NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berita Itu Terbit

Bab 30

Pagi harinya, Bambang bangun dengan perasaan berbeda. Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya. Bukan ketakutan. Bukan kegelisahan. Tapi harapan. Harapan yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia duduk di lantai ruangan itu dan menatap jendela. Langit di luar berwarna biru cerah. Awan-awan putih bergerak lambat, seperti tidak peduli dengan apa pun yang terjadi di bawah sana. Burung-burung terbang berkelompok, sesekali hinggap di dahan pohon di kejauhan. Pemandangan yang biasa. Tapi pagi ini terasa istimewa.

Dewi sudah bangun lebih awal. Dia duduk di dekat jendela dengan ponsel di tangannya. Matanya tidak berkedip menatap layar. Jari-jarinya menggulir cepat. Sesekali dia menghela napas. Sesekali dia menggigit bibirnya.

"Sudah terbit?" tanya Bambang.

Dewi mengangkat wajahnya. Matanya merah. Mungkin karena kurang tidur. Mungkin karena menahan tangis. "Sudah. Jam enam pagi. Temanku kirim tautannya."

"Apa isinya?"

"Semua. Tentang pabrik. Tentang makhluk. Tentang proyek manusia karet. Tentang Pak Toni. Tentang perusahaan. Tentang kalian. Tentang aku. Tentang Rudi yang hilang. Semua."

"Kamu tidak takut identitasmu terbuka?"

"Aku pakai nama samaran. Tapi cepat atau lambat, mereka akan tahu. Selalu begitu."

Bambang mendekati Dewi. Dia duduk di sampingnya dan menatap layar ponsel. Artikel itu panjang. Berpuluh-puluh paragraf. Disertai dengan foto-foto buram yang sempat diambil Dewi dari kejauhan. Foto pabrik di malam hari. Foto pagar berduri. Foto kamera CCTV. Foto bayangan-bayangan hitam di tepi hutan.

Judul artikel itu besar dan tebal meskipun Bambang tahu Dewi tidak suka hal-hal seperti itu. "TERUNGKAP! Proyek Manusia Karet di Balik Pabrik Karet Kalimantan." Di bawah judul, ada nama penulis: "Tim Investigasi Nusantara." Bukan nama asli Dewi. Tapi Bambang yakin perusahaan akan segera mencari siapa di balik nama samaran itu.

"Kamu baca komentarnya?" tanya Dewi.

"Belum."

"Baca. Lucu juga."

Bambang menggulir ke bawah. Ratusan komentar sudah membanjiri artikel itu. Ada yang percaya. Ada yang tidak. Ada yang marah. Ada yang takut. Ada yang malah bercanda.

"Hoaks lagi. Hoaks nggak pernah berhenti."

"Pabrik karet produksi manusia karet? Kayak film horor aja."

"Aku saudaraku kerja di sana. Dia bilang pabrik itu tutup lima tahun lalu. Ini berita palsu."

"Tapi foto-fotonya keliatan asli. Coba perhatikan bayangan di foto nomor empat. Itu kayak manusia tapi tinggi banget."

"Kalian percaya sama berita kayak gini? Dasar goblok."

"Tuhan, lindungi kami dari kejahatan perusahaan."

Bambang berhenti membaca. Kepalanya pusing. "Ada yang percaya. Tapi banyak yang tidak."

"Itu biasa. Hari pertama selalu begitu. Tunggu beberapa hari. Kalau berita ini viral, akan ada yang menyelidiki. Jurnalis lain. LSM. Mungkin juga polisi."

"Kita masih di sini. Terperangkap. Tidak bisa berbuat apa-apa."

"Kita sudah berbuat. Kita sudah bicara. Sekarang biar dunia yang bergerak."

Pintu ruangan terbuka. Ipda Rini masuk dengan wajah tegang. Di tangannya, ada ponsel. Layar ponsel itu menampilkan artikel yang sama.

"Kalian tahu tentang ini?" tanya Ipda Rini.

Dewi mengangguk. "Saya yang menulis."

Ipda Rini menghela napas panjang. "Kamu tahu ini berbahaya? Perusahaan bisa menuntut kamu. Pencemaran nama baik. Berita palsu. Bisa dipenjara."

"Biarkan. Saya sudah terbiasa dengan ancaman."

"Tapi kalian di sini. Di bawah perlindungan kami. Kalau perusahaan menuntut, kami yang kena imbasnya."

