NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Ruang CEO

Mobil hitam itu berhenti dengan presisi sempurna di depan lobi utama gedung pencakar langit Mahardika Group. Begitu Erlangga dan Rian melangkah turun, suasana di sekitar lobi yang tadinya sibuk mendadak berubah menjadi sunyi yang penuh segan. Para petugas keamanan langsung berdiri tegak, membungkuk dengan sinkronisasi yang luar biasa.

“Selamat pagi, Pak Erlangga. Selamat pagi, Pak Rian,” sapa kepala keamanan dengan nada formal yang kaku.

Salah satu petugas segera menghampiri dengan tangan terulur sopan untuk menerima kunci. “Kami akan parkirkan ke area khusus CEO sekarang juga, Pak.”

Erlangga hanya memberikan anggukan tipis, hampir tidak terlihat sebelum melangkah masuk dengan langkah lebar yang konstan. Aura dingin yang dipancarkannya seolah menciptakan dinding tak kasat mata yang membuat para karyawan otomatis menyingkir, memberi jalan seolah sedang menyambut kedatangan seorang raja.

Begitu mereka masuk ke dalam lift privat yang berlapis marmer dan baja tahan karat, Rian menyenggol bahu Erlangga dengan sikunya, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.

“Lo makin serem aja tiap hari, Lang. Tadi gue lihat resepsionis hampir lupa caranya bernapas pas lo lewat,” canda Rian sambil memperhatikan pantulan wajah sahabatnya di pintu lift yang mengkilap.

Erlangga menatap lurus ke depan, matanya dingin tak bergeming. “Kerja, Rian. Bukan kontes kepribadian.”

“Lihat? Itu! Jawaban model robot kayak gitu yang bikin orang-orang HR sering curhat ke gue sambil nangis,” Rian terkekeh pelan. “Sekali-kali senyum kek, biar saham kita nggak dikira naik gara-gara lo pake ilmu hitam.”

Pintu lift berdenting lembut saat mencapai lantai paling atas. Keduanya berpisah di koridor luas menuju ruangan masing-masing. Jam berlalu dengan sangat cepat, namun bagi Erlangga, waktu terasa melambat karena tumpukan dokumen yang seolah tidak pernah habis. Ia tenggelam dalam angka, strategi, dan penolakan proposal yang tidak masuk akal.

Tok tok tok.

“Masuk,” jawab Erlangga tanpa mengalihkan pandangan dari laporan di tangannya.

Pintu terbuka pelan, diikuti oleh aroma parfum yang sangat kuat dan tajam. Seorang wanita melangkah masuk dengan gaya yang dibuat-buat anggun. Rambutnya dikuncir tinggi seperti kuda, kacamata tipis membingkai wajahnya yang dipulas makeup tebal. Kemeja putihnya tampak satu ukuran lebih kecil, terlalu menonjolkan lekuk tubuh, dipadukan dengan rok pensil yang begitu ketat hingga ia tampak kesulitan melangkah.

Vanessa Clarissa Wijaya. Salah satu manajer junior divisi pemasaran yang sudah menjadi rahasia umum di kantor sebagai wanita yang paling agresif mengejar Erlangga sejak hari pertamanya bergabung.

“Pak Erlangga,” katanya dengan suara yang sengaja dilembutkan, memberikan senyum yang ia anggap paling menawan. “Ini laporan evaluasi kuartal divisi pemasaran yang Bapak minta kemarin sore.”

Erlangga bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk sekadar formalitas. “Taruh saja di meja. Saya akan membacanya nanti.”

Vanessa meletakkan map itu perlahan, namun bukannya segera pergi, ia tetap berdiri tegak di depan meja besar Erlangga, mencondongkan sedikit tubuhnya. Merasa diperhatikan meski tidak secara langsung, Erlangga akhirnya mendongak. Tatapannya sedingin es kutub.

“Ada lagi, Vanessa? Waktu saya terbatas.”

Vanessa tersenyum lebih manis, mencoba memikat pria di depannya. “Bapak sepertinya belum makan siang, ya? Sudah hampir jam satu, lho. Kesehatan Bapak itu aset paling berharga untuk perusahaan ini.”

