Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.
Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keteguhan Hati di Bawah Air Terjun
Tujuh hari tujuh malam telah berlalu. Di dunia luar, waktu mungkin terasa berlalu dengan cepat, namun di dalam tempat latihan yang ekstrem ini, setiap detik terasa bagaikan satu tahun yang panjang dan menyiksa. Xiao Ling tetap duduk bersila di bawah terjangan air terjun tekanan, tubuhnya tak bergeming sedikit pun, seolah dia telah menyatu dengan batu karang di bawahnya. Air energi yang jatuh dari atas terus menghantam kepala, bahu, dan punggungnya dengan kekuatan ribuan ton tanpa henti. Suara gemuruhnya memekakkan telinga, namun bagi Xiao Ling yang telah mencapai kedalaman meditasi yang ekstrem, suara itu telah lenyap sama sekali. Dia tidak lagi mendengarnya sebagai gangguan, melainkan sebagai irama alam yang tenang. Di hari ketujuh ini, perubahan besar mulai terlihat jelas. Dulu, tubuhnya akan terguncang hebat setiap kali air itu menghantam, dan otot-ototnya akan menegang keras menahan beban. Tapi sekarang... air energi yang sekeras baja itu seolah menabrak dinding yang tak tertembus. Setiap tetes yang menghantam punggungnya akan terpental menyebar ke samping, tidak mampu lagi menekan tubuhnya sedekar pun. Aura yang melingkupinya kini telah berubah. Cahaya ungu keemasan yang tadinya samar, kini bersinar begitu terang hingga menembus air yang deras itu. Energi suci dan energi gelap berputar harmonis di bawah kulitnya, membentuk pola samar yang menyerupai naga dan phoenix yang saling melingkar, sebuah tanda bahwa fondasi kekuatannya telah sempurna. Perlahan namun pasti, mata Xiao Ling terbuka. Dua sinar cahaya tajam melesat keluar dari pupil matanya, menembus kabut air di depannya. Tidak ada kelelahan yang terlihat di wajahnya, yang ada hanyalah kedalaman yang tenang dan tatapan yang tajam bagaikan pedang yang baru saja diasah. Dengan satu gerakan halus, dia berdiri. Saat dia bangkit, seluruh air terjun yang jatuh di atasnya seolah tertahan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata dan terpental menjauh, membentuk sebuah ruang kosong di sekeliling tubuhnya yang kering dan megah.
"Huuhhh..." Xiao Ling menghembuskan napas panjang. Saat napas itu keluar, sebuah angin kencang berhembus dari mulutnya, menerbangkan debu-debu kecil di lantai gua hingga ratusan meter jauhnya.
"Wah... Hanya dengan menghembuskan napas saja sudah memiliki kekuatan sebesar ini. Benar-benar kekuatan yang melampaui manusia biasa!" Gumam Elder Feng takjub di kejauhan.
"Selesai..." Gumamnya pelan, suaranya tidak keras namun bergema jelas di seluruh ruangan, menutupi suara gemuruh air terjun.
"Bravo... Luar biasa, Xiao Ling..." Ucap Ye Chen dengan suara yang penuh penghargaan dan kekaguman mendalam, senyum di wajahnya kini tak bisa lagi disembunyikan.
"Kamu tidak hanya sekadar bertahan hidup atau selamat dari siksaan itu. Kamu bahkan berhasil memahaminya, menikmati setiap detik prosesnya, dan mengubah rasa sakit itu menjadi kekuatan yang benar-benar milikmu sendiri!" Lanjutnya dengan nada yang takjub, menggelengkan kepalanya tak percaya melihat betapa cepatnya gadis ini berkembang.
"Kecepatan kemajuanmu ini... sungguh melampaui dugaanku bahkan seribu kali lipat! Dalam sejarah panjang dunia kultivasi, belum pernah ada yang bisa mencapai transformasi secepat dan semulus ini! Kamu telah membuktikan bahwa bakatmu bukanlah sekadar anugerah biasa, melainkan sebuah keajaiban yang lahir sekali dalam ribuan tahun!" Pungkasnya dengan bangga, merasa sangat beruntung memiliki murid sehebat ini.
