NovelToon NovelToon
Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Status: tamat
Genre:Fantasi / Barat / Tamat
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Marlia

Tidak ada seorang raja dan seorang ratu, mereka hanyalah keturunan dan pewaris leluhur.

Tidak ada kerajaan, mereka tinggal dan hidup bersama beberapa manusia lainnya.

Tetapi tetua akan selalu ada sebagai penengah dari semuanya dan mereka terbagi menjadi beberapa golongan yaitu Ducis, Feroces, Civitas.
Sampai suatu waktu, warna bulu menjadi masalah besar bagi Tetua G, mereka akan mencari 'mereka yang berbeda dari yang lainnya' yang hidup bersama para golongan.

(Up 1 kali dalam 2/3 hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Marlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tulipa's Balneum milik Perkemahan

Sean masih mengguncang-guncang tubuh Lyra agar perempuan itu bangun dari tidurnya. Dia ingin sekali menyampaikan berita baik kepada Lyra meski semalaman dia dilarang oleh tiga penyihir itu untuk tidak menemui Lyra lebih dulu. Sean sangat mengerti, Lyra pasti sangat membutuhkan waktu untuk sendirian karena dia selalu melakukannya.

Ketika Lyra membuka mata, dia sadar kalau dia sudah berada di tempat yang berbeda meski tetap berada di mobilnya. Bahkan dia ingat terakhir kali dia melihat wajah Rick yang penuh dengan kekhawatiran yang mana Lyra tahu kalau itu tidak dibuat-buat. Lyra berani bersumpah kalau malam itu Rick benar-benar berbeda seperti biasanya, atau mungkin Rick memang menganggap itu sebagai perkenalan awal mereka—persis seperti apa yang Lyra katakan padanya.

Lyra merasa tenang untuk beberapa saat sebelum dia teringat kembali akan takdirnya, tetapi kali ini reaksinya cukup berbeda. Dia berusaha mencoba untuk tetap bertahan pada kenyataan yang ada dan menerima dengan lapang dada. Kini dia tahu, alasan semua orang lebih memilih bertahan dan tetap melanjutkan hidup walaupun takdir setiap makhluk berbeda. Lyra sangat bersyukur, akhirnya dia bisa membuka mata begitu lebar untuk tidak melihat dunia hanya lewat celah-celah kecilnya saja.

Dia membawa matanya untuk melihat bak mobil, berharap Rick ada di sana meski dia tahu lelaki itu pasti sudah sejak lama pergi dari sana. Diam-diam, Lyra juga senang tidak kepalang menyadari kalau malam itu Rick tidak lagi mengkhianatinya—dalam artian lain. Rick malah melakukan hal-hal yang sebaliknya, dia benar-benar berbeda dari serigala Amerika yang Lyra temui di tebing Kota Porstmouth.

"Onyx ingin bertemu denganmu." ucap Sean kelewat senang. "Kau bisa bangun, kan?" tanyanya.

Lyra menyunggingkan senyum sebagai balasan seraya membawa tubuhnya untuk bangun dari tidurnya.

"Meskipun kau bukan seperti Lyra yang ku kenal saat ini, aku senang kau sudah merasa lebih baik." Sean membantu Lyra keluar dari mobil, dia memegang kedua lengan perempuan itu tanpa ragu.

"Sebaiknya aku mencuci wajahku dulu." tukas Lyra yang kemudian bingung akan kemana mencari air.

Sean tertawa kecil, "benar juga, ayo ku antar kau ke tempat para penyihir biasanya mandi. Lagipula, Irish tadinya memberikan pakaian padaku untuk kau gunakan. Aku juga sedang mengenakan baju Chrysler."

Lyra menjauhi Sean tiba-tiba, melihat Sean dari bawah ke atas dan berbalik lagi lalu menautkan kedua alisnya. Dia baru sadar kalau Sean sudah berganti baju, dia nampak lebih fresh.

"Lalu? Dimana milikku?" tanya Lyra yang tidak menemukan apapun di kedua tangan Sean. "Jangan bilang kau lupa menyimpannya." Lyra memicingkan matanya seakan-akan dari tatapan itu mengeluarkan kilatan petir yang dapat menyambar Sean.

