Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Nara duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponselnya erat. Panggilan dengan ibunya baru saja berakhir, namun kata-kata yang didengarnya masih berputar di kepalanya.
Nara menatap lantai kamar hotel yang mengilap, lalu menghela napas panjang.
“Teman kamu saja ada yang lima belas tahun sudah melahirkan.” Kalimat itu membuat Nara mengerucutkan bibirnya kesal.
“Bukan itu maksudku, Bu…” bantah Nara saat Nara curhat ke ibunya soal anak, ibunya malah menjawab dengan jawaban yang bukan harapan Nara.
Nara bangkit lalu berjalan ke arah jendela besar yang menghadap laut Bali. Ombak terlihat tenang, berkilau terkena cahaya sore.
Nara menyilangkan tangan di dada. Kalau hanya soal hamil dan melahirkan, Nara yakin tubuhnya mampu. Perempuan sejak dulu sudah melahirkan anak-anak mereka bahkan dalam keadaan yang jauh lebih sulit. Tapi yang membuat Nara takut bukan proses melahirkannya. Melainkan setelahnya. Mengurus bayi. Begadang setiap malam. Tangisan bayi yang tidak berhenti.
Belum lagi cerita-cerita yang sering ia dengar di internet tentang ibu yang stres setelah punya anak.
Nara mengacak rambutnya pelan. “Aku saja kadang masih kekanak-kanakan,” gumam Nara.
Nara membayangkan dirinya menggendong bayi kecil. Bayangan itu membuatnya tersenyum sedikit tapi juga membuat dadanya terasa berat.
Belum lagi kuliahnya. Nara baru saja memulai hidup sebagai mahasiswa. Ia juga baru menemukan sesuatu yang membuatnya bersemangat, menggambar desain pakaian. Ia bahkan belum benar-benar mencoba mewujudkan mimpinya.
“Kalau tiba-tiba punya bayi…” Nara menghembuskan napas pelan. Ia merasa semuanya akan berubah sangat cepat.
Nara kembali duduk di tempat tidur. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri.
"Apakah aku siap?" Pertanyaan Nara tidak memiliki jawaban.
Suara pintu kamar hotel tiba-tiba terdengar terbuka. Nara langsung menoleh. Arkan masuk sambil membawa dua kantong belanja kecil.
“Kok kayak lagi ngalamun?” tanya Arkan santai.
Nara cepat-cepat menyimpan ponselnya.
“Engga.” jawab Nara.
Arkan meletakkan kantong belanja di meja. “Aku beli buah sama camilan. Kamu tadi bilang lapar.”
Nara menatap suaminya sebentar. Arkan terlihat biasa saja. Tidak terlihat seperti pria yang sedang memikirkan soal anak atau tekanan keluarga. Ia hanya terlihat seperti suami yang baru pulang dari membeli makanan untuk istrinya. Hal sederhana. Tapi membuat hati Nara terasa hangat.
“Kamu capek?” tanya Arkan sambil mendekat.
“Lumayan, tapi kan capek karena jalan-jalan.” jawab Nara.
Arkan duduk di samping Nara. “Mau jalan-jalan malam lagi?” tanya Arkan.
Nara menggeleng. Beberapa detik Nara ragu, lalu bertanya pelan, “Kalau… misalnya aku hamil sekarang… kamu bagaimana?”
Arkan menoleh. Arkan terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan Nara.
“Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
Nara mengangkat bahu kecil. “Cuma kepikiran saja.”
Arkan menatap wajah Nara dengan serius. “Kalau kamu hamil, aku pasti tanggung jawab,” jawab Arkan tenang.
Nara mendengus kecil. “Ya iyalah, kamu kan suami aku.”
Arkan tertawa pelan. “Tapi kamu takut?” Pertanyaan Arkan membuat Nara terdiam.
Nara tidak langsung menjawab. “Sedikit,” jawab Nara akhirnya.
Arkan tidak kecewa dengan jawaban Nara. Ia malah menarik tangan Nara ke dalam genggamannya.
“Itu normal.” kata Arkan.
Nara menatap tangan Arkan yang menggenggam tangannya.
