NovelToon NovelToon
Leibe Dich Für Immer

Leibe Dich Für Immer

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:133.5k
Nilai: 5
Nama Author: ende

Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.

Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.

"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.

Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf Tidak Menepati Janji

Belum sempat Maira menjatuhkan pantatnya di sofa, dia sudah bersiap-siap pergi lagi ke kampus untuk rapat. Hidup sebagai aktivis memang harus merelakan waktunya yang banyak berkurang untuk sekedar me time. Tidak hanya waktu, tenaga dan pikiran pun harus didedikasikan.

“Kak, maaf ya Maira tinggal dulu… ada rapat soalnya” ucap Maira setelah mempersilahkan Azzam duduk dan memberikan minuman dingin ke Azzam. Dia menyamber tasnya yang sempat dia lempar sembarang di atas sofa.

“Kan ini minggu Mai… udah sore lagi. Siapa sih ketua BEM mu biar kakak yang ngomong sama dia kalo kamu ga bisa ikut rapat”

“Kak… udah deh Maira udah mau telat nih. Ga mau kena omelan lagi, lagian udah hampir 2 minggu Maira ga ikut rapat. Ini aja baru rapat pertama gara-gara nungguin Maira balik ke rutinitas awal”

“Yaudah kalo gitu kakak anterin” tawar Azzam, padahal dia sendiri masih merasa lelah.

“Engga usah kak, Maira bisa sendiri kok… Kakak istirahat aja pasti capek, nanti kalo Maira udah pulang Maira pijitin deh yaaa izinin Maira buat ikut rapat” ucap Maira memohon dengan penuh harap. Azzam menghela nafasnya.

“Ya sudah, nanti pulang jam berapa?”

“Jam 9 kak… Maira naik motor, tenang aja pasti sebelum jam 10 juga udah nyampe rumah. Udah ya kak keburu telat beneran nih… bundaaaa Maira nitip kak Azzam yaa” ucapnya lalu menyalami tangan Azzam dan melabuhkan ciuman takzim dipunggung tangan Azzam. “Assalamualaikum….” Maira melangkah keluar dari rumahnya mengngambil motor di garasi. Tanpa memanasi motornya terlebih dahulu Maira langsung menstarter motor matic kesayangannya lalu keluar dari rumah Maira. Maira melajukan motornya dengan kencang, untung saja body motornya tidak bongsor jadi bebas untuk menyalip kendaraan lain dan menyelinap saat ada celah yang muat untuk motornya.

Biasanya Maira sampai di kampus 30 menit dengan kecepatan sedang, tapi karena dia mengebut hanya butuh waktu 20 menit dia sampai di pelataran kampus. Sesampainya di sana Maira langsung memarkirkan motornya, bodo amat dengan helm yang masih menempel di kepalanya. Dia melirik pergelangan tangannya, ah sialnya dia tetap telat walau hanya 3 menit. Dia berlari sprint ke arah ruang BEM. Nafasnya tersenggal-sengal, saat dia masuk semua yang ada di ruang itu langsung menatap Maira. Maira meringis dia mendekati Gilang sang ketua BEM.

"Bang maaf ya Maira telat... " ucap Maira yang masih ngos-ngosan. Gilang hanya geleng-geleng kepala melihat Maira, dia menyodorkan air minum pada Maira.

"Tenang bibir gua belom nyentuh gelas itu kok... dah lu duduk dulu, minum, atur nafas lu. Masih ada yang belum dateng kok" ucap Gilang pada Maira. Maira mengedarkan pandangannya dan memang benar baru sebagian anggota yang berkumpul. Dia mengatur nafasnya setelah benar-benar rileks baru dia meminum air yang diberikan Gilang.

"Mairaaaa mana oleh-oleh buat gua?" tanya Sherly setelah menyelesaikan aktivitasnya dengan laptop di pangkuannya.

"Astaghfirullah... gua lupa, padahal udah gua siapin dari kemaren. Besok deh kalo rapat lagi gua bawain"

"Buat gua mana Mai?" tanya Rangga dan Aldo bersamaan.

"Iya ada kok buat kalian semua satu-satu... tapi gua lupa ga bawa, abis jemput kak Azzam di bandara soalnya"

"Waahhh ternyata pengantin baru langsung ldr" celutuk Tania yang ada di samping Sherly. Maira tidak menggubris celutukan Tania.

"Berapa orang lagi yang belum dateng?" tanya Galih memecah kericuhan di ruangan itu.

"Bentar bang gua itung dulu... 1, 2, 3, 4, 5, 6,..... 3 orang lagi bang yang belum dateng" ucap Rangga yang menghitung satu persatu manusia yang ada di sana.

"Yaudah biarin aja deh mereka bertiga, Sil lu record sama notulensi jangan lupa!" perintah Gilang pada Sesil. Sesil mengangguk, kemudian mengambil alat tulisnya. Mereka segera membentuk formasi duduk melingkar di atas karpet yang telah digelar pada ruangan itu.

"Oke Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore, salam sejahtera untuk kita semua..." sapa Gilang membuka pertemuan rapat itu, dan yang muslim juga menjawab salam itu dengan serempak.

