Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Benar, Namanya Satria
Ketika dokter keluarga Kakek Wirawan sudah tiba untuk memeriksa Dira. Satria memutuskan keluar ke teras. Selama melihat sosok Nimas secara langsung, Satria memilih tetap diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sosok Nimas dalam pandangan benar-benar membuat Satria tidak tenang. Apalagi keberadaan Dira yang tumbuh di usia hampir sama dengan Nimas 18 tahun lalu.
Hufff…
Kepulan asap rokok sudah memenuhi teras rumah kontrakan Mbah Sekar. Sebagai salah satu cara untuk menenangkan diri. Semua perilaku aneh yang ditunjukkan oleh Satria, sama sekali tidak lepas dari pengawasan Miss Panda.
“Mas.”
“Aku ada rapat dadakan sama Pak Kapolda,” ucap Satria cepat sambil mematikan batang rokoknya. Lalu masuk ke rumah hanya sebatas berpamitan dengan Mbah Sekar.
“Ibu, ijin undur diri karena ada keperluan.”
“Terima kasih banyak atas bantuan Nak Satria telah mendatangkan dokter pribadi keluarga untuk Dira.”
Satria hanya tersenyum. Bingung? Jelas hal itu yang dirasakan oleh Satria saat ini.
“Assalamualaikum, Ibu.”
“Waalaikumussalam.”
Tanpa melihat sedikitpun ke arah Miss Panda. Satria berlalu pergi meninggalkan kediaman Mbah Sekar.
Karena rasa penasaran dan curiga menyelimuti Miss Panda. Membuat dirinya menghubungi Tarjo untuk diajak kerjasama.
“Assalamualaikum, Mbak. Apakah ada yang bisa dibantu?” tanya Tarjo dari balik telepon.
“Waalaikumussalam. Mas Satria ada rapat dadakan dengan Pak Kapolda?” tanya Miss Panda tidak langsung dijawab oleh Tarjo. Diamnya Tarjo cukup lama sudah menjawab pertanyaan Miss Panda.
“Em…”
Seperti biasa Tarjo sangat sulit diajak kerja sama. Mungkin karena loyalitas sebagai bawahan ke atasan.
“Gak usah jawab. Aku tahu jawabannya.”
Tanpa banyak kata maupun drama Miss Panda mengakhiri panggilan. Lalu fokus kembali dengan keadaan Dira.
Sedangkan Tarjo yang masih bingung dengan panggilan yang dilakukan Miss Panda. Semakin dibuat bingung ketika tiba-tiba Satria datang sambil membanting pintu mobil.
BRAK.
“Apakah ada masalah, Ndan?” tanya Tarjo hati-hati. Karena wajah Satria sangat berbeda dari kesehariannya.
“Langsung ke kantor sekarang juga, Jo.”
“Siap, Ndan.”
Tanpa membantah Tarjo mengendarai mobil dinas menuju ke kantor. Sedangkan Satria hanya diam sambil memejamkan kedua matanya.
Tapi, saat mengingat sesuatu. Satria langsung mengambil handphone miliknya menghubungi seseorang.
“Za,” ucap Satria saat panggilan telepon yang dirinya lakukan tersambung.
“Siap, Ndan.”
“Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan informasi dari desa itu?” tanya Satria beruntun kepada Faza. Hal yang sangat jarang Satria lakukan. Karena Satria biasanya dikenal dengan ketenangannya.
“Masih dalam penyelidikan, Ndan. Hari ini juga saya akan menemui saksi mata masih hidup kejadian itu,” jawab Faza cepat.
“Cepatlah selesaikan tugasmu. Karena kamu harus kembali fokus ke tugas awal.”
“Siap, Ndan.”
Cepat atau lambat pasti semua akan terbongkar pada waktunya. Namun jika tidak, pasti akan dibayar mahal atas segala perbuatan yang telah dilakukan. Hal itulah yang dirasakan oleh Satria saat ini.
***
Faza langsung terdiam setelah panggilan yang dilakukan oleh Satria berakhir. Terdengar suara asing dari panggilan yang dilakukan oleh atasannya.
“Apakah telah terjadi sesuatu?” gumam Faza bertanya-tanya.
“Aku harus menyelesaikan segala informasi di desa ini secepatnya.”
Setelah mendapatkan alamat mantan kepala desa 18 tahun yang lalu. Faza langsung mendatangi rumah yang terlihat sangat sederhana untuk ukuran kepala desa, sambil membawa selembar kertas kecil.
“Alamatnya sudah sesuai,” gumam Faza memastikan. Lalu berjalan menuju rumah tersebut.
Tok… tok.
“Assalamualaikum,” salam Faza sambil mengawasi sekitar.
Rumah yang berada di ujung kampung. Membuat kediaman mantan kepala desa tampak terisolir. Sepi, sunyi, dengan tanaman mengelilingi rumah membuat semakin teduh.
“Assalamualaikum, Pak,” salam Faza kembali saat belum ada jawaban dari dalam rumah.
“Rumah ini masih dihuni,” gumam Faza saat tidak melihat debu di gagang pintu.
