NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga puluh Dua.

Plak!

Suara tamparan itu menggema di ruangan yang sunyi. Bi Sari seketika meluapkan amarahnya pada Lani, keponakannya.

Ia tampak kesal, sekaligus malu. Bukan hanya pada Alya, melainkan pada semua orang, termasuk tuan mudanya. Bi Sari lah yang memohon pada kepala pelayan untuk menerima Lani bekerja di rumah itu. Namun, bukan ketenangan yang ia dapatkan, melainkan masalah yang membuatnya malu.

"Minta maaf pada Alya! Sekarang!" perintahnya tegas, penuh kemarahan.

Namun, Lani hanya diam. Ia menatap ke arah Alya dengan mata yang memerah karena menahan amarah.

"Aku tidak mau minta maaf padanya!" tolaknya dingin, sembari memegang pipinya yang terasa nyeri.

"Kau..." Bi Sari hendak melayangkan kembali tangannya. Namun, Alya menahannya.

"Sudah, Bi. Biarkan dia menerima hukuman atas kesalahannya. Bibi tidak perlu marah lagi." ucap Alya, penuh ketulusan.

"Tidak bisa, Al. Dia tetap harus minta maaf padamu. Dia sudah menuduhmu sebagai pencuri. Dia menimpakan semua kesalahannya padamu. Bibi tidak bisa membiarkannya begitu saja." sanggah Bi Sari tajam.

Bi Sari kembali menatap Lani, dan mendesaknya untuk meminta maaf pada Alya.

Bukannya menurut, ia malah terdengar semakin angkuh. "

"Aku tidak mau minta maaf padanya. Dia hanya seorang gadis hina yang tidak tahu diri. Dia cuma seorang anak haram. Dia tidak pantas..."

Plak!!

Suara tamparan kembali terdengar. Namun, kali ini bukan berasal dari tangan Bi Sari, melainkan dari tangan Alya.

Matanya terlihat berkaca-kaca. Nafasnya naik-turun tidak stabil. Rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal erat.

Kata-katanya terdengar begitu menyakitkan. Ia memang tidak tahu siapa ayahnya, namun ia bukan anak haram. Bukan.

Semua kepala serentak menoleh ke arah Alya. Menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

Menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian saat ini, Alya segera berlari keluar dari ruangan itu, ruangan yang tiba-tiba terasa mencekik.

Ia berlari tanpa arah, hingga tak sadar langkah kakinya membawanya ke sudut lorong yang sunyi.

Lutut kakinya seketika terasa melemah, tubuhnya goyah, hingga akhirnya ia jatuh terduduk dengan napas tersengal.

Perlahan ia mulai menangis, namun dengan isakan yang tertahan.

"Aku bukan anak haram." gumamnya lirih, disela tangisannya.

Ingatannya seketika kembali ke masa lalu, ketika ia kecil.

Saat itu, ia berdiri di tengah lapangan, memeluk boneka lusuh kesayangannya. Di sekelilingnya berdiri anak-anak yang usianya jauh di atasnya.

"Dasar anak haram!"

"Tidak punya bapak!"

"Anak bodoh!"

Suara-suara itu terdengar saling bersahutan, tajam dan begitu menusuk. Alya kecil hanya diam, memeluk bonekanya dengan erat, seolah benda usang itu adalah satu-satunya tempat berlindung.

Matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingin membalas, ingin berteriak bahwa mereka salah, tapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan, tertelan rasa takut yang terasa menyesakkan.

Alya kecil hanya bisa menangis. Ia mencoba untuk keluar dari lingkaran yang menyakitkan itu, namun mereka malah semakin memojokkannya. Menghinanya tanpa ampun.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki merebut boneka itu dari pelukannya.

"Kembalikan bonekaku!" suara Alya terdengar gemetar.

Anak-anak itu malah semakin tertawa melihatnya. Mereka melempar boneka itu dari satu anak ke anak lainnya.

Lalu, boneka itu di jatuhkan ke tanah dengan kasar. Mereka menginjaknya tanpa belas kasihan.

"Jangan!" pekik Alya lirih, memohon belas kasihan dari mereka.

Namun, ketika ia berusaha maju untuk mengambil bonekanya, seseorang mendorongnya dengan keras hingga tubuh kecilnya jatuh tersungkur. Lututnya tergores, rasa perih langsung menjalar, namun tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya.

"Lihat, anak haram nangis!"

Mereka malah semakin tertawa, seolah menganggap dirinya seperti sebuah lelucon konyol yang menyenangkan.

Hingga akhirnya...

"Pergi dari sini! Jangan ganggu anakku!"

Teriakan Ibunya memberi seolah membawa sebuah harapan baginya. Alya kecil menoleh cepat, matanya berbinar di sela tangisannya yang belum reda.

"Ibu..." lirihnya.

Anak-anak itu segera berlarian, meninggalkan lapangan.

Sementara ibunya, segera berlari menghampiri dirinya. Menangis di pelukannya.

