Kisah ini tetang Siana Aprilly, gadis keras kepala yang masih belum bisa menentukan arah tujuan hidupnya. Siana hanya bisa mengikuti perkataan dari kedua orang tuanya tanpa protes. Karena Siana juga tidak mau menjadi anak durhaka yang mengabaikan setiap kata tercetus dari mulut orang tuanya.
Dan Siana pun juga tidak begitu memiliki banyak teman. Hanya ada beberapa orang yang dekat dengan Siana. Tapi bagi Siana, siapapun yang berusaha untuk berteman dengannya itu pasti memiliki hal tertentu.
Mereka akan pergi menjauh setelah Siana tidak lagi mereka butuhkan. Dan yang paling menyakitkan, saat Siana butuh bantuan mereka. Tidak ada satu pun dari mereka meluangkan waktu untuk mengulurkan tangan mereka pada Siana.
Sampai di titik, di mana Siana memilih untuk menjadi gadis jahat tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00.031%
Keputusan yang sangat memberatkan mau tidak mau membuat Siana mengemas semua barang-badangnya. Dan begitu pedih saat lihat bubu-buku yang tertata rapi di atas rak buku. Jika pun Siana jarang sekali menyentuh mereka-- tapi rasa tidak rela itu benar-benar menyayat batinya.
Yaa mau bagaimana lagi__ Siana juga tidak boleh egois saat ini. Siana harus mengikuti apa yang di katakan Evan. Dan Siana pun juga tidak lagi membuat hidup siapapun merasa soal akan kehadiran Siana. Jika pun semua itu sudah takdir dari sang kuasa. Tapi Siana harus memilih satu obsi dari berbagai pilihan yang ada.
Huft--
Dengan napas berat tangan Siana mulai menurunkan buku-buku sekolahnya, yang kini gadis itu simpan di dalam kardus. Hingga satu lembar foto yang berada di selipan di antara buku-buku membuat Siana tersenyum kecil-- tanpa lagi peduli akan sesak dalam jiwanya.
Di mana ada dirinya bersama teman-teman satu sekelasnya. Saat itu wali kelas memaksa untuk para murid didiknya berdiri berdampingan, agar pria itu mudah untuk mengambil gambar muridnya. 'Semuanya akan baik-baik saja Siana.' Satu kalimat tulisan tangan dibalik foto membuat sudut bibir Siana semakin tersungging. Karena Siana ingat-- kalimat itu Sebastian yang menulisnya.
"Benar__ semuanya akan baik-baik saja." Sangat rendah, Siana melontarkannya. Dengan tanpa ragu gadis itu kembali menyimpan buku-bukunya di dalam kardus tanpa tersisa.
Dan dari arah pintu yang kini perlahan terbuka, menampilkan sosok pria dewasa-- melangkah masuk ke dalam dengan wajah yang sedikit sendu. Karena merasa bersalah. "Apa kau butuh bantuan? Ayah akan membantu mu."
"Ayah bisa membawa barang-barang itu ke dalam mobil." Pinta Siana kini membalas tatapan Evan dengan senyumannya. "Karena tenaga ku tidak sekuat ayah."
Seketika Evan tertawa kecil, dengan ketenangan yang mulai menepis rasa bersalahnya kepada putrinya. "Ayah akan membawa barang-barang mu ini ke dalam mobil."
Tanpa melunturkan senyumannya, Siana melihat Evan yang membawa keluar koper dan tas Siana ke bawah. Karena keputusan final dari sang ayah memang ingin membawa Siana pergi dari kota ini-- bukan karena ingin melupakan semuanya. Mereka hanya mau hidup tanpa gangguan ataupun rasa bersalah yang berlebihan.
...***...
Sebentar melihat ke arah rumah minimalis berlantai dua, tanpa senyum yang melekat-- tapi raut sedih, pilu tidak tercetak menghiasi mimik wajahnya. Karena penyesalan tidak akan diijinkan Siana untuk belarut-larut menguasi pikiran Siana. Agar__ sosok itu tidak lagi muncul mengambil raganya.
"Kau sungguh tidak ingin berpamitan lebih dulu pada teman-teman mu?" Sebuah pertanyaan yang mungkin akan membuat Siana mengiyakan. Tapi dugaan itu jauh sekali dengan harapan batinya.
"Aku tidak bisa melihat mereka kembali. Karena itu akan membuat ku tidak ingin pergi dari tempat ini." Balas Siana sembari membalikkan tubuhnya, menatap Evan yang mengangguk kecil. Menyetujui kemauan putrinya.
"Jika mereka merindukan ku, mereka pasti akan mengirim ku pesan. Tapi aku harap, pesan rindu itu tidak sampai pada diriku. Karena itu sangat menyiksa." Siana menimbulkan perkataannya-- tanpa melunturkan senyumannya.
Kepala Evan mengangguk paham, kini pria itu mengajak Siana untuk naik ke dalam mobil-- yang melaju pergi dari lingkungan yang telah lama mereka tinggali.
