Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru Agung Bai Yun
Setelah masalah dengan Shu Hua selesai, Hao Lin langsung memberikan perintah kepada para prajurit untuk membereskan semua kekacauan yang telah terjadi, dan tentu saja Hao Lin juga memerintahkan kepada prajurit yang ada untuk melepaskan Xiao Yan dari penjara karena Hao Lin tahu benar jika Xiao Yan tidak melakukan kesalahan apapun yang mengharuskan dia dihukum.
"Kenapa kamu melepaskan Xiao Yan? Biarkan saja dia membusuk di dalam penjara. Jika dia tidak ada, tidak ada siapapun lagi yang akan mengancam tempatmu! Kamu terlalu baik dan juga terlalu memanjakan dia!" Ratu Shen Wanqing tidak suka saat Hao Lin bersikap baik kepada Xiao Yan.
"Ibu, hentikan. Kumohon berhenti melakukan sesuatu yang hanya akan Ibu sesali. Dan tolong belajarlah dari apa yang telah terjadi hari ini," pinta Hao Lin.
"Kali ini aku benar-benar berharap Ibu bisa belajar untuk berpikir lebih dulu sebelum melakukan sesuatu. Hampir saja Ibu tidak selamat," lirih Hao Lin.
"Shu Hua... dia tidak bercanda saat dia mengatakan akan membunuhmu, Ibu. Kuharap ini adalah terakhir kalinya Ibu membuat kekacauan seperti ini."
Selesai memberikan nasehat kepada sang Ibu, Hao Lin langsung pergi untuk melihat bagaimana keadaan Xiao Yan.
→→→
Shu Hua benar-benar terkejut sekaligus tidak menyangka jika ia akan kembali bertemu dengan seseorang yang wajahnya tidak asing.
"Kamu..."
Shu Hua ingat benar dengan wajah wanita yang ada di depan matanya saat itu. Dan tepat saat wanita itu ingin melarikan diri lagi, Shu Hua dengan cepat menahan wanita itu dan memaksanya untuk duduk dengan tenang.
"Kamu ingin lari lagi? Maaf, tapi kali ini kamu tidak bisa lari lagi!" seru Shu Hua.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Tolong biarkan aku pergi. Aku tidak akan menganggu kalian, kumohon..."
"Shu Hua, kenapa wanita terdengar takut kepada kamu? Apa kamu melakukan sesuatu yang tidak pantas?" tanya Li Hua.
Sebelum wanita itu menjawab pertanyaan Li Hua, Shu Hua lebih dulu menutup sang wanita dan kemudian menjawab dengan tenang.
"Tidak, Kak. Tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak baik. Aku hanya sekedar bicara dengannya, karena kebetulan beberapa saat yang lalu kami tidak sengaja bertemu," jelas Shu Hua.
Shu Hua duduk di samping wanita itu, dan kemudian dengan pelan Shu Hua mulai mengajukan pertanyaan satu persatu.
"Pertama, siapa namamu?" tanya Shu Hua.
"Mei," jawabnya.
"Mei? Baiklah, Mei, sekarang katakan kepadaku, apakah kamu kebetulan tinggal di tempat ini?"
"Iya."
"Sangat bagus. Dan apakah kamu tinggal sendirian di sini?"
"Tidak. Aku tidak sendirian. Aku tinggal di sini bersama dengan guruku," ungkap Mei.
"Guru? Apakah guru ini guru agung yang kamu maksud sebelumya?" tanya Shu Hua.
Mei menganggukkan kepalanya.
"Su-a, apakah kamu kenal wanita ini? Kalian pernah bertemu sebelum ini?" tanya Li Hua.
"Kami tidak sengaja bertemu dan kemudian menjadi akrab. Kakak tenang saja aku akan membereskan semua ini." Shu Hua yang berkata akan membereskan semuanya, menarik Mei menjauh dari Li Hua.
"Katakan, apakah gurumu itu orang yang baik?" tanya Shu Hua.
"Tentu saja! Guru sangat baik kepada siapa saja yang tidak memiliki niat buruk!" jawab Mei.
"Baguslah. Kalau begitu, kamu harus mengatakan hal-hal baik tentangku kepada gurumu. Dapatkan izinnya agar aku dan Kakakku bisa menginap di sini untuk beberapa malam sebelum aku bisa menemukan tempat tinggal lain."
