Soques, merupakan negara yang tepat di mana sebuah Kerajaan berdiri megah.
Dengan kekuasaan yang dimiliki, Raja itu membuat semuanya seolah-olah sebagai permainan hidup. Memilih seorang gadis yang berasal dari Keluarga yang memiliki popularitas sebagai pendamping hidupnya.
Tidak ada rasa manis dalam setiap kehidupan, semua berubah seketika disaat melangkah di kehidupan yang baru.
~Satu Yang Terpisah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekangan Jiwa
"Re-Reolius?"
"Reolius, apa itu?"
"Apa semacam sihir?"
Mendengar nama Roh pedang yang Queena miliki membuat orang-orang penasaran. Tiba-tiba Vianze memutar badannya dan menatap semua pelayan yang membuat sedikit kebisingan.
"Para pelayan keluarlah," Titah Vianze, namun sepertinya perintahnya tersebut belum diterima dengan baik, kini Vianze lebih menekan. "Apa kalian tidak dengar."
"Ba- baik Yang Mulia." Pelayan-pelayan itu berbondong-bondong untuk keluar.
Beberapa dari mereka kecewa karena tidak mengetahui apa itu Reolius. Mungkin Vianze beranggapan bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat Queena yang sebenarnya.
Selain itu, Lenier mendadak diam dan memegang dagunya seperti berfikir dengan keras. Lenier merasa bahwa nama Roh pedang milik Queena tidak asing di telinganya
"Aku kurang mengetahui tentang ini, tapi apa itu Reolius?" Tanya Lenier pada Dokter.
Tok! Tok! Tok!
Lenier berdecak kesal, karena seseorang mengetuk pintu. Gadis itu berjalan dengan wajah kesal dan langsung membuka pintu itu.
"Ada ap!-"
"Lenier aku-" Ucapan Aldone mendadak berhenti. Kedua kakinya spontan langsung memasuki kamar Queena dan mendekatinya.
Sebuah kejutan pun terjadi, kedua mata Aldone yang awalnya berwarna ungu gelap seketika berubah menjadi emas terang. Itu membuat Lenier dan lainnya terkejut.
"Ma- matamu!" Ucap Lenier.
"Apakah ada seseorang pengguna Roh di sini?" Tanya Aldone sambil menutup kedua matanya dengan tangannya sendiri
...👑👑👑👑...
"Apa-apaan, ternyata itu sihirmu." Ucap Lenier.
Sebelumnya Aldone telah menjelaskan tentang kedua matanya yang tiba-tiba berubah warna. Dan itu adalah kemampuan sihir dari Aldone, orang-orang biasa menyebut dengan mata Zue, yang berarti mata sihir, mata yang dapat memprediksi sihir kuat yang berada di sekitarnya.
Dan hal itu terjadi saat Roh pedang Queena bereaksi.
"Aldone Parvore, itu merupakan sihir turun-menurun bukan? Hanya keluarga kalian yang dapat menguasainya dengan baik, walaupun kebanyakan orang-orang di luar sana mencoba untuk menirunya." Jelas Vianze.
Apa yang diucapkan oleh Vianze memang benar, termasuk tiruan yang ia jelaskan. Sihir yang dimiliki oleh Aldone merupakan sihir anugrah, karena menguntungkan. Misalkan saat di medan perang, Aldone dapat memprediksi kekuatan sihir dari musuh, sihir seperti apa yang akan dikeluarkan.
Sampingkan hal itu, kini kembali pada keadaan Queena. Dokter akhirnya menjelaskan pada Aldone apa yang terjadi pada diri Ratu dan tentang Roh yang berada di dalam pedang Queena.
"Roh itu memang berada di pedang milik Ratu, namun tidak sepenuhnya," Aldone mendekat ke arah Queena dan mengamati setiap aliran sihir yang berada di tubuhnya. "Sebagian besar Roh itu berada di tubuh Ratu."
"A-apa?!" Semua orang terkejut termasuk Vianze.
"Ternyata dugaanku benar." Tukas Dokter.
"Tunggu dulu? Roh dalam diri manusia?!" di antara mereka, Vianze lah yang paling terkejut. Melihat dan mendengar dari ekspresi Vianze membuat Lenier bingung.
"Jadi... Anda tidak mengetahuinya, Yang Mulia." Sahut Lenier karena mendengar ucapan Vianze.
"Tahu... Apa?" Tanya Vianze.