Erlangga diam, hanya menatapnya dengan pandangan kosong yang mengintimidasi.

“Kalau Bapak mau, saya bisa belikan makan siang spesial dari restoran Perancis di bawah. Saya kebetulan tahu selera Bapak—”

“Tidak usah. Saya tidak lapar,” potong Erlangga cepat.

Namun Vanessa bukan tipe wanita yang mudah menyerah pada penolakan pertama. “Ah, sama sekali tidak merepotkan kok, Pak. Saya kebetulan juga mau ke sana, jadi sekalian saja saya bawakan ke atas—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimat rayuannya, pintu ruangan kembali terbuka tanpa ketukan. Rian melangkah masuk dengan santai, langsung menangkap situasi canggung itu dalam satu pandangan sekilas.

“Wah, timing gue bener-bener pas!” Rian berseru dengan nada ceria yang sengaja dibuat-buat. Ia melirik Vanessa dari atas ke bawah dengan tatapan geli. “Langga, ayo cabut sekarang. Klien besar kita dari Jepang udah nunggu di restoran seberang. Bisa gawat kalau kita telat.”

Vanessa mengernyit, tampak tidak senang dengan gangguan itu. “Klien? Bukannya jadwal Pak Erlangga siang ini kosong?”

Rian langsung mengangguk mantap tanpa ragu. “Oh, ini klien dadakan. Penting banget, menyangkut investasi triliunan rupiah. Lo tahu kan gimana disiplinnya orang Jepang? Ayo, Lang, berangkat sekarang!”

Erlangga berdiri seketika tanpa membantah sedikit pun, seolah baru saja diselamatkan dari eksekusi. “Iya. Kita berangkat sekarang. Berkasnya biar saya bawa nanti.”

Vanessa membeku sesaat, wajahnya memerah karena malu dan kesal. Ia terpaksa memberikan senyum kaku yang terlihat menyakitkan. “Oh... baik, Pak... selamat makan siang kalau begitu.”

Begitu kedua pria itu melangkah keluar dari ruangan, senyum di wajah Vanessa langsung hilang, digantikan oleh tatapan tajam yang penuh kebencian. Saat ia berjalan menuju lift dengan langkah yang dihentak-hentakkan, ia berbisik pelan dengan rahang yang mengeras.

“Awas saja kau, Rian... pengganggu sialan,” desisnya dengan suara yang bergetar karena amarah. “Begitu aku berhasil menjadi Nyonya Mahardika dan menguasai pria itu... kau adalah orang pertama yang akan kupastikan dipecat secara tidak hormat.”

Ia berhenti di depan lift, menatap pantulan dirinya di pintu perak yang tertutup. Senyum licik muncul di bibirnya yang dilapisi gincu merah menyala. “Dan kamu, Erlangga Mahardika... tunggu saja. Akan ada saatnya semua tembok esmu itu runtuh, dan kamu akan bertekuk lutut memohon cintaku.”

Sementara itu, di dalam lift privat yang sedang meluncur turun, Rian langsung meledakkan tawa keras yang sudah ia tahan sejak di ruangan tadi.

“Bro! Sumpah, lo harus lihat muka lo tadi!” Rian menepuk bahu Erlangga dengan keras. “Lo sadar nggak si Vanessa itu udah kayak mau melompat ke atas meja lo? Gue yakin dia udah siap buat menerkam lo kalau gue telat masuk satu detik aja!”

Erlangga mendesah panjang, merasa lelah secara mental. “Dia menyebalkan. Benar-benar tidak tahu batasan profesional.”

“Bukan cuma menyebalkan, Lang,” Rian tertawa makin jadi. “Itu namanya haus! Haus kekuasaan, haus perhatian, dan kayaknya haus kasih sayang juga. Gila sih, kancing kemejanya aja kayak udah mau protes karena terlalu sesak.”

“Diamlah, Rian. Aku sedang tidak ingin membahas wanita itu.”

“Gue serius, Lang. Hati-hati aja. Kapan-kapan dia bisa aja nyusup ke dalam koper lo pas lo mau dinas luar kota, terus teriak ‘surprise!’ sambil pake baju renang di dalam sana,” canda Rian yang membuat Erlangga memijat pelipisnya dengan frustrasi.