"Pak, kami tidak punya pilihan. Tidak ada yang bergerak. Polisi tidak bergerak. Pemerintah tidak bergerak. Hanya media yang bisa kami andalkan."

Ipda Rini terdiam. Wajahnya berubah. Tidak lagi tegang. Tapi sedih. "Saya mengerti. Tapi saya juga punya atasan. Mereka tidak akan senang dengan ini."

"Maafkan kami, Pak. Tapi ini satu-satunya jalan."

Ipda Rini keluar dari ruangan. Pintu ditutup. Bambang menatap Dewi. "Kita akan diusir?"

"Entahlah. Tapi setidaknya berita sudah terbit. Tidak ada yang bisa membatalkannya."

Mereka menunggu. Satu jam. Dua jam. Tidak ada yang datang. Tidak ada yang membawa kabar. Hanya suara langkah kaki di lorong sesekali terdengar. Suara telepon berdering dari ruangan lain. Suara orang bicara dengan nada tegang.

Sekitar pukul sebelas, Ipda Rini kembali. Kali ini dia tidak sendiri. Seorang pria dengan pakaian prei mengikuti di belakangnya. Pria itu berkemeja putih lengan panjang, celana hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Wajahnya tegas. Matanya tajam. Dia membawa tas kulit coklat di tangan kirinya.

"Ini dari Polda," kata Ipda Rini. "Dia mau bicara dengan kalian."

Pria itu duduk di kursi seberang mereka. Dia membuka tas kulitnya dan mengeluarkan map tebal. Map itu berisi dokumen-dokumen.

"Saya AKBP Hermawan," kata pria itu. "Saya dari Direktorat Kriminal Khusus Polda Kalteng. Saya ditugaskan untuk menangani kasus ini."

Bambang terkejut. "Kasus ini sudah ditangani Polda?"

"Setelah berita itu terbit, atasan saya langsung memerintahkan penyelidikan. Kami tidak bisa mengabaikan ini. Sudah terlalu banyak desakan dari publik."

"Jadi Bapak percaya dengan berita itu?"

AKBP Hermawan tidak menjawab langsung. Dia mengeluarkan beberapa foto dari map. Foto-foto itu menunjukkan pabrik setelah terbakar. Bangunan-bangunan tinggal kerangka. Dinding-dinding roboh. Atap-atap ambruk. Di halaman belakang, terlihat bekas-bekas hitam di tanah. Mungkin bekas kolam. Mungkin bekas darah. Mungkin bekas sesuatu yang lain.

"Kami sudah kirim tim ke lokasi," kata AKBP Hermawan. "Kami temukan sisa-sisa bangunan yang terbakar. Juga beberapa... benda yang tidak bisa kami identifikasi."

"Benda apa?" tanya Ucok.

"Benda hitam. Keras. Seperti karet. Tapi tidak seperti karet biasa. Kami kirim sampelnya ke laboratorium. Hasilnya belum keluar."

"Itu sisa-sisa makhluk," kata Ucok. "Atau sisa-sisa kolam. Sulit dibedakan."

AKBP Hermawan menatap Ucok dengan sorot tajam. "Kamu sudah lima tahun di sana. Kamu tahu lebih banyak dari siapa pun. Aku ingin kamu cerita. Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi."

Ucok menarik napas panjang. Dia bercerita. Lagi. Untuk kesekian kalinya. Tentang pabrik. Tentang aturan aneh. Tentang monitor CCTV. Tentang makhluk. Tentang Dul, Joni, Herman. Tentang kolam. Tentang proyek manusia karet. Tentang perusahaan. Tentang Pak Toni.

AKBP Hermawan mendengarkan tanpa menyela. Sesekali dia menulis di buku catatan. Sesekali dia mengangguk. Sesekali alisnya berkerut. Tapi tidak sekali pun dia memotong cerita Ucok.

Ketika Ucok selesai, AKBP Hermawan meletakkan pulpennya. "Ini berat," katanya. "Sangat berat. Tapi aku tidak bisa mengabaikan kesaksian kalian. Terlalu banyak detail. Terlalu banyak bukti fisik. Aku akan bawa ini ke atas."

"Ke atas mana?" tanya Dewi.

"Ke Kapolda. Mungkin ke Bareskrim. Mungkin ke presiden. Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, ini bukan kasus biasa. Ini kejahatan luar biasa. Terorganisir. Melibatkan banyak pihak."

"Pak Toni?" tanya Bambang.

