NovelToon NovelToon
Lima Tahun Setelah Perceraian

Lima Tahun Setelah Perceraian

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil / Single Mom / Tamat
Popularitas:136.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jalur Langit

Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?

Instagram : @jalur_langitbiru13

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

"Jadi ... Lo batal rujuk sama Viola?" Baim bertanya pada Rasta. Baru saja Rasta menceritakan semuanya kepada Baim. Satu-satunya teman dekat yang mengerti luar dalamnya Rasta.

"Ya emang kami gak pernah berencana mau rujuk," jawab Rasta sembari menghela napas. "Sedari awal Viola nggak pernah mau."

"Lo ikhlas, Ta?" tanya Baim penuh keraguan. Dia paham seberapa dalamnya Rasta mencintai Viola, Baim pikir Rasta akan memperjuangkan ternyata dia memilih menyerah.

"Lagi gue coba biar gue bisa ikhlas." Rasta tersenyum tipis. "Yang penting gue bisa liat Viola tersenyum bahagia. Mungkin emang gue udah gak jodoh sama dia. Yaudah lah .... "

Rasta mengangkat kedua bahunya, seolah dia sudah benar-benar tidak peduli pada keputusannya. Baim menepuk-nepuk bahunya sambil terkekeh.

"Nggak apa-apa, gue salut sama lo yang sekarang," kata Baim dengan nada bangga. Menurutnya, sikap Rasta ini menunjukkan jika dia sudah berada di level paling tinggi dalam mencintai, yaitu mengikhlaskan.

Baim masih kurang percaya, tetapi kemudian Rasta menunjukkan foto prewedding Viola dan Naren yang baru diambil dua hari yang lalu. Foto yang diunggah Naren di media sosialnya.

"Oh jadi alasan lo nggak bisa rujuk sama Viola itu karena dia udah punya calon?" tanya Baim memastikan.

Rasta mengangguk, membeberkan. "Yup! Dan mereka udah prewedding, itu artinya mereka bentar lagi mau nikah. Tanggal nikahnya sih gue belum tau, masih dirahasiakan," tuturnya.

Baim menatap bergantian antara foto prewedding Viola Naren yang Rasta tunjukkan, dan wajah Rasta sendiri. Dia jadi curiga dengan sikap Rasta yang setenang ini.

Takut jika ketenangan Rasta ini ternyata menyimpan sebuah rencana besar.

"Ta, lo beneran baek-baek aja, kan? Lo nggak lagi merencanakan sesuatu?" selidik Baim menyipit.

Rasta berdecak sebal sebab Baim selalu mempunyai pikiran buruk setiap kali Rasta berbuat baik. Memangnya sebrengsek itukah Rasta di mata Baim?

"Ck. Maksud lo merencanakan sesuatu apa? Gue gak ada rencana mau merusak hari pernikahan mereka ya, enggak! Gue beneran mau liat Viola bahagia!"

Baim menggeleng cepat, "Bukan! Gue gak mikir kayak gitu. Justru gue khawatir lo bakalan lompat dari atas jembatan atau lo bakal berdiri di tengah rel kereta!"

Rasta melotot. Dia melempar bungkus snack yang sudah kosong ke wajah Baim. "Asem!" semburnya.

Ngomong-ngomong, saat ini mereka sedang berada di rumah Baim. Untungnya Rasta sudah tidak melampiaskan sakit hatinya pada alkohol dan rokok, seperti biasanya ketika dia mengingat Viola.

Baim tergelak setelah berhasil membuat Rasta kesal. "Mana tau lo punya niatan mau bunuh diri gara-gara patah hati."

"Ya enggak lah! Gue masih waras ya!"

Baim terbahak semakin keras. "Bagus deh, Ta. Tapi jangan pergi ke klub lagi, ya? Mending kita naik gunung aja deh, gimana? Kata orang mendaki bisa meredam patah hati," saran Baim.

Meskipun Rasta tenang selayaknya permukaan air, Baim tahu bagaimana riuh hatinya karena rasa sakit itu.

Rasta setuju dengan rencana Baim. "Nice choice! Kalau bisa kita langsung ke gunung setelah Viola sama Naren sah ya. Btw, gunung mana nih?"

"Gampang, ntar gue yang atur. Eum ... Bromo gimana?"

"Oke."

*

Rasta mengendarai mobilnya ke rumah di tengah malam, setelah dari rumahnya Baim. Rasta akui saat bersama orang lain, dia bersikap tenang, namun di saat sendirian seperti ini, ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin meledak.

Ternyata mengikhlaskan dan melepaskan itu berat. Sangat berat. Apalagi sesuatu yang harus ia lepas itu adalah sesuatu yang sangat berharga, alasan mengapa ia tetap bertahan hingga sejauh ini.

Rasta tidak langsung pulang. Dia mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan ditemani gerimis yang tiba-tiba turun.

Lagu-lagu galau mengalun. Seolah menjadi teman dan membuat Rasta semakin merasa ngenes. Perlahan, kedua matanya berlinang air mata.

Rasa sakit yang Rasta rasakan memicu dirinya untuk menambah kecepatan mobilnya hingga tak terkendalikan. Rasta tak peduli andaikan ada kendaraan lain yang menabrak mobilnya.

Yang penting, rasa sakit ini bisa terlampiaskan.

Seorang wanita menyebrangi jalan dengan tergesa-gesa setengah berlari. Di tengah malam seperti ini, dia pikir tidak akan ada kendaraan yang melintas. Namun, datang sorot lampu dari sebuah mobil yang tiba-tiba menyilaukan matanya.

Mobil itu melaju sangat cepat. Wanita itu terbelalak lalu memejam erat-erat. Dia tidak akan punya waktu untuk menghindar. Jika ditabrak pun ia akan pasrah, daripada hidup dengan penuh ancaman.

