Elleanor puteri Duke Penguasa Kegelapan telah dikutuk sejak dia lahir. Tapi anehnya, dia bisa melihat masa depannya sendiri sejak masih bayi. Dia melihat takdirnya yang terabaikan. Lahir tanpa kasih sayang membuatnya tumbuh menjadi antagonis yang kehidupannya berakhir tragis di tangan pria yang dicintainya.
Takdir seperti itu tidak bisa membuatnya tinggal diam. Dia akan mengubah cerita masa depannya. Apapun yang terjadi!
©A&Y original
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A&Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Papa aku merindukannya, kapan dia Kembali dari perbatasan. Sudah hampir 2 minggu aku tidak bisa menghubunginya. Bahkan Lou pun, dia hanya menyuruhku untuk menunggu kabar. Kak Valiant dan Sebagian besar ksatria ikut ekspedisi, jadi mereka tidak bisa membawakan kabar padaku. Hanya bergantung pada Elvin, tapi sampai sekarang dia belum juga mengunjungiku. Aku selalu teringat Papa, Lent dan kamarku setiap malam, saat aku mataku hendak terpejam. Mungkin ini lah yang Namanya rasa sakit karena rindu rumah.
Tok..tok..tok
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Elaine, apa kau sudah tidur?”
“Aceline?”
Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu untuknya.
“Ada apa Aceline?”
“Elaine. Aku tidak bisa tidur semalaman. Apa kau sudah selesai dengan persiapanmu?”
“Ya, Lou membantuku tadi siang.”
“Baguslah. Kalau begitu, boleh aku menginap disini?”
Aku menahan tawa. Dia terlihat galak di mata orang lain, tapi Aceline adalah gadis manja yang sesungguhnya.
“Tidurlah,” Aku menepuk tempat disebelahku.
Jadi sore ini ada pesta penyambutan siswa baru di Akademi. Kami semua dikumpulkan di Ballroom, setelah itu diwajibkan semua siswa baru mengikuti kegiatan bersama para senior. Kami dibebaskan untuk memilih tempat berkumpul bersama para senior selama 3 hari jadi kami akan menginap. Dan hari ini kami semua dipersilahkan untuk bersiap. Karena acaranya akan dimuali besok malam, tempat kegiatan masih dirahasiakan.
“Aku benar-benar tidak sabar menunggu besok.” Teriak Aceline bersemangat, ditengah malam dia bahkan mengetuk kamarku hanya untuk mengatakan hal itu.
“Aku akan mengobrol di kamarmu malam ini.” Ucapnya.
Baiklah, biasanya orang kalau terlalu bersemangat memang sering sulit tidur.
“Kau pasti berharap senior Rav juga ikut.”
“Benar, aku dengar dia akan menjadi senior pembimbing. Dan kudengar di kamp nanti, juga ada Latihan berburu untuk siswa laki-laki.”
“BERBURU?!” aku berjingkrak.
“Iya. Kenapa?”
“Tidak. Apa Aceline pernah melihat peri hewan?”
“Peri hewan?”
“Ya. Dia yang menjaga para binatang, jika ada satu binatang yang mati, dia akan bersedih satu air matanya akan membuat satu tanaman layu."
"Tapi bukankah kau setiap hari makan daging? Bukankah itu hasil buruan.”
“Iya. Benar juga. Tapi itu aku tidak lihat bagaimana proses membunuhnya,”
“Jadi Elaine tidak suka berburu?”
Aku mengangguk.
“Sayang sekali, tidak apa, kau bisa melakukan kegiatan lainnya besok.”
“Oh iya Elaine, aku sering memikirkan ini sebelumnya. Apa kau tidak pernah mencoba kekuatanmu?”
“Kekuatanku?”
“Ya. Siapa tau saat keadaanmu mendesak, kau masih belum tau kekuatanmu.”
“Makanya aku sedang latihan pedang denganmu kan?” Ucapku.
“Tapi menurutku, kekuatanmu jauh lebih hebat daripada petarung pedang manapun.”
“Dari mana kau tau?”
“Hanya perasaanku saja, sebagai sesama pemilik kekuatan sihir, kau memiliki energi yang besar. lihat, sihir saljuku sepertinya belum ada apa-apanya dengan kekuatanmu. Makanya aku penasaran, apa kau tidak penasaran dengan kekuatanmu sendiri?”
Benar. kenapa aku tidak penasaran dengan kekuatanku? Apa mengundang spirit dan melihat para peri termasuk kekuatan juga?
“Baiklah, Jangan terlalu dipikirkan kita tidur saja atau besok terlambat.” Ucapnya, dia mematikan lampu kamarnya.
“Selamat tidur Elaine.”
“Selamat tidur Aceline.”
***
“Nona apa semuanya sudah siap?”
“Sudah, kan Lou yang membantuku kemarin.”
“Nona ingat, harus selalu berhati-hati diluar sana. Jangan sampai lepas dari Nona Aceline. Mengerti?”
“Mengerti Lou.”
“Saya akan mengawasi Nona dari jauh, jadi Nona tidak bisa macam-macam.”
“Hahahah Lou apa aku terlihat senang sekali membuat masalah ya?”
“Benar. sudah berapa kali Nona hilang? Nona membuat saya khawatir berkali-kali.”
