"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentrokan
"Syukurlah kamu sudah sadar" ucap Karman
"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Nurdin yang memeriksa Kinanti karena Kinanti baru sadar dari pingsannya keesokan harinya.
"Pusing dan Kinanti terus mimpi di kejar makluk berkepala kerbau" jawab Kinanti
"Malak" gumam Karna
"Apa yang di katakan makhluk itu dalam mimpi kamu?" tanya Karna
"Dia bilang Kinanti tidak akan bisa lolos, Kinanti adalah perempuan yang akan mengandung keturunannya" jawab Kinanti terlihat pucat
"Sekarang bagaimana? apa kamu masih memikirkan Narno?" tanya Karman
"Sudah tidak pak, Kinanti malah di tolong kak Kaelan tadi sebelum Kinanti membuka mata" jawab Kinanti
"Kaelan..."
"Apa Kaelan masuk ke dalam mimpi Kinanti dan menolongnya?" tanya Karman
"Mungkin saja pak, Kaini bilang Kaelan terlihat khawatir saat mereka pergi ke rumah Narno, itu karena Kaelan di hukum untuk tidak keluar rumah Jamal" jawab Karna
"Apa Kaelan menyukai Kinanti? jika iya.... tapi bapak tidak mau terlalu berharap, Kaelan begitu baik" ungkap Karman dengan air mata yang mulai turun dari pelupuk matanya.
"Kenapa bapak bicara seperti itu, cukup bapak menyesali perbuatan bapak dulu, Karna yakin akan ada lelaki yang mau menikahi Kinanti" bujuk Karna
"Tapi sejauh ini yang melamarnya selalu meminta Kinanti tidak mengakui bapak, Kinanti banyak menolak laki laki karena mereka menolak bapak" ucap Karman
"Maka kita tunggu Lelaki yang pantas untuk Kinanti pak, Lelaki itu haruslah lelaki yang punya hati luas, Karna sudah jadi ayah Kinanti sejak bayi, dan di usia lima belas tahun Kinanti tahu semua kenyataan yang kita tutupi selama ini, tapi di luar dugaan, Kinanti memaafkan bapak bahkan menerima bapak" ucap Karna menghapus air mata Karman
"Iya Karman, kita semua tahu bagaimana kampung ini di masa lalu, tidak jauh berbeda dengan kampung cadas bahkan lebih parah, tapi kampung ini sekarang sudah banyak berubah, sudah lebih manusiawi, sudah lebih punya adab dan punya hukum yang sesuai hukum agama dan negara, kita bukan orang orang dzalim lagi Karman" ungkap Rumi
"Masa lalu kampung ini begitu kelam, bahkan bukan hanya kita tapi semua warga kampung ini juga merasa malu, kedatangan Liam, Lintang dan Hamka sudah merubah kita dari sosok iblis menjadi sosok manusia" ungkap Karna dan semuanya setuju.
"Kubur masa lalu itu Karman, kita hadapi masa depan, Kinanti bukan satu satunya korban, bahkan banyak para anak anak di luar nikah yang hidup di banyak tempat" bujuk Abidin dan barulah Karman mengangguk.
"Sekarang kita jangan minta anak anak ke sana lagi, biar Karna saja atau Panca yang ke sana karena Prawira juga sepertinya di incar" ucap Rumi
"Iya Mbah" jawab Karna juga khawatir
"Tuan... Raden Gatra sepertinya memanggil saya, saya harus ke hutan cadas" ucap Kalana
"Pergilah tapi hati hati jangan sampai keberadaan kamu di ketahui Malak dan Jayandanu" jawab Karna
"Baik tuan" jawab Kalana menghilang dari sana
"Ada apa kak?" tanya Panca
"Kakek Gatra memanggil Kalana" jawab Karna
"Apa mungkin ini tentang ari ari Kalingga?"
"Mungkin saja, semoga saja"
°°°°°°°°°°°°
Di hutan cadas.
"Kenapa area ini berbeda, sudah tiga kali dari sejak hampir satu bulan yang lalu aku ke sini, area ini selalu terasa dingin, pasti ada sesuatu tapi di sini tidak ada apapun" gumam Gatra
"Raden"
"Kalana, akhirnya kamu sudah tiba, lihat area ini dengan mata milikmu, apa mungkin ada sesuatu karena sudah tiga kali aku melalui jalan ini aku selalu merasa kedinginan, berbeda dengan area lain yang terasa panas" ucap Gatra
"Akan saya periksa Raden" jawab Kalana segera memeriksa area itu bahkan dia tidak peduli dengan banyaknya energi asing yang mendekat ke sana karena merasakan kedatangan Kalana.
