Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Jayantaka menarik napas panjang, membiarkan udara hutan yang lembap memenuhi paru-parunya sebelum ia berbalik. Dengan lambaian tangan yang tegas, ia memanggil ketiga prajurit sandinya yang sejak tadi berjaga dalam senyap.
“Bersiaplah,” perintah Jayantaka, suaranya rendah namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. “Kita akan menemui 'petani' ini.”
Berdasarkan keterangan yang dikumpulkan dari Ki Lurah Arjapati, kelompok yang berakhir di liang lahat itu sebelumnya memiliki satu tujuan: mencari rumah seorang anak ajaib. Anak yang kabarnya mampu membinasakan ribuan hama wereng hanya dengan satu tiupan siulan. Bagi warga desa, itu adalah anugerah; bagi Jayantaka, itu adalah jejak energi yang terlalu benderang untuk diabaikan.
Mereka pun mulai bergerak menyusuri jalan setapak menuju kaki Bukit Wengker. Jayantaka berjalan di depan bersama Ki Lurah Arjapati, sementara dua prajuritnya mengapit di belakang. Namun, langkah Ki Lurah mendadak bimbang. Ia menoleh ke belakang, menyadari ada yang ganjil.
"Ki Rangga... maaf, salah satu prajuritmu berjalan ke arah yang berbeda," ucap Ki Lurah sambil menunjuk satu sosok yang memisahkan diri, menghilang dengan cepat ke balik rimbunnya pepohonan dengan gerakan yang nyaris tanpa suara.
Jayantaka tak menoleh sedikit pun, langkahnya tetap stabil dan berirama. "Biarkan saja. Dia sedang menjalankan tugasnya untuk memastikan tidak ada pintu belakang yang terbuka," jawabnya datar.
Jayantaka terus melangkah, matanya tajam memperhatikan setiap lekuk tanah dan kerapian dahan pohon di sekitar mereka. “Katakan padaku, Ki Lurah... siapakah sebenarnya orang tua anak ajaib itu?”
Ki Lurah Arjapati mengusap keringat di dahinya, sedikit gugup oleh tatapan menyelidik sang Rangga. “Ah, mereka hanya petani biasa, Ki Rangga. Namanya Ki Bagaskara dan istrinya, Nyai Lodra. Mereka keluarga yang sangat tertutup, pendiam, dan tidak banyak ulah.”
“Petani biasa?” Jayantaka mengulang kalimat itu dengan nada sarkasme yang halus. “Apakah mereka bisa olah kanuragan? Atau mungkin pernah terlihat berlatih senjata?”
Ki Lurah menggeleng mantap. “Setahuku tidak, Ki Rangga. Sehari-hari mereka hanya mengurus ladang dan ternak. Tak pernah ada keributan, tak pernah ada pamer kekuatan. Hanya anaknya, Gandraka, yang memang dikenal warga memiliki kelebihan. Itu saja. Mereka hanya orang kecil yang beruntung memiliki anak luar biasa.”
Jayantaka terhenti sejenak, menatap sebuah rumah kayu sederhana yang mulai nampak di kejauhan, berdiri tegak di bawah bayang-bayang Bukit Wengker yang perkasa. Ia menyipitkan mata, merasakan aura yang aneh—sebuah ketenangan yang terlalu rapi, seperti permukaan air telaga yang dalam namun menyimpan arus mematikan di dasarnya.
“Orang kecil tidak mungkin bisa menghapus jejak pembantaian puluhan nyawa dalam semalam, Ki Lurah,” bisik Jayantaka lebih kepada dirinya sendiri.
Ia kemudian melanjutkan langkahnya dengan tangan yang kini diam-diam bertumpu pada hulu kerisnya. Di matanya, rumah sederhana itu kini nampak seperti benteng pertahanan yang sedang mengawasi kedatangan mereka.
