Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Sekolah — Bisik-bisik dan Tatapan
Hari Senin, pukul 06.30. Gerbang sekolah.
Begitu aku menginjakkan kaki di halaman sekolah, suasana berubah. Bukan berubah jadi sunyi—justru sebaliknya, menjadi lebih ramai. Tapi ramainya bukan karena kegembiraan, melainkan karena bisik-bisik.
"Itu Nayla, ya?"
"Iya, yang jadi saksi."
"Denger-denger dia yang bantu tangkap Rio?"
"Katanya dia dan pacarnya..."
"Pacarnya? Siapa?"
"Yang cowok jutek itu. Rasya."
Aku terus berjalan, memasang wajah tidak peduli. Tapi telingaku mendengar semuanya.
"Nay!" Sasha berlari kecil menghampiriku, wajahnya merah padam—bukan karena olahraga, tapi karena emosi. "Kamu nggak bakal percaya apa yang orang-orang omongin!"
"Apa lagi?"
"Mereka bilang—" Sasha menggigit bibir, "—mereka bilang kalau kamu sengaja deketin Rio biar dia jatuh cinta, terus kamu jebak dia. Kamu dibilang femme fatale."
Aku tertawa. "Serius? Femme fatale? Kita masih SMP, Sha."
"Aku tahu! Tapi orang-orang suka banget bikin drama."
"Biarin mereka bicara. Yang penting kita tahu kebenarannya."
Sasha menghela napas. "Kamu terlalu tenang, Nay. Awas nanti dipikir sombong."
"Biar."
---
Jam Istirahat — di Kantin
Rasya sudah duduk di meja pojok, seperti biasa. Tapi hari ini, mejanya tidak sendiri. Beberapa anak—kebanyakan cowok—duduk di sekitarnya, tampak antusias.
"Rasya, cerita dong! Kamu beneran lawan Rio sampe pake jurus judo?"
"Kata orang kamu sempat kena racun tapi keburu muntahin, beneran?"
"Kamu sama Nayla emang pacaran?"
Rasya tidak menjawab satu pun pertanyaan itu. Dia hanya makan mi ayamnya dengan tenang, sesekali menatap kosong ke kejauhan.
Aku mendekat.
"Astaga, kalian ini pada nge-stalk pacar aku, ya?" kataku sambil tersenyum.
Anak-anak itu langsung malu-malu.
"Eh, Nayla, kita cuma penasaran—"
"Penasaran boleh. Tapi jangan ganggu orang makan."
Mereka pergi. Tinggal aku, Rasya, dan Sasha yang baru datang dengan segelas es teh manis.
"Kamu terkenal, Ras," candaku sambil duduk di sampingnya.
"Tidak suka."
"Kenapa? Kan seru. Banyak yang perhatian sama kamu."
"Nggak suka." Dia mendorong piring mi-nya yang sudah habis ke samping. "Perhatian yang benar hanya dari satu orang cukup."
Aku tersenyum. "Kamu tahu siapa orang itu?"
Dia menatapku. "Kamu."
Sasha mengerang.
"Aku nggak tahan. Aku cabut dulu. Nanti aku muntah lagi kayak di rest area."
"Sha, jangan—"
Tapi Sasha sudah pergi.
---
Pukul 13.00 — Jam Pulang (Lebih Cepat Karena Ada Sidang)
Semua murid kelas 1 dipulangkan lebih cepat karena polisi akan memanggil beberapa siswa untuk dimintai keterangan tambahan. Aku, Rasya, Sasha, dan Andre adalah beberapa nama di daftar itu.
"Siap?" tanya Rasya, menggandeng tanganku.
"Siap."
Kami berjalan menuju mobil polisi yang terparkir di depan sekolah. Andre sudah menunggu di sana, wajahnya lesu.
"Nayla, Rasya," sapanya pelan.
"Andre." Rasya mengangguk dingin.
Meskipun Andre sudah membantu kami, Rasya masih sulit mempercayainya sepenuhnya. Aku tidak bisa menyalahkannya.
"Kita naik satu mobil?" tanyaku.
"Iya," jawab salah satu polisi, seorang wanita berusia sekitar 30an dengan rambut pendek dan raut tegas. "Nama saya Ipda Wati. Saya yang akan memimpin pemeriksaan hari ini. Ikut saya."
Kami naik ke mobil polisi. Perjalanan ke kantor polisi memakan waktu sekitar 20 menit. Sepanjang jalan, tidak ada yang bicara.
---
Di Kantor Polisi
Kami dipisah ke ruangan yang berbeda untuk dimintai keterangan satu per satu. Aku masuk ke ruangan Ipda Wati, bersama seorang polisi pria yang lebih muda yang bertugas mencatat.
"Silakan duduk, Nayla," kata Ipda Wati, suaranya bersahabat tapi profesional. "Kamu nggak perlu takut. Kamu di sini sebagai saksi, bukan tersangka."
"Saya tahu, Bu."
