NovelToon NovelToon
Petani Ndeso Di Dunia Game

Petani Ndeso Di Dunia Game

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa / Slice of Life
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan untuk sang istri

Di ambang pintu, berdiri sosok pria paruh baya yang merupakan salah satu tetangga desa mereka dulu yang paling meminjamkan banyak uang. Utang keluarganya ke Pakde Parmin ini masih sisa Rp 60.000.000.

Bertemu debt collector (walaupun kerabat sendiri) saat dompet lagi kosong melompong adalah ketakutan terbesar bagi Bu Laras. Wajahnya langsung memelas canggung.

"Malam, Bu Laras," sapa Pakde Parmin ramah, lalu celingukan melongok ke dalam. "Bima-nya udah pulang toh?"

"Udah, Kang Parmin. Baru aja kelar makan," Bu Laras buru-buru mempersilakan pria itu masuk ke ruang tamu yang super sempit. Meskpun hatinya berdebar ketakutan ditagih utang, adat ketimuran mewajibkan tamu disambut dengan hangat.

Baru juga pantat Pakde Parmin nempel di kursi plastik reyot, suara langkah kaki kembali terdengar dari luar pintu.

"Lho, Kang Parmin? Sampeyan diundang si Bima ke mari juga to?"

Pakde Parmin menoleh dan tertawa, "Eh, Pak Tarno. Iya nih. Sampeyan juga tah? Buka warungnya udah tutup?"

"Lagi renovasi atap, Kang, jadi libur dulu jualan baksonya," sahut Pak Tarno seraya masuk.

Di belakang Pak Tarno, rombongan kerabat dan mantan tetangga desa lainnya mulai berdatangan satu per satu, mengantre masuk ke dalam rusun petak yang sumpek itu.

"Wah, Kang Parmin, Pak Tarno, kalian berdua udah nyampe duluan."

"Lha dalah, pada kumpul di sini semua to?"

Melihat wajah-wajah familiar yang semuanya berstatus 'rentenir' bagi keluarganya, jantung Bu Laras rasanya nyaris copot. Ia mendesah frustrasi dalam hati. Bima, anakku sing bagus, kowe iki ngapain malah ngundang pasukan penagih utang ke rumah pas kita lagi bokek begini?!

Meski kepalanya pening, Bu Laras tetap memaksakan senyum ramah, tergopoh-gopoh menyilakan mereka duduk berdesak-desakan, lalu sibuk ke dapur membuatkan teh manis untuk belasan tamu tersebut.

Ruang tamu rusun dua kamar itu seketika penuh sesak kayak angkot jam pulang kerja.

Hoki, yang lagi asyik tidur rebahan, langsung kaget ngeliat serbuan manusia asing. Ia merengek "kaing-kaing" ketakutan lalu lari terbirit-birit ngumpet ke dapur nyari Bima.

Bima segera keluar dari dapur. Melihat Pakde Parmin dan komplotan 'Malaikat Penolong'-nya sudah formasi lengkap, ia langsung menyapa sopan, "Pakde Parmin, Pakde Tarno, monggo diminum tehnya."

Jujur, di dalam hati kecilnya, Bima sangat menghormati dan menaruh rasa terima kasih yang tak terhingga pada orang-orang ini.

Saat bapaknya divonis kanker stadium akhir, nominal biaya perawatannya gila-gilaan, dan peluang hidup bapaknya nyaris nihil. Di saat bank nolak ngasih pinjaman dan saudara jauh pada buang muka takut duitnya nggak balik karena tau ibunya cuma penjaga warung dan dia baru lulus kuliah, orang-orang ini tetap sudi meminjamkan tabungan puluhan juta tanpa jaminan apapun!

Ini utang budi dan nyawa yang nominalnya nggak bisa dinilai pakai angka.

Kadang Bima suka mikir, mendiang bapaknya ini pasti orang yang sangat baik dan dihormati semasa hidupnya, sampai-sampai tetangga desa rela bakar duit demi bantuin dia berobat.

