pria itu. "Mulai sekarang ingat," bisiknya pelan tanpa melepas senyum. "Di dalam sana kita pasangan."

Tubuh Sagara refleks menegang sesaat. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka.

Dan benar saja, begitu mereka melangkah memasuki ballroom hotel, suasana langsung berubah sedikit riuh.

Beberapa tamu tampak saling berbisik.

"Bukankah itu Nona Naraya?"

"Pria di sampingnya siapa?"

"Apa itu kekasihnya?"

Tatapan Sagara menyipit tipis mendengar bisik-bisik itu. Namun, pria itu tetap berjalan tenang di samping Nara tanpa menunjukkan rasa gugup sedikit pun.

Justru sikap tenangnya itulah yang membuat beberapa orang semakin penasaran.

Di ujung ballroom, seorang pria paruh baya yang sedang berbincang dengan tamu lain tiba-tiba berhenti saat melihat kedatangan mereka. Matanya membulat samar. Tatapannya lalu turun pada tangan Nara yang sedang melingkar di lengan Sagara.

Dan selanjutnya, suasana pesta yang semula biasa perlahan mulai berubah.

**** bersambung.

1
SecretivePlotter
mencengkram. ya tinggal serahin aja, banyak babibu, bilang aja ada maunya
SecretivePlotter
ingin dimengerti tapi gak mau mengerti, bangke ah
Teteh Lia: Kebanyakan kan begono. Mau na dimengerti, tapi syulit buat mengerti balik.
total 1 replies
SecretivePlotter
oalah rek, ibunya udah gak tahan ngejanda🥵🥵
SecretivePlotter
taik, ngomong ama silid, lu kira maafin orang macem lu semudah itu
SecretivePlotter: /CoolGuy//Grin//Hammer/
total 2 replies
SecretivePlotter
untuk diperas bijina🤭
Teteh Lia: ikut-ikutan pake na /Smug/
total 1 replies
SecretivePlotter
pasti dikira selingkuh🤭
SecretivePlotter
kek kerang disiram aer garem, ada gosip langsung pada nongol🤭
Teteh Lia: Kerang bambu tah... yang di siram air garem telus pada nelojoll🤭
total 1 replies
SecretivePlotter
udah kuduga, dia ama emaknya emang ngincer buwung sagara🤣
SecretivePlotter
udah telat woi
SecretivePlotter
wkwk ... mana belum pake baju pula🤭
〈⎳ FT. Zira
kondisikan matamu Vio/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ gak bisa liat yg seger seger yak🤣
〈⎳ FT. Zira
hanya author yg tahu😭😭
Hajime Nagumo
seru ngeliat ibu2nya, mau boikot sagara kalo dia milih viola, padahal viola itu sumber masalah keluarga sagara.

kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
Hajime Nagumo
wah ternyata! bener kan tebakan saya, sagara itu orang berada! nice kak untuk cerita chapter ini. andi sampe bingung sagara ngelamunin apaan.

akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana
nuraeinieni
ambil saja surat wasiat terakhir dari ayahmu sagara,siapa tau aja penting,tapi kamu tetap harus waspada dgn ibu tirimu.
sitanggang
bertele-tele Kalilaah 🙄
Teteh Lia: 😅😅😅😅😅
total 1 replies
mama Al
oh sudah kacau ya, Gara.
udah nyampe ke relung yang paling dalam dong 😁
mama Al
nih mereka sampai ujung dunia kagak berhenti debat ya
mama Al
amiiin
mama Al
jadi pusat perhatian nara.
apalagi kalau ngaku jadi pacar gara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!