"Semua ini berkat bimbinganmu, Yang Mulia. Tanpa arahanmu dan tanganmu yang menuntunku, aku pasti sudah hancur berkeping-keping sejak hari pertama, api penyucian itu terlalu ganas dan menakutkan bagi siapa pun. Engkau bukan hanya mengajariku cara menjadi kuat, tapi juga mengajariku cara tidak takut pada rasa sakit itu sendiri. Engkau telah memberikan hidup dan tujuan baru bagiku." Ucapnya dengan nada suara yang sangat tulus dan penuh rasa hormat, matanya memancarkan rasa syukur yang mendalam.
"Jadi terima kasih yang tak terhingga, Guru... Karena telah percaya padaku bahkan saat aku sendiri meragukan diriku sendiri." Lanjutnya dengan hati yang terbuka, merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan sosok agung seperti dia.
"Jangan merendahkan dirimu" Potong Ye Chen lembut namun tegas, tidak membiarkan muridnya meletakkan semua prestasi itu semata-mata karena bimbingannya.
"Aku hanya memberikan jalan, peta, dan alatnya. Tapi kau sendirilah yang dengan berani memilih untuk berjalan memijak duri dan api yang menyala-nyala itu tanpa pernah menoleh ke belakang atau mengeluh sedikit pun. Ketahanan itulah yang membuatmu istimewa." Lanjutnya dengan suara yang berat dan penuh penekanan.
"Dan lihatlah hasilnya... Kekuatan fisikmu sekarang sudah mencapai tingkat tertinggi yang disebut Tubuh Naga Emas Sempurna. Tulangmu bagaikan emas murni, kulitmu setebal perisai surgawi. Bahkan jika seorang ahli tingkat Maharaja datang menyerangmu dengan senjata suci yang paling tajam sekalipun... mereka tidak akan bisa melukaimu, bahkan hanya untuk membuat goresan kecil di kulitmu!" Serunya dengan bangga, menjelaskan betapa dahsyatnya pertahanan yang kini dimiliki oleh gadis itu.
Melihat pemandangan yang terbentang di hadapan mereka, Elder Yan dan Elder Feng yang berdiri menjaga dari sisi gua hanya bisa terpaku diam, tubuh mereka seolah terpaku tak mampu bergerak. Mereka menggelengkan kepala berulang kali, seolah tidak percaya dengan apa yang mata mereka lihat saat ini. Mulut mereka ternganga lebar, terbuka luas tanpa bisa ditutup kembali, napas mereka tertahan di tenggorokan menyaksikan perubahan yang begitu drastis dan menakjubkan. Aura yang terpancar dari tubuh Xiao Ling sekarang bukan lagi aura seorang manusia biasa. Itu adalah aura yang begitu berat, agung, dan memancarkan rasa keabadian yang membuat jantung mereka berdebar kencang hanya dengan berdiri di dekatnya. Selama ratusan tahun mereka hidup dan melihat berbagai ahli hebat, belum pernah sekalipun mereka melihat seseorang yang bisa menyelesaikan penempaan tubuh dengan hasil yang begitu sempurna dan semulus ini. Gadis muda di hadapan mereka kini telah berubah menjadi sebuah keajaiban hidup yang nyata.
"Benar-benar monster..." Gumam Elder Feng pelan namun jelas, suaranya bergetar tak kuasa menahan kekaguman yang luar biasa.
"Dalam waktu kurang dari sebulan saja, dia telah berubah total. Dari sosok lemah yang bagaikan bunga rapuh yang mudah layu... kini berubah menjadi gunung berapi raksasa yang penuh energi dan siap meledak kapan saja!" Lanjutnya dengan mata yang tak berkedip, menatap gadis itu bagaikan menatap hantu.