Setelah cukup lama menunggu sang pemilik rumah. Akhirnya suara langkah kaki terdengar mendekat. Menandakan jika dugaan Faza benar.
Ceklek.
Krieeet.
“Waalaikumussalam.”
Saat pintu rumah terbuka. Hal pertama yang dilihat oleh Faza adalah sosok kakek-kakek dengan tubuh kurus.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kakek tua kepada Faza.
“Apakah saya berbicara dengan Pak Joko?”
Sebelum menjawab pertanyaan Faza. Laki-laki berusia senja itu mengawasi Faza dari ujung kaki hingga kepala. Hingga suara nafas panjang terdengar pelan sebelum menjawab.
“Benar. Silahkan duduk,” ucap Pak Joko.
Sesuai dengan perintah dari Pak Joko. Faza masuk menuju ruang tamu.
“Perkenalkan, Pak. Nama saya Faza. Kedatangan saya menemui Bapak. Karena saya ingin…”
“Nama lengkap,” potong cepat Pak Joko yang langsung menghentikan ucapan Faza. Membuat Faza langsung dalam mode waspada.
“Faza Idam Manggala.”
“Pangkatnya?” tanya Pak Joko memastikan. Membuat Faza terdiam sejenak. Sebelum menjawab pertanyaan Pak Joko. Sebab, saat ini dirinya sama sekali tidak menggunakan atribut maupun identitas polisi.
“Iptu, Pak.”
“Oh, saya sedang berbicara dengan Iptu Faza,” ucap Pak Joko sambil menggut-manggut.
“Lah, kalau kayak gini saya siap kalau ditanya,” seloroh Pak Joko sambil mencoba mencairkan suasana tegang di antara keduanya.
Meskipun Faza sama sekali tidak menggunakan seragam saat mencari informasi. Tapi, laki-laki tua itu sudah mampu membaca aura yang dibawa oleh Faza.
Tampak jelas jika laki-laki tua di hadapan Faza. Memang bukanlah orang sembarangan yang sulit untuk dibohongi.
“Apa yang bisa Bapak bantu, Iptu Faza?”
“Saya sedang mencari informasi kejadian 18 tahun yang lalu di desa ini. Desa yang saat itu Bapak pimpin.”
Mendengar kata 18 tahun yang lalu. Wajah Pak Joko langsung berubah secara drastis.
Wajah tua penuh semangat yang sebelumnya terlihat jelas. Kini menampilkan wajah sendu dengan beban berat.
“Maksudnya?” tanya memastikan.
“Kebakaran hebat yang menimpa salah satu warga Bapak,” jelas Faza tanpa menyebut nama Mbah Sekar.
Kini, mata tua itu menatap jauh ke belakang. 18 tahun lalu lalu, sebuah kejadian kelam yang akan diingat sampai akhir hayatnya.
“Tidak ada satupun orang akan mengira kejadian itu menimpa keluarga Sekar.”
Hembusan nafas yang kembali terdengar. Menandakan ada hal berat yang akan dibahas dalam pembicaraan yang awalnya Faza anggap ringan.
“Meskipun Sekar seorang Janda yang hidup hanya dengan Nimas, putri satu-satunya. Tapi, di masyarakat dia sangat dihormati. Suaminya adalah seorang aparat jujur yang hidupnya sederhana.”
Pak Joko kembali menjeda ucapannya. Mata tuanya kini berubah berkaca-kaca. Seperti ada beban yang beliau pikul selama belasan tahun.
“Ya, yang namanya orang jujur susah hidup di negara ini. Dia gugur saat penyergapan kelompok kriminal. Meninggalkan keluarga dan kampung yang tiba-tiba ada masalah silih berganti.”
Tamparan kenyataan ini langsung terasa oleh Faza. Dan alasan inilah yang membuat Faza mengambil keputusan masuk ke dunia ini. Mencari sosok kriminal yang sudah menjadi target awal dirinya.
“Dan puncaknya hukum adat yang harus Sekar dan Nimas jalani. Karena Nimas telah melanggarnya.”
Penuturan Pak Joko langsung membuat Faza mengerutkan keningnya. Jelas ini yang Faza tunggu-tunggu.
“Nimas hamil dan tidak tahu siapa bapaknya. Kata-kata terakhir Sekar kalau putrinya adalah korban,” jelas Pak Joko sambil mengambil nafas. Karena obrolan kali ini terasa semakin berat.
“Membuatku yakin jika memang keluarga Sekar menjadi target. Apalagi beberapa bulan sebelum meninggalnya suami Sekar, telah terjadi penggerebekan secara besar-besaran. Yang ujung-ujungnya pemimpinnya lepas dan bebas. Lagi dan lagi uang yang berbicara.”
“Apakah Pak Joko tahu siapa pemimpi kelompok kriminal itu?” tanya cepat Faza tidak sabaran.
Pak Joko hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ya, jelas akan sulit menangkap pelaku sebenarnya.