“Baiklah, aku mengakui kesalahanku. Baiklah, Lou apa aku bisa berangkat sekarang?
“Ya. Mari biar saya Antar Nona sampai pintu keluar.”
Lou sudah seperti kakakku sendiri, meski aku sering membuat masalah, dia tidak pernah marah sekalipun. Jika itu Kak Valiant, dia pasti sudah menasihatiku 24 jam, bahkan masih menyindirku terus-terusan agar aku tidak ceroboh. Meski begitu, aku tetap merindukan Kak Valiant.
“Elaine?! Akhirnya kau turun juga.”
“Nona Aceline, saya titipkan Nona Elaine pada Anda,”
“Tenang saja Lou. Dia lebih muda dariku aku pasti akan mengawasinya baik-baik.”
“Hanya beda beberapa bulan saja.” Gerutuku.
“Tetap saja aku lebih dewasa sedikit. Kau harus mematuhiku anak nakal.” Aceline menepuk bahuku.
“Baiklah baik, Lou kami pergi sekarang ya,”
“Hati-hati Nona, saya akan mengawasi Nona ingat.”
“Umm. Ayo Aceline.”
Kami berjalan menuju tempat berkumpul yang sudah ditentukan, dilapangan militer, karena tempat itu luas. Begitu sampai, ternyata kami berdua yang paling terlambat. Semua orang sudah berkumpul di sana.
Ingat. Kalian semua harus melepas gelar bangsawan kalian selama masa pengukuhan ini. tidak ada keluhan! Tidak ada yang boleh merasa paling tinggi! Belajar mandiri! Dan yang terpenting, bangsawan harus bisa berbaur dengan rakyat. Mengerti?!”
“Mengerti!!!”
“Apa yang kalian lakukan di sana?! Kalian terlambat. Berdiri disini.” Perintah salah satu senior. Tentu saja dia pasti berpangkat tinggi. Hanya senior berpangkat tinggilah yang boleh mendidik junior-juniornya.
“Sebutkan nama kalian! Ingat! Jangan bergantung pada nama keluarga.” Perintah salah satu senior lagi. astaga. Baru hari pertama kami bahkan sudah dihukum. Ini semuaaa karena aku yang terlalu lama bersiap.
“Elleanor.”
“Kau?!”
“Aceline.”
“Kenapa terlambat?!”
“…” Aku dan Aceline saling menatap.
“Saya terlalu lama bersiap.” Ucap Aceline tegas. Padahal dia telat karena menungguku.
“Dan Kau?!”
“Saya bangun kesiangan.” Ucapku. Aku tau tidak ada alasan yang bisa dibenarkan.
“Bagus. Puteri klan kegelapan yang bangun kesiangan.” Tiba-tiba seorang senior wanita masuk. Apa maksdunya? Kenapa dia membawa-bawa klanku.
“Permisi. Saya bangun kesiangan. Ini tidak hubungannya dengan klan atau apapun.” Ucapku tegas.
“Kau berani sekali melawan seniormu?!”
Tangan Aceline mengepal. Tidak dia Jangan sampai terlibat. Apa dia pantas disebut senior? Wanita yang mengajarkan kedisplinan tapi mendiskriminasi ras.
“Hey diamlah. Kau tidak tau dia puteri Grand Duke Darcey.” Bisik salah seorang di sebelahnya.
“Ahhh, kau berani karena Ayahmu adalah Grand Duke rupanya?! Ingat. Disini semua orang sama, tidak ada yang diistimewakan.” Ucapnya lagi. Dia senior sungguhan atau abal-abal sih? kok rasanya dia ini tidak professional.
“Dia terlambat. Tidak ada hubungannya dengan klan manapun. Kupikir kau harus lebih menjaga ucapanmu.” Salah seorang lagi memasuki area, dia adalah Rav. Rav? Ah aku lupa, dia juga senior berpangkat tinggi sama seperti Aillard. Kalau begitu? Apa putera mahkota? Tidak. Dia orang sibuk, berpikiranlah yang positif Elaine.
“Pangeran Rav?!”
“Sebelum mendidik junior lebih baik didik dirimu dulu.”
“skakmat. Pangeran Rav benar-benar keren.” Bisik Aceline.
Lalu wanita itu menghentakkan kakinya, dan pergi.
“Alasan kalian tidak dibenarkan. Tapi aku mengapresiasi karena kalian berani berkata jujur. Karena kegiatan ini belum resmi dibuka, jadi kembalilah ke barisan, dan ingat, Jangan diulangi.” Ucapnya bijak.
“Baik.” Akhirnya, kami terhindar dari pusat perhatian.
“Aceline, maaf sudah melibatkanmu.”
“Jangan berkata begitu Elaine.” Aceline tersenyum padaku. Kamipun memasuki barisan.
Sementara itu di barisan lain. “Sial kenapa dia dibebaskan. Ng, Siapa senior wanita itu? aku tertarik dengannya.” Dilain sisi, ada Gail yang ikut menyaksikan drama ini.
“Nona Gail apa kau tidak tau, dia puteri Duke dari wilayah Utara.”
“Ahh, aku belum pernah melihatnya. Menarik. Sepertinya aku punya teman musuh yang sama sekarang.”
***
tbc...