"Sebelumnya saya minta maaf udah gangu waktu weekend kalian, tapi mengingat acara ini sudah diagendakan dari jauh-jauh hari namun belum terealisasi maka saya beserta anggota inti mendesak agar kegiatan ini segera terealisasikan. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, program bakti sosial ini adalah salah satu wujud kepedulian kita untuk kepentingan masyarakat. Saya berharap semua ikut terlibat aktif dan mengambil peran pada program ini. Baik untuk kepanitiaan sudah kita bentuk lewat forum online beberapa hari lalu, sekarang tugas kita adalah menyusun rencana, mencari donatur atau kita bisa adakan dana usaha... blablablabla" Semuanya tampak menyimak dengan baik. 5 menit sebelum adzan magrib galih menjeda rapatnya, dan akan dilanjutkan setelah isya mungkin bisa dikatakan seperti ishoma.

Selepas solat isya dan perut mereka merasa kenyang, Gilang mengintrupsi untuk melanjutkan rapatnya yang terjeda. Sore tadi mereka sudah menentukan masyarakat dari kampung mana yang akan menerima bantuan dan tinggal menunggu hasil survei untuk menentukan apakah benar-benar layak atau tidak. Jika sekiranya tidak maka akan berpindah ke plan B dengan mengadakan baksos di panti asuhan yang memang sudah pernah ditelusuri dengan benar bahwa panti asuhan itu sangat benar-benar membutuhkan bantuan. Juga Karena adanya 2 planning maka mau tidak mau mereka haarus membuat rincian 2 kali. Sekarang masuk pada pembahasan pengambilan tema, pengumpulan donasi untuk disumbangkan, dan persiapan sarana dan prasarana kegiatan.

"Coba ada yang mau usul untuk temanya dengan plan pertama?" tanya Galih membuka suara.

"Hmmm wait lih, sebelum masuk ke tema nih yaa... keknya gua ada ide deh, gimana kalo kita disana ga sekedar ngasih bantuan materiil aja kek yang udah-udah, tapi di sana kita juga ikut terjun ke masyarakat. misalnya nih kaya ngasih pelatihan, pengajaran pada anak-anak sd, pengembangan SDM atau hal lain deh yang tentunya sangat-sangat bermanfaat bagi mereka. Coba bayangin abis kita baksos di sana dan kampung itu benar-benaar maju, pasti nama kita juga ikut untung" ujar Wahyu, semua mendengarkan dengan seksama.

"Itu boleh kita tampung dulu... Sil jangan lupa woi notulensi" jawab Galih kemudian memberi perintah pada Sesil.

 "Baik ada lagi yang mau ngasih gagasan?" imbuh Galih mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang ada di sana.

"Maira setuju bang sama pendapat Wahyu, kalo perlu sih kita ikut juga buat bebenah lingkungan. Ga cuma di pelatihan dan pengembangannya aja, tapi kita bisa ikut buat sanitasi lingkungan kaya gotong royong, penanaman pohon dsb... Tapi buat lebih terperinci lagi sih seharusnya kita survei dulu buat nentuin apa aja yang diperlukan di kampung itu..." imbuh Maira dengan antusias memaparkan gagasannya. Manusia yang ada di ruangan itupun manggut-manggut setuju.

"Oke gua setuju... kira-kira kapan kita bisa survei?" tanya Galih.

"Gua sih belom ada waktu senggang Lih, besok masih ada kuliah pengganti. Emang dosen-dosen gua minta dikasih hati deh... sering ga masuk tapi tugasnya numpuk belom lagi kalo harus ada kuliah pengganti buat ganttin pertemuan beliau yang ga hadir" ucap Rangga dengan keluh kesahnya.

"Gua juga Lih" ucap Maretha

"Gua juga bang Galih"

"Gua juga bang" bagai burung beo semuanya ikut timpal menimpali pernyataan rangga dan Maretha.

"Jadi kapan kita bisa survei? Agendanya awal masuk kuliah semester genap loh" ucap Galih mengingatkan waktu pelaksanaan acara bakti sosial.

Sementara rapat masih berlanjut, dan jam dinding di sana pun terus berputar. Maira menggigit bibir bawahnya, tadi dia sudah berjanji untuk pulang sebelum jam 10 tapi sepertinya hal itu tidak bisa dia tepati.

"Maaf kak Azzam sepertinya aku benar-benar telat, maaf sudah ingkar janji" gumam Maira menatap jam yang ada di dinding itu dengan perasaan sedih dan takut.

"Semoga kakak ga nunggu aku, semoga kakak udah tidur nyenyak" doa Maira dalam hatinya.

***

Happy Friday, semoga sisa hari ini menyenangkan guys:)

4:19 WIB

Kalo tembus 30 likes sebelum magrib author kasih bonus up malam ini hehehe :v

1
Rabiatul Addawiyah
Lanjut thor
Hestri Surya
lanjuuut..
Dwi Amini
akhirnya up lg,,lanju kak
Wida Listiani
lanjut....
Chikko Yuan
akhirnya nongol....
Nurularswar
Alhamdulillah, terimakasih udah update kak
Rahmayani
akhirnya muncul juga,,,,,
Sriandra Can Cann
aku nungguin thorr😘😘😘😘
Sari Rahayu
ini udah ga dilanjut lg kah tor?
Chikko Yuan
kok gak up up ???
Chikko Yuan
ini ceritanya kapan up thor???
Faza Alila
kok blm up thor
Wida Listiani
smg sehat terus ya...lanjut ..
Dwi Amini
semoga sehat selalu thor,,ditunggu lanjutanya
Rabiatul Addawiyah
semoga sehat terus ya thor... biar bisa up tiap hari 😁
Purwanti Inung
lamaa bener upnya....
Yayah Armand S
knp gak pernah up thor
Dwi Amini
ditunggu up ny thor
Fitria Berkisah
seruuuu
Wida Listiani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!