Di pendapa, suasana tampak begitu tenang, seolah-olah ketegangan berdarah tempo hari hanyalah mimpi buruk yang sudah menguap. Gandraka duduk bersila di tanah yang kering, jemarinya yang mungil bergerak lincah menggoreskan ranting kayu, membentuk pola-pola geometris yang rumit dan lambang-lambang kuno yang tak masuk akal bagi mata awam.
Dari kejauhan, bayangan Rangga Jayantaka dan rombongannya mulai muncul di antara pepohonan. Gandraka menghentikan goresannya sejenak. Matanya yang jernih namun dalam menatap lurus ke arah para pendatang itu, seolah ia bisa melihat melampaui pakaian penyamaran yang mereka kenakan.
"Bersikaplah biasa saja, Gandraka. Jangan tunjukkan apa pun. Kau paham?" ucap Ki Bagaskara tanpa menoleh. Ia duduk dengan santai di kursi kayu pendapa, menyesap kopi hitamnya yang masih mengepulkan uap tipis. Namun, bagi yang mengenalinya, otot bahunya yang kaku dan tatapannya yang mengunci ke depan adalah tanda bahwa sang macan sedang bersiaga.
Gandraka tidak langsung menyahut. Ia kembali menunduk, menggoreskan satu garis melingkar di sekitar lambang yang baru saja ia buat.
"Aku usahakan, Ayah," jawabnya singkat. Suaranya datar, namun ada nada geli yang terselip di sana. "Tapi aroma pria yang di depan itu... baunya seperti besi tua dan keringat prajurit. Dia tidak datang untuk membeli hasil ladang kita."
"Aku tahu," balas Bagaskara dengan suara yang hampir menyerupai bisikan. "Hanya pastikan matamu tetap di tanah. Biar Ayah yang bicara."
Nyai Lodra muncul dari dalam rumah, membawa nampan berisi singkong rebus. Gerakannya sangat anggun dan luwes, persis seperti seorang istri petani yang bersahaja. Namun, ia meletakkan nampan itu dengan posisi yang sangat strategis—hanya sejengkal dari jangkauan tangan Bagaskara, di mana di bawah kain alas nampan itu, tersimpan senjata yang siap ditarik dalam sekejap.
Rombongan Jayantaka akhirnya tiba di tepi halaman. Langkah kaki mereka menghentak debu, menciptakan keheningan yang janggal saat mereka berhenti tepat di depan pendapa.
"Selamat siang, Ki Bagaskara," sapa Ki Lurah Arjapati dengan nada yang dibuat-buat ceria, meski keringat dingin tampak mengucur di pelipisnya.
Ki Bagaskara menurunkan cangkir kopinya perlahan. Ia berdiri, lalu tersenyum—sebuah senyum ramah yang sangat sempurna, senyum seorang petani yang menyambut tamu dengan tulus.
"Selamat siang, Ki Lurah. Wah, sungguh kehormatan besar rumah gubuk kami kedatangan tamu-tamu terhormat dari jauh," ucap Bagaskara dengan nada rendah hati.
Di bawah, Gandraka tetap diam. Ia terus menggambar, namun lambang yang kini ia ukir di tanah adalah sebuah segitiga terbalik dengan lingkaran kecil di tengahnya—lambang yang sama dengan segel yang ia gunakan untuk "mencekik" api di dalam sumur tua.
Rangga Jayantaka berdiri diam, matanya tidak tertuju pada Bagaskara, melainkan langsung menghujam ke arah Gandraka yang sedang merunduk. Ia merasakan getaran aneh di udara sekitarnya, sebuah tekanan halus yang membuatnya tanpa sadar mempererat genggaman pada hulu kerisnya.
Jayantaka melangkah maju, sorot matanya yang tajam seolah hendak menguliti setiap jengkal pendapa itu. "Namaku Jayantaka. Aku datang atas perintah pusat untuk menyelidiki kekacauan yang terjadi di perbatasan hutan tempo hari. Ki Bagaskara, kau tentu paham bahwa sebagai Senopati, aku memiliki wewenang untuk memastikan tidak ada ancaman yang bersembunyi di wilayah ini."