Solidaritas dan empati gila semacam ini cuma bisa ditemui di circle orang tua zaman dulu. Di era milenial dan Gen Z sekarang? Boro-boro sudi minjemin duit puluhan juta ke orang sakit keras tanpa jaminan, minjemin temen seratus ribu buat beli bensin aja kadang nagihnya kudu war dulu di Instastory.

Pakde Parmin menatap Bima dengan senyum kebapakan. "Bim, denger-denger jualan grosirmu makin sukses ya? Kowe ini lho, di antara bocah-bocah desa kita yang merantau ke kota, Sampeyan ini sing paling pinter golek duit."

Pak Tarno ikut menimpali sambil mengacungkan jempol, "Bener itu, Kang Parmin. Si Bima dari kecil emang bocahnya ulet dan nggak neko-neko. Liat tuh anak bujangku di rumah, ampun deh kelakuannya! Kalau dia bisa punya sifat sewaras Bima ini mah, aku mati besok juga ikhlas!"

Kerabat yang lain serempak mengangguk setuju, membanjiri Bima dengan puji-pujian setinggi langit.

Di desa asal mereka, dari puluhan pemuda seumuran Bima, cuma dia doang yang otaknya encer bisa tembus kuliah di kampus negeri kota. Sayangnya, garis nasibnya emang lagi diuji berat sama Tuhan.

Mendengar anak bujangnya dipuji habis-habisan, senyum bangga sempat terukir di wajah pucat Bu Laras. Namun senyum itu cuma bertahan sedetik, sebelum akhirnya luntur dan berganti dengan helaan napas berat. Percuma anakku sukses kalau duitnya abis disedot buat bayar utang bapaknya! batinnya ngenes.

Setelah basa-basi dirasa cukup, Pakde Parmin merogoh dompet kulitnya yang sudah butut, lalu mengeluarkan selembar kuitansi bermaterai dan meletakkannya di atas meja. "Nah, Bu Laras. Ini kuitansi utang yang dulu Ibu tanda tangan ya."

Melihat komando dari Pakde Parmin, Pak Tarno dan kerabat lainnya ikutan merogoh tas dan saku mereka, menggeluarkan kertas tagihan utang masing-masing dan menumpuknya di atas meja.

Karena Bima menelepon mereka dengan alasan 'mau melunasi utang', tentu saja mereka datang membawa bukti surat utangnya sebagai prosedur. Aturan emas utang piutang dari zaman Majapahit: Duit lunas, surat utang disobek di depan mata!

Melihat tumpukan surat tagihan itu, wajah Bu Laras seketika pucat pasi. Ia reflek menarik lengan baju Bima dan berbisik panik.

Tapi Bima buru-buru menenangkan ibunya. "Ibu duduk tenang aja. Ini Bima yang nelpon mereka ke sini kok. Rezeki dagangan grosir Bima kemaren lumayan gila, duitnya cukup banget buat nutup semua ini."

Sambil melempar senyum gentleman ke arah ibunya, Bima dengan santai mencomot tumpukan surat utang di meja itu satu per satu. Ia menatap para malaikat penolongnya dengan penuh wibawa.

"Pakde Parmin, Pak Tarno, Paklik, Bulik... Sampeyan semua pasti bawa HP yang ada m-banking-nya kan? Sini, Bima transfer lunas sekarang juga."

Jlebb. Kalimat Bima sukses bikin Bu Laras melongo kaku kayak patung. Matanya melotot tak percaya menatap wajah putranya.

Sementara itu, kerabat-kerabatnya langsung kasak-kusuk heboh mengeluarkan HP masing-masing.

"Ada, Bim, ada!"

"Zaman sekarang masa iya nggak pake m-banking, Bim."

"Eh, kowe seriusan mau bayar lunas malam ini cash keras?!"

Tanpa banyak cincong, Bima membuka aplikasi perbankan di ponselnya, mencocokkan nominal di surat utang dengan nomor rekening masing-masing kerabat, lalu jarinya menari lincah mengeksekusi transferan.

Dalam hitungan menit, rentetan notifikasi transfer keluar berbunyi nyaring. Blasss, uang senilai Rp 660.000.000 melayang dari rekeningnya! Saldo miliaran yang ia timbun susah payah kini kembali kempes ke level waspada.

