Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Rania dan Rasya menyusuri jalanan kota yang padat, mencari tumpangan, menunggu taksi yang akan membawa mereka ke rumah. Tak jauh di belakang, bawahan Riko membuntuti. Mengawasi setiap gerak-gerik Rania, juga tujuan kepergiannya. Itu akan dia laporkan kepada Riko.
Namun, sebagai mantan agen rahasia, Rania memiliki kepekaan yang tajam. Ia bisa merasakan pergerakan meski di tempat ramai. Rania melirik, sosok yang mengikuti itu terlihat dari kaca jalan. Ia berjongkok di depan Rasya, memberitahunya agar tetap tenang.
"Sayang, seseorang mengikuti kita. Tapi, Ibu minta kau tetap tenang. Mengerti?" ucap Rania sambil tersenyum.
Matanya melilau mencari tempat aman untuk Rasya berlindung. Ia melihat sebuah minimarket tak jauh dari tempat mereka. Rania memberikan selembar uang kepadanya, meminta anak itu untuk pergi membeli apa saja.
"Pergilah ke sana, minta penjaga minimarket di sana untuk menemanimu selama Ibu menyelesaikan orang itu. Apa kau mengerti?" ucapnya memberi petunjuk.
Rasya yang pintar tentu saja mengerti. Dia mengangguk tegas, dan pergi begitu saja memasuki minimarket sesuai instruksi Rania. Ia menemui kasir perempuan, menunjukkan keberadaan sang ibu yang masih berdiri di tepi jalan memperhatikan dirinya.
Rania mengangguk, sebagai syarat meminta kepadanya untuk menjaga sang anak. Kasir tersebut mengerti, ia pun mengangguk setuju dan menemani Rasya untuk memilih apa saja yang dia butuhkan.
Sementara Rania, melirik laki-laki yang masih bersembunyi di balik sebuah mobil hitam. Ia berjalan cepat ke taman pinggir jalan yang sepi, dan bersembunyi di balik semak, menunggu kedatangan laki-laki itu.
"Ke mana dia? Kenapa cepat sekali menghilang?" gumamnya setelah berjalan mengikuti Rania, tapi tak berhasil menemukan jejaknya.
Tanpa ia tahu, Rania sedang mengintai di balik semak. Ia berdiri tepat di belakangnya.
"Mencariku?"
Suara Rania menyentak laki-laki itu, dia berbalik cepat, tapi tinju Rania telak mengenai wajahnya. Cairan merah mengucur dari hidung laki-laki itu, matanya berkunang-kunang tak jelas. Kepalanya pening, rasa sakit berdenyut di batang hidungnya.
Tak berhenti di sana, Rania mendekat. Menendang perutnya sebelum ia sempat memulihkan diri. Laki-laki itu terjengkang, ambruk di atas tanah tak sadarkan diri. Rania bergegas pergi ke minimarket menemui anaknya.
"Terima kasih," katanya kepada kasir wanita yang menemani anaknya.
"Sama-sama, Bu. Sebaiknya, kalian segera kembali ke rumah. Jalanan ini tidak aman, aku sudah memesankan taksi online untuk kalian. Katakan saja kepada supirnya ke mana tujuan kalian," katanya memberi nasihat.
Rania menatap haru kepadanya. Tak menduga, meski mereka tidak saling mengenal, baik di kehidupan sebelumnya maupun di kehidupan sekarang, kasir wanita itu begitu baik kepada mereka. Ia bersedia menemani Rasya sampai urusan Rania selesai.
"Terima kasih banyak," katanya sekali lagi diangguki kasir tersebut.
Rania mengambil alih kantong belanja dari tangan Rasya. Meninggalkan tempat itu setelah mobil pesanannya datang. Mereka masuk diantar kasir tadi. Mobil berlalu setelah kasir wanita itu mengatakan sesuatu kepada supir taksi.
"Nona, ke mana tujuan Anda?" tanya supir setelah mobil berlalu.
"Kediaman Fattana," jawab Rania sembari memeluk Rasya.
Supir taksi tersebut melirik dari kaca spion tengah, tanpa sengaja bersitatap dengan manik Rania yang tajam. Ia meneguk saliva, keringat dingin tiba-tiba saja mengucur dari pelipis. Sosok Rania, tatapannya itu, seperti seseorang yang tak bisa diganggu.
Dia tidak bertanya lagi sampai mobil berhenti di depan gerbang rumah paling mewah di kota Anggrek. Rania membuka jendela, menatap lama rumah yang sudah tujuh tahun ia tinggalkan.
Aku kembali!
Hatinya bergumam lirih, tak menyangka setelah kematian merenggut semua kehidupannya, ia bisa kembali ke rumah itu. Rumah yang berlimpah dengan cinta dan kasih dari seorang laki-laki yang menikahinya.
"Ibu, apakah kita benar-benar akan kembali?"
Pertanyaan Rasya membuyarkan lamunan Rania. Ia menoleh, tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
"Tentu saja, kita harus kembali. Ini adalah rumah kita, maka kita harus merebutnya kembali," jawab Rania penuh tekad.
Supir taksi melirik mereka, mengusap keringat yang mengucur di wajahnya. Ia menunggu mereka turun ingin segera pergi dari sana.
Rania meliriknya, dengan cepat supir itu berpaling. Rania mengeluarkan dua lembar uang kertas dalam nominal yang besar dan memberikannya kepada supir.
"Nona, ini terlalu banyak," katanya menolak.
"Tak apa. Belikan makanan enak untuk anak-anakmu," jawab Rania seraya membuka pintu dan keluar tanpa ingin menoleh lagi.
"Nona, terima kasih banyak!" teriak supir itu dengan senyum sumringah.
Rania menoleh, dan hanya mengangguk kecil. Dia berdiri di depan gerbang kokoh rumah itu, menatap jauh ke dalam. Halaman yang dulu selalu ramai oleh para pelayan, kini tampak sepi dan suram.
"Aku kembali!"
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