Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Lampu-lampu jalanan ibu kota tampak seperti garis cahaya yang kabur saat Bentley hitam milik Charles membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, atmosfer terasa begitu mencekam. Pak Gunawan yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik melalui spion tengah, menatap tuannya yang duduk di kursi belakang dengan rahang yang mengatup rapat. Tidak ada suara musik, tidak ada obrolan. Hanya ada deru napas tertahan dari seorang pria yang seluruh batas kesabarannya telah runtuh.
Charles menatap keluar jendela, namun pikirannya tertuju pada satu wajah: Andini. Ia tahu gadis itu memiliki hati yang terlalu lembut untuk dunia yang kejam ini. Ia tahu bagaimana Andini menghargai kenangan masa lalunya, dan kenyataan bahwa Reyhan—pria yang pernah mengisi bait-bait puisi pertamanya—kini menjadi tombak yang digunakan Vivian untuk menghancurkannya, pasti akan mencabik-cabik perasaan gadis itu.
"Kita hampir sampai, Pak Charles," suara Pak Gunawan memecah keheningan saat mobil berbelok memasuki area parkir sebuah gedung perkantoran di kawasan bisnis fungsional. Itu adalah gedung tempat kantor hukum keluarga Rahardja berada.
"Kau tunggu di sini, Gunawan. Pastikan tidak ada wartawan yang bisa mendekati mobil ini," perintah Charles pendek, suaranya terdengar datar namun dingin.
"Baik, Pak."
Charles melangkah keluar dari mobil. Ia merapikan kancing jas hitamnya dengan satu gerakan tenang sebelum melangkah masuk ke dalam gedung. Kehadirannya seketika menarik perhatian resepsionis di lobi, namun Charles tidak berhenti untuk mengisi buku tamu. Dengan langkah yang mantap dan aura dominasi yang mutlak, ia langsung menuju lift pribadi yang mengarah ke lantai kantor firma hukum Rahardja.
Di dalam salah satu ruang rapat yang dikelilingi dinding kaca kedap suara, Reyhan sedang duduk dengan kepala yang ditopang oleh kedua tangannya. Di atas meja di hadapannya, draf final kesaksian lisan yang telah disusun oleh tim pengacara Vivian tergelak. Namun, ada keraguan yang mendalam di dalam hatinya. Artikel yang terbit siang tadi memicu reaksi yang jauh lebih liar dari apa yang ia bayangkan. Komentar-komentar netizen mulai menyerang privasi Andini, menguliti identitas sekolahnya yang dulu, dan menjadikannya bahan lelucon di media sosial.
*Apakah ini benar-benar cara untuk menyelamatkannya?* Pertanyaan itu terus berputar di kepala Reyhan.
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka dengan sentakan keras, membuat Reyhan dan dua pengacara Vivian yang berada di dalam ruangan tersentak kaget.
Charles Utama berdiri di ambang pintu. Tatapan matanya yang setajam elang langsung mengunci sosok Reyhan. Kedua pengacara Vivian segera berdiri, mencoba menghalangi langkah Charles.
"Pak Charles? Anda tidak bisa masuk ke ruangan ini tanpa izin"
"Keluar," potong Charles, suaranya sangat rendah namun getaran otoritas di dalamnya membuat kedua pengacara itu membeku. "Aku tidak punya urusan dengan pion-pion seperti kalian. Keluar sebelum aku membeli firma hukum ini besok pagi dan memecat kalian secara tidak hormat."
Ancaman itu bukan sekadar gertakan sambal, dan kedua pengacara itu tahu persis siapa Charles Utama. Setelah saling pandang dengan ragu, mereka perlahan mengemas berkas mereka dan keluar dari ruangan, meninggalkan Reyhan sendirian menghadapi sang penguasa es.
Charles melangkah masuk, lalu menutup pintu kaca di belakangnya. Ia berjalan mendekati meja, menarik sebuah kursi di hadapan Reyhan, dan duduk dengan ketenangan yang luar biasa mengintimidasi.
"Jadi," Charles memulai, melipat tangannya di atas meja panjang tersebut. "Kau yang bernama Reyhan Dewangga."
Reyhan mencoba menegakkan punggungnya, menolak untuk terlihat kerdil di hadapan pria yang mengenakan setelan jas seharga ratusan juta rupiah ini. "Ya. Dan saya tidak akan menarik kembali kesaksian saya, Pak Charles. Anda tidak bisa mengancam saya dengan uang Anda."
Charles menarik sudut bibirnya, menciptakan senyuman tipis yang terasa sangat masam. "Kau pikir aku ke sini untuk menyuapmu, Anak Muda? Kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Aku ke sini karena kau telah melakukan satu kesalahan fatal yang tidak akan pernah kumaafkan."
