NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:28.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Gedung resepsi malam itu dipenuhi cahaya keemasan dari lampu gantung kristal yang berkilau di langit-langit tinggi. Musik lembut mengalun dari panggung kecil di sudut ruangan, sementara para tamu berpakaian formal berlalu-lalang dengan gelas sampanye di tangan. Suasana terasa hangat dan meriah, persis seperti pesta pernikahan pada umumnya.

Rayhan dan Samira melangkah masuk berdampingan.

Samira mengenakan gaun biru malam yang mereka pilih bersama. Kainnya memantulkan cahaya lampu, membuatnya tampak anggun tanpa berlebihan. 

Tangannya melingkar lembut di lengan Rayhan, dan seperti yang telah mereka sepakati, ia menjaga sorot matanya tetap kosong, langkahnya sedikit berhati-hati, perannya sebagai perempuan yang masih belum bisa melihat harus tetap terjaga di depan publik.

Sementara itu, Rayhan tampil rapi dengan jas abu-abu gelap dan dasi biru senada. Beberapa tamu menoleh saat mereka lewat, berbisik pelan, mungkin mengenali wajah Samira sebagai pemilik perusahaan yang belakangan sering dibicarakan.

“Kita duduk di sebelah sana saja,” bisik Rayhan pelan, cukup agar terdengar olehnya.

Samira mengangguk tipis, memainkan perannya dengan sempurna. “Baiklah.” 

Beberapa menit pertama berjalan lancar. Rayhan memperkenalkan Samira pada beberapa teman lamanya. Ia berbicara dengan tenang, menjaga nada suaranya hangat dan protektif tanpa terlihat berlebihan. Setiap kali seseorang menyodorkan tangan untuk berjabat, Rayhan dengan halus membantu mengarahkan tangan Samira.

Semua terasa terkendali. Sampai suara yang terlalu familiar itu kembali terdengar.

“Rayhan? Wah, ternyata kau juga datang!” seru Christy, senang saat melihat kehadiran Rayhan di sana. 

Rayhan membeku sepersekian detik sebelum menoleh.

Christy berdiri di sana dengan gaun merah marun yang mencolok, rambutnya tergerai rapi. Senyumnya lebar. Ia melangkah mendekat tanpa ragu, seolah tak ada jarak waktu atau batas yang perlu dijaga.

“Christy,” ucap Rayhan, suaranya lebih datar dibanding sebelumnya.

“Tidak disangka kita akan bertemu lagi di sini,” lanjut Christy ringan. “Kebetulan sekali ya?”

Samira bisa merasakan perubahan kecil pada tubuh Rayhan, otot lengannya menegang di bawah genggamannya. Ia tahu siapa yang berdiri di depan mereka, bahkan tanpa melihat.

Christy menatap Samira beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Oh, hai Samira. Kau juga ikut?” tanyanya dengan nada manis yang terasa dibuat-buat. “Maaf ya, aku hampir lupa.”

Samira tersenyum sopan. “Selamat malam.”

Christy mendekat sedikit, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa sempit. “Pasti merepotkan sekali datang ke acara seramai ini dengan kondisi seperti itu.”

Kalimatnya terdengar seperti simpati, tetapi nada di ujung kalimatnya mengandung sesuatu yang lain, sesuatu yang .

Rayhan langsung menyahut, “Christy. Tolong jaga sikap dan ucapanmu.”

Namun, Christy seolah tak mendengarnya. “Aku kagum padamu,” lanjutnya, masih tersenyum. “Tidak semua orang punya keberanian untuk tampil di tempat umum seperti ini dengan kondisimu seperti ini. Kau tidak bisa melihat apa-apa, jadi menurutku percuma saja datang, kau bahkan tidak bisa menikmati pestanya.”

Beberapa tamu di sekitar mereka mulai memperhatikan mereka. Bisik-bisik mulai terdengar samar.

Samira merasakan dadanya menegang. Ia ingin menatap tepat ke arah Christy, ingin menunjukkan bahwa ia tidak selemah yang dikira. Namun ia tak bisa. Perannya menahannya.

Christy melirik Rayhan. “Kau pasti lelah bukan? Kau harus selalu menjaga dan menuntunnya ke mana-mana seperti seorang bodyguard saja.”

Nada itu terdengar seolah Samira adalah beban bagi pria di sampingnya. 

Rayhan melepaskan lengan Samira perlahan, tetapi bukan untuk menjauh. Ia justru berdiri sedikit di depan Samira, posisinya jelas melindungi.

“Cukup, Christy,” katanya tegas.

Christy tertawa kecil. “Apa, Ray? Aku hanya bersimpati padanya. Apakah itu salah?.”

“Jangan berpura-pura,” kata Rayhan, suaranya naik setingkat, cukup untuk membuat percakapan di meja terdekat mereda. “Kau tahu persis apa yang sedang kau lakukan dan katakan. Berhenti sekarang juga atau aku tidak akan segan-segan untuk membuatmu malu.”