Dan saat itu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan bangunan sederhana yang dulu sempat menjadi tempat singgah sang pemilik mobil-- hanya diam melihat dari bali jendela mobil, tanpa adanya niat untuk keluar. Karena orang itu tidak ingin menarik perhatian beberapa orang di sekitar lingkungan itu.
Jika pun rasa rindu itu ada, tapi egonya jauh lebih besar dari pada apapun. Bukannya wanita itu begitu kejam sebagai seorang ibu. Hanya saja__ sebuah karier yang sudah di bangun sejak dini benar-benar sulit untuk sang empu lepaskan.
"Jika anda ingin menemuinya__ saya bisa membantu nyonya." Sebuah tawaran dari sang sopir sekaligus asistennya itu membuat Evlyn menelan ludah getirnya.
Yaa dia Evlyna, artis papan atas yang sangat digemari banyak orang. Hingga membuat wanita itu harus lebih berhati-hati dalam menampilkan sikap, ataupun bertutur kata. Karena jika Siana melakukan kesalahan kecil saja-- itu akan sangat fatal untuk karier maupun hidupnya. Dan Evlyn tidak mau itu terjadi. Evlyn tidak ingin hidup dalam barang-barang kesengsaraan.
Walaupun Evlyn begitu tega meninggalkan anak dan suaminya, di saat mereka sangat butuh dukungan dari Evlyn. Akan tetapi__ karena sebuah berdebatan kecil antara Evlyn bersama Evan, membuat wanita itu dengan lantang tanpa berpikir-- kalimat sakral terlontar begitu saja dari mulutnya saat itu. Hingga Evan tidak bisa lagi bisa mempertahankan Evlyn demi anak-anaknya.
Perpisahan yang tidak ada rencana itu langsung memenuhi media sosial. Dan Evlyn juga sempat mendapat komentar buruk dari banyak orang-- karena memutuskan ikatan suci dengan Evan, disaat putra mereka kembali pada sang pencipta alam semesta.
Tapi hal itu tidak belangsung lama__ karena rumah yang menjadi tempat Evlyn bersinar, begitu pandai menutupinya menggunakan media lain. Hingga artikel yang menyeret nama Evlyn hilang seperti ditelan bumi, tanpa tersisa satupun.
Itu semakin membuat hubungan Evlyn dengan Siana seperti orang asing yang saling tidak menyukai. Terutama Siana-- gadis itu begitu enggan menatap ataupun bicara empat mata bersama wanita yang telah melahirkannya. Karena bagi Siana hal itu sangat menjijikan.
Sampai membuat Siana ingin sekali mengalahkan Evlyn dalam bidang entertainment. Jika pun Evan tidak lagi melarang Siana untuk melangkah ke jenjang dunia hiburan-- tapi keraguan masih ada pada jiwa Siana.
"Apa kau yakin, jika gadis itu baik-baik saja?" Suara rendah yang keluar dari mulut Evelyn membuat sang asisten melakukan mobilnya pergi dari lingkungan itu-- karena beberapa orang yang ada di sekitar mulai melihat ke arah mobil Evlyn dengan raut wajah penasarannya.
"Siana ikut serta mengantarkan temannya sore kemarin." Tanpa adanya kebohongan asisten Evlyn mengatakannya.
"Ku harap dia terus merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi!!" Ucap Evlyn, membuang napas gusar. Pandangan mata masih saja melihat keluar jendela.
Jujur__ sebenarnya rasa rindu itu ada didalam Evlyn. Tapi wanita itu tidak bisa melakukan apapun saat ini kecuali menahan dirinya dan terus mengingat apa yang telah menimpa dirinya.
"Anda tidak lupa, bukan? Jika hari ini anda harus makan malam bersama ibu anda." Sebuah peringatan kecil dari sang asisten yang membuang Evlyn membuang napas berat, sembari meluruskan pandangannya.
"Apa dia akan mempertemukan mu dengan orang itu lagi?" Sedikit kesal kalimat itu Evlyn lontarkan. Karena wanita itu sangat tidak menyukai hal seperti itu.
"Jika anda tidak ingin mengikuti apa yang diinginkan nyonya besar. Jalan satu-satunya saat ini hanya kembali pada mantan suami anda." Sebuah saran yang sangat memberatkan benak Evlyn dari asistennya.
"Apa tidak ada cara lain selain itu. Karena jika harus kembali pada Evan, itu pasti akan sangat memalukan." Tidak begitu cepat Evlyn mengatakannya. Berharap akan asistennya yang mengatakan saran lain, selain kembali pada Evan. Karena itu sangat memalukan.
"Jika karier anda sebagai alasannya itu tidak akan mempan sama sekali. Tapi__ jika anda bisa menyangkutkan Siana dalam hal ini, mungkin saja nyonya besar akan memikirkannya lagi. Karena anda tahu sendiri bukan, jika nyonya besar sangat menginginkan Siana."
makasih ya kak semangat jugaa untuk kakak yang mungkin udah mulai di kejar deadline 🤣
aku suka banget sama writing style-nya, dan alur ceritanya juga smooth banget padahal ini aku baru baca chapter 1 loh 🤭🤭.