Dianggap sampah karena kehancuran jiwa beladirinya, Keluarganya di asingkan dan bahkan hampir mati dengan tulang belakang yang hancur.
Namun tidak ada yang tahu…
Di dalam tubuhnya bangkit jiwa beladiri ganda legendaris yang belum pernah muncul di dunia ini.
Dengan kehidupan kedua di tangannya, dia hanya memiliki satu tujuan..
Menginjak semua orang yang pernah merendahkannya dan berdiri tak terkalahkan di bawah langit.
Tapi saat rahasianya perlahan terungkap, musuh yang datang untuk menghancurkannya semakin kuat…
Akankah dia menjadi penguasa tak terkalahkan, atau justru jatuh sebelum mencapai puncak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jazzy bold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Berkaki Jenjang
Zhang Tiangxia tentu saja tidak tahu bahwa keluarga mereka saat ini sudah menjadi buronan keluarga zhang.
Bukan hanya dia yang tidak tahu, bahkan ayah dan ibunya pun tidak tahu apapun.
Saat ini Zhang Tiangxia larut dalam pemahaman mendalam mempelajari teknik penyatuan bayangan. Samar-samar tubuhnya kadang bergerak, kadang diam di tempat.
Semakin lama, perubahannya semakin jelas. Dalam jeda beberapa tarikan nafas tubuhnya akan menghilang, lalu muncul kembali pada saat berikutnya. Kejadian ini terus berlanjut dalam waktu berjam-jam.
Lima jam kemudian, Zhang Tiangxia akhirnya membuka mata. Namun di wajahnya ada senyum kecil yang tersungging.
Dia bergerak dari satu sudut halaman ke sudut lainnya. Lalu dari sudut ke sudut lagi, setiap gerakan sangat cepat dan halus. Bahkan saking halusnya, orang lain tidak akan bisa melihat arah gerakannya ke arah mana.
Tepat saat ini, Zhang Tiangxia bergerak ke arah pohon yang tingginya sekitar sepuluh meter lalu tubuhnya seolah-olah menghilang begitu saja.
"Akhirnya aku berhasil melatih teknik penyatuan bayangan." Zhang Tiangxia mengangguk cukup puas.
Di dalam bayangan pohon yang tingginya sepuluh meter, terdapat bayangan gelap lainnya. Jika tidak di amati dengan cermat dalam waktu lama atau menggunakan indra ilahi, mungkin orang tidak akan tahu ada orang di bayangan pohon tersebut.
Yah, saat ini Zhang Tiangxia berhasil menyatukan tubuhnya dengan bayangan pohon. Sekarang tubuhnya seperti jadi bagian dari bayangan pohon itu sendiri.
Dia mengamati area sekitarnya, kemudian dia bergerak ke arah batu yang berukuran besar sebelum akhirnya dia kembali menghilang di sekitar batu itu.
Semakin lama, gerakannya semakin halus dan lancar, barulah akhirnya Zhang Tiangxia berhenti.
Matanya menatap ke arah kejauhan dengan ekspresi serius, firasatnya mengatakan mungkin kedamaian yang ada saat ini tidak akan bertahan lama.
"Saat ini aku hanya bisa bertahan selama dua puluh tarikan nafas saat menyatu dengan bayangan, jadi jika aku ingin menggunakan teknik ini untuk membunuh atau melarikan diri, aku harus bergerak cepat. Jika tidak, pasti akan ketahuan." Zhang Tiangxia bergumam.
Meskipun dia sudah membunuh Zhang Ziyi yang menjadi sampul di hatinya, namun pada saat itu dia juga mendengar tentang organisasi bayangan yang menginginkan nyawanya. Inilah yang membuatnya sangat khawatir, terutama dia khawatir dengan orang tua dan adiknya. karena sejak dia mendengar tentang organisasi bayangan seminggu yang lalu, sampai saat ini masih belum ada gerakan apapun. Inilah yang membuatnya terus waspada.
"Setidaknya dalam beberapa hari ini, aku harus melatih teknik penyatuan bayangan hingga bisa bertahan selama sepuluh menit dalam bayangan. Dengan begitu aku bisa merasa lebih aman nantinya."
Zhang Tiangxia kembali menutup mata lalu mulai mendalami teknik penyatuan bayangan.
Meskipun dia sudah berhasil mencapai pencapaian kecil dan bisa bertahan selama dua puluh tarikan nafas saat menyatu dengan bayangan, itu masih jauh dari cukup. Dua puluh tarikan nafas tentu akan sangat mematikan jika melawan orang lemah, namun jika melawan master alam pembuka Meridian tingkat kesembilan seperti kepala keluarga Zhang atau alam pemurnian Qi, jelas mustahil untuk bersembunyi dari mereka.
