NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Janji di Bawah Pengawasan Dharmawijaya

Malam semakin larut ketika suara mobil Andhika memasuki halaman rumah besar keluarga Dharmawijaya. Lampu mobilnya menyorot halaman sebelum akhirnya mesin dimatikan. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka dan langkah kakinya yang tegas terdengar di lantai marmer.

Wajah Andhika masih terlihat tegang. Amarah dari kantor polisi belum benar-benar hilang.

Begitu memasuki ruang tengah, ia langsung melihat Dean dan Raka masih duduk di sofa. Karline berada di antara mereka, bersandar lemah dengan selimut menutupi kakinya.

Andhika melepas jasnya dan melemparkannya ke kursi. Ia lalu duduk di sofa seberang mereka. Suasana ruangan langsung terasa berat.

“Sekarang jelaskan,” ucapnya dingin sambil menatap Dean. “Siapa kalian sebenarnya? Dan kenapa adikku bisa sampai berada dalam situasi seperti tadi?”

Dean menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia duduk lebih tegak.

“Awalnya hubungan aku dan Karline memang tidak baik, Kak. Kami sering bertengkar di sekolah. Tapi lama-lama semuanya berubah… aku mulai peduli padanya.”

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Rio memang punya masalah denganku. Dia marah karena aku mulai menjauh dari pergaulan kami yang dulu. Jujur saja, lingkungan itu tidak sehat. Tapi Rio menganggap perubahan itu terjadi karena Karline.”

Raka mengangguk pelan, membenarkan cerita tersebut.

“Sejak saat itu Rio mulai membenci Karline,” lanjut Dean. “Menurutnya Karline sudah merusak persahabatan kami. Dia pikir Karline membuatku menjauh dari mereka.”

Dean menatap Andhika dengan serius.

“Dia tidak bisa melampiaskan semuanya langsung kepadaku, jadi kemarahannya diarahkan ke Karline.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Aku mencintai Karline, Kak,” ucap Dean akhirnya. “Dan aku akui tadi sore gagal melindunginya. Itu kesalahanku. Tapi mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi.”

Andhika tertawa kecil, namun terdengar dingin.

“Janji?” katanya. “Kalau janji itu benar-benar berarti, adikku tidak akan sampai terluka.”

Dean terdiam.

“Mulai sekarang,” lanjut Andhika tegas, “aku sendiri yang akan mengantar dan menjemput Karline. Aku tidak mau dia dekat dengan siapa pun dulu. Termasuk kamu.”

Ucapan itu terasa seperti pukulan bagi Dean.

Ia menatap Karline yang sejak tadi hanya diam.

“Kak, tolong,” kata Dean cepat. “Aku tahu Kakak marah. Tapi Karline juga butuh seseorang yang mengerti keadaan di sekolah. Izinkan aku tetap menjaganya.”

Sebelum Andhika menjawab, Raka ikut bicara.

“Kak Andhika, aku lihat sendiri kejadian tadi,” katanya serius. “Dean benar-benar kehilangan kendali waktu melihat Karline disakiti. Dia langsung menghajar mereka tanpa ragu.”

Raka menambahkan,

“Kami siap menjaga Karline di sekolah. Kami tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya lagi.”

Ruangan kembali hening.

Andhika melirik ke arah Karline. Gadis itu masih memegang ujung jaket Dean dengan lemah.

Melihat hal itu, Andhika menghela napas panjang.

“Baiklah,” katanya akhirnya.

Dean dan Raka langsung menatapnya.

“Aku akan pegang kata-kata kalian. Tapi dengarkan baik-baik.”

Nada suaranya tetap tegas.

“Kalau aku mendengar ada satu luka lagi di tubuh adikku… kalian berdua orang pertama yang akan aku cari.”

Dean mengangguk mantap.

“Dimengerti, Kak.”

Raka juga mengangguk.

Malam itu akhirnya berakhir dengan sedikit kelegaan.

Keesokan harinya Karline tidak masuk sekolah.

Tubuhnya sudah jauh lebih baik, tetapi mentalnya masih membutuhkan waktu untuk pulih.

Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar, duduk di dekat jendela sambil menatap langit mendung.

Sesuai kesepakatan, kejadian di gudang olahraga dirahasiakan.

Para guru yang mengetahui kejadian itu sepakat menutup rapat semuanya agar Karline tidak semakin trauma karena gosip.

Bagi siswa lain, Rio, Arlan, dan Clarissa hanya dikabarkan pindah sekolah secara mendadak karena urusan keluarga.

Padahal sebenarnya proses hukum sedang berjalan.

Sepulang sekolah, Dean dan Raka langsung pergi ke toko buah.

Mereka membeli keranjang besar berisi buah-buahan segar sebelum menuju rumah Karline.

Saat tiba, Andhika sedang duduk di ruang tamu sambil menatap tablet di tangannya.

“Kami ingin menjenguk Karline, Kak,” kata Dean sopan.

Andhika hanya mengangguk.

“Dia di kamar.”

Dean dan Raka segera naik ke lantai dua.