Namun, perasaan lega yang luar biasa langsung membanjiri dada Bima. Ibarat beban karung pasir 100 ton yang nangkring di pundaknya selama setahun ini sukses di-drop gitu aja.

"Alhamdulillah, lunas semua ya Pakde, Bulik. Nanti kalau ada rezeki lebih dan Bima selo, tak traktir makan enak di restoran ya. Kalau urusan utang budi sih, Bima janji bakal bales nyicil pelan-pelan," ucap Bima tulus.

Di seberang meja, Pakde Parmin dan yang lainnya sibuk mengecek notifikasi saldo masuk di HP masing-masing. Begitu angkanya cocok, senyum lega dan bahagia langsung merekah di wajah mereka.

Sebenarnya mereka ini murni orang-orang berhati malaikat yang nggak pernah ada niatan neror keluarga Bima buat nagih utang. Tapi yang namanya dapet transferan pelunasan utang puluhan juta secara dadakan cash keras? Siapa coba yang nggak seneng?!

Kondisi ekonomi rakyat jelata sekarang lagi kembang kempis. Dengan masuknya suntikan dana segar puluhan juta ini, dapur mereka di rumah pasti bakal ngebul lebih kenceng.

Kini, tatapan Pakde Parmin dkk saat memandang Bu Laras murni berubah jadi tatapan iri dengki tingkat wajar.

Gila aja, meski nasib keluarga janda ini ambyar dihajar musibah, tapi dia punya satu aset ultimate yang tak tertandingi: Anak bujang kualitas super prime!

Bima ini bukan cuma sukses secara finansial di usia belia tanpa koneksi orang dalem, tapi mental tanggung jawabnya itu lho, dewa banget! Kurang dari setahun, utang ratusan juta orang tuanya langsung disapu bersih tanpa sisa!

Orang tua mana coba di muka bumi ini yang nggak ngiler pengen punya anak macem Bima?!

Bu Laras tentu saja sangat sadar akan arti tatapan iri para kerabatnya itu. Hatinya campur aduk antara mau nangis terharu, bangga yang membuncah, sekaligus speechless.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul meng-update kabar selama setengah jam, rombongan Pakde Parmin akhirnya pamit undur diri agar tidak mengganggu waktu istirahat tuan rumah.

Bima dengan sigap mengawal mereka turun tangga sampai ke parkiran rusun. Ia membuka terpal di bak motor Tossa-nya, menciduk ikan mas dan patin liar berukuran lumayan dari dalam drum, lalu membagikannya masing-masing satu ekor besar kepada setiap tamunya.

"Lho Bim, iki ikan mas liar to?!" Pak Tarno membelalakkan mata melihat ikan menggelepar di tangannya.

Sebagai orang desa asli yang sering mancing di kali, mereka berbelasan ini langsung tahu kalau ikan ini bukan ikan ternak tambak biasa.

"Cuma oleh-oleh kecil, Pakde. Daging ikan liar ini bergizi tinggi lho, nanti digoreng kering aja buat temen minum kopi di rumah," kekeh Bima.

"Wah, Sampeyan ini kok repot-repot to, Bim!"

"Matur nuwun lho, Bim! Ikan liar segede ini di pasar harganya lumayan pedes ini!"

Diiringi ucapan terima kasih dan tawa riang, rombongan malaikat penolong itu pun pulang membawa hati yang riang gembira.

Setelah memastikan semua mobil dan motor tamunya keluar dari gerbang rusun, Bima bergegas naik kembali ke kamarnya. Ia menatap tumpukan surat utang di atas meja. Di kertas-kertas kusam itu tertera tanda tangan ibunya dengan tinta basah, dan ia ingat betul betapa kelamnya hari saat mereka menangis memohon pinjaman tersebut.

Bima mengambil seluruh kertas itu, membawanya ke depan meja altar tempat figura foto mendiang ayahnya diletakkan, lalu menyulutnya dengan korek api.