Rasta tak kalah terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang muncul di tengah jalan. Dia secepat mungkin menginjak rem. Hingga menimbulkan bunyi decitan roda yang bergesekan dengan aspal.

Nyaris. Nyaris saja mobilnya menabrak perempuan itu.

Rasta membuka pintu mobil, memeriksa keadaan wanita itu. Wanita dengan daster kumal yang membawa tas jinjing. Ngomong-ngomong, ngapain wanita ini malam-malam berkeliaran di luar rumah?

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rasta dengan nada khawatir.

Perempuan itu membuka mata, menatap Rasta dengan kening mengernyit. Dia lalu pingsan.

"Eh eh!" Rasta sigap menangkap tubuhnya sebelum jatuh membentur jalanan. "Lho kok pingsan?"

Rasta tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sepi, sunyi, bingung. Yang terdengar hanya suara gerimis. Rasta tidak mengenal perempuan ini, tapi sekarang dia sedang pingsan di pelukan Rasta dengan pakaian yang basah terkena gerimis.

Sekarang Rasta harus apa? Meninggalkan dan membiarkan perempuan ini di jalanan atau ... Membawanya pulang?

*

Naren terpana saat melihat Viola keluar dari ruang ganti. Calon istrinya itu memakai gaun pengantin yang indah.

Mereka sedang fitting baju pengantin di butik yang sudah dipilihkan Anna.

Naren lalu tersenyum puas, "Cantik banget calon istri aku."

Viola mengulum senyum. Naren sih sudah biasa memujinya dengan kata cantik, tetapi kali ini kenapa dia merasa wajahnya memanas?

"Sekarang calon pengantin prianya yang nyobain baju pengantinnya," kata seseorang yang baru saja membantu Viola memakai baju pengantinnya.

Naren pun masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan jas pengantin yang serasi dengan gaun putih yang dipakai Viola.

"Cocok banget ih ganteng dan cantik. Foto dulu yuk."

Viola dan Naren mengambil beberapa pose foto saat mereka memakai sepasang baju pengantin. Betapa merekahnya senyum di bibir mereka, mengingat hari pernikahan tinggal menghitung hari.

"Kok kamu nggak muji aku ganteng sih kayak aku muji kamu?" bisik Naren protes.

Viola menjawab dengan memukul pelan pipinya.

"Auw! Belum apa-apa aku udah ditampar duluan sih," gerutu Naren.

"Kita lagi foto, Naren, fokus gak! Biar cepet selesai," geram Viola.

Setelah mengambil dua gambar dengan pose yang berbeda, fotografer itu bertanya, "Udah belum, Mas? Atau mau pakai gaya sendiri?"

"Satu gaya lagi, Mas." pinta Naren.

"Oke."

Naren menyuruh viola melepas sepatu hak tingginya. "Lepas sepatunya, Sayang."

Viola terheran, namun dia menurut. Dia lepas sepatu pengantinnya, kemudian tanpa aba-aba Naren mengangkat tubuhnya.

"Naren!" Viola sigap melingkar lengannya di tengkuk Naren.

Satu tangan Naren menahan beban tubuh Viola, sementara tangan satunya memegang sepasang sepatu pengantin.

"Tahan ya, Vi," kata Naren. "Oke, Mas, kami udah siap. Gayanya kayak gini, agak cepet ya, Mas, berat ternyata calon istri saya ini."

Viola tidak terima dibilang berat. Dia jewer telinga Naren.

1
Lilis Yuanita
y kok udhan kiraain blum
ya Allah masih ga jelas aja ini hubungan nya Rasta n Arum
Harwanti Jambi
𝑠𝑒𝑑𝑖ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑒𝑡
Yunita Sophi
mungkin itu jodoh nya Rasta yg udah di siapin othor 🤭😀
Yunita Sophi
thor 👍🏻😍😍
Yunita Sophi
aq tdk setuju maaf ya tante... ada yg lebik baik untuk Viola kok
Yunita Sophi
Viola Naren lah... buat apa suami yg gak percayaan dan ngusir istri malam malam dgn hujan deras
Yunita Sophi
untuk apa balik lg dgn Rasta... ada yg lebih kok malah mau balik dgn mantan..
Yunita Sophi
semoga Naren laki laki yg tulus mencintai ... gak percaya fitnah
Yunita Sophi
di selingkuhin itu sangat sakit luka yg tak berdatah... sampai kapa pun gak akan bisa di lupakan..
Yunita Sophi
ayo Naren di percepat nikah nya yah.. semoga aja Naren menjadi suami dan ayah sambung yg baik dan setia
Yunita Sophi
nah gitu dong Vio... aq suka klo perempuan yg tegas... emang gak ada laki laki lg selain Rasta🌹
Yunita Sophi
readerdi sini semua nya wanita tentu aja gak ada yg setuju klo mereja mau bakinan
Yunita Sophi
gombal bin modus... gak bisa hidup tanpa kamu... selama 5 thn sehat dan normal normal aja tuh...
Yunita Sophi
klo Viola masih mau balikan dgn si Rasta...males banget kaya gak ada laki laki lain yg lebih baik dari dia aja
Yunita Sophi
Liana orang tua yg kurang akhlal...
Yunita Sophi
jgn bodoh kamu Vio kamu balikan lg sama si Rasta... 5 thn dia berbuat apa dan waktu pertama kerja kamu di kerjain habis habian... gak luci aja
Yunita Sophi
semangat thor dan tetap sehat sll....
Yunita Sophi
sangat wsaar klo ibu nya Vita membenci Rasta...
Yunita Sophi
cemburu boleh Rasta... tp selidiki dulu lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!