NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Hukum Gravitasi yang Beda Jauh

Sukma menggeser bahu kirinya sedikit demi sedikit. Dia sengaja menutupi total celah pandangan Joko yang sedari tadi terus mencuri-curi pandang, mengincar pintu kamar tidur di belakang punggungnya.

Mata Sukma menyapu tajam penampilan adik iparnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kaus oblong abu-abu yang dipakai Joko memang basah kuyup oleh keringat.

Tapi di bagian luar, Joko merangkapinya dengan kemeja safari cokelat yang disetrika kelewat kaku. Lengan kemeja itu bahkan menyisakan garis lipatan tajam.

Tangan kirinya menggenggam erat sebuah topi pet hitam, meremasnya dengan gerak-gerik gelisah.

Logika Sukma langsung berputar cepat. Mesin di dalam kepalanya mengurai kejanggalan demi kejanggalan.

Siapa orang waras yang ibunya sedang muntah darah sekarat di lantai, tapi masih sempat-sempatnya berganti baju memakai seragam safari rapi begini?

Postur berdirinya juga aneh. Ndak ada bahu merunduk canggung layaknya orang susah yang butuh pinjaman mendesak. Ndak juga tegak menantang.

Persis postur bajingan amatir di panggung ketoprak yang sudah menghafal naskah drama sebelum mengetuk pintu.

"Ibu harus dirawat inap ke puskesmas sekarang, Mbak," ulang Joko. Suaranya sengaja diatur serak dan bergetar, mencoba meyakinkan lawan bicaranya.

"Muntah darahnya ndak mau berhenti. Mas Prapto sama Mas Dodo lagi ndak pegang duit belasan ribu buat DP ruangan malam ini. Mbak Sukma kan mesti masih nyimpan sisa uang wesel. Mas Trisno pasti sedih toh lek ibunya mati gara-gara ndak ada biaya..."

Sukma mendengus pelan. Dia menyilangkan kedua lengan di depan dada, lalu bersandar santai di kusen pintu kayu. Bujukan bawa-bawa nama suaminya itu sama sekali ndak mempan.

"Berapa?" tembak Sukma langsung.

"Tiga puluh ribu, Mbak. Buat nebus resep obat sekalian," jawab Joko cepat. Terlalu cepat untuk orang yang sedang panik.

Tanpa banyak bicara, Sukma berbalik membelakangi angin malam yang berembus masuk. Langkah kakinya terdengar mantap menuju kamar.

Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa tiga lembar uang puluhan ribu bergambar Jenderal Soedirman. Tapi dia ndak cuma membawa uang. Di tangan kirinya, ada selembar kertas folio bergaris dan sebuah pulpen tinta hitam.

"Tulis." Sukma menyodorkan kertas dan pulpen itu. Ujung pulpennya sengaja dia arahkan tepat menabrak dada Joko.

"Saya, Joko, meminjam uang tiga puluh ribu rupiah kepada Sukma untuk biaya puskesmas Ibu Lasmi. Tanggal hari ini. Tanda tangan di bawah yang jelas."

Joko berkedip lambat. Sandiwaranya mendadak macet. Matanya melirik tumpukan uang di tangan kiri Sukma, lalu beralih ke kertas kosong yang menampar dadanya.

"Mbak, lha kok pakai nulis surat utang segala toh?" Nada suara Joko meninggi, lupa pada akting paniknya sesaat.

"Kita ini kan keluarga. Sama mertua sendiri masak hitung-hitungan di atas kertas. Kayak lintah darat pasar saja."

"Keluarga ya keluarga. Duit ya duit. Ndak ada urusan," potong Sukma dingin. Matanya menatap tajam, menelanjangi kepura-puraan adik iparnya.

"Tulis. Lek ndak mau, Ndak usah jadi bawa pulang duit iki. Biar Ibu mati kehabisan darah sekalian. Pamali."

Bibir Joko berkedut menahan kesal. Tangannya yang sedikit gemetar karena menahan marah akhirnya menyambar pulpen tersebut.

