Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.Ia adalah CEO muda dari perusahaan besar, namun di balik itu semua, Saga juga dikenal sebagai sosok mafia yang kejam, dingin, dan tak tersentuh. Namanya bukan hanya dihormati—tapi ditakuti.
Vero Vortelov sosok pria dingin berusia 28 tahun, Varo dikenal sebagai mafia berpengaruh di kota Los Angeles , bagian Amerika.Namun di balik semua itu, Varo memiliki satu sisi yang jarang terlihat—loyalitas terhadap keluarganya, terutama adiknya, Selena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Malam turun perlahan di mansion. Lampu-lampu temaram menyinari kamar utama.
Sunyi.
Namun terasa penuh. Liora duduk di tepi tempat tidur. Masih mengenakan pakaian tidurnya. Tangannya saling menggenggam. Matanya kosong. Hari itu melelahkan. .Bukan fisik tapi pikirannya.
Pintu terbuka. Saga masuk. Langkahnya tenang. Namun kehadirannya langsung terasa. Seperti biasa. Liora sedikit menoleh. Namun tidak berkata apa-apa. Saga melepas jasnya. Menaruhnya sembarangan. Tatapannya sesekali mengarah ke Liora.
Memastikan. Selalu memastikan.
Ia berjalan mendekat. Berhenti tepat di depan Liora.
Beberapa detik. Tanpa kata. Lalu tangannya terangkat. Mengangkat dagu Liora. Memaksanya menatap.
DEG.
Liora menegang. Namun tidak menolak. Tatapan mereka bertemu.
Dekat.
“Masih mau kabur?” Tanya Saga pelan. Nada suaranya rendah. Namun jelas.
Liora menggeleng pelan. “Aku gak akan ke luar lagi…” jawabnya lirih.
Jujur. Namun juga… pasrah.
Saga menatapnya lama. Seolah menilai. Seolah memastikan. Lalu perlahan tangannya turun. Namun tidak menjauh, Ia duduk di samping Liora.
Dekat. Terlalu dekat. Tangannya langsung menarik. Membawa Liora ke dalam pelukannya.
DEG.
Liora reflek menegang. Namun tidak melawan. Tidak kali ini.
“Bagus.” Bisik Saga pelan.
Beberapa saat berlalu. Sunyi. Hanya suara napas. Tiba-tiba...
Tok tok.
Ketukan di pintu. Saga tidak bergerak. Tatapannya sedikit mengeras.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Ben masuk. Menunduk hormat. “Maaf mengganggu, Tuan.”
Saga tidak menjawab. Hanya menatap. Memberi izin untuk bicara.
“Ada laporan dari pelabuhan.” Ben berbicara hati-hati.
“Pengiriman malam ini bermasalah. Perlu kehadiran Anda.”
Sunyi. Liora sedikit menunduk. Namun ia bisa merasakan tubuh Saga di sampingnya menegang. Biasanya Saga akan langsung pergi.
Tanpa ragu. Tanpa menunda.
Namun kali ini berbeda. Saga tidak berdiri. Tidak bergerak. Tangannya justru mengerat di pinggang Liora.
Seolah menahan. Seolah memilih.
“Serahkan ke orang lain.” Jawabnya datar.
DEG.
Ben sedikit terkejut. Namun cepat menutupi.
“Tuan… ini cukup penting—”
“Ben.”
Suara Saga memotong.
Rendah. Namun tegas. Ben langsung diam.
“Kerjakan.” Perintahnya singkat. Tidak bisa dibantah.
“…Baik, Tuan.” Ben menunduk. Lalu keluar. Menutup pintu perlahan.
Hening kembali. Namun kali ini berbeda. Liora sedikit mengangkat wajah. Menatap Saga. Ada sedikit kebingungan di matanya.
“Kenapa… gak pergi?” tanyanya pelan.
Saga tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap ke depan. Namun tangannya tidak lepas dari Liora.
“Aku tidak mau meninggalkanmu.” Jawabnya akhirnya.
Singkat. Namun cukup membuat jantung Liora berdebar.
DEG.
Ia terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.
Saga berdiri. Menarik Liora ikut. Menuju kasur.
Liora duduk. Namun sebelum ia sempat mengatur jarak Saga sudah menariknya kembali.
Berbaring. Memeluknya dari belakang. Seperti biasa.
Namun kali ini lebih erat. Seolah benar-benar tidak ingin melepas.
“Tidur.” Bisiknya rendah. Liora menatap kosong ke depan. Namun perlahan matanya mulai terpejam. Di belakangnya Saga masih terjaga. Tatapannya gelap.
Namun fokus. Pada satu hal.
Liora.
Untuk pertama kalinya ia memilih untuk tidak pergi. Bukan karena pekerjaan tidak penting. Tapi karena ada sesuatu yang lebih ia jaga.
Sesuatu yang tidak ingin ia kehilangan lagi.