"Kami sudah cari. Tapi dia menghilang. Rumahnya kosong. Kantornya kosong. Tidak ada yang tahu dia ke mana."

Bambang merasakan dadanya sesak. Pak Toni menghilang. Dalang dari semua kejahatan ini. Pria yang merekrutnya. Pria yang menjebaknya dalam kontrak mematikan. Pria yang tersenyum saat Bambang menandatangani kontrak itu. Kini menghilang. Seperti asap. Seperti makhluk-makhluk itu.

"Tapi kami tidak akan berhenti mencari," kata AKBP Hermawan. "Kami akan kejar sampai ke ujung dunia. Janji saya."

"Janji polisi tidak pernah bisa dipercaya," kata Ucok sinis.

AKBP Hermawan tidak marah. Dia hanya tersenyum tipis. "Kamu boleh tidak percaya. Tapi aku akan buktikan."

AKBP Hermawan berdiri. Dia berjabat tangan dengan Bambang, dengan Ucok, dengan Dewi. Jabatannya kuat. Matanya jujur. Mungkin dia berbeda. Mungkin dia polisi yang benar-benar ingin menegakkan keadilan. Atau mungkin dia hanya aktor yang lebih baik dari polisi-polisi sebelumnya. Bambang tidak tahu.

"Kalian tetap di sini," kata AKBP Hermawan. "Kami akan jaga kalian. Sampai kasus ini selesai."

"Berapa lama?" tanya Bambang.

"Tidak tahu. Tapi kalian tidak akan sendiri. Aku janji."

AKBP Hermawan pergi. Ipda Rini mengikutinya keluar. Pintu ditutup. Bambang, Ucok, dan Dewi ditinggal sendirian di ruangan itu.

"Kamu percaya dia?" tanya Bambang pada Dewi.

"Aku tidak tahu. Tapi dia berbeda. Matanya berbeda."

"Atau dia hanya polisi lain yang sudah dibeli perusahaan."

"Mungkin. Tapi kita tidak punya pilihan. Kita harus percaya pada seseorang."

Malam tiba. Mereka makan malam bersama. Nasi kotak lagi. Lauknya berbeda. Ikan asin dan sayur asam. Bambang makan dengan lahap. Ucok juga. Dewi hanya makan setengah porsi.

"Bambang," panggil Dewi setelah makan.

"Iya."

"Aku minta maaf."

"Maaf buat apa?"

"Karena aku tidak bisa menyelamatkan kalian lebih cepat. Karena aku tidak bisa melindungi kalian dengan lebih baik. Karena berita itu mungkin tidak akan mengubah apa pun."

Bambang menatap Dewi. Wajah perempuan itu terlihat lebih tua dari usianya. Lingkar hitam di bawah matanya tebal. Bibirnya pecah-pecah. Tapi matanya masih bersinar. Masih ada api kecil di sana.

"Kamu tidak perlu minta maaf," kata Bambang. "Kamu sudah melakukan lebih dari yang bisa kami harapkan. Kami tidak akan sampai di sini tanpa kamu."

"Tapi kita masih di sini. Terjebak. Tidak bisa pulang."

"Kita akan pulang, Dewi. Mungkin tidak sekarang. Tapi kita akan pulang. Aku percaya."

Dewi tersenyum. Senyum yang tipis. Senyum yang rapuh. Tapi senyum. Itu sudah cukup.

Malam semakin larut. Bambang berbaring di lantai. Matanya menatap langit-langit yang putih. Lampu neon masih menyala. Masih terang. Masih menyilaukan. Tapi dia sudah terbiasa.

Dia memejamkan mata. Pikirannya melayang ke Ibu. Ke Bapak. Ke rumah kontrakan sempit di gang. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka tahu tentang berita itu? Apakah mereka tahu bahwa anak mereka terlibat dalam kasus besar yang sedang viral?

Dia berdoa dalam hati. Doa untuk keselamatan. Doa untuk keadilan. Doa untuk pulang.

"Bu, doakan aku," bisiknya. "Doakan aku selalu."

Tidak ada jawaban. Hanya suara jangkrik dari luar. Hanya suara napas Ucok yang mulai teratur. Hanya suara detak jantungnya sendiri.

Bambang tertidur dengan senyum tipis di bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mimpinya tidak buruk. Dia bermimpi tentang sawah yang hijau. Tentang langit yang biru. Tentang Ibu yang tersenyum. Tentang Bapak yang memegang tangannya.

Dia bermimpi tentang pulang.

Pulang yang sesungguhnya.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!