NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 29

Udara di dalam mansion terasa lebih berat dari sebelumnya.

Suara langkah para penjaga mulai terdengar lebih sering.

Perintah baru sudah disebar.

Tidak ada celah. Tidak ada kelengahan.

Di tengah semua itu Saga berdiri. Dengan Liora di dalam gendongannya.

Tubuh gadis itu masih gemetar.

Matanya kosong. Air mata yang tadi jatuh kini mulai mengering.

Namun rasa takutnya tidak.

“Turunin aku…” bisiknya lemah.

Tidak lagi melawan keras. Namun tetap berusaha. Saga tidak menjawab. Langkahnya panjang.

Naik tangga.

Menuju lantai atas. Menuju kamarnya.

Sepanjang jalan para pelayan menunduk dalam.

Tidak ada yang berani melihat. Tidak ada yang berani bersuara.

Mereka tahu suasana sedang buruk.

Sangat buruk.

***

Ceklek.

Pintu kamar utama terbuka. Lebih besar. Lebih sunyi. Lebih… tertutup.

Saga masuk.

Lalu menutup pintu dengan keras.

Klik.

Terkunci.

DEG.

Liora langsung menegang. “Saga…”

Suaranya kembali bergetar. Namun belum sempat berkata lebih jauh ia sudah diturunkan.

Duduk di atas kasur besar itu. Namun sebelum ia bisa berdiri Saga sudah berdiri di depannya.

Menghalangi.

“Aku gak mau di sini…” Liora mundur sedikit.

Matanya mulai panik. Namun ruangnya terbatas.

Saga menatapnya.

Dalam.

Tidak berkedip. “Mulai sekarang—”

ucapnya pelan,

“kamu di sini.”

DEG.

Liora menggeleng. “Jangan… aku gak mau dikurung…”

Suaranya pecah. Air matanya kembali jatuh.

Namun Saga tidak berubah.

“Lebih aman.” Jawabnya singkat.

“Aman buat siapa?!”

Liora akhirnya meninggi. Emosinya pecah lagi.

“Buat kamu?!”

“Buat aku?!”

“Aku malah makin—”

Ia berhenti. Napasnya terengah.

“…makin sesak…”

Kalimat itu lirih , Namun terdengar jelas.

Hening.

Untuk beberapa detik. Namun Saga tetap tidak mundur.

“Lebih baik kamu sesak di sini—”

lanjutnya dingin,

“daripada hilang dariku.”

Memang benar yang dikatakan saga , Karna bisa saja musuhnya di luar sana sudah mulai mengincar liora. Dan ia tak mau kehilangan miliknya.

DEG.

Kalimat itu langsung mematahkan sesuatu. Di dalam diri Liora. Ia terdiam. Matanya menatap Saga.

Tidak percaya.

“Jadi… aku cuma itu buat kamu?”

bisiknya pelan.

“…sesuatu yang gak boleh hilang?”

Saga tidak menjawab.

Namun tatapannya cukup. Untuk menjawab semuanya.

Liora menunduk. Bahunya sedikit bergetar.

Namun kali ini ia tidak berteriak. Tidak melawan. Ia hanya… diam. Dan itu justru terasa lebih menyakitkan.

Saga berbalik. Berjalan ke pintu.

Membukanya sedikit.

“Tambahkan penjaga di lantai ini.” Perintahnya.

“Tidak ada yang masuk.”

“Dan—tidak ada yang keluar.”

“Baik, Tuan.”

Pintu kembali tertutup kembali. Dan saga berjalan santai menuju sofa.

Terkunci.

Liora langsung menoleh. Menatap pintu itu. Seolah berharap bisa terbuka lagi.

Namun , tidak.

Ia berdiri. Berjalan cepat. Mencoba membuka.

Terkunci.

Tangannya mengepal. “Saga… jangan kayak gini…” ucapnya pelan.

Hampir seperti memohon. Namun tidak ada jawaban.

***

Di belakangnya Saga duduk santai , Tapi mengawasi. Masih di dalam kamar.

Belum pergi.

Ia memperhatikan. Setiap reaksi Liora. Setiap usaha kecilnya.

Namun ia tidak menghentikan. Tidak juga membantu.

Hanya… melihat.

" Kemarilah!" Akhirnya saga buka suara.

Liora masih diam depan pintu.

Beberapa menit tidak ada gerakan dari liora , Akhirnya ia berjalan mendekat kearah liora.

" Menangislah sepuasmu , tapi tangisanmu tidak akan merubah apapun!"

Saga semakin mendekat , Dan menarik pinggang liora sampai hampir tidak ada jarak diantara mereka.

" Cukup patuh dan tetap disini!"

Cup.

Sebuah ciuman singkat saga berikan pada bibir liora. Yang setelahnya berjalan keluar dan kembali mengunci pintu kamar.

***

Dok! Dok! Dok!

Ia memukul- mukul pintu kamar.

" FUCK YOU SAGA!!!! I HATE YOU!!!"

" SAGA!! BUKA...!!!" Teriak liora , Namun tidak ada jawaban sama sekali dari luar.

Perlahan Liora menyerah. Terlalu lelah berteriak.

Tangannya jatuh. Ia mundur. Duduk di lantai. Bersandar pada tempat tidur.

Matanya kosong.

“Ini bukan aman…” bisiknya pelan.

“…ini penjara.”

DEG.