"Ceritakan dari awal. Bagaimana kamu tahu kalau Rio berencana mencelakai Rasya?"
Aku menarik napas. Kali ini, aku tidak bisa menyembunyikan semuanya. Tapi aku juga tidak bisa menceritakan soal terlahir kembali—mereka pasti menganggapku gila.
"Awalnya karena saya curiga, Bu. Rio sering memandangi Rasya dengan tatapan aneh. Lalu saya mendengar dia bicara dengan Vania di belakang laboratorium."
"Kamu dengar pembicaraan mereka?"
"Iya. Tentang... membunuh Rasya di karyawisata."
Ipda Wati mencatat sesuatu. "Kamu tidak melapor ke guru?"
"Saya lapor ke Pak Bambang, Bu. Tapi kami tidak punya bukti saat itu. Jadi kami memutuskan untuk mengumpulkan bukti sendiri."
Ipda Wati menghela napas. "Berbahaya, Nak."
"Saya tahu, Bu. Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi?"
Polisi pria itu memicingkan mata, tapi Ipda Wati hanya tersenyum kecil.
"Kamu berani. Agak bodoh, tapi berani."
"Terima kasih, Bu."
"Jadi, begitu sampai di Puncak, kamu dan Rasya dan Sasha—"
"Sasha teman saya, Bu. Dia yang merekam pembicaraan Rio."
"Baik. Lalu?"
Aku menceritakan semuanya—tentang Andre yang berbalik membantu, tentang jebakan di Villa C, tentang botol racun yang ditemukan di ransel Rio.
Ipda Wati mendengarkan dengan saksama. Ketika aku selesai, dia duduk di kursinya, menyilangkan tangan.
"Kamu tahu, Nayla," katanya akhirnya, "Rio sudah mengaku. Semua."
Jantungku berdegup. "Benar?"
"Benar. Dia mengaku merencanakan pembunuhan terhadap Rasya. Tapi dia tidak mau menyebut siapa yang menyuruhnya."
"Bos di belakangnya?"
Ipda Wati mengerjap. "Kamu tahu soal itu?"
"Rio bilang begitu. Waktu dia mengancam Andre."
Ipda Wati berbisik dengan rekannya sebentar. Lalu dia menatapku lagi.
"Nayla, apa kamu yakin Rio bilang soal bos?"
"Saya dengar sendiri, Bu. Tapi sayangnya saat itu Sasha belum merekam. Kami baru merekam saat dia mengancam Andre di gazebo."
Ipda Wati mengangguk pelan. "Ini informasi penting. Terima kasih."
---
Pukul 17.00 — Selesai
Pemeriksaan selesai. Kami bertiga—aku, Rasya, Sasha—bertemu di ruang tunggu.
"Gimana?" tanya Sasha.
"Rio sudah mengaku," kataku.
"Alhamdulillah."
"Tapi dia tidak mau sebut nama bosnya."
Rasya menghela napas. "Sudah kuduga. Dia lebih takut sama bosnya daripada sama polisi."
"Bosnya siapa, sih, sebenarnya?" tanya Sasha, wajahnya penuh rasa penasaran. "Mafia? Pengusaha? Artis?"
"Belum tahu." Rasya menggenggam tanganku. "Tapi kita akan cari tahu."
---
Pukul 18.00 — Jalan Pulang
Aku dan Rasya berjalan berdampingan. Sasha sudah diantar Ayahnya—dijemput, bukan naik ojek seperti biasa, karena Ayahnya panik begitu tahu Sasha jadi saksi kasus percobaan pembunuhan.
"Rasya, hari ini melelahkan."
"Iya."
"Tapi rasanya lega sedikit, ya? Rio sudah mengaku."
"Leganya belum penuh."
Aku menoleh. "Kenapa?"
Dia berhenti berjalan. Kami berada di bawah pohon rindang dekat perempatan lampu merah. Sore mulai berganti senja, langit berwarna jingga keemasan.
"Karena," katanya pelan, "Rio tidak akan dipenjara lama. Dia masih di bawah umur. Maksimal beberapa tahun di LPKA. Lalu dia bebas, dan dia akan mencari kita lagi."
Aku menggigit bibir.
"Jadi... ini belum selesai?"
"Belum."
"Kapan selesai?"
"Saat bosnya juga tertangkap. Atau saat... kita menghabisi mereka berdua."
Kata 'menghabisi' terdengar berat. Tapi anehnya, aku tidak takut.
Karena aku tahu, di sisi Rasya, aku tidak akan pernah sendirian.
---
Malam Itu — Chat Log
Nayla (21.00): "Rasya, kamu masih bangun?"
Rasya (21.01): "Iya."
Nayla (21.01): "Aku nggak bisa tidur."
Rasya (21.02): "Mikir soal bos Rio?"
Nayla (21.02): "Iya."
Nayla (21.03): "Dan soal... kita."
Rasya (21.03): "Kita kenapa?"
Nayla (21.04): "Hubungan kita. Kita baru pacaran beberapa hari, tapi udah dihadapin sama percobaan pembunuhan."
