NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Setelah bertemu anak itu entah kenapa perasaan Adinda justru semakin hangat, bayangan anak itu, cara dia memanggil Mama, juga perlakuan manisnya, benar-benar membuat Adinda sedikit melupakan masalah yang tengah terjadi di hidupnya.

Perjalanan menuju kantor terasa lebih cepat dari biasanya. Lampu lalu lintas, suara kendaraan, bahkan hiruk-pikuk kota, seolah menjadi penyemangatnya tanpa sadar lekungan senyum itu terukir dari bibirnya.

"Alesia ... itu nama anak yang membuat kepercayaan diriku bangkit," ungkapnya sendiri.

Tangannya menggenggam setir lebih erat.

“Apa yang sebenarnya terjadi…” gumamnya pelan. "Kenapa aku merasa panggilan itu bukan hanya sekedar kebetulan."

Adinda terus mengemudi, meskipun berbagai macam pertanyaan mulai meliputi hatinya.

🍀🍀🍀🍀🍀

Sore mulai berganti malam saat mobil Adinda akhirnya memasuki halaman rumah, rasa lelah begitu terbayarkan saat ia kembali menginjakkan kaki di dalam rumahnya.

Namun kali ini, ada yang berbeda, saat pertama kali kakinya memasuki rumahnya. Pintu terbuka lebar, Adinda sedikit mengerutkan keningnya saat tahu, beberapa barang terlihat berserakan di ruang tamu.

Dada Adinda langsung memburu langkahnya cepat seolah ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan benar saja saat ia menghampiri barang-barang itu satu persatu.

Deg.

Tubuhnya langsung membeku, di depan matanya sendiri, dua koper terjajar, dan itu semua merupakan miliknya yang tergeletak di lantai begitu saja.

Mulai dari pakaian, tas, hingga beberapa benda pribadi yang selama ini ia simpan rapi di kamar, Adinda mulai memeriksa barang tersebut, darahnya mendidih seakan amarahnya kali ini tidak bisa terkendalikan lagi.

Tidak hanya itu.

Pintu kamar utamanya terbuka lebar, dan di dalamnya, Luna sedang berdiri menggendong Axel, sementara Sintia dan Airin masih sibuk memindahkan sisa-sisa barang Adinda yang masih ada di dalam kamar, seolah kamar itu bukan lagi milik Adinda.

Adinda masih berdiri belum melakukan tindakan apapun, matanya menatap kamar itu dengan tatapan nanar, perlahan langkah kakinya mendekat dan berhenti diambang pintu.

  Tatapan yang awalnya nanar kini berubah menjadi dingin sangat dingin sekali.

“Apa yang kalian lakukan!" suaranya cukup menggelegar. "Kalian lancang sekali memindah barang-barang ku padahal aku masih ada di rumah ini, dan masih menjadi istri!"

  Mendengar suara tegas itu tiba-tiba saja aktifitas mereka langsung terhenti seketika. Airin menoleh lebih dulu. Wajahnya sedikit terkejut, tapi tidak ada rasa bersalah.

“Oh, Mbak sudah pulang,” ucapnya santai.

Adinda tidak menjawab. Tatapannya beralih ke Sintia. Lalu ke Luna.

“Kalian… sedang apa?” ulangnya.

Kali ini lebih tegas dari bentakan. Sintia menghela napas, seolah tidak ingin memperpanjang.

 “Dinda, ini demi kebaikan bersama. Anak kecil butuh tempat yang layak.” ucapnya pelan. “Jadi… kamar itu kami pakai dulu,” sambungnya tanpa rasa bersalah.

Deg.

Sesuatu di dalam diri Adinda, akhirnya retak perlahan, ini bukan tentang kamar, tapi ini tentang privasi seseorang yang diotak-atik begitu saja, layaknya sudah tidak mempunyai harga diri.

Ia melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Sepatunya bahkan masih belum ia lepas, matanya tidak lepas dari kamar itu, dari tempat yang selama ini ia jaga. Dan dari satu-satunya ruang yang masih ia pertahankan.

“Kalian masuk ke kamar saya… tanpa izin," ucapnya dengan suara dingin. "Lancang sekali kalian!"

  Shintia menatapnya nyalang seolah tidak terima dengan kata-kata 'lancang' yang diucap oleh Adinda.

  "Dinda, aku di sini masih orang tuamu masih mertuamu, rasanya tidak pantas kamu mengataiku dengan sebutan itu!" bentak Sintia.

  "Lalu kalau tidak lancang apa! Kalian bertindak semaunya sendiri seolah aku tidak bisa melawan, kalau memang anak itu butuh tempat yang luas, kenapa tidak kamar yang lain saja!" balas Adinda tidak kalah menyengat. "Bukankah masih ada dua kamar di sini? Dan kalian sengaja ingin menghancurkan aku sehancur-hancurnya! Itu kan yang kalian inginkan!" teriak Adinda.

Semua orang terdiam, namun beberapa detik kemudian Luna akhirnya bicara, suaranya dibuat selembut mungkin.

“Mbak, ini hanya sementara. Axel butuh kenyamanan…”

“Diam.” Satu kata. Langsung memotong.