"Aura yang dia pancarkan sekarang sudah begitu padat dan pekat. Kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya... sudah setara dengan ahli tua yang telah berlatih dan mengumpulkan kekuatan selama ribuan tahun lamanya! Ini benar-benar melanggar semua hukum alam yang kami ketahui!" Serunya dalam hati, menyadari bahwa dunia persilatan akan benar-benar terguncang saat sosok ini muncul ke permukaan.
"Tubuh sudah kuat, pikiran sudah tenang" Ucap Ye Chen kembali menatap Xiao Ling dengan tatapan tajam yang penuh semangat.
"Fondasi yang sempurna sudah kamu miliki sekarang. Tapi kekuatan tanpa cara menggunakannya hanyalah harta karun yang terkunci rapat di dalam gua." Lanjutnya dengan suara yang bergema tegas.
"Sekarang, saatnya kita beralih ke tahap terakhir dan paling mematikan yaitu Penguasaan Senjata dan Teknik Pertempuran! Kita akan mengubah tubuh dewa ini menjadi senjata perang yang paling tajam. Kamu akan belajar bagaimana cara memotong angin, membelah ruang, dan menjatuhkan musuh hanya dengan satu gerakan!" Serunya dengan penuh antusiasme, siap membuka babak baru dalam perjalanan gadis itu.
Ye Chen perlahan melambaikan tangannya ke udara dengan gerakan yang santai namun penuh kuasa. Seketika, udara di sekitar mereka bergetar. Sebuah pedang panjang yang berkilauan melayang turun perlahan dari kedalaman langit-langit gua yang gelap. Pedang itu bukan terbuat dari besi atau baja biasa, melainkan terbentuk dari kristal es murni yang tembus pandang, memancarkan cahaya biru dingin yang menyilaukan mata dan memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Pedang itu melayang turun dengan anggun, seolah memiliki kehidupan sendiri, dan mendarat dengan sangat lembut dan ringan tepat di atas telapak tangan Xiao Ling yang terbuka, seolah memang telah menunggu pemiliknya selama ribuan tahun.
"Pedang ini disebut Bidadari Es" Jelas Ye Chen dengan suara yang rendah dan penuh wibawa, matanya memancarkan cahaya dingin yang sejalan dengan senjata itu.
"Tapi jangan salah sangka hanya karena namanya terdengar indah dan lembut. Di balik keanggunannya itu, ia menyimpan kekuatan penghancur yang luar biasa. Ia adalah salah satu dari sepuluh senjata suci paling mematikan yang pernah ada di dunia ini." Lanjutnya dengan tegas, memperingatkan akan bahaya yang tersimpan di dalam bilah pedang itu.
"Pedang ini terbuat dari inti es abadi yang ditempa selama ribuan tahun. Satu goresan saja sudah cukup untuk membekukan aliran darah musuh, dan satu tebasan penuh mampu membekukan seluruh sungai besar hingga menjadi dataran es yang kokoh. Di tangannya, keindahan adalah ilusi, dan kematian adalah satu-satunya kenyataan!" Serunya dengan penekanan yang kuat, membuat Xiao Ling semakin menghargai harta berharga yang kini ada di genggamannya.
"Namun, kau harus mengerti satu hal yang paling penting, Xiao Ling" Lanjutnya dengan suara yang lembut namun sarat makna, perlahan ia melangkah mendekat dan berdiri tepat di belakang punggung gadis itu.
"Pedang yang sesungguhnya bukanlah benda mati yang terbuat dari kristal atau besi yang kau genggam di tanganmu ini. Senjata fisik hanyalah perpanjangan tangan. Pedang yang sesungguhnya... ada di dalam hatimu sendiri!" Ucapnya tegas, menempelkan telapak tangannya perlahan tepat di tengah punggung Xiao Ling, mengalirkan sedikit kekuatannya untuk menuntun.
"Ketajaman pedang ditentukan oleh ketajaman pikiranmu. Kekuatan tebasan ditentukan oleh kekuatan tekadmu. Jika hatimu jernih dan tak tergoyahkan, maka bahkan angin sekalipun bisa kau belah menjadi dua. Jadilah satu dengan pedang itu, dan jadilah pedang itu sendiri!" Pungkasnya dalam hati, mengajarkan rahasia tertinggi dari jalan pedang yang sesungguhnya.
