Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menukar Kartu ATM
"Hahahaha! Mas nggak salah ngomong?"
Tawa Sekar pecah, memenuhi kamar yang terasa pengap itu. "Mau potong uang belanja lagi? Mas, uang belanja yang cuma dua puluh lima ribu sehari aja sudah bikin kalian hobi komplain sama masakan aku. Sekarang mau dipangkas lagi? Ya sudah, silakan. Gampang kok, besok-besok aku masakin pelepah pisang atau daun singkong yang ada di belakang rumah. Mau?"
Ferdiansyah seketika mati kutu. Dia cuma bisa garuk-garuk kepala yang nggak gatal.
“Sialan.” batinnya.
Rupanya ancaman potong anggaran sama sekali nggak mempan buat Sekar yang sekarang.
"Huft…. Pokoknya Mas nggak suka ya sama kelakuan kamu di acara tadi, Sekar. Kamu bukan cuma bikin malu aku sama Manda, tapi kamu juga sukses bikin Ibu malu di depan teman-temannya." semprot Ferdiansyah, masih berusaha meluapkan amarah yang tertahan.
"Loh, kok aku lagi yang salah? Aku kan cuma membela diri." gumam Sekar santai.
"Sebagai hukuman, malam ini kamu tidur di luar!" bentak Ferdiansyah sok berkuasa.
"Eh, enak aja. Nggak mau!" tolak Sekar mentah-mentah.
"Keluar. Atau aku seret kamu sekarang juga!" Ferdiansyah mulai pasang tampang garang.
Bukannya takut, Sekar malah berkacak pinggang. Dia nggak akan sudi mengalah untuk kesalahan yang bukan dia buat. Salah sendiri Ferdiansyah berani pulang bawa selingkuhan ke rumah, jadi jangan salahkan kalau Sekar membalas dengan cara yang lebih ekstrem.
"Berani Mas nyeret aku? Detik ini juga aku laporin ke polisi pakai pasal KDRT!" gertak Sekar dengan mata melotot.
Ferdiansyah gantian melotot. Jantungnya berdegup kencang. Mengapa istrinya jadi seberani ini? "Kamu... kamu berani ngancem aku???"
"Ya kenapa nggak? Udah sana, mending Mas aja yang keluar dari kamar. Aku nggak sudi tidur seranjang sama suami pengkhianat kayak Mas.” Sekarang malah Sekar yang mengusir.
"Ka-kamu nuduh aku pengkhianat?" Ferdiansyah makin syok.
"Ya iyalah. Buktinya tadi pulang bawa cewek gatel itu." sahut Sekar ceplas-ceplos.
"Kami cuma teman kerja, Kar. Jangan asal tuduh, aku nggak selingkuh sama dia." Kalau soal urusan ngeles, Ferdiansyah memang jagonya. Dia berusaha sekuat tenaga menutupi boroknya yang sebenarnya sudah tercium 100 persen oleh Sekar.
Sekar tersenyum sinis. "Alah, nggak percaya aku. Awas aja ya, kalau Mas sampai berani tidur sama cewek itu, aku potong 'aset' Mas sampai habis."
Wajah Sekar mendadak menyeramkan. Dia benar-benar emosi membayangkan suaminya sudah main-main dengan Manda. Membayangkannya saja sudah membuat Sekar merasa jijik luar biasa.
"Astaga, Sekar! Aku... aku belum sampai berbuat sejauh itu." jawab Ferdiansyah refleks, yang tanpa sadar malah mengakui adanya hubungan spesial.
"Belum?" Sekar menaikkan sebelah alisnya.
Ferdiansyah langsung gelagapan. Dia sadar baru saja salah bicara. "Eh, maksudku... aku nggak selingkuh dan nggak bakal berbuat zina."
"Hmph, ya sudah. Sana keluar, aku mau tidur. Ngantuk!" Tanpa basa-basi, Sekar mendorong tubuh suaminya yang tinggi kurus itu sampai keluar pintu.
BLAM!
Pintu ditutup rapat dan dikunci dari dalam.
"Loh, Kar! Kok Mas beneran diusir? Buka dong!" Ferdiansyah menggedor-gedor pintu dengan kesal.
Sekar masa bodoh. Dia merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan mata. Ada rasa lega karena suaminya mengaku belum melangkah terlalu jauh, meskipun rasa jijik itu tetap ada. Saat hendak mematikan lampu, mata Sekar tidak sengaja menangkap tas kerja Ferdiansyah yang tergeletak sembarangan di dekat bantal.
Alis Sekar bertaut. Tumben-tumbenan si Ferdi teledor. Biasanya tas itu selalu disimpan di laci bawah tempat tidur dan dikunci rapat.