"Kesalahan apa?" tantang Reyhan, suaranya agak meninggi. "Membongkar kebenaran bahwa Anda menawan Andini di dalam sangkar emas demi bisnis Anda? Itu bukan kesalahan, itu adalah kewajiban moral saya sebagai orang yang mencintainya!"
"Mencintainya?" Charles terkekeh pelan, sebuah tawa tanpa rasa humor yang membuat bulu kuduk Reyhan meremang. "Kau bilang kau mencintainya, tapi kau membiarkan fotonya dipajang di media daring murahan. Kau membiarkan jutaan orang di luar sana menghakimi masa lalunya, menguliti kehidupan sekolahnya, dan menjadikannya konsumsi publik. Kau bekerja sama dengan Vivian, lwanita yang mencoba menyeret Andini ke lembaga perlindungan anak hanya untuk menggulingkanku. Di mana letak cintamu dalam semua kehancuran ini, Reyhan?"
Pertanyaan Charles menghantam ego Reyhan tepat di ulu hati. Pemuda itu terdiam, wajahnya mendadak berubah pias karena ia tidak bisa membantah kenyataan bahwa artikel siang tadi memang mulai merugikan nama baik Andini.
"Kau hanyalah seorang pemuda egois yang terluka karena Andini tidak lagi membutuhkan puisimu untuk bertahan hidup," lanjut Charles, suaranya kini kembali merosot menjadi bisikan yang dingin. "Kau mengklaim ingin menyelamatkannya, padahal kau hanya ingin memuaskan fantasimu sebagai pahlawan dari masa lalu. Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang dilewati Andini saat dunianya runtuh. Di mana kau saat bank menyita rumahnya? Di mana kau saat ayahnya meninggal? Kau tidak ada di sana. Dan sekarang, saat aku telah membangun dinding yang kokoh untuk melindunginya, kau datang membawa kapak untuk meruntuhkannya atas nama cinta?"
Reyhan mengepalkan tangannya di bawah meja, matanya mulai memerah oleh perpaduan antara rasa malu dan amarah yang tertahan. "Andini hanya ketakutan! Dia terjebak dalam kontrak Anda!"
Charles berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Reyhan. "Pernikahan kami bukan lagi sekadar kontrak, dan jika kau memiliki mata yang cukup tajam untuk melihat, kau akan tahu bahwa Andini telah memilih tempatnya. Dia memilih untuk tinggal di sampingku."
Charles mengeluarkan sebuah map dari balik jasnya dan melemparnya ke atas meja, tepat di depan Reyhan. "Di dalam sana ada bukti seluruh rekam jejak akademismu. Beasiswa yang kau dapatkan, komunitas literasi yang kau ikuti. Aku bisa menghapus semua itu dalam waktu dua puluh empat jam. Aku bisa memastikan tidak ada satu pun penerbit di negara ini yang mau mencetak tulisanmu, dan tidak ada satu pun sekolah yang mau menerimamu sebagai pengajar."
Reyhan mendongak dengan tatapan tidak percaya. "Anda... Anda mengancam masa depan saya?"
"Aku sedang memberimu pilihan," koreksi Charles dingin. "Tarik kembali semua dokumen kesaksianmu dari Vivian, sampaikan permohonan maaf tertulis kepada Andini atas pencemaran nama baik ini, dan pergilah dari kota ini untuk melanjutkan kuliahmu dengan tenang. Jika kau melakukannya, aku akan membiarkan masa depanmu tetap utuh."
"Dan jika saya menolak?" tanya Reyhan dengan sisa-sisa keberaniannya.
Charles menegakkan tubuhnya, merapikan jasnya dengan gestur yang sangat santai namun mematikan. "Jika kau menolak, aku tidak hanya akan menghancurkan kariermu. Aku akan memastikan Vivian mendekam di penjara lebih cepat, dan kau akan ikut terseret sebagai komplotan yang melakukan pemerasan dan pencemaran nama baik berlapis. Pilih dengan bijak, Penulis. Karena di dunia nyata yang kau benci ini, idealisme tanpa kekuatan hanyalah cara cepat untuk menghancurkan diri sendiri."
Tanpa menunggu jawaban dari Reyhan, Charles berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat. Langkah kakinya yang mantap menggema di sepanjang koridor, meninggalkan Reyhan yang kini terduduk lemas di kursinya, menatap map dokumen di hadapannya dengan tubuh yang gemetar hebat.
Charles telah menunjukkan perisainya, dan ia tidak akan ragu untuk menggunakannya sebagai pedang jika ada yang berani mendekati wilayah yang telah ia sumpah untuk dijaga sepanjang hidupnya. Badai ini belum sepenuhnya usai, namun Charles telah memastikan bahwa retakan pertama telah muncul di pihak musuh.