Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sepertiga malam menjelang.
Sunyi merayap pelan di dalam rumah yang terasa terlalu besar untuk satu jiwa yang diliputi sesal.
Rendra membentangkan sajadahnya perlahan. Jemarinya gemetar saat kain itu dirapikan menghadap kiblat. Nafasnya berat, dadanya sesak oleh bayangan masa lalu yang tak kunjung pergi.
Medina.
Istri kecilnya.
Perempuan yang pernah ia lukai, bahkan sebelum benar-benar ia jaga.
Kepalanya tertunduk. Ingatannya berputar ke masa-masa gelap, hari-hari penuh kesalahan, perempuan-perempuan yang hanya ia jadikan pelampiasan.
Semua itu terjadi sebelum ia mampu menggenggam Medina sebagai miliknya. Namun kesalahan terbesarnya… justru lahir setelah ia memiliki Medina sepenuhnya.
Vanessa.
Nama itu kembali menusuk.
Saat Medina sudah sah menjadi istrinya, Vanessa masih ada dalam dekapannya.
Entah kebodohan apa yang dulu menguasai pikirannya.
Rendra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Apa aku memang terlalu serakah dulu?” gumamnya lirih, suaranya bergetar.
“Kenapa aku tak bisa melepaskan, saat seharusnya aku menjaga… saat aku sudah memiliki segalanya?”
Air mata jatuh membasahi sajadah saat ia bersimpuh.
“Ya Allah…” suaranya pecah.
“Setiap malam aku datang pada-Mu dengan wajah penuh dosa. Aku malu, Ya Allah. Aku hancur oleh perbuatanku sendiri.”
Ia terisak, bahunya naik turun menahan tangis.
“Bahkan istriku… istriku sendiri jijik padaku karena masa laluku. Karena kebodohanku.”
“Bagaimana aku harus memperbaiki semuanya, Ya Allah? Bagaimana agar rumah tanggaku bisa bertahan?”
Nama itu kembali keluar dari bibirnya, nyaris seperti doa.
“Medina…”
"Aku sudah tidak peduli segalanya Ya Allah. Aku hanya ingin Medina, kembali ke sisi ku. Kembali menjadi sepasang kekasih seperti dulu kami berumah tangga."
Rendra mengusap wajahnya kasar.
“Medina sempat menelpon, tapi hanya hari itu saja. Aku tak tahu kapan dia pulang. Aku bahkan tak tahu keadaannya hari ini.”
“Sungguh, aku rindu… aku sangat rindu.”
Tangisnya semakin menjadi.
“Begitu sengsaranya aku, Ya Allah. Tak diizinkan menemuinya, bahkan melihatnya saja aku tidak di izinkan oleh orang tua ku…
Aku tersiksa, Ya Allah… benar-benar tersiksa.”
Ia menunduk lebih dalam, dahinya menempel pada sajadah yang basah oleh air mata.
“Aku bertaubat, Ya Allah. Aku menyesal… sungguh menyesal atas semua kelakuanku di masa lalu.”
“Jangan biarkan aku kehilangan dia…”
Isakannya pecah tanpa bisa ia tahan.
Satu ketakutan terbesar terus menghantuinya di setiap doa, di setiap sujud panjang yang ia lakukan malam itu—
Jika suatu hari, Medina berdiri di hadapannya…
bukan untuk kembali,melainkan untuk meminta berpisah.
Rendra menggeleng kencang. "Tidak, aku tidak ingin berpisah dengan istriku. Ku mohon Ya Allah... "
Nafas berhembus, pelan naik turun. Dadanya terasa sesak, masih sesak dan nyeri.
"Pasti seperti ini, sakitnya Medina saat pengkhianatan yang ku lakukan."
.
.
Di sebuah club
Kaki Rendra melangkah lebar, mencari sosok yang baru saja mengganggu istirahat nya. Rendra menggerutu sepanjang jalan.
"Akhirnya ketemu juga!" kesalnya saat matanya tertuju pada seorang pria yang sudah mengglepar di atas sofa tak sadarkan diri.
Rendra melangkah maju, namun tangannya di cekal oleh seseorang.
"Rendra!"
Pria itu menoleh, menatap tak percaya. "Kau?"
"Kenapa kamu kemari, butuh kehangatan kah, heum?"
"Bisa tidak kau diam. Apa memang begini pekerjaan mu yang sesungguhnya?"
"Aku tidak semurah itu, menjajakan diriku pada setiap pria, Rendra!"
"Apa bedanya, dengan saat kau bersama ku?
Kau butuh uang, kau langsung memberi servis terbaikmu. huhh.."
"Ren, aku hancur karena mu. Hidup ku, karir ku. Aku tak punya apapun sekarang!"
"Jadi, karena itulah kau menjual diri lagi agar kau mendapatkan uang yang banyak, begitu?"
"Rennn, kau.. karena kau aku begini... Kamu harus tanggung jawab, Rendra!"
"Kenapa, apa milikmu berkedut karena melihat ku, hah?" Vanessa tercekat. Bagaimana bisa Rendra mengatakan itu, pikirnya.
"Pasti, milikmu sudah basah hanya karena mendengar suaraku. Iya kan?"
"Rendra cukup! Kalau kau memang memikirkan aku seperti itu, ayo! Ayo kita lanjutkan di tempat lain!"
Rendra menepis kasar tangan Vanessa, saat wanita itu hendak meraih pergelangan tangannya.
"Sorry Nes, ada hal yang lebih penting yang harus ku urus!"
Rendra kembali melangkah dan menarik lengan Martin yang tengah tak sadarkan diri.
Pria itu memapah tubuh sahabatnya yang sedang teler.
Sampai di apartemen
Rendra melemparkan Martin di atas ranjangnya. Pria itu bergumam sesuatu, justru yang membuat Rendra semakin kesal.
"Aakhh Rani, abang kangen. Sini kiss..
emmuachh..
Hey Rani, jangan pergi, ayo buka... buka bukaan yuk?"
Martin mulai melucuti pakaiannya. Bahkan ia membuka belt hingga ret sleting celananya.
Semua yang ia kenakan terlempar begitu saja. Lalu Martin ambruk lagi di atas ranjang. Dengan senyum dan desahan juga tawa menggoda.
"Stress emang nih orang. Kalo di video lucu kali ya." Rendra terkekeh lalu menggeplak kepala Martin.
"Aaawsssh sakit sayang.. Ranikuuu.."
Martin kembali terlelap. Rendra memutuskan untuk pulang daripada ikut stress karena sahabatnya.
Sampai di rumah, ia merebahkan tubuhnya yang lelah. Rendra mengusap sisi ranjangnya. Ia masih sangat ingat dengan jelas, saat Medina tertidur di sisinya.
Setiap kecupan ia berikan pada istri kecilnya. Dari rambut, kening, pipi, hidung, leher, tangan dan bibir yang selalu menjadi candu.
"Sayang, mas rindu masa-masa intim bersama mu."
Di tempat lain
Medina meremas tangannya. Dadanya terasa nyeri. "Kok, perasaan ku gak enak ya?"
'lagi-lagi mas Rendra muncul di kepala ku.' batinnya.
Medina mencoba menepis pikiran itu, dan melanjutkan kegiatan pribadinya yang tengah menulis sebuah diary dengan pena yang cantik, di dalam kamarnya.
...----------------...