NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Pagi itu suasana kantor pusat Darmawan Grup sudah sibuk sejak matahari baru naik. Para karyawan berjalan cepat membawa map dan laptop, sementara suara telepon terdengar bersahutan dari berbagai ruangan. Namun di tengah kesibukan itu, Clara datang bukan untuk bekerja atau menghadiri rapat. Wajahnya terlihat dingin dan penuh amarah sejak turun dari mobil.

Langkah sepatu hak tingginya terdengar keras di lantai marmer lobby. Beberapa pegawai yang mengenalnya langsung menundukkan kepala dengan sopan.

"Selamat pagi, Nona Clara."

Clara tidak membalas sapaan mereka. Tatapannya lurus menuju lift khusus direksi.

Seorang resepsionis bahkan sampai saling melirik dengan rekannya.

"Sepertinya suasana hati Nona Clara sedang buruk," bisik salah satu dari mereka.

"Kalau sudah begitu, lebih baik jangan ikut campur," jawab yang lain pelan.

Lift terbuka di lantai paling atas. Clara keluar dengan langkah cepat menuju kantor ayahnya. Sekretaris direktur utama yang sedang memeriksa jadwal langsung berdiri.

"Nona Clara, Pak Agung sedang memeriksa dokumen penting. Apa saya perlu memberi tahu beliau lebih dulu?"

"Tidak perlu," jawab Clara dingin.

Tanpa menunggu izin, Clara langsung membuka pintu kantor ayahnya.

Pak Agung yang sedang membaca laporan keuangan mengangkat kepala perlahan. Tatapannya langsung berubah heran melihat putrinya datang pagi-pagi dengan wajah penuh emosi.

"Ada apa lagi?" tanyanya tenang.

Clara menutup pintu cukup keras lalu berjalan mendekati meja kerja ayahnya.

"Ayah harus memberi pelajaran pada Doni!"

Pak Agung menghela napas pelan.

"Pagi-pagi sudah membawa masalah. Duduk dulu dan bicara baik-baik."

"Aku tidak mau duduk!" balas Clara dengan suara meninggi. "Ayah tahu apa yang dilakukan Doni padaku semalam?"

Pak Agung meletakkan pulpennya.

"Memangnya apa?"

Clara langsung mulai mengadukan semua kejadian di kafe. Tentang bagaimana dirinya mengajak Doni bergabung bersama teman-teman kuliahnya, lalu Doni malah menolak dan pergi begitu saja tanpa memberi alasan.

"Dia mempermalukanku di depan teman-temanku!" kata Clara kesal. "Mereka semua melihat bagaimana dia mengabaikanku seperti aku ini tidak penting."

Pak Agung mendengarkan tanpa banyak perubahan ekspresi.

"Lalu?"

Clara terlihat makin emosi.

"Lalu? Ayah hanya bilang lalu? Ayah tidak marah melihat putri ayah diperlakukan seperti itu?"

Pak Agung bersandar di kursinya.

"Clara, Doni itu direktur pemasaran perusahaan ini, bukan pelayan pribadimu. Dia punya hak menolak ajakan siapa pun di luar urusan pekerjaan."

Jawaban itu membuat Clara langsung membelalak tidak percaya.

"Ayah membelanya lagi?"

"Ayah hanya bicara fakta."

"Aku ini anak ayah!"

"Dan karena kamu anak ayah, seharusnya kamu bisa bersikap lebih dewasa."

Clara tertawa sinis.

"Dewasa? Ayah selalu bilang begitu setiap kali aku punya masalah. Kenapa ayah selalu membela Doni?"

Pak Agung mulai kehilangan kesabaran.

"Karena Doni bekerja dengan baik. Dia datang ke kantor untuk bekerja, bukan menyenangkan perasaanmu."

"Jadi sekarang perasaanku tidak penting?"

Pak Agung memijat pelipisnya pelan.

"Yang tidak penting adalah drama seperti ini di jam kerja."

Clara mengepalkan tangan.

"Ayah memang tidak pernah benar-benar menyayangiku."

Kalimat itu membuat suasana ruangan langsung berubah tegang.

Pak Agung menatap putrinya tajam.

"Jangan bicara sembarangan."

"Memangnya salah? Dari dulu ayah selalu lebih percaya orang lain dibanding aku."

"Karena orang lain itu bekerja keras untuk perusahaan ini!" bentak Pak Agung akhirnya.

Clara terdiam sesaat.

Pak Agung berdiri dari kursinya.