Dia menempelkan kertas itu ke dinding papan rumah, menulis cakar ayam dengan buru-buru menahan maki, lalu membubuhkan tanda tangan besarnya.

Sukma menarik kertas itu kembali. Membacanya sekilas dari atas ke bawah untuk memastikan ejaannya benar dan nominalnya ndak dikurangi, lalu menyerahkan uangnya.

"Semoga Ibu cepet sembuh ya. Jangan sampai muntah darah beneran."

Joko menyambar uang kertas Soedirman itu dengan kasar tanpa repot-repot mengucap terima kasih. Dia langsung berbalik membelakangi pekarangan, melangkah lebar menembus gelapnya gang dengan napas memburu.

Di ambang pintu, Sukma melipat surat pernyataan itu hati-hati. Dia menyelipkannya ke dalam saku daster batiknya. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Dia merasa aman.

Di otaknya yang selalu kalkulatif dan terbiasa dengan hukum modern, kertas ini adalah senjata mematikan.

Ini bukti otentik hitam di atas putih yang bisa dia gunakan untuk menampar bolak-balik mulut Lasmi dan Jamilah kalau mereka berani menuduhnya sebagai menantu pelit pengabdi harta.

Sayangnya, Sukma salah besar. Logika modern di kepalanya dan realitas sistem Orde Baru di desa terpencil ini punya hukum gravitasi yang beda jauh.

Di tikungan jalan tanah dekat pos ronda yang gelap, Joko menghentikan langkahnya. Dia menjejalkan uang tiga puluh ribu itu ke saku celana safarinya sambil tertawa sinis. Ludahnya mendarat sembarangan di rerumputan.

Surat pernyataan pakai tanda tangan? Kakak iparnya itu memang kelewat bodoh tapi mau sok pintar.

Jaman ini, selembar kertas tanpa stempel pejabat atau bekingan aparat berseragam cuma cocok buat bungkus kacang rebus. Ndak bakalan bisa jadi kekuatan hukum.

Kertas yang baru saja dia tanda tangani tadi ndak punya harga sama sekali.

Tiga puluh ribu ini cuma rezeki nomplok tambahan. Target aslinya jauh lebih besar dari itu.

Di dalam rumah, aroma tajam minyak tanah dari sumbu lampu teplok menguar memenuhi ruang tengah yang pengap.

Sigit duduk bersila anteng di balik tirai kain pembatas ruangan. Buku tulis lecek sisa tahun terbuka lebar di pangkuannya. Pensil kayunya yang sudah menyusut pendek menari pelan di atas permukaan kertas buram.

Bocah sembilan tahun itu baru saja menyaksikan seluruh transaksi kotor di pintu depan tanpa bersuara. Matanya yang kelewat dewasa menatap lekat deretan huruf buatannya sendiri.

Dia membuat tabel sederhana dengan dua garis lurus ke bawah.

Kolom pertama dia beri judul: Percaya. Di bawahnya hanya tertulis satu nama dengan tebal: Ibu. Ibu yang sekarang berani melawan. Ibu yang ndak lagi diam saat dipukul. Ibu yang mau membela dirinya, dan masakannya enak.

Kolom kedua dia beri judul: Ndak Percaya. Di situ berbaris rapi nama orang-orang yang menebar bahaya bagi keluarganya: Mbah Lasmi, Paklek Joko, Bulek Jamilah. Mbah Parno. Ujung grafit pensil Sigit kemudian berpindah ke bagian paling bawah kertas. Dia menggambar satu kolom tambahan. Sangat kecil dan terasing. Tangannya ragu sejenak di udara.

Hitam pekat matanya memancarkan pusaran kebingungan yang dipendam sangat rapat dari siapa pun. Ujung pensil itu akhirnya turun, menggoreskan sebuah tanda tanya besar tepat di sebelah satu nama.

Bapak? Bapaknya ada di luar jangkauan otak kecilnya. Terlalu banyak rahasia gelap di balik seragam hijaunya.