"Kesempatan." gumam Sekar dengan senyum licik. Dia mulai menggeledah tas itu.
Di luar kamar, kegaduhan itu mengundang kedatangan sang mertua.
"Heh, berisik! Ibu mau tidur, Ferdi!" tegur Bu Nimas yang sudah kelelahan.
"Maaf, Bu..."
"Kenapa kamu bikin ribut malam-malam begini?" tanya Bu Nimas curiga.
"Ini loh, Bu. Sekar ngunci aku dari dalam kamar." adu Ferdiansyah seperti anak kecil.
"Dasar menantu kurang ajar! Kamu juga, Fer, jangan lemah jadi laki-laki. Harus tegas sama istri! Masa gitu aja kalah, malu sama burung perkututmu." semprot Bu Nimas ketus.
Ferdiansyah mendengus. "Apa sih, Bu, kok malah bahas itu."
"Minggir! Biar Ibu yang panggil si Sekar. Awas aja ya, Ibu bejek-bejek dia." Bu Nimas mendorong anaknya dan mulai menggedor pintu dengan beringas.
BRAK! BRAK!
"Heh, Sekar! Buka pintunya!" teriak Bu Nimas.
Di dalam kamar, Sekar hampir loncat dari kasur. "Eh copot, copot! Duh, dasar nenek lampir, bikin jantungan aja!" gerutunya.
Dengan gerakan cepat, Sekar mengambil kartu ATM dari dompet suaminya, lalu menukarnya dengan kartu ATM miliknya yang sudah kedaluwarsa. Strategi ini dilakukan agar Ferdiansyah tidak curiga untuk sementara waktu. Setelah berhasil, Sekar menyembunyikan kartu ATM asli itu dengan rapi.
"Woi, Sekar….. Kamu budek ya? Cepat buka! Jangan jadi istri zalim, bisa dikutuk malaikat kamu!" teriak Bu Nimas lagi.
Sekar memutar bola matanya. "Dasar ratu drama, kalau soal kutuk-mengutuk paling pinter."
Karena malas berdebat panjang soal 'kutukan', Sekar akhirnya membuka pintu. Saat itu juga, Bu Nimas yang sudah bersiap hendak menendang pintu malah kehilangan keseimbangan karena pintu mendadak terbuka.
BRUKK!
"Aduh! Aduh, mataku!" umpat Bu Nimas sambil memegangi jidatnya yang langsung benjol karena beradu dengan lantai.
"Hahahaha!" Sekar bukannya menolong, malah tertawa terpingkal-pingkal melihat penderitaan mertuanya.
"Diam kamu, Sekar!" bentak Ferdiansyah sambil membantu ibunya berdiri.
Sekar tidak peduli. Dia makin tertawa saat melihat benjolan di kening Bu Nimas yang mulai membesar. "Maaf, Bu, nggak sengaja. Tapi sumpah, jidat Ibu lucu banget, udah kayak ikan lohan!"
"Aduh, mimpi apa aku punya menantu sableng kayak kamu." keluh Bu Nimas sambil meringis kesakitan.
Ferdiansyah akhirnya membawa ibunya keluar untuk diobati. Tak lama kemudian, dia kembali ke kamar dengan wajah merah padam.
"Kamu keterlaluan, Sekar!" bentak Ferdiansyah setelah mengolesi dahi ibunya dengan minyak angin.
"Apa lagi sih, Mas? Kok aku lagi yang salah? Kalian yang gedor-gedor minta dibuka, pas aku buka malah disalahin. Maunya apa sih? Udah sana tidur, aku capek mau istirahat!" balas Sekar tak kalah galak.
Ferdiansyah mendengus kencang. "Kamu makin pembangkang. Nyesel aku nikahin kamu!" Dia langsung merebahkan diri dan tidur membelakangi Sekar.
Sakit hati? Pasti. Tapi Sekar memilih untuk menulikan telinga.
"Aku lebih nyesel lagi nikah sama kamu, Mas. Cuma penderitaan yang aku dapat. Belum lagi pengkhianatanmu itu. Awas aja, aku bakal balas semua rasa sakit ini." batin Sekar sebelum akhirnya memejamkan mata.
Pagi harinya, suasana rumah terasa sangat dingin. Sekar dan Ferdiansyah kompak saling diam. Saat sarapan pun, Sekar memilih tidak keluar kamar sampai suaminya berangkat kerja. Dia tidak peduli lagi.
Saat ini, hanya satu hal yang memenuhi pikiran Sekar. Dia menatap kartu ATM di tangannya. "Kira-kira berapa ya PIN-nya?" gumamnya penuh rahasia.
kapoooooooook