(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kawan lama
Selina semakin mengerutkan dahi ketika melihat Raka berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa, pria itu bahkan tampak jauh lebih tertarik pada laporan kerja dibanding pertemuan mendadak dengan seseorang dari masa lalunya.
“Kenapa tertawa,” gumam Selina pelan sambil mengikuti langkahnya menuju lift. “Aneh sekali.”
Raka melirik sekilas tanpa benar-benar berhenti berjalan. “Kau mengatakan sesuatu?”
“Tidak,” jawab Selina terlalu cepat sambil membetulkan posisi tablet di tangannya.
Pintu lift terbuka, keduanya masuk ke dalam. Suasana mendadak lebih hening dibanding biasanya, hanya suara mesin lift yang terdengar samar di tengah jeda aneh yang entah kenapa terasa sedikit canggung.
Selina berdiri di sisi kanan sambil pura-pura fokus pada layar tablet, tetapi beberapa kali matanya bergerak tanpa sadar ke arah pantulan Raka di dinding lift.
Pria itu terlihat biasa saja, padahal baru saja bertemu dengan seseorang yang jelas pernah berarti di dalam hidupnya.
Hal itu justru membuat Selina semakin tidak mengerti, akhirnya ia menghembuskan napas kecil sebelum berkata tanpa benar-benar berpikir panjang.
“Dia cantik.”
Raka menoleh sedikit. “Siapa?”
Selina langsung mendecak pelan. “Ya wanita tadi,” jawabnya cepat. “Jangan pura-pura tidak tahu.”
“Hm.”
“Hm itu apa?” balas Selina spontan sambil menatapnya.
Raka kembali menatap lurus ke depan. “Kalau menurutmu cantik, berarti memang cantik.”
Jawaban datar itu justru membuat Selina semakin kesal sendiri. “Dasar menyebalkan,” gumamnya lirih.
Lift berhenti di lantai eksekutif, pintunya terbuka perlahan. Raka melangkah keluar lebih dulu, sementara Selina masih mengikuti beberapa langkah di belakang.
Namun sebelum masuk ke ruang kerja, Selina kembali membuka suara. “Dia siapa sebenarnya?”
Langkah Raka berhenti sepersekian detik.
“Mantan,” jawabnya singkat.
Deg.
Selina refleks menghentikan langkah. “Mantan?” ulangnya cepat sebelum buru-buru berdeham kecil. “Maksudku... oh.”
Raka membuka pintu ruang kerja tanpa banyak perubahan ekspresi. “Teman lama waktu SMA,” tambahnya tenang.
Selina ikut masuk sambil berusaha terlihat biasa saja meski pikirannya terasa sedikit berisik. “Lalu kenapa kartu namanya dibuang?” tanyanya lagi, kali ini lebih hati-hati.
Raka duduk di kursinya lalu membuka dokumen di meja seolah topik itu bukan sesuatu yang penting.
“Aku tidak suka mencampur urusan lama dengan pekerjaan,” jawabnya tenang. “Lagi pula, kalau memang perlu bertemu lagi, dunia tidak sesempit itu.”
Jawaban itu membuat Selina sedikit terdiam, entah kenapa, ada rasa ringan kecil yang muncul tanpa ia pahami sendiri.
Namun jauh di sisi lain gedung, di area parkir premium, Nadira baru saja masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu bersandar pelan sambil menatap layar ponsel beberapa detik sebelum kembali melihat ke arah gedung tinggi Pradipta Grup dari balik kaca.
Ekspresinya tetap tenang, nyaris tak berubah.
“Hm...” gumamnya pelan, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa detik kemudian, ia membuka kembali kalender di ponselnya, lalu mengetuk salah satu agenda kerja sama yang berkaitan dengan anak perusahaan Pradipta Grup.
Sudut bibirnya bergerak tipis. “Sepertinya,” ucapnya lirih, “kita akan sering bertemu lagi, Raka.”
Sore hari datang lebih cepat di kantor pusat Pradipta Grup, setelah serangkaian evaluasi, rapat mendadak, dan tumpukan laporan yang tidak ada habisnya, suasana lantai eksekutif perlahan mulai lengang.
Di dalam ruang kerja utama, Raka akhirnya menutup map terakhir di atas meja. Sorot matanya sedikit lelah, tetapi tetap tenang seperti biasa.
Jack berdiri di samping sambil memeriksa jadwal melalui tablet. “Agenda besok sudah saya rapikan, Tuan muda. Ada evaluasi cabang wilayah timur pukul sembilan, lalu pertemuan investor siang hari.”
Raka mengangguk kecil sambil merapikan pena di meja. “Sisanya pindahkan ke sore.”
“Baik, Tuan muda.”
Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan.
Selina masuk sambil membawa beberapa dokumen terakhir, rambutnya sedikit berantakan akibat terlalu lama bekerja. “Akhirnya selesai juga,” gumamnya sambil menjatuhkan tubuh ke sofa kecil. “Aku mulai yakin perusahaan ini sengaja dibuat rumit agar semua orang lebih cepat untuk tua.”