"Maafkan Ibu, Nak... Maafkan, Ibu..."

Hanya itu kata-kata yang terucap dari bibir ibunya.

Alya memeluk lututnya, meluapkan amarah dengan tangisan.

"... aku bukan anak haram." gumamnya lirih, terdengar begitu rapuh.

Air matanya kembali jatuh. Tubuhnya kembali goyah, bersandar lemah pada dinding dingin di belakangnya.

Lorong itu sunyi... terlalu sunyi.

Rasanya ia ingin sekali dipeluk oleh ibunya. Menangis di pelukannya yang hangat.

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Baginya tampak bergetar menahan isak tangis yang ia coba sembunyikan.

Namun, tiba-tiba tangan hangat seseorang menghentikan getaran tubuh Alya.

Bukan pelukan, melainkan sentuhan lembut di kepalanya.

"Alya." panggilnya pelan, namun tegas seperti biasa.

Alya tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya, berusaha berdiri tegak, meski tubuhnya masih gemetar menahan tangis.

"Maaf, Tuan... saya..."

"Sudah." Maxime memotong ucapannya.

Alya terdiam. Perlahan ia mendongak.

Maxime berdiri di hadapannya. Tatapannya tajam seperti biasa, tapi kali ini tidak sepenuhnya dingin. Ada sesuatu yang berbeda, tapi ia tidak bisa mengartikannya.

"Kau tidak perlu meminta maaf karena menangis." ucapnya datar, namun lebih pelan dari biasanya.

Alya terdiam.

Maxime menarik napas sejenak. "Cuci mukamu, lalu ganti pakaian. Ikut aku ke kantor."

Alya seketika mengernyit. Ia tampak kebingungan. "Ke... kantor? Untuk apa, Tuan?"

Maxime mendengus pelan. "Kau lupa apa yang aku katakan semalam?"

Alya mengangguk cepat.

"Kau akan jadi modelku. Kau ingat?"

Alya terdiam kembali, ia mencoba untuk mengingatnya.

"Ah, ya. Saya ingat, Tuan."

"Bagus. Sekarang cepatlah bersiap. Dan siapkan juga pakaian ku."

Alya tampak ragu, namun ia tidak membantah. Ia segera pergi dan bersiap-siap.

*

*

Dan di sinilah Alya berada. Di salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sebuah perusahaan sebesar ini.

Namun, langkahnya justru terlihat ragu. Ia tampak canggung saat melihat para karyawan yang tampak berlalu lalang di lantai dasar.

Penampilan mereka terlihat rapi dan elegan. Berbanding terbalik dengan dirinya yang tampil seadanya. Ia hanya mengenakan kaos lengan pendek dan rok plisket selutut berwarna hitam, sederhana dan tidak mencolok.

Alya berjalan beberapa langkah di belakang Maxime, pria itu tampak sempurna dengan penampilannya yang kharismatik. Langkah kakinya tegas dan terukur, seolah seluruh tempat itu berada dalam kendalinya.

Sementara Alya, merasa begitu kecil. Tatapan-tatapan aneh, mulai mengarah padanya. Tatapan yang penuh tanya, heran, bahkan beberapa di antara mereka terlihat saling berbisik. Alya menunduk, berusaha mengabaikan tatapan mereka.

Ia tetap berjalan, mengikuti langkah kaki Maxime yang cepat hingga mereka masuk ke dalam lift khusus.

Hanya ada mereka di sana.

"Apa kau gugup?"

Pertanyaan itu membuat Alya menengadah ke arahnya. "Sedikit, Tuan."

"Tenang saja. Kau hanya perlu berpose." ucap Maxime santai.

"Berpose?"

Alis gadis itu sedikit berkerut, jelas belum sepenuhnya mengerti. Tangannya tanpa sadar meremas ujung roknya, gugup.

Maxime melirik singkat ke arahnya, lalu kembali menatap ke depan. "Ya. Berdiri, duduk, menatap kamera, tidak lebih."

Kedengarannya memang sederhana. Namun, bagi Alya itu sangat jauh berbeda dari dunianya.

"Saya... tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, Tuan." ucap Alya pelan, terdengar ragu.

"Selalu ada yang pertama untuk setiap hal, Alya."

Alya terdiam. Jemarinya saling bertaut gelisah. "Bagaimana jika saya melakukan kesalahan, Tuan?"

Maxime menatapnya sekilas, lalu kembali berkata. "Kesalahan bisa diperbaiki, Alya. Tapi rasa takut tidak akan membawamu kemana-mana."

Kalimat itu terdengar begitu dingin. Namun anehnya, justru memberi sedikit keberanian untuknya.

🌺🌺🌺

1
Miu.Nuha
aishh wanginya itu lohh...
mengalihkan duniakuu~
Miu.Nuha
iya, cari second love gih biar move on /Determined/
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
Three Flowers
saking cantiknya si Alya, Maxime yang lagi bete sampai terlena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!