. . .
Menjelang matahari akan terbit, Zhang Tiangxia akhirnya menghentikan latihannya.
Dia berdiri diam sambil menghadap ke arah matahari yang hampir terbit. Meskipun wajahnya tampak kelelahan, wajahnya terlihat tenang.
"Betapa indahnya jika bisa hidup seperti ini selamanya." Zhang Tiangxia menatap matahari yang mulai terbit sambil menghela nafas.
Tepat saat Zhang Tiangxia sedang menikmati indahnya pemandangan di pagi hari, suara gadis kecil langsung membuatnya sadar kembali. "Kakak, kamu sedang memikirkan apa?"
Zhang Yuer, yang masih menggunakan baju tidur menghampiri Zhang Tiangxia sambil membawa boneka monyet berwarna coklat di tangannya.
Zhang Tiangxia menarik kembali pikirannya, lalu menatap adiknya sambil tersenyum kecil, "Yuer, tumben kamu bangun sangat awal."
Zhang Yuer cekikikan sambil menutup mulutnya, "kakak tahu tidak, aku tidur cukup nyenyak. Jadi aku bangun lebih awal."
"Oh, jadi maksudmu dirumah kita sebelumnya kamu tidur tidak pernah nyenyak makanya kamu selalu bangun siang hari?" Zhang Tiangxia tersenyum jahat, "Yuer, Jika ayah tahu hal ini, dia pasti akan memukul pantatmu."
Wajah Zhang Yuer seketika menjadi panik. "Kakak... Tidak..." Zhang Yuer terbata-bata. "Aku tidak bermaksud seperti itu." Zhang Yuer buru-buru menjelaskan.
Matanya yang besar tampak berkaca-kaca seolah dia akan menangis di waktu berikutnya.
Melihat adiknya yang panik, Zhang Tiangxia tertawa lebar, "Haha, kakak hanya bercanda."
"Ahh. Kakak sialan." Suara Zhang Yuer memekik. matanya yang besar menatap kakaknya sambil melotot.
Namun bukannya takut, Zhang Tiangxia justru merasa sangat gemas. Dia mencubit pipi adiknya lalu pergi.
"Cepat mandi lalu ganti baju, setelah itu kita sarapan." Zhang Tiangxia berkata sambil terus berjalan.
Zhang Yuer memegang pipinya dengan kesal, kakinya menghentak tanah. "Kakak, aku membencimu. Kamu selalu mencubit pipiku. Bagaimana jika aku memiliki pipis seperti bakpao nantinya."
"Itu bagus." Zhang Tiangxia menjawab sambil berjalan.
"Ahh.. Tidak tidak." Zhang Yuer menggelengkan kepala dengan keras, "Aku tidak ingin memiliki pipi seperti bakpao, itu sangat jelek." Zhang Yuer menyusul kakaknya sambil berlari kecil.
"Aku sering melihat banyak bibi yang memiliki pipi sebesar bakpao, mereka terlihat sangat jelek dan badannya sangat besar, jika aku dewasa, aku tidak ingin seperti itu." Zhang Yuer terus berbicara sambil berjalan.
"Jadi, jika kamu dewasa, kamu ingin seperti apa?" Zhang Tiangxia menatap Zhang Yuer dengan penasaran.
"Hum." Zhang Yuer memegang dagu tampak berfikir. " Aku ingin menjadi wanita cantik dengan kaki yang jenjang." Dia menjawab dengan mata bersinar.
"Eh..." Zhang Tiangxia hampir tersandung saat mendengar jawaban adiknya. Dia bergumam dalam hati bagaimana bisa anak kecil berusia enam tahun sudah berpikir untuk menjadi wanita cantik dengan kaki jenjang.
Zhang Tiangxia menggelengkan kepala tak berdaya. Wanita cantik berkaki jenjang dia banyak melihatnya saat di kehidupan sebelumnya, biasanya mereka itu adalah artis tv atau para penari.
Namun di dunia ini, satu-satunya wanita cantik yang pernah dia temui hanyalah nona muda dari balai perdagangan Yuan. Hanya saja meskipun dia cantik, saat bertemu dengannya dia menggunakan celana panjang formal, bukan celana pendek sampai di paha seperti wanita yang dia lihat di kehidupan sebelumnya
Sementara wanita Berkaki jenjang, dia belum pernah melihatnya sama sekali.
. . .