“Kenapa divisi HR belum mutasi dia ke cabang kita di daerah paling pelosok atau sekalian ke Kutub Utara?” gumam Erlangga kesal.

Rian tertawa semakin keras hingga lift berdenting sampai di lantai dasar. Namun, setelah tawanya reda, ekspresi Rian perlahan berubah. Ia menoleh ke arah Erlangga dengan tatapan yang jauh lebih serius dan rendah.

“Oh iya, Lang. Ada hal penting.”

“Apa?” tanya Erlangga, menyadari perubahan nada suara sahabatnya.

Rian memasukkan tangannya ke dalam saku celana, mengeluarkan sebuah bukti transaksi kecil. “Masalah rumah sakit ibunya Zea... semuanya sudah gue urus tuntas tadi pagi sebelum ke ruangan lo.”

Tubuh Erlangga sedikit menegang, langkahnya terhenti sesaat di koridor menuju lobi. Tatapannya langsung beralih tajam ke arah Rian.

“Semua biaya rawat inap yang tertunggak, tagihan obat-obatan yang mahal, sampai biaya operasi jantungnya... semuanya sudah lunas,” Rian menyeringai kecil, merasa puas dengan kerjanya. “Sesuai perintah lo yang super rahasia itu, gue pake transfer anonim lewat yayasan sosial perusahaan kita. Nggak ada jejak nama lo sedikit pun di sana.”

Erlangga diam beberapa saat, mencoba mencerna informasi itu. Ada sedikit rasa lega di dadanya, namun rasa sesak itu belum sepenuhnya hilang. “Dia... dia tahu dari mana asal uang itu?”

Rian menggeleng pasti. “Enggak. Pihak administrasi rumah sakit cuma bilang kalau ada donatur anonim yang peduli pada kasus ibunya. Dia nggak curiga sama sekali ke arah lo.”

“Bagus kalau begitu,” gumam Erlangga, kembali melangkah.

Rian menatap sahabatnya lekat-lekat dari samping. “Lo serius mau bantu dia diam-diam terus kayak gini? Sampai kapan, Lang? Lo nggak mau jelasin apa-apa ke dia?”

Tidak ada jawaban langsung dari Erlangga. Beberapa detik kemudian, ia berhenti dan menatap lurus ke arah pintu keluar kaca yang megah. Suaranya terdengar rendah dan penuh dengan beban yang sulit diungkapkan.

“Kalau dia tahu bantuan ini berasal dari gue... dia tidak akan pernah mau menerimanya, Rian. Dia punya harga diri yang jauh lebih tinggi daripada gabungan semua aset Mahardika Group. Dan gue sudah menghancurkan harga diri itu semalam. Ini satu-satunya cara agar dia mau bertahan hidup tanpa merasa terhina lagi.”

Rian menghela napas panjang, menepuk bahu Erlangga dengan rasa empati yang jarang ia tunjukkan. “Lo beneran udah kacau balau kali ini, Lang. CEO paling dingin se-Asia ternyata bisa takluk juga sama rasa bersalah.”

Erlangga menoleh dan menatap Rian dengan tatapan dingin yang tajam, seolah sedang memperingatkannya. Rian segera mengangkat kedua tangannya ke udara. “Oke, oke! Gue diem! Gue nggak bakal bocor!”

Lalu Rian kembali menyeringai jahil. “Tapi jujur aja ya... kalau sampai berita ini bocor ke publik, kalau CEO Mahardika jatuh cinta sama gadis cleaning service... dunia bisnis bakal gempar. Gue pengen banget lihat akhir dari drama ini. Bakal jadi happy ending atau malah tragedi?”

Erlangga tidak menjawab. Ia tetap berjalan dengan wajah datarnya yang legendaris, namun di dalam hatinya, ia sendiri masih belum tahu jawaban atas pertanyaan Rian. Karena bahkan dirinya sendiri masih belum bisa mendefinisikan apa sebenarnya yang sedang ia rasakan, apakah itu murni rasa bersalah, tanggung jawab, atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang mulai tumbuh di balik dadanya yang beku.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!