"Ratu seperti ini... Karena kekurangan sihir."
...👑👑👑👑...
Di bawah pohon yang rimbun sambil bersantai di atas kursi taman.
"Begitu rupanya." Jawab Leonard sambil memangku Yanze yang sedang bermain.
"Selain itu ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," Ucap Kertia. "Apa itu Roh Reolius?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kertia membuat Leonard kehabisan kata-kata. Tapi dia juga penasaran dari mana Kertia mengetahui hal itu.
"Roh yang kau maksud pasti Roh pembimbing, Roh yang menuntun sang pemilik," Ucap Leonard. "Reolius, itu merupakan nama Roh petir."
Leonard menjelaskan hal yang sama pada Kertia perihal Roh pembimbing. Tapi, kedatangan seseorang membuat suasana hancur.
"Untunglah kalian ada di sini!" Ucap Lenier yang terengah-engah karena berlari mencari seseorang. "Kertia, Leonard, kalian mendapat perintah dari Raja untuk menyampaikan sesuatu kepada Keluarga Molfza."
♤****Satu Jam Sebelumnya**♤**
"Mustahil," Lirih Aldone. "Kita tidak akan bisa membuat Ratu sadar jika Reolius terus menahannya."
Belakangan ini, Reolius menahan jiwa Queena untuk sementara karena alasan pribadinya sendiri, tanpa diketahui siapapun. Aldone berusaha untuk melepaskan kekangan Reolius pada Queena, namun gagal. Roh itu selalu menolak sambil mengucapkan.
"Dasar para manusia bedebah!"
Lenier dari tadi penasaran dengan sikap Vianze, datang tanpa memberitahukan tujuannya. Tapi yang Lenier ketahui bahwa kehadiran Vianze dapat memperburuk keadaaan. Itu membuatnya khawatir pada kondisi Queena.
"Tolong," Lenier berdiri dari duduknya dan menatap ke arah Vianze dengan penuh keberanian dan membuka suara pada Vianze yang duduk sejajar dengannya, Vianze pun menolehkan pandangannya ke Lenier. "Tolong, apapun yang ingin Anda lakukan, jangan membuat Queena terluka." Lenier memberanikan diri untuk berbicara terbuka pada Vianze.
"Lenier apa yang kau katakan?" Aldone berusaha menyudahi ucapan Lenier. Karena dirinya masih fokus untuk mengajak Reolius berkomunikasi.
"Anda sendiri tahu bukan bahwa keadaan Queena sangat buruk karena perlakuan Anda sendiri." Di sini Lenier ingin menumpahkan segalanya yang selalu menimpa Queena.
"Lenier cukup!" Bentakkan dari Aldone tidak membuat gadis itu gentar, seolah-olah Vianze tidak ada apa-apanya.
Vianze juga ikut berdiri secara perlahan, pergerakkan itu membuat Lenier keringat dingin. Tatapannya bagaikan tombak tajam.
"Apa kau tahu-" Ucapan Vianze terpotong untuk pertama kalinya.
"Maaf menyela pembicaraan kalian," Sela Aldone yang telah menyudahi tindakannya. Keringatnya juga bagaikan air mengalir "Tinggal satu jalan lagi, panggil salah satu keluarga Molfza, dengan itu Reolius dapat dipaksa untuk keluar."
♤Sekarang♤
"Ke-keluarga terkenal itu?!" Ucap Leonard karena terkejut.
"Untuk apa kita menemui keluarga hebat itu?!"
Buagh!
"Diamlah kalian berdua!" Bentak Lenier dan memukul kepala mereka bergantian. "Huft... Ratu akan terbangun jika salah satu dari keluarga Molfza yang memaksa Reolius untuk keluar dari tubuhnya."
"Karena mustahil bagi orang yang tidak memiliki darah iblis yang melakukannya. Jika Reolius tidak keluar ia akan terus mengekang jiwa Queena." Lenier menjelaskannya terlebih dahulu sebelum Kertia dan Leonard pergi.
"Hmm... Kau cukup berani juga memanggil nama Ratu dengan sebutan namanya langsung." Ujar Kertia, entah mengapa pembahasannya tiba-tiba ke luar jalur.
"Tentu saja, bukankah gadis ini sahabatnya." Sahut Leonard.
"Tapi kau tahu bukan bahwa Ratu lah yang memiliki posisi tertinggi."