Bagaskara mengangguk takzim, wajahnya tetap datar namun ramah. "Silakan, Ki Senopati. Rumah kami terbuka bagi siapa pun yang menjalankan tugas negara. Kami hanya rakyat kecil, tidak ada yang kami sembunyikan."
Jayantaka memberi isyarat kepada dua prajuritnya. Selama hampir satu jam, setiap sudut rumah digeledah. Peti kayu diangkat, lumbung padi diperiksa, bahkan kolong tempat tidur pun tak luput dari pengawasan. Namun, Jayantaka tak menemukan apa pun. Golok besar berpendar dan pedang panjang milik Nyai Lodra telah terkubur jauh di bawah tumpukan kotoran ternak di kandang belakang—sebuah tempat yang tak akan disentuh oleh tangan halus para prajurit kota raja.
Pakaian hitam mereka pun sudah dibakar habis, menyatu dengan abu dapur.
Jayantaka kembali ke pendapa dengan raut wajah yang mulai meragu. Ia menatap Bagaskara yang masih tenang menyesap kopinya, lalu beralih pada Gandraka yang masih sibuk dengan rantingnya. Tidak mungkin, batin Jayantaka. Naluri telik sandiku tak pernah salah. Bau kematian di hutan itu adalah bau mereka.
"Kau petani yang sangat tenang, Ki Bagaskara," ucap Jayantaka sambil berdiri di tepi pendapa, membelakangi hutan. "Biasanya, rakyat jelata akan gemetar jika rumahnya digeledah oleh prajurit Trowulan."
"Ketakutan hanya milik mereka yang bersalah, Ki Senopati," jawab Bagaskara lirih.
Tiba-tiba, telinga Bagaskara menangkap suara halus dari kejauhan—suara desingan udara yang membelah keheningan. Ia tahu persis suara itu: busur yang dilepaskan. Itu adalah serangan dari prajurit ketiga Jayantaka yang tadi memutar ke arah hutan. Sebuah ujian yang sangat berbahaya.
Dari balik lebatnya pepohonan, sebuah anak panah melesat dengan kecepatan tinggi, mengincar titik mematikan di dada Bagaskara.
Bagaskara melihatnya dengan sangat jelas. Dalam hitungan sepersekian detik, ia bisa saja menangkap anak panah itu dengan dua jari atau menghalaunya dengan cangkir kopi. Namun, jika ia bergerak satu senti saja lebih cepat dari manusia biasa, penyamarannya selama bertahun-tahun akan hancur saat itu juga.
Jleb!
"Aakh!" Bagaskara tersentak.
Anak panah itu menghujam bahu kirinya. Tubuhnya terdorong ke belakang hingga ia jatuh terduduk dari kursinya. Cangkir kopinya pecah berantakan di lantai. Darah segar mulai merembes, membasahi kain lurik usangnya yang berwarna cokelat gelap.
"Kakang!" Nyai Lodra menjerit histeris. Ia berlari menghampiri suaminya dengan wajah yang pucat pasi—sebuah akting yang sempurna, meski hatinya perih melihat luka itu. "Tolong! Suami saya dipanah! Ki Lurah, tolong!"
Gandraka menghentikan goresan rantingnya. Ia tidak menoleh, namun tangannya mencengkeram ranting itu hingga patah menjadi dua. Matanya berkilat dingin, menatap bayangan Jayantaka yang berdiri mematung di depannya.
Jayantaka menyipitkan mata, memperhatikan reaksi Bagaskara yang mengerang kesakitan di lantai. Tidak ada tangkisan, tidak ada gerak refleks seorang ahli kanuragan. Bagaskara tampak benar-benar seperti petani tua yang malang.