Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Master Penempa
Sinar matahari pagi melemparkan pendaran keemasan ke atas karpet tebal penthouse Wu Imperial Guild.
Wu Xuan berdiri menghadap jendela kaca raksasa, menatap miniatur kota di bawah kakinya. Di tangan kanannya, ia menggenggam pedang hitam yang kini dihiasi urat-urat merah gelap.
Pintu ganda penthouse terbuka dengan suara desisan mekanis yang halus.
Xu Xin melangkah masuk, memecah keheningan. Di belakang asisten cantik itu, dua sosok pria mengikuti. Udara di dalam ruangan yang luas itu seketika terasa menyusut, tertekan oleh kepadatan mana yang luar biasa masif dari para pendatang.
Dua sosok di belakang Xu Xin memancarkan aura yang benar-benar berbeda. Mereka tidak memancarkan niat membunuh seperti seorang hunter petarung, melainkan memancarkan panas yang membakar, layaknya dua gunung berapi yang berjalan berdampingan.
"Tuan Muda," lapor Xu Xin, menundukkan kepalanya dengan hormat. "Saya telah melaksanakan perintah Anda. Saya membawa ahli penempa terbaik yang bisa kita capai pagi ini."
Wu Xuan membalikkan badannya secara perlahan. Kemeja putih yang kasual tidak mampu menutupi wibawa yang memancar dari posturnya.
Matanya menyapu dua tamu tersebut.
Sosok pertama adalah seorang pria paruh baya keturunan Tiongkok asli. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun otot-otot di balik pakaiannya terlihat sekeras baja tempaan. Janggutnya rapi, dan matanya memancarkan ketelitian seorang seniman.
Sosok kedua adalah seorang bule raksasa setinggi dua meter lebih. Pria itu memiliki janggut merah lebat yang dikepang rapi, lengan sebesar batang pohon beringin, dan tato rune kuno yang menyala redup di lehernya.
Wu Xuan menaikkan alisnya. Mata hitam kecoklatannya sedikit membesar. Topeng ketenangannya sedikit bergeser oleh rasa terkejut yang nyata.
"Paman Tong...?" panggil Wu Xuan, alisnya bertaut bingung.
Pria itu adalah Tong Peng. Sejak Wu Xuan masih kecil, ia mengenal pria ini sebagai salah satu pengabdi setia keluarga Wu, paman tua ramah yang sering membawakan mainan pahatan kayu atau memperbaiki barang-barang antik kakeknya yang rusak.
Tong Peng melangkah maju, lalu dengan gerakan yang sangat luwes dan penuh hormat, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Wu Xuan.
"Salam, Tuan Muda," ucap Tong Peng, suaranya dipenuhi kelegaan yang tulus. "Maafkan Pelayan tua ini karena baru bisa datang menghadap sekarang. Aku sedang sibuk menghadiri acara pelelangan dan penempaan Tower di Inggris."
Wu Xuan menatap Xu Xin, lalu kembali menatap pria tua di hadapannya. Otak jeniusnya dengan cepat menghubungkan titik-titik informasi. Sistem Emas-nya yang telah meretas database Tower memunculkan sebaris data di atas kepala pria itu.
[Master Tong Peng. Level 49. Penempa Terbaik Nomor 5 Bumi.]
Seketika, tawa pelan namun penuh dengan apresiasi gelap meledak di dalam benak Wu Xuan.
'Astaga...' batin Wu Xuan dalam keheningan pikirannya. 'Ternyata Paman Tong, tidak kalah mengejutkan... Penempa Terbaik Nomor Lima di bumi.'
Keluarga Tong telah mengabdi pada garis keturunan Wu sejak lama, bahkan sebelum era Tower di mulai. Dan meskipun kini Tong Peng telah menjadi salah satu penempa paling dihormati oleh umat manusia di bumi, ia tetap menundukkan kepalanya dan setia pada keluarga Wu. Kesetiaan semacam ini adalah sesuatu yang sangat dihargai oleh Wu Xuan.
"Paman Tong… tak kusangka ternyata kau seorang Master Penempa." tanya Wu Xuan dengan senyum hangat yang elegan, melangkah maju dan memegang bahu pria itu untuk menyuruhnya berdiri tegak.