Raka melirik sekilas. “Kalau begitu kau boleh berhenti.”
Selina langsung menoleh cepat. “Ish!.”
Sudut bibir Raka terangkat tipis.
Melihat itu, Selina langsung mendecak pelan. “Kau mengejekku?”
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Wajahmu mengatakan nya.”
Jack yang berdiri di samping memilih menundukkan kepala sedikit, menahan ekspresi, beberapa menit kemudian, setelah semuanya selesai, Raka akhirnya berdiri dan mengambil jasnya.
“Aku pulang dulu,” ucapnya singkat.
Selina ikut berdiri. “Besok jangan datang terlalu pagi,” katanya refleks. “Orang lain juga butuh waktu untuk bernapas.”
Raka menatapnya sepersekian detik sebelum menjawab tenang, “Kau terdengar seperti sedang khawatir.”
Selina langsung salah tingkah. “Si-siapa yang khawatir? Aku hanya tidak mau ikut mati kelelahan karena bos yang menyebalkan.”
Raka terkekeh pelan sebelum berjalan keluar.
Langit kota mulai berubah jingga ketika Bugatti hitam milik Raka melaju meninggalkan kawasan bisnis pusat kota. Seperti biasa, mobil Jack mengikuti beberapa meter di belakang dengan jarak aman.
Jalanan sore cukup padat, lampu kendaraan mulai menyala satu per satu. Namun saat berhenti di lampu merah dekat kawasan pertokoan lama, pandangan Raka tanpa sengaja tertuju ke sisi trotoar.
Alisnya sedikit berkerut, seorang pria tampak berdiri di depan deretan ruko sambil membawa map dokumen lusuh. Kemeja putihnya sedikit kusut, rambutnya tampak berantakan seolah terlalu lama berjalan di bawah panas matahari.
Pria itu baru saja keluar dari salah satu kantor kecil dengan ekspresi lelah.
Jono.
Raka langsung memperlambat kendaraan sebelum menepikannya beberapa meter di depan, pintu mobil terbuka pelan.
“Jo.”
Pria itu menghentikan langkah lalu menoleh refleks, ekspresinya langsung berubah terkejut.
“Ra... Raka?” ucapnya nyaris tidak percaya.
Matanya bergerak cepat antara mobil mewah di samping jalan dan sosok Raka yang berdiri tenang di dekat pintu.
“Ya ampun...” gumamnya pelan. “Ini benar kamu?”
Raka mendekat beberapa langkah, sorot matanya bergerak pada map di tangan Jono dan wajah lelah sahabat lamanya itu.
“Kamu sedang apa di sini?” tanyanya tenang.
Jono terkekeh hambar sambil menggaruk belakang kepala. “Cari kerja,” jawabnya jujur. “Ternyata nyari kerjaan yang cocok sangat sulit.”
Raka mengangkat alis tipis, lalu terdiam beberapa detik sebelum bertanya lagi, “Bukannya kau dulu lulusan terbaik?”
Jono tertawa kecil, kali ini terdengar lebih pahit. “Pintar doang ternyata nggak cukup,” jawabnya pelan. “Bapak lagi sakit, tabungan mulai habis, beberapa kali nolak kerjaan aneh karena gajinya nggak masuk akal, sekarang ya muter-muter cari lowongan.”
Tatapan Raka berubah sedikit lebih dalam.
Ia mengenal Jono sejak lama, di antara teman-temannya, pria itu salah satu yang paling cerdas, cepat belajar, dan memiliki kemampuan analisis yang selalu membuatnya terkesan.
Namun hidup rupanya tidak selalu adil.
“kamu sudah makan?” tanya Raka tiba-tiba.
Jono langsung berkedip. “Hah?”
“Sudah makan?”
“Belum...” jawabnya pelan sambil tertawa canggung. “Uangku sudah nyaris habis.”
Raka mengembuskan napas pendek. “Ayo masuk.”
Jono mengerjap bingung. “Hah?”
Raka membuka pintu mobil sedikit lebih lebar. “Aku sedang cari orang pintar,” ucapnya tenang. “Kalau kamu mau, besok ikut bekerja denganku.”
Beberapa detik Jono hanya diam, ekspresinya membeku. “…Kerja?” ulangnya pelan seolah salah dengar.
Raka mengangguk kecil. “Di perusahaanku.”
Jono langsung tertawa kecil karena terlalu tidak percaya. “Tunggu dulu,” katanya cepat. “Jangan bercanda kamu ini. Aku memang lagi susah, tapi jangan kasih harapan palsu begitu.”
Raka menatap lurus ke arahnya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. “Aku tidak bercanda.”
Suasana mendadak hening, di belakang, mobil Jack ikut berhenti perlahan.
Sementara Jono masih berdiri mematung di pinggir jalan, jemarinya perlahan mengerat pada map lusuh di tangannya, jelas belum benar-benar memproses apa yang baru saja ia dengar.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km