Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suasana di rumah sakit mulai mereda saat matahari terbenam.
Setelah memastikan kondisi Sulfi dan Zaidan benar-benar stabil, Kompol Hendrawan dan Yuana berpamitan untuk meninggalkan rumah sakit.
Kelelahan tampak jelas di wajah Yuana setelah seharian menghadapi drama di persidangan dan insiden penembakan yang mencekam.
Melihat asisten sekaligus sahabat Sulfi itu tampak lelah, Kompol mengantarkan Yuana pulang menggunakan mobil dinasnya.
Di dalam kendaraan, keheningan sempat menyelimuti mereka, hanya terdengar suara mesin yang halus dan hiruk-pikuk jalanan kota di malam hari.
"Terima kasih, Komandan. Sudah mau repot-repot mengantar saya sampai rumah," ucap Yuana tulus saat mobil perlahan memasuki area perumahannya.
Kompol Hendrawan tersenyum tipis sambil tetap fokus ke jalan.
Ia menyadari bahwa bukan hanya Zaidan dan Sulfi yang tertekan, tapi Yuana juga telah bekerja sangat keras sebagai garda depan hukum selama ini.
Sebelum sampai tepat di depan pagar rumah Yuana, Kompol Hendrawan memutar kemudi menuju sebuah area restoran yang tenang di pinggir jalan utama. Ia menghentikan mobilnya sejenak.
"Yuana, saya rasa kita berdua sama-sama belum makan malam dengan layak karena kejadian tadi," ujar pria berwibawa itu dengan nada yang lebih santai dari biasanya.
"Ada restoran kecil yang tenang di depan sana. Bagaimana kalau kita makan sebentar sebelum kamu benar-benar istirahat? Saya rasa kamu butuh asupan tenaga setelah semua ketegangan ini."
Yuana sempat tertegun sejenak. Ia melihat gurat kepedulian di wajah komandannya yang biasanya tegas dan kaku itu.
Sebuah senyum perlahan muncul di wajah Yuana, rasa lelahnya sedikit berkurang karena perhatian kecil tersebut.
"Tawaran yang sulit ditolak, Komandan. Baiklah, mari kita makan malam," jawab Yuana ramah.
Mobil pun kembali melaju perlahan menuju restoran tersebut.
Di bawah temaram lampu jalan, dua orang yang baru saja melewati badai hukum itu bersiap untuk sejenak melepas beban pekerjaan, menikmati ketenangan malam sebelum besok kembali berjuang demi keadilan yang belum sepenuhnya tuntas.
Di bawah temaram lampu restoran yang hangat, suasana formal antara atasan dan bawahan itu perlahan mencair.
Kompol yang lama menduda itu tampak beberapa kali memperbaiki posisi duduknya, sebuah gestur yang jarang terlihat dari pria setegas dia.
Ketangguhannya di lapangan seolah menguap, digantikan oleh keraguan seorang pria yang sudah bertahun-tahun menutup pintu hatinya.
Ia menatap Yuana yang sedang menyesap teh hangatnya.
Keberanian Yuana di ruang sidang dan kesetiaannya mendampingi Sulfi telah menyentuh sisi lain dalam diri sang Kompol.
"Yuana," panggilnya dengan suara yang lebih rendah dan lembut.
"Selama ini saya hidup hanya untuk tugas dan pengabdian. Setelah istri saya berpulang bertahun-tahun lalu, saya pikir ruang di hati saya sudah terkunci rapat."
Yuana meletakkan cangkirnya, merasakan perubahan atmosfer yang tiba-tiba menjadi sangat personal.
Ia menatap mata komandannya, menunggu kelanjutan kalimat yang tampak berat untuk diucapkan itu.
Pria berwibawa itu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya.
Ia pun mencoba menembak perasaan kepada Yuana.
"Tapi melihat dedikasimu, kebaikanmu, dan bagaimana kamu berdiri tegak di tengah badai kemarin, kamu perlahan membuka kunci itu," lanjutnya tanpa ragu lagi.
"Saya tahu perbedaan posisi dan usia kita mungkin menjadi pertimbangan, tapi saya ingin bertanya, apakah ada ruang bagi saya untuk tidak sekadar menjadi rekan kerjamu? Saya ingin menjagamu, bukan sebagai komandan, tapi sebagai pria yang mengagumimu."