Tong Peng terkekeh pelan, matanya menyipit ramah. "Itu hanya gelar kecil, Tuan Muda."
Tong Peng kemudian bergeser sedikit, memberikan ruang bagi sosok ketiga untuk maju. Pria itu adalah seorang bule raksasa setinggi dua meter lebih. Hawa panas menguar dari tubuhnya seolah ia menelan lahar setiap pagi.
"Dan perkenalkan, Tuan Muda," ucap Tong Peng. "Ini adalah sahabatku. Master Goliath dari Norwegia. Penempa Terbaik Nomor 7 di bumi. Ia kebetulan sedang berlibur dan mengunjungi kediamanku saat Nona Xu Xin datang membawa perintah Anda."
Goliath, sang raksasa dari utara, menatap Wu Xuan dengan mata biru yang menyala-nyala oleh rasa penasaran.
"Goliath," ucap raksasa itu, mengulurkan tangannya yang sebesar batu loncatan. Suaranya serak dan sangat berat.
Wu Xuan tersenyum tenang. Ia mengulurkan tangannya yang ramping, menyambut jabatan tangan sang raksasa tanpa gentar sedikit pun.
"Awalnya aku tidak ingin hadir, apalagi mengganggu liburanku," ucap Goliath blak-blakan, tertawa dengan suara yang menggetarkan kaca ruangan. "Namun, melihat berita papan peringkat Tower beberapa jam yang lalu... aku tidak bisa menahan diriku. Mencapai Level 11 dalam semalam dengan bakat 'Kelas E'? Aku sangat penasaran ingin melihat secara langsung seperti apa wujud super rookie baru yang sedang mengguncang bumi hari ini."
Genggaman tangan Goliath sangat kuat, menguji fisik sang pemuda. Namun, ketenangan di balik kulit pucat Wu Xuan dan senyumnya yang tidak berubah satu milimeter pun, membuat Goliath tersenyum.
'Bocah yang sangat menarik!!' batin Goliath.
"Senang bertemu denganmu, Master Goliath," balas Wu Xuan santai. Ia melepaskan jabatan tangan itu dengan anggun. "Media selalu suka membesar-besarkan sesuatu."
Wu Xuan kemudian mengangkat pedang hitamnya yang sedari tadi ia pegang.
"Karena kalian berdua sudah di sini, mari kita tidak membuang waktu. Aku butuh mata kalian berdua untuk melihat benda ini," ucap Wu Xuan, memotong basa-basi.
Tong Peng dan Goliath menatap pedang hitam di tangan Wu Xuan. Insting penempa mereka seketika mendeteksi sesuatu yang aneh. Mata telanjang mereka dan sistem mereka mengatakan bahwa itu hanyalah pedang biasa, namun insting mereka mengatakan bahwa benda itu hidup dan sedang melihat mereka.
"Di mana kita akan melakukan pengecekannya, Tuan Muda?" tanya Tong Peng dengan raut wajah yang kini berubah serius.
"Tidak di sini," jawab Wu Xuan. Ia berjalan melewati mereka menuju lift pribadi khusus di ujung penthouse. "Rahasia yang bagus harus dinilai di tempat yang tepat."
Wu Xuan menoleh ke belakang, matanya berkilat di bawah bayang-bayang. "Paman Tong, Master Goliath, Paman Juhao, dan Xu Xin. Ikut aku."
Tidak ada yang membantah. Kelima sosok itu melangkah masuk ke dalam lift raksasa berkapasitas besar.
Pintu tertutup. Lift itu tidak naik, melainkan melesat turun dengan kecepatan tinggi, melewati puluhan lantai, menembus fondasi gedung baja Wu Imperial Guild, dan terus meluncur masuk jauh ke dalam kerak bumi di bawah kota Shanghai.
Tujuan mereka adalah Ruang Penempaan Bawah Tanah Guild. Tempat di mana senjata seluruh anggota guild di buat.
Di dalam lift yang terus meluncur turun, lampu kabin meredup menjadi warna merah tanda peringatan. Suhu mulai meningkat, membuat udara terasa sesak.
Wu Xuan berdiri di paling depan, menatap pantulan dirinya di kaca lift yang mulai berembun karena panas. Jari telunjuknya mengetuk pelan sarung pedang jiwanya, menikmati ritme jantung yang berdetak di dadanya.
Bersambung...