NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter - 24 Pelukan pertama

Tangis Naura perlahan mereda, berganti dengan isakan pelan yang sesekali menghentak dadanya. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia menangis di pelukan Azzam. Yang ia tahu, pelukan itu tidak pernah mengendur. Dari detik pertama hingga napasnya mulai teratur, lengan Azzam tetap mengurungnya dengan erat, kokoh, dan sangat hangat.

Tangan Azzam perlahan membelai kepala Naura, turun ke punggungnya, lalu kembali ke kepala, gerakan ritmis yang menenangkan, seperti orang menenangkan anak yang ketakutan akan petir.

Hujan rintik-rintik mulai turun, membasahi dedaunan bougainvillea di atas mereka, tapi mereka berdua berlindung di bawah atap teras belakang yang cukup lebar.

"Azzam..." panggil Naura akhirnya, suaranya serak dan hidungnya tersumbat. Ia menarik diri sedikit, tapi tidak sepenuhnya keluar dari pelukan Azzam. Ia menunduk, malu untuk menatap wajah suaminya setelah menunjukkan sisi serapuh ini.

Azzam tidak membiarkannya menghindar. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Naura dengan lembut, lalu mengangkat wajah gadis itu hingga mata mereka bertemu.

Wajah Naura berantakan. Matanya bengkak dan merah, hidungnya merah muda, pipinya basah oleh garis-garis air mata yang mencampur tanah, dan kerudungnya melorot di satu sisi. Ia terlihat sangat jauh dari kata sempurna.

Tapi tatapan Azzam tidak mencerminkan kekecewaan. Yang terlihat di mata hitam itu hanyalah kelembutan yang sangat dalam, dan amarah yang tertahan untuk orang yang telah membuat istrinya menangis.

"Keluhanmu sudah selesai?" tanya Azzam pelan, bukan dengan nada mengejek, melainkan kelembutan yang penuh perhatian.

Naura menggigit bibirnya, mengangguk pelan. "Maaf... mebasahi bajumu. Dan... aku lecetkin egomu. Istri ustaz yang menangis karena nggak bisa baca kitab gundul. Itu sangat memalukan."

"Ini tidak memalukan," suara Azzam tegas, menolak kata-kata Naura. "Kamu sedang belajar, Naura. Proses belajar itu tidak pernah memalukan. Yang memalukan adalah orang yang merasa paling suci dan menggunakan ilmunya untuk merendahkan orang lain."

Naura menelan ludah, mengingat senyum sindiran Zahra. "Tapi dia benar, Azzam. Aku nggak punya bakat di dunia kalian. Aku mencoba... sangat keras untuk menyesuaikan diri, tapi setiap kali aku melangkah maju, selalu ada yang menarikku kembali dan mengingatkanku bahwa aku nggak pantas berada di sini."

Azzam menghela napas panjang. Ia meraih ujung kerudung Naura yang melorot, memperbaikinya dengan gerakan yang sangat lembut, lalu menyematkannya kembali di bawah dagu Naura.

"Dengarkan saya, Naura," Azzam menatap mata istrinya dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan. "Zahra fasih membaca kitab gundul, ya. Tapi apakah ia bisa merangkul anak yatim di pinggir jalan seperti yang kamu lakukan sepuluh tahun lalu? Apakah ia bisa membuat orang yang sedang marah menjadi tenang hanya dengan senyumnya? Apakah ia punya keberanian untuk memberikan sepatunya pada orang lain dan berjalan telanjang?"

Naura terdiam, bibirnya bergetar.

"Ilmu agama bukan hanya tentang membaca huruf Arab," lanjut Azzam, suaranya rendah namun penuh kekuatan. "Ilmu agama adalah akhlak. Dan akhlakmu, Naura, jauh lebih baik daripada mereka yang hafal ribuan ayat tapi hatinya dipenuhi oleh hasad dengki."

Satu bulir air mata kembali jatuh dari mata Naura, tapi kali ini bukan karena sedih. Ini karena kata-kata Azzam menyentuh bagian terdalam dari keraguannya, membungkusnya dengan validasi yang sangat ia butuhkan.

"Azzam..."

"Kamu tidak perlu membaca kitab gundul untuk menjadi istriku," Azzam mencondongkan wajahnya, mendekat, membuat jarak di antara mereka hanya terpaut beberapa napas. "Kamu hanya perlu menjadi dirimu. Karena saya menikahimu bukan karena kamu seorang santriwati. Saya menikahimu karena kamu adalah Naura."

Jantung Naura berdebar brutal. Dekat. Pria ini terlalu dekat. Aromanya yang khas cendana, hujan, dan keamanan, memenuhi indra penciumannya. Matanya yang hitam pekat menatapnya dengan begitu dalam, seolah ia adalah satu-satunya gadis yang ada di dunia ini.

Mata Azzam turun, menatap bibir Naura yang sedikit terbuka, sebelum kembali menatap matanya. Jari-jarinya yang memegang dagu Naura kini bergerak, mengusap rahang gadis itu dengan punggung jarinya. Sentuhan yang sangat intim, yang membuat perut Naura berputar aneh.

Naura tidak mundur. Ia terpaku, menunggu, tidak tahu apa yang harus dilakukan tapi tubuhnya tampaknya tahu, tubuhnya condong ke depan, sedikit, mencari kehangatan itu.