Dari posisinya yang berdiri tepat di belakang punggung gadis itu, Ye Chen perlahan mengulurkan tangannya. Dengan gerakan yang lembut namun tegas, dia menangkup dan memegang pergelangan tangan Xiao Ling yang erat menggenggam gagang pedang itu. Sentuhan itu membuat tubuh Xiao Ling terasa hangat dan stabil seketika. Dia bisa merasakan aliran energi dan kehangatan yang mengalir dari telapak tangan pria itu, merambat masuk ke dalam lengannya, seolah menyambungkan nadi dan gerakan mereka menjadi satu kesatuan yang utuh. Di bawah bimbingan langsung itu, pedang kristal di tangan mereka seolah terbangun dari tidur panjangnya, mulai bergetar pelan dan mengeluarkan suara nyaring yang halus, siap menerima perintah dari pemilik barunya.
"Rasakan aliran energimu... Hubungkan nadi dan darahmu dengan bilah pedang ini." Bisik Ye Chen tepat di telinga gadis itu, suaranya rendah dan memikat.
"Biarkan energimu yang telah seimbang itu mengalir keluar dengan lancar..." Ucapnya pelan namun tegas, tangannya membimbing gerakan tangan Xiao Ling agar mengikuti aliran yang benar.
"Gunakan Cahaya Ungu Keemasanmu untuk ketajaman yang tak tertandingi, agar pedang ini bisa membelah apa pun yang menghalanginya. Dan gunakan Kegelapan yang pekat untuk kekuatan penghancur yang mutlak, agar satu tebasan cukup untuk melenyapkan segalanya!" Lanjutnya dengan suara yang berat, menuntun perpaduan dua kekuatan yang bertolak belakang itu.
"Satukan keduanya... padatkan di ujung bilah pedang! Jadikan mereka satu kekuatan yang utuh! Saat cahaya dan gelap bersatu, tidak ada yang bisa bertahan di depanmu!" Serunya dengan penuh semangat, mempersiapkan muridnya untuk mengeluarkan serangan pertamanya yang sesungguhnya.
Mengikuti arahan Ye Chen, Xiao Ling menutup matanya sejenak. Dia membiarkan perpaduan energi Yin dan Yang di dalam dirinya mengalir deras turun melalui lengannya, masuk ke dalam gagang pedang, dan meledak keluar di ujung bilahnya. Sebuah suara pedang beradu dengan angin terdengar nyaring. Dari ujung pedang itu, melesat keluar sebuah gelombang pedang berwarna ungu keemasan yang sangat indah namun juga memancarkan aura kematian yang mengerikan. Gelombang itu melesat cepat menembus dinding gua yang tebal dan keras bagaikan mentega, meninggalkan sebuah goresan lurus yang sempurna dan dalam.
"Bagus... sangat bagus!" Puji Ye Chen dengan nada antusiasme yang tak bisa disembunyikan, matanya berbinar melihat hasil yang terjadi.
"Kamu memahaminya dengan cepat. Itu hanyalah teknik dasar dari jalan pedang, gerakan paling sederhana yang aku ajarkan." Lanjutnya dengan suara yang penuh keyakinan.
"Tapi ingatlah, Xiao Ling... Di tangan orang biasa, teknik ini hanya bisa memotong rumput. Namun dengan energi sebesar dan semurni milikmu sekarang... satu tebasan saja sudah cukup untuk membelah gunung batu besar menjadi dua bagian yang rata! Kekuatanmu sekarang sudah melampaui logika! Satu gerakanmu bernilai ribuan serangan orang biasa!" Serunya bangga, merasa puas melihat muridnya berkembang begitu pesat.
"Tapi kau harus ingat, pertarungan nyata di dunia luar bukanlah sekadar soal memukul atau menebas dengan kekuatan penuh semata, Xiao Ling. Ini adalah permainan kehidupan dan kematian yang sangat kejam. Di sana, yang terpenting adalah kecepatan, ketepatan, dan juga naluri membunuh yang tajam!" Lanjut Ye Chen dengan wajah yang kembali menjadi serius dan tajam, matanya menatap tepat ke mata muridnya.
