Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Setelah beberapa jam melintasi cakrawala, pengumuman dari kokpit membuyarkan lamunan indah mereka.
Pemandangan biru laut Bali yang jernih mulai terlihat dari balik jendela kabin.
Getaran halus terasa saat roda pesawat menyentuh landasan, menandakan bahwa pesawat mulai mendarat di Bandara Ngurah Rai dengan sempurna.
Hembusan udara tropis yang hangat menyambut mereka saat melangkah keluar dari garbarata.
Aroma khas Pulau Dewata seolah menjadi obat penenang alami bagi Sulfi.
Meskipun langkahnya masih sedikit perlahan, binar kebahagiaan di matanya tidak bisa disembunyikan.
Di area pintu keluar, seorang pengemudi sudah berdiri tegap sambil memegang papan nama bertuliskan nama mereka.
Melihat jemputan sudah siap, Zaidan menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya naik ke mobil yang sudah menjemputnya.
Ia membukakan pintu mobil dengan sangat protektif, memastikan Sulfi duduk dengan posisi paling rileks di kursi penumpang yang empuk.
"Selamat datang di Bali, Sayang," bisik Zaidan saat mobil mulai melaju meninggalkan area bandara menuju penginapan mereka di kawasan Uluwatu.
Sulfi menyandarkan kepalanya di bahu Zaidan, menikmati pemandangan deretan pohon kamboja dan pura-pura kecil di sepanjang jalan.
"Terima kasih, Mas. Rasanya seperti mimpi bisa berada di sini setelah semua yang terjadi."
Zaidan mengecup pelipis istrinya dengan lembut. "Ini bukan mimpi. Ini adalah awal baru untuk kita. Hanya ada aku, kamu, dan ketenangan yang layak kita dapatkan."
Mobil terus melaju membelah jalanan Bali yang eksotis, membawa sepasang pejuang cinta itu menuju tempat persembunyian mereka yang indah, jauh dari bayang-bayang masa lalu dan hiruk-pikuk ruang sidang.
Di sinilah, di bawah langit Bali yang cerah, janji untuk memulai hidup baru benar-benar dimulai.
Sesampainya di villa yang terletak di tebing tinggi kawasan Uluwatu, Sulfi tak mampu menahan rasa kagumnya.
Pintu kayu besar bergaya tradisional Bali itu terbuka, menyuguhkan pemandangan kolam renang pribadi yang seolah menyatu dengan garis cakrawala Samudra Hindia.
Zaidan dengan sigap membantu Sulfi turun dari mobil.
Ia merangkul pinggang istrinya dengan protektif, menuntunnya masuk ke dalam bangunan yang didominasi oleh unsur kayu dan kaca tersebut.
Aroma terapi bunga kamboja dan suara deburan ombak dari kejauhan langsung menyapa indra mereka, memberikan ketenangan yang selama ini hanya ada dalam doa.
"Mas, ini indah sekali," bisik Sulfi sambil menatap hamparan laut biru yang memantulkan cahaya keemasan matahari sore.
"Hanya yang terbaik untuk bidadariku," jawab Zaidan lembut. Ia membawa Sulfi menuju kursi malas di tepi kolam, membiarkan istrinya menghirup udara laut yang segar
Zaidan kemudian membawakan koper mereka ke dalam kamar utama yang menghadap langsung ke arah laut.
Setelah menata barang-barang, ia kembali ke sisi Sulfi dengan membawa dua gelas kelapa muda dingin.
Ia duduk di lantai di samping kursi Sulfi, meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Di sini, tidak akan ada berkas kasus, tidak ada suara sirine, dan tidak ada orang yang akan mengganggu kita," ucap Zaidan sambil menatap mata Sulfi dengan penuh cinta.
"Hanya ada suara alam dan kita berdua."
Sulfi mengusap lembut rambut suaminya, merasakan angin sepoi-sepoi memainkan ujung jilbabnya.
Di villa ini, beban berat yang selama ini menghimpit pundak mereka seolah luruh satu per satu.
Masa-masa sulit di ruang sidang dan dinginnya ruang ICU kini terasa sangat jauh, tergantikan oleh janji kebahagiaan yang mulai mekar di bawah langit Bali.
Matahari Bali tepat berada di puncaknya, memancarkan cahaya yang memantul indah di atas permukaan air kolam renang pribadi mereka.