Dan tanpa ia sadari pilihan itu membuat obsesinya semakin dalam. Karena sekarang bukan hanya ingin memiliki. Tapi juga tidak bisa melepaskan.
***
Pagi datang perlahan. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai besar kamar itu.
Namun suasana tetap sama. Sunyi. Menekan.
Liora terbangun. Perlahan. Matanya masih berat. Namun tubuhnya langsung menegang.
Tangan itu… masih melingkar di pinggangnya.
Kuat. Hangat. Dan tidak memberi ruang.
DEG.
Ia menoleh sedikit. Saga. Masih tidur di belakangnya. Wajahnya tenang. Berbeda jauh dari saat terjaga.
Namun pelukannya tidak longgar. Seolah bahkan dalam tidur ia tetap menjaga. Atau… menahan. Liora diam. Tidak bergerak.
Takut membangunkan. Namun juga tidak tahu harus bagaimana.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya ia mencoba pelan-pelan melepas. Menggeser tangan Saga sedikit.
Hati-hati. Sangat hati-hati.
Namun belum sempat berhasil tangan itu justru mengerat.
DEG!
Tubuh Liora langsung kaku. Saga membuka mata. Tatapannya langsung jatuh ke wajah Liora.
Tajam.
Sadar sepenuhnya. “Kamu mau ke mana.” Suaranya serak. Namun tetap dingin.
Liora menelan ludah. “Aku… cuma mau bangun…” jawabnya pelan.
Saga menatapnya beberapa detik. Lama. Seolah mencari sesuatu.
Lalu perlahan tangannya melepas. Namun tidak sepenuhnya. Masih menyentuh. Masih dekat.
“Jangan jauh.” Ucapnya.
Seperti biasa. Perintah.
Liora hanya mengangguk kecil. Lalu bangkit dari tempat tidur. Langkahnya pelan. Menuju kamar mandi.
Namun bahkan saat pintu tertutup ia masih bisa merasakan tatapan itu.
Beberapa saat kemudian ia keluar. Saga sudah duduk di sofa. Menatap ke arahnya. Seperti menunggu. Selalu menunggu.
“Aku lapar…” ucap Liora pelan. Hampir ragu.
Saga berdiri. Tanpa banyak kata. Ia berjalan mendekat. Lalu mengangkat Liora begitu saja.
DEG!
“Sa—Saga!”
Liora kaget. Namun tidak sempat menolak.
“Kalau lapar—” ucap Saga dingin,
“bilang.” Ia membawa Liora keluar kamar. Menuruni tangga. Langsung ke ruang makan.
Para pelayan yang melihat langsung bersiap.
Cepat. Tanpa suara. Seperti biasa Saga duduk. Dan tanpa aba-aba Liora kembali ditarik ke pangkuannya.
Tidak ada pilihan. Tidak ada protes. Liora hanya diam. Mulai terbiasa. Atau… terpaksa terbiasa. Namun kali ini ada yang berbeda.
Saat Liora mulai makan tangannya sedikit berhenti.
Ia menunduk. Lama. Saga menyadari.
“Kenapa.”
Liora ragu. Namun akhirnya bicara. “Kalau aku… selalu di sini…”
suaranya pelan, “…aku gak akan pernah bisa hidup normal, kan?”
DEG.
Sendok di tangan Saga berhenti. Sunyi. Untuk beberapa detik.
“Normal?” ulang Saga. Nada suaranya datar. Namun tajam.
Liora mengangguk pelan. “Aku mau kuliah…”
“ketemu orang…”
“punya hidup aku sendiri…” Kalimatnya semakin pelan.
Hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. Saga menatapnya.
Lama. Dalam.
“Dunia kamu—” ucapnya pelan,
“sudah berubah.”
DEG.
Liora mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.
“Karena kamu.” Bisiknya.
Kalimat itu tidak keras. Tidak marah. Namun menyakitkan.
Saga diam. Tatapannya tidak berubah. Namun rahangnya mengeras.
“Dan aku gak bisa keluar dari itu…” lanjut Liora pelan.
“…kan?”
Sunyi.
Saga tidak langsung menjawab. Namun tangannya kembali mengerat di pinggang Liora.
“Itu bukan pilihan.” Jawabnya akhirnya.
Dingin. Pasti.
DEG.
Liora menunduk. Senyum kecil muncul. Namun hambar.
“…iya.” Ia kembali makan.
Pelan. Tanpa suara. Sementara Saga tetap di tempatnya.
Menatap. Mengawasi. Selalu Memastikan. Namun di dalam dirinya sesuatu bergerak.
Tipis. Hampir tidak terasa. Karena untuk pertama kalinya ia melihat jelas bahwa yang ia tahan perlahan mulai kehilangan dirinya sendiri.
Dan itu adalah harga dari obsesinya. Namun ia tetap tidak melepaskan.Tidak akan. Tidak pernah sebelum takdir yang memisahkannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.............................