"Harus cepat" ucap Gatra
"Tidak ada apapun di sini"
"Pasti ada sesuatu, cari tempat yang dinginnya paling dingin" ucap Gatra
Kalana kembali mengecek tempat itu, Gatra sudah memperlihatkan wujud aslinya yang merupakan manusia harimau, bahkan Gatra sudah mengeluarkan pusaka Ki Raksa yang ada di jantungnya untuk menghadapi musuh yang semakin mendekat.
"Ada Raden, di ujung tebing itu ada sesuatu yang begitu dingin!" ucap Kalana
"Pergi ke sana dan aku akan menghadang mereka yang datang!" perintah Gatra
"Baik Raden"
Gatra menatap tajam ke arah depan, kanan dan kirinya karena beberapa sosok sudah mulai terlihat, bahkan dia juga melihat Malak di belakang mereka.
"Ki Raksa!"
Sleb.
"Om butuh sesuatu?" tanya suara yang bisa di dengar Gatra karena Gatra memanggil pusakanya.
"Dimas, aku pinjam setengah pusakaku karena aku sedang dalam pertarungan, setelah itu pusaka Ki Raksa milikmu akan aku kebalikan" jawab Gatra
"Silahkan Om" jawab Dimas pemilik setengah pusaka Ki Raksa yang berada di bagian tempat lain, bagitu jauh dari Gatra.
"Ki Raksa, datanglah dan bantu aku" ucap Gatra dan tanpa di duga, tiba tiba sebuah cincin melesat ke arah Gatra yang langsung menangkapnya.
"Gatra...."
"Iya Ki, berikan energimu padaku" jawab Gatra dan seketika itu cahaya hijau dan merah mulai muncul dari pusaka Gatra dan cincin milik Dimas, merasuk ke dalam tubuh Gatra dan mulai membentuk sebuah pedang berwarna merah.
"Sial! kenapa aku tidak menyadari kehadiran Raden Gatra di hutan ini" umpat Malak yang memimpin pasukan miliknya karena merasakan energi yang mendekati ari ari Kalingga yang dia sembunyikan.
"Sudah terlanjur, serang segera dan aku akan menyelinap untuk menghadang Kalana" ucap Jayandanu
"Baiklah, pasukan! maju dan buat Gatra sibuk menyerang kalian sementara Jayandanu akan melawan Kalana!" perintah Malak
"Baik paduka" jawab para pasukan Malak yang berupa sosok manusia berwajah berbagai macam binatang.
Mereka maju tapi Malak tetap diam memperhatikan pertarungan, bukan hal yang sulit untuk Gatra melawan pasukan Malak karena Gatra punya energi' yang lebih kuat dari para pasukan itu, yang jadi masalah adalah, Kalana harus segera mengambil ari ari itu agar mereka bisa segera pergi dari sana sebelum ari ari itu kembali berpindah tempat.
Malak, menggunakan cara licik dengan terus memindahkan ari ari Kalingga setiap harinya, jadi Gatra kesulitan mencarinya selama hampir satu bulan itu karena setiap kali Gatra menemukan titik pasti ari ari itu, energi dan bau ari ari Kalingga akan menghilang keesokan harinya.
"Kalana! cepat ambil sebelum ari ari itu menghilang!" teriak Gatra
"Tidak akan semudah itu Raden Gatra, kamu bangsa siluman seharusnya tidak ikut campur dengan urusan kami para jin" ucap Malak
"Urusan para jin kamu bilang! ari ari itu juga milik manusia tapi kamu mengambilnya, apa itu urusan para jin" ejek Gatra membuat Malak marah dan maju untuk menyerang Gatra bersama pasukannya.
Gatra tidak gentar, meskipun dia di kelilingi ratusan jin termasuk Malak, pedang miliknya bisa menebas sepuluh jin dalam satu kali tebasan dan itu sudah cukup membantu.
Di tempat Kalana, dia sedang berusaha menghilangkan asap hitam yang terus mengelilingi ari ari Kalingga, ari ari itu di gantung di sebuah tebing dan berada dalam kantung hitam yang merupakan sebuah kantung gaib yang berasal dari kulit siluman serigala.
"Kalana, kamu tidak akan bisa mengambil ari ari itu!" ucap Jayandanu
"Aku akan mengambilnya dan kamu tidak akan bisa menghalangiku Jayandanu!" jawab Kalana yang sudah memanggil pasukan tanpa nama untuk datang ke sana.
"Waktumu itu tidak lama, dalam lima menit ari ari itu akan berpindah lagi ke tempat lain, dan itu cukup untukku menyerang kamu" ucap Jayandanu membuat Kalana terkejut.