Namun, perhatian Zaidan sepenuhnya tersita oleh wanita yang berdiri di hadapannya.
Di dalam ketenangan villa yang tertutup rapat dari dunia luar, suasana terasa begitu intim dan penuh desakan rindu yang telah lama tertahan.
Zaidan mencium bibir istrinya dengan sangat dalam, sebuah ciuman yang tidak lagi membawa rasa cemas atau takut, melainkan luapan cinta dan rasa syukur yang tak terhingga.
Sulfi membalasnya dengan lembut, melingkarkan tangannya di leher sang suami, seolah ingin memastikan bahwa pria ini benar-benar ada di sana, nyata dan miliknya.
Tanpa melepaskan tautan kasih itu, Zaidan dengan gerakan yang sangat berhati-hati namun pasti, langsung membawanya ke tempat tidur king size yang berhiaskan kelambu putih tipis.
Ia merebahkan tubuh bidadarinya di atas sprei sutra yang sejuk, menatap lekat mata Sulfi yang dipenuhi binar kasih.
Dengan napas yang sedikit memburu namun tetap menjaga kelembutan, Zaidan melepaskan pakaiannya dan pakaian yang dikenakan oleh istrinya.
Setiap gerakan dilakukan dengan penuh penghormatan, seolah ia sedang membuka sebuah hadiah yang paling berharga dalam hidupnya.
Ia sangat berhati-hati saat jemarinya melewati bekas luka operasi di dada Sulfi—sebuah tanda perjuangan yang justru membuat kekagumannya pada sang istri semakin dalam.
"Kamu adalah keajaiban dalam hidupku, Sulfi," bisik Zaidan parau di sela-sela sentuhannya.
Di bawah naungan atap villa yang tenang dan diiringi suara deburan ombak dari kejauhan, mereka akhirnya menyatu dalam ikatan yang paling sakral.
Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi penghalang. Hanya ada dua jiwa yang saling memiliki, merayakan kehidupan baru mereka yang telah berhasil melewati badai maut demi mencapai dermaga kebahagiaan ini.
Keheningan menyelimuti kamar villa yang sejuk itu setelah badai rindu yang meluap-luap tadi mereda.
Setelah satu jam selesai, mereka kelelahan dan tertidur pulas dalam dekapan satu sama lain.
Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden tipis menyentuh kulit mereka yang tertutup selimut putih, menciptakan pemandangan yang begitu damai—seolah dunia luar yang penuh konflik tak pernah ada.
Waktu terus bergulir tanpa mereka sadari. Sampai pukul setengah lima, Zaidan bangun lebih dulu.
Ia menatap wajah istrinya yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya, gurat-gurat kelelahan yang selama ini menghiasi wajah Sulfi kini telah digantikan oleh rona bahagia.
Zaidan mengecup pelan pipi istrinya, membuat Sulfi perlahan membuka mata dan tersenyum manis.
Zaidan mengulurkan tangannya, membantu Sulfi untuk duduk.
Dengan nada suara yang rendah namun penuh perhatian, ia mengajak istrinya mandi bersama untuk menyegarkan tubuh mereka setelah istirahat yang panjang.
Di bawah kucuran air hangat shower yang luas, mereka saling membersihkan dan berbagi tawa kecil, menikmati kedekatan yang kini tak lagi terhalang oleh apa pun.
"Ayo cepat bersiap, Sayang," bisik Zaidan sambil melingkarkan handuk ke tubuh istrinya yang masih basah.
"Mau ke mana, Mas? Kita baru saja bangun," tanya Sulfi sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
Zaidan memeluknya dari belakang, menatap pantulan wajah bidadarinya di cermin dengan bangga.
"Aku akan mengajakmu melihat matahari terbenam di pinggir tebing. Aku ingin kita melihat transisi hari pertama kita di sini, dari terang menuju malam yang akan selalu aku jaga untukmu."
Sulfi mengangguk penuh semangat. Baginya, setiap ajakan Zaidan adalah petualangan baru yang selalu ingin ia jalani.
Dengan langkah yang jauh lebih ringan dan hati yang penuh bunga, mereka bersiap untuk menyambut senja pertama di Pulau Dewata sebagai pasangan yang telah memenangkan pertarungan melawan takdir yang kejam.