"Ayah menyuruhmu bekerja supaya kamu punya pengalaman dan belajar bertanggung jawab. Tapi apa yang kamu lakukan? Baru patah hati sedikit langsung berhenti kerja dan mengurung diri di rumah."

Wajah Clara memerah karena marah sekaligus malu.

"Ayah tidak mengerti apa yang aku rasakan."

"Dan kamu juga tidak pernah mencoba mengerti orang lain," balas Pak Agung dingin.

Suasana hening beberapa detik.

Ketukan terdengar dari pintu.

"Masuk," ucap Pak Agung singkat.

Pintu terbuka perlahan dan Doni masuk sambil membawa beberapa map laporan proyek pemasaran. Pria itu tampak tenang seperti biasa dengan setelan kerja rapi.

Namun langkahnya sedikit terhenti saat melihat Clara berada di ruangan.

"Maaf, Pak. Saya tidak tahu ada Nona Clara di sini," katanya sopan.

Clara langsung menoleh tajam.

"Tidak usah pura-pura sopan di depanku."

Doni hanya diam beberapa detik lalu berjalan menuju meja direktur utama.

"Ini laporan revisi proyek pemasaran bulan depan yang kemarin Bapak minta."

Clara makin kesal karena merasa diabaikan.

"Aku sedang bicara denganmu!"

Doni akhirnya menatap Clara.

"Kalau itu urusan pribadi, saya rasa tidak perlu dibahas di kantor."

Jawaban itu membuat Clara hampir meledak.

"Lihat, Yah! Dia masih berani bicara seperti itu padaku."

Pak Agung menghela napas panjang.

"Clara, sudah cukup."

Namun Clara sama sekali tidak mau berhenti.

"Pria seperti dia benar-benar tidak punya etika. Pendidikan tinggi ternyata tidak membuat seseorang punya sopan santun."

Doni tampak tetap tenang meski sorot matanya sedikit berubah dingin.

"Saya datang untuk bekerja, bukan berdebat."

Setelah mengatakan itu, Doni langsung duduk di kursi depan meja Pak Agung dan membuka dokumen proyek.

Sikap itu membuat Clara merasa semakin dipermalukan.

Di kepalanya, Doni seolah benar-benar menganggap dirinya tidak ada.

"Pak, untuk kampanye produk baru saya sudah menyiapkan konsep digital dan kerja sama media. Anggaran yang sebelumnya direvisi juga masih cukup aman," jelas Doni profesional.

Pak Agung mulai membaca dokumen itu.

"Bagaimana dengan target penjualan?"

"Kalau peluncuran berjalan sesuai jadwal, kenaikannya bisa mencapai lima belas persen di kuartal berikutnya."

Clara berdiri di samping meja sambil menatap Doni penuh kebencian.

Tidak ada satu pun kalimat permintaan maaf keluar dari pria itu.

Bahkan Doni tampak lebih fokus membahas proyek dibanding memedulikan dirinya.

Amarah Clara akhirnya memuncak.

Di atas meja masih ada secangkir kopi panas milik ayahnya.

Tanpa berpikir panjang, Clara langsung mengambil cangkir itu.

"Kalau begitu rasakan saja sendiri akibatnya!"

Byur.

Kopi itu langsung mengenai jas Doni.

Cairan cokelat hangat membasahi bagian depan bajunya hingga ke lengan.

Ruangan mendadak hening.

Pak Agung langsung berdiri dengan wajah marah.

"CLARA!"

Doni sendiri tampak diam beberapa detik. Tangannya yang tadi memegang dokumen berhenti bergerak.

Beberapa tetes kopi bahkan masih jatuh dari ujung jasnya ke lantai.

Clara bernapas kasar.

"Biar dia tahu rasanya dipermalukan."

Pak Agung benar-benar murka kali ini.

"Kamu keterlaluan!"

"Dia yang memulainya!"

"Tidak ada alasan bertindak seperti anak kecil di kantor!"

Clara menatap ayahnya tidak percaya.

"Ayah tetap membelanya?"

"Karena yang salah sekarang adalah kamu!"

Suara Pak Agung terdengar sangat keras sampai sekretaris di luar ruangan ikut terdiam ketakutan.

"Pulang sekarang juga," lanjutnya tegas.

"Aku tidak mau!"

"Ayah tidak sedang meminta."

Clara menggigit bibir menahan emosi.

Matanya mulai memerah karena marah dan kecewa.

Namun melihat ayahnya benar-benar serius, akhirnya Clara mengambil tasnya dengan kasar.