“Aku juga takut.” kata Arkan.
Nara langsung menoleh. “Kamu?”
Arkan mengangguk pelan. “Punya anak itu bukan main-main. Itu manusia yang harus kita rawat puluhan tahun.”
Nara terdiam mendengarnya.
“Makanya aku bilang tadi ke Ibu… tidak perlu buru-buru.”
Arkan menepuk pelan kepala Nara. “Kita jalani saja dulu hidup kita.”
Nara menghela napas panjang, seolah sebagian beban di dadanya sedikit terangkat.
Arkan lalu membuka kantong belanja. “Sekarang makan dulu.”
Arkan mengeluarkan potongan buah dan cokelat kecil.
Nara tertawa kecil. “Ini yang kamu beli?”
“Iya.” jawab Arkan.
“Padahal aku cuma bilang lapar sedikit.”
Arkan mengangkat bahu. “Aku takut kamu lapar banyak.”
Nara tersenyum, lalu mengambil satu potong buah. Di dalam hatinya, kekhawatiran itu belum benar-benar hilang. Namun setidaknya, malam itu Nara tahu satu hal. Ia tidak sendirian memikirkan masa depan mereka.
**
Malam di Bali terasa lebih tenang dari biasanya. Angin dari laut masuk perlahan melalui balkon kamar hotel, membawa aroma asin yang lembut. Lampu-lampu di sepanjang pantai terlihat seperti garis cahaya yang berkelap-kelip di kejauhan.
Nara sedang duduk di sofa sambil memandangi buku sketsanya. Pensil masih berada di tangannya, tetapi ia tidak benar-benar menggambar. Pikirannya masih dipenuhi perkataan ibu mertuanya.
Arkan keluar dari kamar mandi dengan kaos santai dan rambut yang masih sedikit basah. Arkan memperhatikan Nara yang terlihat diam.
“Sayang,” panggil Arkan. Nara menoleh.
“Kita ngobrol sebentar.” Nada suara Arkan tidak keras, tetapi terdengar lebih serius dari biasanya.
Jantung Nara langsung berdegup lebih cepat. “Ngobrol?” ulang Nara pelan.
Arkan mengangguk dan duduk di kursi di depan Nara. “Serius sedikit.” kata Arkan.
Sekarang Nara benar-benar deg-degan. Pikirannya langsung melompat ke satu hal yaitu Anak.
"Jangan-jangan Arkan ingin membicarakan soal anak dan ingin bilang kalau dia berubah pikiran?" Nara bertanya-tanya di dalam hati.
Nara menelan ludah. “Kamu jangan bikin aku takut dong,” gumam Nara.
Arkan mengerutkan kening sedikit. “Takut kenapa?” tanya Arkan.
Nara menatap Arkan curiga. “Kamu mau ngomong soal anak ya?” tebak Nara.
Arkan justru terlihat bingung sesaat, lalu ia tertawa kecil. “Kok lompatnya ke situ?”
Nara menghela napas panjang, setengah lega setengah malu. “Ya… aku kira kamu berubah pikiran.”
Arkan menggeleng pelan, masih tersenyum. “Bukan itu.”
Nara menegakkan punggungnya sedikit. “Terus apa?” tanya Nara.
Arkan menatap buku sketsa di tangan Nara. “Ini.” kata Arkan sambil menunjuk buku di pangkuan Nara.
Nara mengikuti arah pandangan suaminya. “Sketsaku?” tanya Nara.
Arkan mengangguk. “Aku sudah lihat beberapa kali.” kata Arkan.
Nara memang sering menggambar di dekat Arkan, di rumah, di kantor, bahkan selama honeymoon ini. Bagi Nara itu hanya kebiasaan. Ia tidak menyangka Arkan memperhatikan.
“Menurutku,” kata Arkan perlahan, “gambar kamu bagus.”
Nara tersenyum kecil. “Ya… lumayan lah buat iseng sama belajar.”
Arkan menggeleng. “Bukan sekadar iseng.” Arkan mengambil buku sketsa itu dari tangan Nara dan membukanya. Beberapa halaman berisi desain pakaian formal wanita. Ada blazer dengan potongan unik, rok dengan lipatan elegan, sampai gaun sederhana tapi terlihat modern.