Adinda langsung melangkah masuk, untuk kali ini ia tidak memberi ruang, karena benar, meskipun dirinya berusaha melawan akan tetapi manusia-manusia itu benar-benar tidak berhenti mengusik ketenangan dirinya di rumah ini.

“Dari kemarin aku diam. Dari kemarin aku mengalah. Dari kemarin aku masih mencoba waras di tengah kegilaan kalian,” ucapnya pelan.

Satu langkah ia maju.

“Tapi sekarang…”

Tatapannya berhenti tepat di Arya yang baru saja tiba setelah mendengar kegaduhan itu.

“Kalian masuk ke ruang terakhir yang aku punya… tanpa izin.”

Arya mencoba bicara. “Din, ini cuma kamar—”

“Cukup!” Bentakan itu menggema. "Rasanya dari kemarin yang kalian sebutkan kamar dan kamar, apa kamu pikir aku ini bodoh mudah diinjak begitu saja hah!" Untuk pertama kalinya Adinda benar-benar meledak.

“Jangan pernah ulangi kalimat itu lagi di depan aku!” suaranya bergetar, tapi penuh tekanan. "Dan mulai sekarang, aku minta padamu dan keluargamu, untuk segera angkat kaki dari rumah ini."

Deg!

Semua orang terperangah, apalagi raut wajah Sintia yang seolah tidak terima dan menganggap menantunya itu benar-benar keterlaluan.

"Keterlaluan sekali kamu, kamu pikir rumah ini dibeli dengan uangmu saja," tandas wanita paruh baya itu.

Adinda menanggapinya dengan santai tapi penuh ketegasan. "Uang dari anakmu? Tanya saja sendiri, sejak rumah ini dibeli anakmu hanya membayar beberapa kali saja, lalu selebihnya aku, dan rumah ini atas nama diriku, jadi jika kalian mau macam-macam silahkan angkat kaki dari rumah ini!" ancam Adinda.

Shintia menggelengkan kepalanya dengan cepat, rautnya sangat panik, dan tatapannya berbalik ke Arya seolah menuntut jawaban pada anaknya itu.

"Arya ini kenapa?"

Arya tidak bisa berkata-kata, mulutnya terlalu keluh, karena memang selama ini bisa dibilang ia yang menumpang hidup pada Adinda.

"Bu, dengarkan dulu penjelasanku," kata Arya.

"Ibu gak mau dengar alasanmu, selama ini kau kemanakan saja uangmu, bukannya dulu pas wanita itu hilang ingat..." Sintia langsung menutup mulutnya sendiri, saat kelepasan berbicara.

Ruangan mendadak hening. Adinda menatap tajam, napasnya tertahan. Kata-kata itu jelas ia dengar. Tak ada yang berani bicara.

Namun satu hal pasti, rahasia yang disembunyikan, perlahan mulai terbuka.

Bersambung ....

Selamat malam. Kasih komentarnya dong kak biar rame lapakku

1
Teh Euis Tea
thor adinda apa Anisa sih namanya?
Teh Euis Tea
mulai dah membandingkan mantu pertama dan ke dua, itu blm seberapa sebentar LG finansial kalian di bekukan oleh Dinda
Teh Euis Tea
Arya, km takut miskin ya klu menceraikan Dinda
Teh Euis Tea
baru baca bab awal udah tertarik, semoga tokoh Dinda bkn perempuan yg mudah di tindas hrs tegas
Sugiharti Rusli
dan bisa jadi fokus Adinda nanti hanya mencsri anak yang dia lahirkan dulu
Sugiharti Rusli
sepertinya proses perceraian yang akan Adinda ajukan tinggal menunggu waktu yah
Sugiharti Rusli
apalagi kamu dengan bangganya telah menikah lagi dan memiliki putra dari si Luna
Sugiharti Rusli
kamu sudah kehilangan respek dari istri kamu Arya semenjak kamu melontarkan tuduhan keji,,,
Sugiharti Rusli
apa maksud perkataannya dengan bilang yang mereka incar bukan dokumen saja, apa mereka tahu tentang keberadaan anak Adinda kah,,,
Sugiharti Rusli
waduh pak Arbani masih main teka-teki nih di saat dia sedang lemah saat ini,,,
Nar Sih
kak ayu ,sbr nya di mana bayi nya dinda dulu trus siapa yg nyulik
Dew666
👑👑
Dew666
👑👑👑
Nar Sih
semoga semua sgra berahir dan dinda sgra tau di mna ank nya
Sugiharti Rusli
memang dia memiliki kartu As apa sampai bilang begitu, apa dia tahu tentang keberadaan anak kandung si Dinda,,,
Sugiharti Rusli
percaya diri sekali yah si Tiara itu menantang Adinda kalo ini baru permulaaan katanya,,,
Sugiharti Rusli
ko yah dulu Dinda menurut apa kata ibu mertuanya agar dirahasiakan dulu dari si Arya dan ga menaruh curiga sama sekali yah,,,
Ayumarhumah: karena buat kejutan untuk suaminya. makanya dia mau
total 1 replies
Sugiharti Rusli
apa periode Dinda hamil dan melahirkan dulu si Arya nemang masih di luar yah dia
Sugiharti Rusli
berarti si Arya memang sudah dibohongi oleh ibunya sendiri selama ini yah,,,
Suanti
tiara dan sintia jeblos kan ke penjara 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!