Rasya (21.04): "Berarti hubungan kita tahan banting."
Aku tersenyum.
Nayla (21.05): "Ciyus, lo nggak mikir buat... mundur aja? Biar nggak bahaya ta?"
Rasya (21.05): "Tidak."
Rasya (21.06): "Aku tidak akan mundur. Bahaya atau tidak, aku akan ada di samping kamu."
Nayla (21.06): "Sampai kapan?"
Rasya (21.07): "Sampai kehidupan ini selesai. Lalu di kehidupan berikutnya. Lalu seterusnya."
Aku memeluk bantal, tersenyum lebar.
Nayla (21.08): "Aku sayang kamu, Rasya."
Rasya (21.08): "Aku sayang kamu juga, Nayla."
Rasya (21.09): "Sekarang tidur. Besok sekolah. Jangan lupa bawa tugas matematika."
Nayla (21.09): "..."
Nayla (21.10): "Kamu perusak suasana hati."
Rasya (21.10): "Itu tugasku."
Nayla (21.11): "Selamat malam, kekasihku yang perusak suasana hati."
Rasya (21.11): "Selamat malam, kekasihku yang keras kepala."
Aku tertawa kecil. Handphone kusimpan di samping bantal.
Di luar jendela, bulan bersinar terang. Jakarta malam mulai tenang.
Tapi aku tahu, ketenangan ini hanya sementara.
Badai berikutnya pasti akan datang.
Tapi untuk malam ini, aku memilih untuk tertidur—dengan senyum di bibir dan bayangan Rasya di hatiku.
---
Dua minggu setelah karyawisata.
Hidup perlahan kembali normal—atau setidaknya, versi normal yang baru. Rio dan Vania resmi dikeluarkan dari sekolah. Mereka sekarang ditahan di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) sambil menunggu sidang.
Andre menjadi saksi. Dia divonis justice collaborator sehingga hukumannya diringankan. Tapi dia tetap harus menjalani masa percobaan di panti sosial selama enam bulan.
"Selamat tinggal, Andre," kataku saat dia dijemput petugas.
Dia tersenyum pahit. "Selamat tinggal, Nayla. Maaf untuk semuanya."
"Maaf diterima. Tapi jangan harap kita bakal berteman."
"Aku tidak berharap. Cukup kamu tidak membenciku."
Aku hanya mengangguk.
Andre menatap Rasya yang berdiri di sampingku. "Jaga dia."
"Sudah."
"Beneran?"
"Sejak kehidupan sebelumnya."
Andre tertawa kecil. "Selamat tinggal, Rasya."
Rasya tidak menjawab. Tapi dia mengangguk sekali.
Mobil panti sosial itu melaju, meninggalkan sekolah. Aku menghela napas lega.
"Satu musuh hilang," ucap Rasya.
"Tapi masih ada satu lagi."
"Iya. Bosnya."
---
Hari Selasa, Pukul 07.00 — Seorang Siswa Baru Datang
Belum genap dua minggu Rio dan Vania dikeluarkan, sudah ada siswa pindahan baru.
"Namaku Kayla Maharani," ucap gadis itu di depan kelas. Rambutnya sebahu, wajahnya manis dengan lesung pipit di pipi kiri. Dia tersenyum—senyum yang familiar.
Terlalu familiar.
"Aku pindahan dari Surabaya. Tolong bimbing aku, ya."
Aku menatapnya.
Dia menatapku.
Dan di matanya, aku melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.
Pengakuan.
Dia tahu siapa aku.
Dia juga terlahir kembali.
"Aku mau duduk di sebelah Nayla, Bu Guru," kata Kayla manis. "Kita namanya mirip, kan? Kayla dan Nayla. Kayaknya kita bakal cocok."
Bu Dewi mengangguk. "Baik, silakan."
Kayla berjalan ke arahku. Setiap langkahnya terasa seperti hitungan mundur.
Dia duduk di kursi yang dulu ditempati Vania—bangku kosong yang belum terisi selama dua minggu.
"Halo, Nayla," bisik Kayla, sangat pelan sehingga hanya aku yang mendengar. "Senang bertemu denganmu... lagi."
Aku menggenggam pulpenku erat.
"Kamu siapa?"
Dia tersenyum. "Kamu nggak ingat aku? Tapi aku ingat kamu. Kamu... anak emas di kehidupan sebelumnya. Yang kaya, yang populer, yang selalu menjadi pusat perhatian."
"Kamu iri?"
"Bukan iri." Kayla membuka bukunya—buku catatan berwarna ungu dengan sampul glitter. "Aku hanya... kesal. Karena kamu mendapat semua yang aku inginkan. Termasuk Rasya."
Darahku membeku.
"Kamu tahu soal Rasya?"
Kayla menoleh padaku. Matanya—yang tadi manis—sekarang terlihat seperti mata ular. Dingin. Mematikan.
"Aku tahu semuanya, Nayla. Karena di kehidupan sebelumnya, aku adalah adik Rio."