Saga yang masih berada di luar pintu mendengar dan tatapannya langsung menajam Namun tidak membantah. Karena ia tahu. Itu memang benar.

Namun baginya selama Liora tetap di sana di dalam jangkauannya itu sudah cukup.

Meski harus mengurung. Meski harus memaksa. Meski harus mengorbankan semuanya.

***

Dan di kamar itu. Liora akhirnya menyadari bahwa kali ini ia benar-benar tidak punya jalan keluar.

Sementara di luar penjagaan diperketat.

Langkah kaki berjaga tanpa henti.

Dan satu hal menjadi jelas Saga tidak akan membiarkannya pergi.

Dengan cara apa pun.

***

Hari-hari di mansion berubah.

Bukan lagi sekadar dingin tapi menekan. Setiap langkah Liora… seperti diawasi.

Paginya.

Liora duduk di tepi tempat tidur. Belum benar-benar bangun.

Namun pintu sudah terbuka. Dua pelayan masuk.

Menunduk.

“Mandi, Nona.”

Suara mereka pelan. Namun terasa seperti perintah.

Liora menatap kosong. Ia tahu ini bukan pilihan.

***

Di kamar mandi ia berdiri di bawah shower , air yang mengalir.

Namun bahkan di sana ia tidak sendiri.

Pelayan menunggu di luar.

Penjaga di koridor.

Dan entah kenapa ia merasa Saga… tetap melihat.

Selalu.

***

Siang.

Di ruang makan.

Liora duduk. Namun belum sempat menyentuh makanan kursi di sebelahnya bergeser.

Saga.

Datang.

Tanpa suara. Tanpa sapaan. seperti biasa. dingin.

Tatapannya langsung ke arah Liora.

Dalam dan Menekan.

“Habiskan.” Perintah singkat.

Liora menggenggam sendok. Namun tangannya sedikit gemetar.

Ia mulai makan.

Perlahan. Setiap suapan terasa berat.

Karena tatapan itu tidak pernah lepas.

***

Sorenya Liora lagi berjalan di koridor. Namun langkahnya selalu diikuti.

Dua orang di belakang. Jarak beberapa meter.

Tidak bicara.

Tidak mendekat.

Namun jelas mengawasi. Ia berhenti. Mereka berhenti.

Ia berjalan.

Mereka ikut.

DEG.

Dadanya terasa sesak.

***

Malamnya diKamar.

Saga sudah ada di sana.

Duduk di kursi. Menatapnya saat Liora masuk.

Seperti menunggu.

Selalu menunggu. Liora berhenti di depan pintu.

Tidak bergerak. Tidak tahu harus ke mana.

“Ke sini.” Suara Saga rendah.

Liora menelan ludah. Namun berjalan mendekat.

Pelan.

Hati-hati.

Begitu dekat tangan itu langsung menarik.

Liora terduduk di pangkuannya.

Refleks.

ia menegang. Namun tidak berontak.

Tidak lagi. Bukan karena menurut.

Tapi karena lelah. setiap berontak tak dihiraukan, Selalu kalah.

“Kenapa diam saja.”

Tanya Saga. Tatapannya meneliti wajah Liora.

Liora tidak menjawab. Matanya kosong. Menatap ke arah lain.

“Lihat aku.”

Perintahnya.

Pelan. Namun tidak bisa ditolak.

Perlahan Liora menoleh. Tatapan mereka bertemu. Namun tidak seperti dulu. Tidak ada perlawanan

Tidak ada kemarahan.

Hanya… kosong.

DEG.

Untuk pertama kalinya Saga melihat itu.

Dan itu lebih mengganggu dari teriakan.

“Kamu mulai berubah?.” Ucapnya.

Liora tersenyum tipis. Namun hambar. “Harusnya kamu senang.”

Bisiknya pelan.

“Aku jadi nurut, kan?”

DEG.

Kalimat itu menusuk. Namun Saga tidak menjawab.

Tangannya naik. Menyentuh pipi Liora. Namun tidak ada reaksi. Tidak ada penolakan.

Tidak juga balasan. Hanya diam.

“Ya. aku sangat menyukainya”

Suara Saga lebih rendah. Hampir seperti… tidak suka.

Namun Liora hanya menunduk. “Ini yang kamu mau…”

bisiknya.

“…aku gak ke mana-mana.”

Sunyi.

Malam semakin larut. Saga tetap di sana. Dengan Liora di dalam pelukannya.

Namun kali ini tidak terasa sama. Tidak ada perlawanan.

Tidak ada emosi.

Hanya tubuh yang diam. Yang tidak lagi mencoba lari.

Dan justru itu membuat sesuatu dalam diri Saga terasa… aneh.

Ia mendapatkan yang ia inginkan Liora tetap di sisinya.

Tidak kabur.

Tidak melawan.

Namun tidak juga hidup seperti sebelumnya. jauh berbeda.

***

Di luar. penjagaan semakin ketat. Langkah kaki tak pernah berhenti.

Setiap sudut diawasi. Setiap celah ditutup.

***

Dan di dalam kamar itu Liora perlahan tenggelam.

Bukan karena rantai. Bukan karena kunci. Tapi karena tekanan yang tidak memberi ruang.

Sementara Saga tanpa sadar sudah melangkah terlalu jauh.

Dalam obsesinya.

Yang kini tidak hanya mengikat Liora.

Tapi juga mulai mengubah dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung.............................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!