Christy terdiam, senyumnya tampak menegang.

Rayhan menatapnya lurus. “Samira tidak butuh belas kasihanmu. Dan dia jelas bukan beban, entah bagiku atau siapapun. DIa bisa melakukannya sendiri, terlebih lagi, dia datang bersamaku. Apapun yang ingin dia lakukan, aku sama sekali tidak keberatan jika harus terus menemaninya.”

Beberapa pasang mata kini benar-benar tertuju pada mereka.

“Jika kau datang ke sini untuk bersenang-senang, lakukanlah. Nikmati pestanya dan jangan mengganggu kami,” lanjut Rayhan, suaranya rendah namun penuh emosi tertahan. “Satu hal lagi, jangan pernah merendahkan orang yang datang bersamaku.”

Christy berkedip, tampak tak menyangka akan ditegur sekeras itu di depan umum. “Rayhan, tidakkah kau berpikir bahwa kau sudah berlebihan—”

“Tidak,” potongnya. “Yang berlebihan itu caramu berbicara.”

Keheningan menggantung beberapa detik yang terasa panjang. Orang-orang terus menatap mereka.

Akhirnya Christy menarik napas tajam, memperbaiki ekspresinya. “Baiklah. Kalau begitu, maaf jiika ada yang tersinggung.”

Namun permintaan maaf itu terdengar kosong. Christy berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan udara yang masih terasa panas.

Rayhan menghembuskan napas panjang sebelum kembali ke sisi Samira. Tangannya mencari tangan Samira dan menggenggamnya erat.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya pelan.

Samira tidak langsung menjawab. Sejak tadi ia menahan diri. Menahan keinginan untuk membela diri. Menahan dorongan untuk mengatakan bahwa ia tidak selemah yang dikira Christy. Namun ketika Rayhan berdiri di depannya tanpa ragu, memarahinya di depan banyak orang, sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Ia merasa sedih karena sudah dihina di depan semua orang. Karena harus berpura-pura buta dan tidak bisa menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Tetapi di saat yang sama, ia juga merasa hangat.

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya akhirnya, meski suaranya sedikit bergetar.

Rayhan mengangkat tangannya dan menyentuh punggung tangannya dengan lembut. “Maaf aku tidak menghentikannya lebih cepat.”

Samira menggeleng pelan. “Terima kasih.”

Rayhan tersenyum tipis. “Aku sudah bilang. Aku datang ke sini bersamamu.”

Di tengah keramaian pesta yang kembali berlanjut, Samira berdiri lebih dekat padanya. Air mata hampir jatuh, tetapi ia menahannya. Bukan karena lemah, melainkan karena ia tak ingin merusak riasannya dan momen itu.

“Bagaimana jika kita langsung pulang setelah menyapa pengantinnya?” bisiknya seraya mengajak Samira pergi menemui temannya. 

Samira mengangguk pelan, “Baiklah, jika kau tidak keberatan.” 

Rayhan tersenyum lembut. ”Sekali lagi, aku minta maaf atas semua hal yang terjadi. Aku bersikeras untuk mengajakmu, tapi malah jadi seperti ini,” katanya merasa bersalah. 

“Itu semua bukan salahmu, lagipula kita juga tidak bisa menduga akan terjadi hal seperti ini, kan? Biarkan saja, orang-orang bisa terus berbicara sesuka mereka, aku tidak akan pernah bisa untuk membungkam lisan mereka semua. Dibandingkan dengan membungkam, aku lebih baik menutup telingaku sendiri,” kata Samira panjang. 

Dan kalimat sederhana itu justru berhasil membuat Rayhan semakin mengagumi sosok perempuan di sampingnya. 

“Kau benar juga,” sahutnya setengah berbisik. “Bagaimana jika setelah ini kita makan malam berdua?” 

Samira menatap lurus ke depan, tetapi senyuman di bibirnya cukup untuk menunjukkan bahwa ia setuju. 

1
Thewie
semangat Thor.. hajar para ulat bulu
Endang Lestiowati
Luar biasa
awesome moment
ternyata kere
awesome moment
😄😄😄takut y? takut kismin tp...nyolong. gmn dunk
awesome moment
🤭bnr2 buzuk mokondo tu org
awesome moment
klo sdg sndri suusnla strategy
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga kalian berbahagia 😁
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
akhirnya Samira sadar😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Akhirnya kalian tertangkap 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu kuat Samira 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
awas kalian 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa pak Arman meninggal? 😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hati" Samira,nyawamu terancam 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bersiaplah James
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang kau menjadi lebih kuat Samira 👍🏻
HK: Gak boleh menye-menye lagi 🤸
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tak Sudi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak saja 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
psikopat 😏
HK: Bener-bener sikopet 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!