Arkan menunjuk salah satu desain. “Ini bisa dijual.”
Nara mengerjapkan mata. “Dijual?”
“Iya.” jawab Arkan.
Arkan menutup buku itu lalu menatap Nara dengan serius. “Aku kepikiran sesuatu.”
Nara semakin penasaran. “Apa?”
Arkan bersandar sedikit di kursinya. “Bagaimana kalau kita bikin brand pakaian?”
Nara benar-benar terdiam. Beberapa detik ia hanya menatap Arkan seperti tidak yakin mendengar dengan benar.
“Brand… pakaian?” ulang Nara pelan.
Arkan mengangguk. “Kamu yang desain.”
Nara menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
“Iya.” Arkan melanjutkan dengan tenang, seolah ide itu sudah dipikirkannya cukup lama.
“Kita bisa kerja sama dengan konveksi. Kamu fokus menggambar dan mengembangkan desain.”
“Lalu produksi, Konveksi yang urus.” kata Arkan.
“Terus jualnya?” tanya Nara.
Arkan tersenyum sedikit. “Itu bagian yang bisa aku bantu.”
Nara masih belum sepenuhnya mencerna.
“Aku punya banyak koneksi untuk promosi,” lanjut Arkan. “Influencer, media, event fashion, semuanya bisa dipakai.”
Nara membuka buku sketsanya lagi, melihat gambar-gambar yang selama ini ia buat hanya untuk kesenangan sendiri. Dan memang bakat Nara ada disitu.
“Tapi… ini cuma gambar.” kata Nara.
“Bukan cuma gambar.” Arkan menunjuk salah satu halaman. “Desain kamu sudah matang.” kata Arkan.
Nara menatap suaminya. “Serius?”
Arkan mengangguk. “Aku sudah lihat banyak brand pakaian. Beberapa bahkan lebih sederhana dari ini.”
Nara mengerutkan kening kecil. “Tapi aku kan belum pernah bikin baju sungguhan. Kemarin gaun pengantin itu juga butuh bantuan senior." jawab Nara.
“Kita belajar.” Jawaban Arkan sangat sederhana.
“Semua bisnis juga dimulai dari belajar.” lanjut Arkan.
Nara masih terlihat ragu. “Kalau gagal?”
“Ya gagal.” Arkan langsung menjawab tanpa berpikir lama.
Nara mendengus kecil. “Kamu santai banget ngomongnya.”
Arkan tersenyum. “Karena menurutku ini layak dicoba.”
Arkan menatap Nara dengan lebih lembut. “Aku lihat kamu sangat serius setiap menggambar.”
Nara tidak menyangka Arkan memperhatikan hal sekecil itu.
“Aku juga lihat kamu selalu tersenyum kalau menemukan ide baru.”
Nara menunduk sedikit. “Karena memang suka, makanya aku kuliah ambil sesuai dengan hobi." jawab Nara.
“Makanya,” kata Arkan. kemudian Arkan menutup buku sketsa milik Nara lalu menyerahkannya kembali kepada Nara.
“Kenapa tidak kita jadikan sesuatu yang nyata?”
Nara memegang buku itu erat. Perasaannya campur aduk. Antara senang, kaget, dan tidak percaya.
“Aku benar-benar bisa?” tanya Nara pelan.
Arkan menatap Nara dengan yakin. “Bisa.”
Arkan tersenyum tipis. “Dan kalau kamu mau, kita mulai begitu pulang dari honeymoon.”
Nara masih memandangi desainnya sendiri. Garis-garis pensil yang dulu hanya sekadar imajinasi. Sekarang tiba-tiba terasa seperti awal dari sesuatu yang besar.
Nara menatap Arkan lagi. “Kamu serius?”
Arkan mengangguk. “Sangat.”
Nara akhirnya tersenyum lebar. Senyum yang bahkan lebih cerah daripada saat ia melihat pantai Bali sore tadi. Nara merasa mimpinya benar-benar mungkin terjadi.