Ia memandangi kertas tagihan itu terbakar menjadi abu hitam. Gunung raksasa yang selama ini mencekik leher keluarganya dan membuat ibunya tak bisa tidur nyenyak, kini resmi musnah selamanya.

Ini semua berkat jackpot nyangkul di ladang gaib game Harvest Moon miliknya. Ia akhirnya terbebas dari jerat kemiskinan dan kemelaratan!

Namun, drama belum selesai. Bu Laras yang daritadi mematung syok, tiba-tiba langsung menarik lengan Bima dan mencecarnya dengan tatapan horor. "Bima Saputra! Jawab sing jujur sama Ibu! Kowe dapet duit RATUSAN JUTA dari mana?! Kowe nggak lagi ngerampok bank atau ikut sindikat pinjol ilegal kan?!"

Bagi Bu Laras, harta tumpah ruah secara instan tanpa kejelasan asal usul itu lebih mengerikan dari hantu. Dia rela hidup miskin makan tempe seumur hidup asalkan uangnya halal, daripada anaknya pakai baju oren masuk penjara.

Bima yang sudah memprediksi reaksi lebay ibunya ini, langsung melempar jurus ngeles yang sudah ia racik rapi sebelumnya.

"Astagfirullah Ibu, masa iya Bima berani kerja haram?! Ini murni duit halal, Bu! Gini lho ceritanya... Beberapa waktu lalu, Bima hoki parah nangkep ikan hias siluman di sungai terpencil. Bima jual ke kolektor gila, eh laku dibayar miliaran rupiah, Bu!"

"Duit itu muter Bima pake modal jadi supplier grosir semangka sama okra yang kemarin-kemarin Bima ceritain itu, untungnya berlipat ganda! Terus sebagian profitnya Bima investasikan buat beli vila sitaan koruptor yang lagi dilelang negara. Nah, sisa bersihnya baru Bima pake lunasin utang Bapak ini!"

Sayangnya, saking semangatnya ngibul, Bima agak keseleo merangkai timeline kejadiannya. Harusnya panen semangka dulu baru mancing, eh ini malah dibalik.

Tapi masa bodoh lah, emak-emak mana peduli sama timeline.

"Ikan hias siluman macem apa yang harganya miliaran?!" Bu Laras langsung melotot tak percaya.

"Namanya Tiger Fish Albino Liar, Bu. Spesies langka kasta tertinggi! Bima juga nggak paham bagusnya di mana, tapi kata sultan-sultan yang hobi koleksi ikan, nyari ikan model gitu lebih susah dari nyari emas. Makanya harganya nggak ngotak!"

Biar aktingnya makin meyakinkan, Bima membuka ponselnya, membuka galeri, dan menyodorkan bukti screenshot tanda bukti pelaporan PPh Final senilai Rp 156.000.000 atas transaksi penjualan agrikultur khusus tersebut.

Melihat stempel digital DJP Online dari pemerintah terpampang jelas di layar ponsel Bima, pertahanan logika Bu Laras langsung runtuh. Dokumen pajak negara mustahil bisa dipalsukan seenaknya!

"Gusti Nu Agung... beneran ada ikan seharga rumah mewah gitu?" gumam Bu Laras takjub sambil mengelus dada. "Iki pasti berkat doa mendiang Bapakmu, Bim... Bapakmu pasti ngirim mukjizat rezeki nomplok ini dari atas sana biar kita nggak sengsara lagi."

Air mata haru dan senyum lega yang sangat tulus perlahan merekah di wajah keriput Bu Laras. Gurat-gurat kesedihan dan depresi yang setahun terakhir menggelayuti wajahnya seakan menguap tanpa sisa.

Melihat ibunya bisa tersenyum lepas dan kembali hidup, bibir Bima pun ikut melengkung mengukir senyum bahagia. Inilah alasan sebenarnya kenapa dia banting tulang.

"Lha terus Bim... Vila yang kowe beli itu berarti bukan warung lesehan kumuh seharga 80 jutaan yang Ibu bayangin?!" cecar Bu Laras, baru ngeh dengan skala bisnis anaknya.

"Bukan lah, Bu! Vilanya gede pol, luasnya 33 Hektar lebih!" jawab Bima bangga.