Di kamar, Karline sedang bersandar di kepala ranjang sambil memegang buku, meski matanya tidak benar-benar membaca.

“Karline, kami datang,” seru Raka ceria.

Karline mendongak. Senyum kecil muncul di wajahnya saat melihat Dean membawa keranjang buah.

Dean duduk di kursi di samping tempat tidurnya.

“Bagaimana perasaanmu? Masih sakit?”

Karline menggeleng pelan.

“Sudah jauh lebih baik. Terima kasih sudah datang.”

Dean dengan hati-hati memegang pergelangan tangan Karline, melihat bekas memar yang sudah diobati.

“Di sekolah tidak ada yang tahu apa-apa,” kata Dean. “Guru-guru membantu merahasiakannya. Jadi tidak perlu khawatir.”

Karline terlihat lega.

Sementara itu Raka sibuk mengupas jeruk di meja kecil.

Suasana kamar perlahan terasa lebih hangat.

Sore itu mereka pindah ke ruang tamu.

Karline duduk bersandar di sofa dengan bantal empuk di belakang punggungnya. Ia mengenakan piyama satin panjang berwarna biru gelap.

Dean duduk di sebelahnya, sesekali merapikan selimut di kakinya.

Raka duduk di sofa tunggal sambil mengupas buah pir.

“Terima kasih sudah datang menjenguk,” kata Karline tulus.

Lalu ia menoleh ke arah kakaknya.

“Kak, kenapa hari ini tidak ke restoran?”

Andhika mengangkat kepalanya dari tablet.

“Kakak libur dua hari, untuk menjagamu.”

Karline terlihat terkejut.

“Restorannya bagaimana?”

“Tenang saja. Manajer dan asisten chef yang mengurus. Kakak akan tetap menerima laporan setiap jam.”

Ia menatap Karline lembut.

“Sekarang yang penting kamu cepat pulih.”

Raka yang sejak tadi mendengar percakapan itu terlihat penasaran.

“Maaf kalau bertanya… Kak Andhika sebenarnya bekerja sebagai apa?”

Karline tersenyum kecil.

“Kak Andhika seorang chef.”

Raka mengangguk.

“Oh, pantes tadi bicara soal dapur.”

Dean yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut bicara.

“Bukan chef biasa.”

Raka menoleh.

“Karline dan Kak Andhika adalah anak dari Chef Arnold Dharmawijaya.”

Beberapa detik Raka terdiam.

Matanya langsung membelalak.

“Tunggu… Chef Arnold Dharmawijaya?”

Ia menatap Karline tidak percaya.

“Chef yang sering muncul di majalah kuliner internasional itu?”

Karline hanya tersenyum kecil.

Raka langsung menepuk dahinya.

“Pantas saja nama Dharmawijaya terasa familiar!”

Ia tertawa kecil.

“Waktu kecil aku sering diajak Ayah makan di restorannya. Masakannya luar biasa. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat rasa saus steaknya.”

Raka tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.

“Kak Andhika, boleh minta foto bareng?”

Andhika mengangkat sebelah alisnya.

Sebelum Raka berdiri, Dean langsung menarik jaketnya.

“Rak, duduk.”

“Hah?”

“Karline belum benar-benar pulih. Jangan membuat keributan.”

Raka langsung tersadar dan kembali duduk dengan kikuk.

“Ah, benar juga. Maaf.”

Karline tertawa kecil melihat tingkahnya.

Suara tawa itu membuat Dean merasa lega.

Setidaknya Karline mulai bisa tersenyum lagi.

Di sudut ruangan, Andhika hanya menggeleng pelan sambil kembali menatap tabletnya.

Namun sesekali ia melirik ke arah adiknya.

Melihat Karline bisa tertawa bersama Dean dan Raka membuat hatinya akhirnya sedikit lebih tenang.

1
Anonymous
david yg selalu ada 🫶🏻😍
Alfriza Lian
msih memantao kali inii d sisi berbeda msih kasihan ama mreka bedua sma2 sling slah fham..entahlah apakah diriku msih berharap mreka bersama ato tidakk hnya thorrrr yg tauu hihi brharap mreka bahagia bersama sih tpi hihihi
jajangmyeon
mnding sm david aj gk sih karline
brawijaya Viloid
benci bgt liat dean 😡
jajangmyeon
co cwiit 🤣
brawijaya Viloid
aq ketinggalan nich 😅
Anonymous
lanjut 😎
Ra H Fadillah
ini cerita saya, semoga kalian suka 🥰
brawijaya Viloid
dean g fokus
Anonymous
semangat dean 🤭
Maya Aliska
masih sepi yah. aku bantu ramein yah thor🤭
aku marathon tau bacanya😍
Ra H Fadillah: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan ikut meramaikan. Semoga ceritanya dapat terus menghibur Anda 💞😉
total 1 replies
Anonymous
hahaha, buktikan dean 😎
🍁𝐘𝐖❣️💋🄴🄰🅂🅃🄴🅁👻ᴸᴷ
Good lh, kata² Andhika ini 👍👍👍
jajangmyeon
benci bgt liat clarisa
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!