Yuana tertegun. Jantungnya berdegup kencang, tidak menyangka bahwa makan malam ini akan menjadi momen yang mengubah segalanya.
Di antara harum aroma makanan dan alunan musik instrumen yang tenang, sebuah pengakuan jujur telah melayang di udara, menunggu jawaban dari hati yang juga selama ini sibuk dengan tumpukan berkas hukum.
Suasana di restoran yang tenang itu seakan membeku sesaat.
Kompol Hendrawan menatap Yuana dengan kesungguhan yang mendalam, tidak ada keraguan di matanya.
Ia tidak ingin lagi membuang waktu setelah melihat betapa singkatnya hidup melalui kejadian yang menimpa Zaidan dan Sulfi.
"Maukah kamu menikah denganku, Yuana?" tanyanya dengan nada yang sangat tulus, melompati segala basa-basi masa penjajakan karena ia tahu Yuana adalah wanita yang tepat untuk mendampingi sisa hidupnya.
Yuana terperangah. Ia tidak menyangka ajakan makan malam ini akan berujung pada sebuah lamaran yang begitu sakral.
Wajahnya yang biasanya tegas saat beradu argumen di ruang sidang, kini memerah sempurna hingga ke telinga.
Ia menunduk sejenak, mencoba menata detak jantungnya yang berpacu hebat.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya dan menatap pria yang selama ini ia hormati sebagai atasan, namun kini ia lihat sebagai sosok pelindung bagi hatinya.
Dengan senyum yang sangat manis, Yuana malu-malu menganggukkan kepalanya.
"Iya, saya mau, Komandan. Maksud saya, Mas Hendra," jawab Yuana dengan suara kecil namun penuh keyakinan.
Kompol Hendrawan mengembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban berat di pundaknya baru saja terangkat.
Ia meraih tangan Yuana di atas meja dan menggenggamnya erat.
Malam itu, di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai sepi, dua orang pejuang keadilan ini menemukan pelabuhan terakhir mereka.
Badai di pengadilan mungkin melelahkan, namun cinta yang tumbuh di baliknya menjadi hadiah yang paling indah bagi keduanya.
Malam semakin larut di rumah sakit, namun suasana di dalam ruang perawatan privat itu terasa sangat hangat.
Cahaya lampu yang temaram menciptakan ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk persidangan yang melelahkan.
Sulfi yang bosan hanya bisa menyandarkan punggungnya di bantal yang ditumpuk tinggi.
Ia sudah jenuh menatap layar televisi dan langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.
Luka di dadanya sudah mulai membaik, meski sesekali masih terasa sedikit nyeri jika ia bergerak terlalu tiba-tiba.
Melihat gurat kebosanan di wajah bidadarinya, Zaidan tidak tinggal diam.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menyenggol selang infus, Zaidan naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya dari samping.
Ia membiarkan Sulfi bersandar di dada bidangnya, memberikan rasa nyaman dan aman yang selama ini dirindukan wanita itu.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita pulang," bisik Zaidan sambil mengusap lembut rambut Sulfi.
Sulfi mendongak, menatap suaminya dengan mata yang berbinar jenaka.
Rasa bosannya kini berganti dengan keinginan yang tiba-tiba muncul.
"Aku lapar, mau martabak," ucap Sulfi dengan nada manja yang membuat pertahanan Zaidan runtuh seketika.
Zaidan terkekeh pelan, mencium puncak kepala istrinya.
"Martabak malam-malam begini? Kamu benar-benar sudah sehat ya, kalau sudah mulai minta yang aneh-aneh."
"Tiba-tiba saja terbayang martabak cokelat keju yang lumer itu, Mas," lanjut Sulfi sambil mengerucutkan bibirnya.
Tanpa banyak bicara, Zaidan bangkit dari tempat tidur dan membelikan martabak cokelat keju untuk sang bidadari.
Ia segera mengambil jaket dan kunci mobilnya, lalu bergegas mencari kedai martabak paling enak di dekat rumah sakit.
Bagi Zaidan, tidak ada tugas yang lebih mulia saat ini selain memenuhi keinginan kecil istrinya.
Ia ingin memastikan bahwa setiap detik pemulihan Sulfi dipenuhi dengan kebahagiaan, sebagai pengganti setiap tetes darah yang pernah tumpah demi membelanya di ruang sidang.