Mendengar luas vilanya, Bu Laras bukannya takjub, malah mendadak panik dan menepuk jidatnya. "Walah dalah Bim! Cepet kowe telpon Dinda sekarang juga, jelasin semuanya!"

"Lho, emang Dinda kenapa, Bu?" Bima bingung.

"Minggu kemaren pas Dinda mampir nengokin Ibu, dia sempet nanya kenapa kowe belakangan ini ngilang terus. Karena kowe nggak pernah cerita detail ke dia soal vila ini, Ibu kira kowe lagi ngumpulin sisa recehan buat nyewa saung lesehan agrowisata kecil-kecilan! Ibu takut kowe diketawain kalau usahanya bangkrut, makanya Ibu minta dia sabar dikit nungguin kowe ngerintis usaha dari nol!"

"Dinda itu berlian langka lho, Bim! Kowe harus ngasih dia jaminan masa depan yang jelas, jangan disuruh nebak-nebak! Kalau dia kelamaan nunggu tanpa kepastian terus tiba-tiba disamber cowok mapan lain, Ibu nggak rela! Pokoknya Ibu cuma mau Dinda yang jadi mantu di rumah ini!"

"Waduh!" Bima langsung garuk-garuk kepala.

Padahal aslinya dia sengaja nutupin rapat-rapat proyek raksasa vilanya ini justru biar Dinda nggak tahu! Niatnya kan nunggu proyek maha karya 'Lautan Bugenvil'-nya meledak viral dulu, baru dia bakal bawa Dinda ke sana buat ngasih kejutan romantis sejuta umat.

Kalau disuruh spill sekarang, lah ambyar dong skenario kejutannya!

1
Yuliana Tunru
kapqnnih kejutan x buat dinda ..pasti dinda ternehek2 takjub bina sdh jd orkay 🤭🤭
Maz Shell
lanjutkan Thor
Yuliana Tunru
mantap bima hrs jd suami setia hempaskan cwek2 halu sok cantik pula mulut x penuh filter racun 🤭🤭
Yuliana Tunru
bima mmg the best tak sabar nunghu oeresmian vila oleh dinda jgn lupa klga x dinda ya sekian lamaran resmi ke ihu x dinda vila jd mas kawin bakqlqn shock habis tuh ibu2 💪💪💪bima up 3 napa thorrr blm puas ini
Tio Kusuma
mantappppp
Manusia Biasa
auto diborong🤣
Hardjoe Kewek
terima kasih
Hardjoe Kewek
cerita nya bagus,alurnya jg bagus
Jujun Adnin
lanjut
Yuliana Tunru
tak sabar gmn para karyawan bima yrrmehek2 liat bijit tanaman bogenvile x di tata aplg yg kelas sultan up x kurang thorrr 🤭🤭🤭
ZHIVER
thor tak bisa bahasa jawa
Yuliana Tunru
kwalitas gila tuh tak sabar nunggu bima nanam semua hunga di tanah koßoang trus buat gazebo2 buqt qisatawan nikmati ..cuan ngalir kyk air 💪💪 bimaa
Yuliana Tunru
smoga bimo yg dapat vila x buat hadiah pernikahan x dgn dinda ..gassss
Jack Strom
Lah dapat ikan hias legend, masalahnya mau diletak dimana itu ikan???🤔😁
Blue Izoel
tetap semangat thor bikin cerita petani 👍💪
Jack Strom
Ikan² kualitas 2 gak usah dijual, buat dikonsumsi saja, sayang efeknya tuh... 😁
Jack Strom
Selain lunasi pinjaman 100jt, juga kasih bantuan nikah 50jt cukup... 😁
Yuliana Tunru
mantal bima...bayarin utang2 mu duku bima hbs tuh siap2 ngumpuli buat beliin dinda rmh jd lapang tuh hati
Blue Izoel
update terus thor bakal saingan nih sma lahan mustika klo bnyk episode nya👍💪
Jack Strom
Wuih, sudah mulai ada acara mancing2nya, dapat ikan gede lagi... mantap!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!