"Kamu harus bisa bergerak lebih cepat daripada bayangan musuhmu. Kamu harus bisa menyerang tepat di titik vital yang paling mematikan tanpa ragu sedikit pun. Dan yang paling penting... kamu harus memiliki insting untuk mengambil nyawa musuh di saat yang paling tepat! Kekuatan besar hanyalah beban jika tidak bisa digunakan dengan cerdas. Jadilah seperti pemburu yang tenang, dan jadilah seperti petir yang mematikan saat menyerang!" Serunya dengan tegas, mengajarkan filosofi pertempuran yang sesungguhnya.
Setelah memastikan aliran energi dan gerakannya sudah sempurna, Ye Chen perlahan melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Xiao Ling. Dia mundur selangkah dengan langkah yang tenang namun berat, menjaga jarak yang tepat untuk memberikan ruang bagi muridnya bergerak. Seketika, aura di sekitarnya berubah drastis. Wajahnya yang tadi dipenuhi senyum puas kini kembali menjadi dingin dan serius. Matanya yang biasanya teduh kini berubah menjadi tajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsa, memancarkan tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa mendidih. Dia tidak lagi bertindak sebagai guru yang membimbing, melainkan berubah menjadi lawan yang paling nyata dan berbahaya, siap menguji kemampuan gadis itu hingga ke batas tertingginya.
"Karena itu... mulai sekarang, aku yang akan menjadi lawan latihanmu. Ucapnya dengan suara yang rendah namun bergema tegas, matanya memancarkan aura pertempuran yang sesungguhnya.
"Hanya dengan melawan yang terkuat, kau bisa memahami arti kekuatanmu yang baru" Lanjutnya tegas, suaranya penuh keyakinan yang tak terbantahkan.
"Aku tidak akan menahan diri sepenuhnya agar kau bisa merasakan tekanan yang sesungguhnya. Tapi tenanglah... aku juga tidak akan membiarkanmu mati atau terluka parah di sini. Siapkan dirimu, Xiao Ling! Tunjukkan padaku hasil penempaanmu selama ini!" Serunya dengan penuh semangat, siap memulai ujian yang paling berat bagi muridnya.
"Apa?!" Xiao Ling terkejut setengah mati, matanya membelalak lebar tak percaya mendengar pernyataan itu.
"Tapi Yang Mulia... Kekuatanmu berada di tingkat yang berbeda dimensi! Bagaimana mungkin aku bisa melawanmu? Aku bahkan belum sanggup mengendalikan separuh kekuatanku sendiri saja!" serunya panik, merasa hal itu mustahil dilakukan.
"Jangan pikirkan itu!" Potong Ye Chen dengan suara yang tegas dan keras, memotong keraguan gadis itu seketika.
"Lupakan soal perbedaan kekuatan atau level! Jika kau benar-benar ingin berdiri tegak di sisiku dan melindungiku seperti janji yang kau ucapkan dulu... kau harus mampu setidaknya... membuatku menggerakkan tanganmu!" Lanjutnya dengan nada yang menantang dan penuh tekanan.
"Jika kau bahkan tidak bisa menyentuh ujung jubah atau pakaianku saja... bagaimana kau berniat melindungiku dari musuh-musuhku yang ganas dan kejam? Mereka jauh lebih berbahaya dan lebih mematikan daripada apa yang bisa kau bayangkan!Jadilah kuat, Xiao Ling! Buktikan bahwa tekadmu setajam pedang yang kau pegang itu!" Serunya lantang, menyalakan api semangat gadis itu untuk melampaui batas dirinya sendiri.