Azzam menelan ludah, menahan dirinya dengan susah payah. Ia ingin mencium istrinya. Sangat ingin. Tapi ia tahu, saat ini Naura sedang rapuh. Ia tidak ingin memanfaatkan situasi. Ia harus menjadi tempat berlabuh, bukan badai yang menenggelamkannya.

Dengan berat hati, Azzam mengurangi jarak itu sedikit saja, lalu membenamkan wajahnya di leher Naura, memberikannya pelukan yang lebih erat, lebih dalam, seolah ia mencoba menyatukan jiwa mereka.

"Ini pelukan yang sesungguhnya," bisik Azzam di dekat telinga Naura, suaranya serak oleh emosi yang tertahan. "Pelukan di mana kamu tidak menolakku. Pelukan di mana kamu memintaku menangkapmu."

Naura menggenggam kain koko Azzam di punggungnya, memejamkan mata, dan membiarkan dirinya larut dalam kehangatan itu. Ia tidak tahu apa arti kata-kata Azzam, tapi ia merasa... pulang. Seperti akhirnya menemukan tempat di mana ia tidak perlu menjadi siapa-siapa selain dirinya sendiri.

"Terima kasih," bisik Naura pelan. "Terima kasih selalu ada untukku."

Azzam mengusap punggungnya perlahan. "Saya akan selalu ada untukmu, Habibti. Saya tidak pernah menyerah padamu, tidak akan pernah."

.

.

.

Malam itu, setelah Naura mandi dan mengenakan baju tidur yang hangat, ia duduk di tepi tempat tidur. Matanya masih sedikit bengkak, tapi hatinya terasa jauh lebih ringan.

Azzam masuk ke kamar, membawa dua cangkir teh manis. Ia memberikan satu pada Naura, lalu duduk di kursi di samping tempat tidur, kebiasaan yang ia pilih akhir-akhir ini agar Naura merasa nyaman.

"Azzam," panggil Naura, memegang cangkir tehnya dengan kedua tangan. "Aku mau minta sesuatu."

"Apa?"

"Ajarin aku baca kitab gundul."

Azzam menoleh, terkejut. "Kamu tidak perlu..."

"Aku mau," Naura memotong dengan tegas, matanya menatap Azzam dengan tekad yang baru. "Bukan karena Zahra. Atau aku mau membuktikan pada mereka. Tapi karena... karena aku ingin bisa membaca doa-doa yang kamu baca. Aku ingin memahami duniamu, sama sepertimu yang belajar merawat bunga karena kamu tahu itu duniaku."

"Baik," jawab Azzam lembut. "Mulai besok, setelah Isya, kita belajar bersama. kamu dan saya."

Naura mengangguk, merasa degupan jantungnya kembali tak teratur, ini sangat berbahaya bagi jantungnya.

"Tapi ada syaratnya," tambah Azzam, matanya menyipit sedikit.

"Apa?"

"Jika kamu menangis lagi karena ulah mereka, jangan sembunyi dariku," suara Azzam turun, penuh otoritas yang lembut. "Datang padaku. Lari padaku. Karena saya adalah suamimu, dan tugasku di dunia ini adalah menjadi tamengmu."

Naura menelan ludah, mengusap cangkir tehnya yang hangat. "Kamu terlalu baik, Azzam. Aku takut nanti kamu kecewa."

"Tidak akan ada kekecewaan," Azzam mencondongkan tubuhnya, menatap Naura dengan intensitas yang tak terbaca. "Karena setiap hari, kamu selalu memberikanku alasan untuk bersyukur. Hari ini... Kamu memberikanku pelukan pertama yang nyata."

Naura memerah, mengalihkan pandangannya ke dalam cangkirnya. "Itu bukan pelukan pertama! Kita kan udah pernah..."

"Itu berbeda," potong Azzam, senyumnya kembali tipis dan menyebalkan. "Kamu memelukku kembali. Itu perbedaannya."

Naura ingin membuang bantal ke wajah pria itu karena terlalu smooth dan membuatnya tidak bisa bernapas. Tapi yang ia lakukan hanyalah menunduk dan berbisik, "Dasar ustaz kurang ajar."

Azzam tertawa pelan, lalu berdiri. Ia mengambil cangkir kosong Naura, meletakkannya di meja, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.

"Selamat malam, istriku."

"S-selamat malam," balas Naura gagap.

Pintu tertutup. Naura memeluk bantalnya, mengubur wajahnya di sana, dan tersenyum seperti orang gila.

"Istriku. Dia memanggilku istriku dengan suara itu." Salah tingkah Naura.

"Lo benar-benar mau membunuh gue pelan-pelan, Gus Azzam," batin Naura, jantungnya berdebar bahagia.

Tapi di luar sana, di ruang kerjanya, Azzam duduk di meja dengan wajah yang tidak lagi tersenyum. Ia membuka ponselnya, mengetik pesan pada salah satu pengurus pesantren.

Azzam: Besok pagi, kumpulkan semua santriwati di aula utama. Saya ada pengumuman penting.

Ia meletakkan ponselnya, menatap kitab di mejanya, dan rahangnya mengeras. Ia sudah membiarkan kebencian dan intimidasi itu berlangsung terlalu lama. Ia pikir dengan diam dan kesabaran, mereka akan menerima Naura. Tapi kesabaran punya batas. Dan malam tadi, saat melihat Naura menangis di tanah karena merasa tidak pantas, batas itu terbakar habis.

Ia akan menunjukkan pada seluruh pesantren siapa istriinya, dan apa yang akan terjadi pada siapa pun yang berani membuatnya menangis.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!