Sebelum pergi, dia masih sempat menatap Doni tajam.

"Jangan merasa menang hanya karena Ayah membelamu."

Doni tidak menjawab.

Clara akhirnya keluar dari ruangan sambil membanting pintu cukup keras.

Suasana kantor direktur utama langsung terasa jauh lebih sunyi setelah kepergian Clara.

Pak Agung memejamkan mata beberapa detik seolah mencoba menahan rasa malu.

"Saya minta maaf atas sikap putri saya," katanya akhirnya.

Doni melihat noda kopi di jasnya lalu tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa, Pak."

"Tetap saja ini memalukan."

"Saya di sini untuk bekerja, bukan menghakimi keluarga Bapak."

Jawaban itu justru membuat Pak Agung semakin merasa tidak enak.

Sebagai ayah sekaligus pimpinan perusahaan, dia sadar kejadian tadi benar-benar menunjukkan kegagalan dalam mendidik putrinya.

"Kadang saya sendiri bingung harus bagaimana menghadapi Clara," ucap Pak Agung pelan.

Doni tidak menanggapi terlalu jauh.

Ia tahu urusan keluarga atasannya bukan sesuatu yang pantas ikut dicampuri.

Pak Agung lalu mencoba kembali fokus pada pekerjaan.

Ia membuka halaman terakhir proposal pemasaran.

"Baiklah. Untuk proyek ini saya setuju."

Tangannya langsung menandatangani dokumen persetujuan.

"Terima kasih, Pak," jawab Doni.

Pak Agung kembali memandang jas Doni yang basah.

"Kamu sebaiknya pulang dan ganti baju dulu."

"Tidak perlu. Saya masih ada rapat dengan tim kreatif siang nanti."

Pak Agung menggeleng kecil.

"Kamu terlalu serius bekerja."

Doni tersenyum tipis.

"Kalau saya tidak serius, perusahaan bisa rugi besar hanya karena satu proyek gagal."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat Pak Agung memahami kenapa banyak orang menghormati Doni.

Pria itu mungkin dingin dan sulit didekati, tetapi tanggung jawabnya terhadap pekerjaan memang tidak bisa diragukan.

Setelah pembahasan selesai, Doni berdiri dari kursinya.

"Kalau begitu saya permisi."

"Doni," panggil Pak Agung sebelum pria itu keluar.

Doni berhenti dan menoleh.

"Jangan terlalu dipikirkan soal Clara."

Beberapa detik Doni tampak diam.

"Saya mengerti, Pak."

Ia lalu keluar dari ruangan sambil membawa dokumen proyek.

Begitu pintu tertutup, ekspresi tenang di wajahnya perlahan memudar.

Ia berjalan menyusuri koridor kantor menuju toilet pria.

Beberapa karyawan yang berpapasan tampak terkejut melihat jasnya basah terkena kopi.

Namun tidak ada yang berani bertanya.

Mereka semua tahu lebih baik diam daripada ikut campur urusan direksi. Dunia kantor besar memang aneh. Orang bisa menghabiskan puluhan miliar untuk proyek bisnis, tetapi tetap tidak mampu mengendalikan emosinya sendiri.

Doni masuk ke toilet lalu berdiri di depan wastafel.

Ia membuka jasnya perlahan dan mencoba membersihkan noda kopi menggunakan tisu basah.

Pantulan wajahnya di cermin terlihat lelah.

"Benar-benar merepotkan," gumamnya pelan.

Ia sebenarnya sangat marah.

Tidak ada orang yang suka dipermalukan dan disiram kopi begitu saja.

Apalagi itu terjadi di depan direktur utama perusahaan.

Namun Doni juga sadar satu hal.

Clara adalah putri pemilik perusahaan.

Seberapa kesalnya pun dia, tidak mungkin dirinya membalas tindakan Clara.

Ia hanya bisa menahan emosi dan berpura-pura tidak peduli.

Doni membasuh tangannya lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin.

"Menghindar mungkin lebih baik," ucapnya lirih.

Ia tahu Clara sedang emosional dan sulit dikendalikan.

Kalau terus berhadapan, masalah mereka hanya akan semakin besar.

Setelah memastikan noda kopinya sedikit berkurang, Doni merapikan kembali kemejanya.

Ia menarik napas panjang sebelum keluar dari toilet.

Di luar sana masih ada setumpuk pekerjaan yang menunggunya.

Dan seperti biasa, pekerjaan jauh lebih mudah dihadapi dibanding emosi manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!