“Yang aku tahu, kamu bukanlah aparat pertama datang menemuiku menanyakan khusus 18 tahun yang lalu. Karena 1 tahun setelah kejadian itu ada yang menemuiku,” ucap Pak Joko yang membuat Faza menahan nafas.
“Muda, tampan, gagah orangnya. Pangkatnya pun sama persis seperti kamu,” tutur Pak Joko yakin. Karena Faza tidak melihat kebohongan di mata laki-laki di hadapannya.
“Cuma, aku gak berani memberikan informasi tentang keberadaan Sekar bersama putrinya. Bagiku lebih baik masyarakat dan dunia tahu kalau Sekar dan putrinya meninggal dalam kebakaran hebat saat itu. Jika hal itu bisa menyelamatkan mereka dari sosok yang memiliki kekuasaan.”
Faza terasa berhenti nafas. Pikirannya berkecamuk dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Telapak tangannya langsung terasa dingin saat ada satu sosok yang entah kenapa menghantui pikirannya.
“Aku pikir laki-laki itu akan datang kembali setelah keadaan tenang. Ternyata aku salah besar. Dia tidak pernah datang lagi menemuiku,” tutur Pak Joko sambil menghembuskan nafasnya.
Mencoba mengambil udara sebanyak-banyaknya. Karena berbicara tentang kejadian 18 tahun lalu membuat tubuhnya semakin lemah.
“Ya, aku pun juga yang salah tentang hal ini. Karena akulah yang menyatakan jika Sekar bersama putrinya sudah meninggal dunia. Jadi, wajar jika laki-laki itu tidak datang kembali menemuiku.”
Pak Joko kembali menjeda ucapannya. Keningnya semakin mengkerut, seperti seseorang yang menyesal telah melakukan kesalahan.
“Apakah laki-laki itu tahu identitas tentang para korban, Pak?” tanya Faza penasaran tanpa menyebut nama Mbah Sekar maupun Nimas.
“Tidak, karena setelah kejadian malam itu. Aku lah yang telah menghilangkan identitas Sekar maupun putrinya. Laki-laki itu pun juga tidak tahu. Karena nama Sekar dan Nimas dilarang disebut di desa ini,” jelas Pak Joko yang dibenarkan oleh Faza.
Sebelum sampai di rumah kepala desa. Faza sama sekali tidak mendapatkan informasi tentang Mbah Sekar beserta keluarganya.
“Awalnya aku kira sulit untuk menghilangkan identitas Sekar dan Nimas. Tapi, entah kenapa justru mudah,” ucap Pak Joko menghentikan ucapannya.
“Sepertinya ada orang lain yang ingin menghilangkan identitas Sekar dan Nimas. Entah dengan tujuan menyembunyikan kasus 18 tahun lalu, atau untuk melindungi mereka berdua.”
Ucapan Pak Joko jelas terdengar masuk akal. Karena jika kasus itu tidak ditutup. Jelas keberadaan Mbah Sekar dan Nimas menjadi momok besar instansi penegak hukum, maupun kelompok kriminal yang merasa terganggu oleh tindakan suami dari Mbah Sekar.
“Sepertinya kamu sangat tertarik dengan kasus ini. Apa jangan-jangan kamu mengenal keduanya atau ada sosok yang telah mengirimmu datang ke desa ini,” ucap Pak Joko dengan tatapan penuh menyelidik. Lalu berubah kembali setelah menghembuskan nafasnya.
“Jujur, aku senang jika ada penegak hukum yang bertindak seperti suaminya Sekar. Meskipun nyawa dan keluarga menjadi taruhan. Tapi, sama sekali tidak goyah hingga akhir kehidupannya.”
Faza lebih memilih diam. Mengorbankan keluarga sendiri? Jelas hal tidak mudah bisa dilakukan. Hanya orang-orang yang memiliki integritas tinggi dengan keyakinan kuat yang bisa melakukannya.
“Apakah ada yang ingin kamu tanyakan, Iptu Faza?”
Faza yang sebelumnya fokus dengan pemikiran dengan segala praduga. Langsung kembali menatap Pak Joko. Kata-kata Iptu dibagian namanya. Jelas ada makna terselip yang ingin Pak Joko sampaikan.
Faza tidak ingin membuang kesempatan berharga ini. Tangannya langsung merogoh saku celana untuk mengeluarkan handphone miliknya.
“Apakah ini, laki-laki yang menemui Bapak setelah 1 tahun kejadian tragedi itu?” tanya cepat Faza.
Pak Joko langsung tersenyum saat melihat foto di kamera handphone Faza. Lalu menatap Faza dengan segala luka masa lalu.
“Benar, namanya Satria.”
Dada Faza seperti menerima hantaman keras. Sesak, nyeri hingga hampir membuat kaki Faza terasa lemas. Saat nama sang komandan disebut hanya menunjukkan foto saja. Tanpa menyebut nama meskipun satu huruf.
Padahal foto itu sama sekali tidak menunjukkan identitas sosok sang komandan. Hanya gambar foto dengan pakaian kemeja putih. Namun, Pak Joko bisa menebak sosok tersebut.
Ceritanya keren 👍