Terlalu banyak kebohongan yang mesti tersembunyi di balik foto usang Bapaknya bersama perempuan kaya yang Sigit temukan.

Sigit ndak tahu apakah bapaknya adalah perisai baja untuk mereka, atau justru pedang yang kelak akan menebas leher mereka semua.

Pagi harinya, kabut tebal masih menggantung. Sinar matahari belum sepenuhnya sanggup mengusir embun dingin di daun pisang saat derap langkah terseret-seret menerobos pekarangan rumah Sukma dengan brutal.

"Mbakyu! Mbakyu Sukma!"

Sukma yang sedang duduk di lincak bambu, memilah gabah dari beras, langsung mendongak kaget. Tambir anyaman di tangannya nyaris terjatuh.

Mak Karman berlari ngos-ngosan dari arah jalan utama desa. Napas perempuan tua yang biasanya tenang itu putus-putus parah.

Wajah keriputnya pucat pasi tanpa darah, seolah baru saja melihat rombongan penagih utang bawa celurit. Jarit batiknya sampai terangkat tinggi di atas mata kaki saking paniknya dia berlari.

"Opo'o, Mak? Kok lari-lari pagi buta begini?" tegur Sukma bingung.

Mak Karman menabrak ujung lincak. Dia mencengkeram bahu Sukma kencang-kencang. Kuku-kuku kasarnya yang kotor menembus kain daster Sukma tanpa ampun.

"Ada tamu dari kota nyariin kamu, Yu!"

Kening Sukma berkerut tajam. Firasat buruk langsung menggedor dadanya. "Tamu dari kota? Siapa? Aku ndak punya kenalan orang kota."

"Ndak tahu! Gae baju apik kantoran! Perempuan!" Mak Karman menelan ludah susah payah. Tenggorokannya kering. Dia menunjuk ke arah jalan raya desa dengan tangan keriput yang gemetar hebat.

"Mereka bawa mobil sedan hitam mengkilap plat nomor luar kota! Tapi masalah'e Dudu kuwi, Yu!"

Sukma menahan napas. Dia merasakan hawa dingin tiba-tiba merayap naik dari tengkuknya.

Insting bertahannya langsung membunyikan sirine alarm paling keras di dalam kepala.

"Lah opo terus masalahnya?!" desak Sukma.

"Mobilnya ada dua!" Mak Karman menarik napas panjang, matanya melotot memancarkan ketakutan luar biasa.

"Sing sito parkir Nang ngarepan gardu balai desa ngenteni... sing sito neh, menggok, berhentinya persis di depan teras rumah mertuamu Si Lasmi! Mereka lagi nang omah mertuamu saiki!"

1
SENJA
heeeee ada bakat marketing unggul nih 🤣
SENJA
bener juga ngomonganmu git 🤭
Ai_Li
Saya mampir kak
INeeTha: Makasih Kaka, semoga suka dan baca sampai tamat🙏
total 1 replies
SENJA
kabur kan bisanya 🤣
SENJA
naaah iya
SENJA
waaah sutrisno tau 🤭
SENJA
ayoklah dilawan! 💪
SENJA
dua perempuan bau tanah yang jahat 🤬
SENJA
ini jahat banget udah tua juga🤬
SENJA
maruk semua weeeh 🤬
SENJA
wakakaa hayo sono apa lagi lakonmu? 🤭🤣
SENJA
apa ada kelainan ingatan ipul? masa udah lupa lagi kan baru ketemu 🤭
SENJA
astaga keluarga apaan ini 🤬
SENJA
bagussssss 💪
SENJA
hajar aja si parno ini ancen gateli tenan tuek iki 🤬
SENJA
hmmm ada rahasia toh 🤭🤬
SENJA
wakaaka beda konteks itu maj nyupang 🤣
SENJA
lu jangan mau disuruh suruh urus aja nak anak sama wati
SENJA
wah mana pendidik kabur lho 🤬🤣
SENJA
laaaah sok mendidik padahal kurang terdidik 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!