Wajah Ye Chen kini memancarkan aura yang begitu berat dan mematikan, membuat udara di sekitar mereka terasa sesak dan berat layaknya tertimpa gunung besar. Setiap inci tubuhnya memancarkan tekanan yang mampu membuat hati orang biasa gemetar ketakutan hanya dengan memandangnya. Namun, di balik wajah dingin yang penuh wibawa itu, matanya justru bersinar penuh senyum. Sebuah senyum yang tajam, menantang, dan penuh antusiasme, seolah dia adalah seorang pendekar yang telah lama menunggu lawan yang sepadan, dan kini akhirnya menemukan kesempatan untuk menguji batas dari murid kesayangannya sendiri. Sungguh sebuah fakta yang ironis dan mengejutkan. Sebenarnya, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang mengetahui sisi aslinya ini. Bahkan ayahnya sendiri yang membesarkannya selama bertahun-tahun pun tidak pernah tahu... bahwa di balik penampilan tenang dan bijaksananya, tersembunyi jiwa seorang maniak pertarungan yang haus akan pertempuran dan kekuatan!
"AYO, SERANG AKU DENGAN SEMUA YANG KAU MILIKI!!" Teriak Ye Chen dengan suara yang menggelegar memecah keheningan gua, memancarkan semangat yang meledak-ledak.
"Jangan ada yang ditahan! Gunakan Tubuh Naga Emas yang kau bangga itu! Gunakan energi Cahaya dan Kegelapan yang seimbang itu hingga batas maksimalnya!" Lanjutnya sambil menepuk dadanya sendiri, menantang dengan penuh kegilaan.
"Jadilah seperti badai yang menghancurkan! Tunjukkan padaku... hasil keringat dan air mata yang kau tumpahkan selama ini! Biarkan aku merasakan... apakah buah dari kerja kerasmu itu cukup manis atau tidak! Jangan biarkan aku bosan, Xiao Ling! Buat aku bergerak!" Serunya dengan mata yang berbinar liar, siap menerima serangan dahsyat dari muridnya.
Mendengar teriakan tantangan yang bergema di seluruh ruangan itu, jantung Xiao Ling berdegup kencang bagaikan genderang perang. Namun, debaran itu sama sekali bukan karena rasa takut, melainkan karena semangat bertempur yang tiba-tiba membara dan meledak di dalam dadanya. Api keberanian itu menyala terang. Dia menarik napas panjang hingga dadanya terasa penuh, lalu menghembuskannya dengan kuat. Tangannya yang kini memiliki kekuatan luar biasa itu menggenggam erat gagang pedang Bidadari Es, membuat senjata itu bergetar nyaring merespons keinginan tuannya. Matanya yang tadinya teduh kini berubah menjadi tajam dan bersinar, dipenuhi oleh tekad yang bulat dan tak tergoyahkan untuk membuktikan dirinya layak berdiri di samping sang guru. Sementara itu, di sudut gua yang agak jauh... Elder Yan dan Elder Feng yang menyaksikan pemandangan ini hanya bisa terpaku diam, tubuh mereka kaku dan mulut mereka ternganga lebar tak bisa ditutup. Mereka baru menyadari kenyataan yang mengejutkan ini! Selama ratusan tahun melayani dan mengagumi sosok ini, mereka baru tahu hari ini... bahwa Pemimpin mereka yang biasanya tenang, bijaksana, dan agung itu... ternyata di dalam hatinya adalah seorang maniak pertarungan sejati yang bersemangat bagaikan api unggun! Melihat cara dia menantang muridnya sendiri dengan mata yang berbinar liar itu, mereka akhirnya mengerti... kenapa dia bisa menjadi sekuat dan sehebat ini. Dia benar-benar mencintai setiap detik pertempuran!
"Baiklah, Yang Mulia! Mohon ajari aku!" Serunya dengan lantang.
"Tuhan... jadi selama ini kami melayani seorang monster yang gila bertarung? Wajahnya bersinar begitu liar... Dia benar-benar menikmati ini! Tidak heran dia bisa menjadi sekuat ini!" Gumam Elder Feng pelan dengan suara bergetar
"Rahasia terbesar dari kekuatannya akhirnya terungkap... Dia tidak berlatih karena kewajiban... dia berlatih karena dia memang menyukainya! Dia gila akan pertempuran!" Balas Elder Yan tak percaya.