Mei yang takut menolak apa yang Shu Hua minta hanya bisa menganggukkan kepalanya dan berkata dia akan mengatakan hal-hal baik kepada gurunya nanti saat sang guru datang.
Selagi menunggu sang guru datang, Mei menyuguhkan minuman kepada Li Hua dan juga Shu Hua.
"Terima kasih untuk minumannya ya, Mei," ucap Li Hua dengan lemah lembut, berbanding terbalik dengan sikap beringas Shu Hua.
"Sama-sama, Kak. Silahkan dinikmati minumannya," kata Mei dengan senyuman senang di wajahnya saat bersama Li Hua.
"Ngomong-ngomong, apakah kamu tinggal di sini juga? Bersama gurumu itu?" tanya Shu Hua mulai penasaran.
"Benar. Aku tinggal di sini," jawab Mei.
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Keluargaku sudah lama tiada. Mereka semua terkena penyakit menular, dan saat itu kami tidak punya uang untuk berobat. Akhirnya seluruh keluargaku meninggal. Dan saat itu, Guru Bai Yun menolongku dan menerimaku sebagai muridnya," jelas Mei.
"Memangnya apa yang kamu pelajari dari Guru Bai Yun itu?" Shu Hua kembali bertanya. Ia bertanya karena penasaran, terlebih lagi ada hal besar yang juga ingin Shu Hua tanyakan.
"Sebenarnya setelah keluargaku meninggal karena tidak mendapat pertolongan dari tabib, saat aku aku mulai bermimpi untuk bisa mengobati seseorang. Karena itulah aku belajar ilmu pengobatan, membuat ramuan dan banyak hal lain," ungkap Mei.
"Jadi Guru Bai Yun ini ahli pengobatan?"
"Iya, benar."
"Lalu kenapa dia juga tahu tentang teknik pemanggil?" tanya Shu Hua, menggunakan kesempatan yang ada untuk membuat Mei menjawab tanpa sadar.
"Itu karena Guru Bai Yun luar biasa. Dia bukan hanya hebat soal mengobati seseorang, tetapi dia juga hebat dalam menggunakan ilmu sihir! Dia luar biasa!" jawab Mei; tanpa sadar, lagi-lagi dirinya telah dipermainkan oleh Shu Hua.
Dan saat Mei sadar, semua sudah terlambat. Shu Hua sudah tahu semuanya. Dan saat semua telah Shu Hua ketahui, sosok Guru Bai Yun yang luar biasa pun akhirnya terlihat.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian serba putih, bahkan rambut dan janggutnya pun juga berwarna putih.
"Kenapa kalian duduk di sini? Ayo, semuanya masuk. Sebentar lagi hari akan hujan. Kita bicara di dalam saja." Guru Bai Yun berjalan dengan langkah pelan masuk ke dalam rumahnya yang sederhana, diikuti oleh Mei, Shu Hua dan juga Li Hua.
Di dalam rumah sederhana itu, Mei ingin menjelaskan kepada sang guru tentang Shu Hua dan Li Hua, tetapi tampaknya Guru Bai Yun sudah tahu segalanya tentang Shu Hua dan juga Li Hua.
"Seharusnya kalian datang lebih awal kemari. Jika kalian datang lebih awal, mungkin tragedi mengerikan hari ini tidak akan terjadi," ucap Guru Bai Yun, tampaknya dia mengetahui segala hal yang telah terjadi, bahkan tanpa diberitahu.
"Kalian berdua membuang banyak waktu berharga di dalam hutan itu. Harusnya kalian keluar lebih awal agar bisa sampai kepadaku," ucap sang guru lagi.
Li Hua dan Shu Hua tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Guru Bai Yun katakan. Tetapi satu hal yang jelas saat itu, Li Hua tiba-tiba saja mendapatkan penglihatan, dan penglihatan Li Hua itupun anehnya juga bisa dilihat oleh Guru Bai Yun.
"Orang-orang itu..." Belum selesai Li Hua bicara, Guru Bai Yun langsung memotong.
"Kamu benar, Li Hua. Mereka yang akan datang bukan orang baik. Mereka memiliki dendam, energi mereka gelap dan mereka haus darah. Mereka para pemburu, dan mereka menginginkan kalian berdua," ungkap Guru Bai Yun.
Li Hua terkejut.
"Bagaimana bisa Guru melihat apa yang aku lihat?"
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