Kertia dan Leonard terus mengatakan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan perintah Vianze maupun penjelasan dari Lenier. Itu membuat gadis yang berdiri di hadapan mereka mengepalkan tangannya hingga urat-urat dapat terlihat.
"Ka.. Lian!"
Bug! Buagh!
"Ma- maaf." Ucap Kertia dan Leonard bersamaan.
"Karena ini sangat penting jadi kalian harus berhasil membawa salah satu keluarga Molfza, siapapun itu," Ujar Lenier. "Seharusnya Vianze yang memerintahkan kalian secara langsung namun orang itu tidak dapat melakukannya."
"Di- dia bahkan berani menyebut Yang Mulia dengan namanya." Batin Kertia dan Leonard.
"Baiklah, aku serahkan pada kalian." Ucap Lenier sambil merangkuh Yanze dalam dekapannya.
...👑👑👑👑...
"A- Anda bisa masuk angin, tolong kembali lah ke kamar." Pelayan itu telah berpuluh-puluh kali membujuk gadis dengan helaian rambut berwarna emas, serta perban yang masih melingkar di dahinya.
"Jangan mengekangku, diam dan ikuti saja!" Bentak Fenith. "Aku penasaran, apa yang membuat Kakak tersayangku meninggalkan diriku cukup lama."
Langkah kakinya bagaikan Sang Pemilik Istana, yaitu Ratu. Keangkuhan dirinya membuat banyak masalah, bahkan seorang Ratu yang memiliki derajat jauh lebih tinggi darinya dapat ia atasi dengan baik.
Fenith merasa bosan karena harus terus berada di ruangan yang hampa tanpa Vianze. Seorang Adik angkat merasa seperti telah menjadi Ratu sekaligus Istri dari Raja.
Bruk!
"Aduh!" Jerit Fenith.
"Ternyata gadis murahan ini." Ucap pelayan itu dengan remeh.
"Hei jaga mulutmu."
"Seharusnya kau yang diam! Ratu seperti ini karena ulahmu bukan?" Tukas Mospi.
"Heh~ jadi dugaanku benar," Ucap Fenith. "Bahwa, Queena dalam keadaan kritis."
"Jaga mulutmu itu!-" Nier tertahan karena pelayan yang lain berusaha agar dirinya tidak membuat masalah dengan Fenith. Karena tanpa bukti pun ia akan selalu tampil di atas panggung yang megah.
"Dasar bocah keparat! Aku bersumpah akan membongkar semua tindakkan mu pada Yang Mulia Vianze." Lenier yang berdiri di belakang para pelayan langsung membuka suara.
"Heh~ ternyata ada temannya~" Fenith menanggapinya dengan senyuman yang sombong.
"Apa yang dikatakan oleh teman pelayanmu itu benar, lebih baik kau tidak mencari masalah denganku jika kau ingin masih menetap di Istana," Balasnya. "Vianze tidak akan pernah mempercayai budak-budak seperti kalian." Fenith menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap remeh Lenier.
"Ka- kau! Tunggu, kau menyebut Raja dengan namanya, berarti-" Ucapan Lenier terputus serta dengan membulatkan kedua matanya.
"Hn... Sudah kuduga, kau memang Putri yang cerdik!" Fenith memuji Lenier dengan senyuman palsunya. "Tentu saja, posisi Queena akan ku singkirkan, secepatnya."
"DASAR KAU BAJ*NGAN!"
♤Posisi Kertia & Leonard♤
Di hamparan pasir, kedua pria yang memiliki perbedaan umur yang sangat jauh tengah berdiri dengan tegap namun dengan kaki yang terus gemetar tiada henti.
"T- tunggu dulu, a- apa ini kediaman Molfza? Aku me- merasakan hawa-hawa berat di sini." Kegugupan Leonard menjalar di seluruh tubuhnya.
"K- kurasa kita benar." Kertia berusaha untuk menemani kegugupan Leonard.
Kini mereka berdua tengah berada di depan gerbang besar yang berwarna hitam dengan patung perunggu berbentuk kepala banteng, dapat dilihat dari kejauhan bahwa Villa dengan nuansa biru malam dan putih dihiasi dengan beberapa corak gold sehingga membuat Vila itu sangat mewah dan besar.
Di sanalah, Vila Keluarga Molfza berada.
kalimat yunze sakti banget bisa bikin raja vianze lsg menghilang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
gemeeeessshhh banget...niat ngerawat kak queena sampe lupa apelnya diabisin sendiri
api emosi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