Sean tertawa kembali seraya menaruh kedua tangannya di depan dada, "mana mungkin aku membiarkan adik kecilku seperti gembel." bahkan matanya hampir menghilang karena terlalu senang mengejek Lyra yang memang seperti gembel di hadapannya.

Dengan kuat Lyra membanting pintu mobil kemudian berjalan meninggalkan Sean di belakangnya, wajahnya kecut di penuhi kemarahan yang tidak bertahan lama. Dia tidak akan bisa marah kepada Sean lebih dari satu jam, lelaki itu pasti akan terus merayunya agar Lyra menurunkan hipertensinya.

"Sudahlah," seru Sean, kali ini terdengar serius tapi Lyra tahu itu hanya salah satu rayuannya. "kau 'kan tidak mungkin menampakkan diri seperti itu di hadapan banyak orang, kecuali aku." Sean kembali mencoba meyakinkan bahwa dia memang serius.

"Aku tidak peduli." ketus Lyra yang masih berjalan menelusuri dedaunan kering di bawah kakinya.

"Ayolah, aku sedang tidak merayu mu untuk tidak marah dengan ku kok, tapi ini permintaan Nona Yue. Mereka meminta kita untuk ikut sarapan besar bersama penyihir yang lain juga. Kebetulan sekali, salah satu asisten Nona Yue berulang tahun." jelas Sean yang ternyata sudah berada di samping Lyra, dia mencoba menyamai langkahnya.

Lyra berhenti melangkah lalu menatap Sean tajam seraya memikirkan bahwa sarapan besar itu pasti akan memakan banyak waktu dan dipenuhi penyihir yang ada di perkemahan. Lyra tidak mungkin menampakkan dirinya yang sudah seperti gembel itu di hadapan mereka, hal itu hanya akan membuat dirinya merasa malu dan menjadi pembicaraan kalangan para penyihir—meski sebagian dirinya tidak peduli akan penampilan.

Sean masih menunggu jawaban keluar dari mulut Lyra sementara Lyra masih menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia menghindari sarapan besar itu saja, tetapi dia akan sangat kelaparan dan kehilangan banyak tenaga.

"Baiklah," seraya menghembuskan napas, "antar aku sekarang." tukas Lyra.

Senyum Sean kembali melebar, dia tahu Lyra pasti meredakan emosinya. Karena Sean paham betul kalau Lyra tidak bisa marah kepadanya dalam waktu yang lama dan itu hanya berlaku untuknya saja.

Sean membimbing Lyra untuk membuntutinya, sesampainya mereka di depan suatu bangunan yang terbuat dari kayu mahoni berlapis resin, Lyra terbelalak, dia tidak percaya bahwa perkemahan memiliki bangunan sederhana seperti itu yang menarik perhatian, kemudian dia mengingatkan kepada otaknya bahwa apapun yang terjadi di dalam perkemahan adalah nyata adanya dan semua yang ada semua karena sihir.

Dari pintu masuk yang terbuat dari kaca bermotif ornamen bunga tulip di tengah-tengahnya dan ornamen vektor di setiap sisinya muncul seorang wanita berperawakan tinggi dan pria muda di sebelahnya, menyambut Lyra dan Sean yang baru saja akan masuk.

"Selamat datang di permandian Tulipa's Balneum!" seru keduanya serentak yang ditambah senyuman di akhir katanya.

Lyra tersenyum membalas sementara Sean berbicara kepada si pria muda dengan rambut hitam mengkilap. Lyra masuk bersamaan dengan si wanita tersebut dan diberi arahan untuk memilih opsi antara mandi dengan air panas atau tidak dan Lyra memilih opsi kedua. Kemudian sang wanita memberinya satu box paket sedang yang berisikan handuk, sikat gigi beserta pasta giginya, sabun cair dalam kemasan kecil, dan sampo beraroma tulip. Dia tidak menyadari sekelilingnya hingga dia bertemu dengan bilik nomor empat, dimana ruangan itu menyajikan sebuah bak mandi berukuran besar dan dihiasi bunga tulip macam warna di setiap sudutnya. Kemudian wanita itu mempersilahkannya masuk dan memanjakan diri meski Lyra tahu dia tidak punya banyak waktu untuk melakukannya.

"Tunggu!" seru Sean yang setengah berlari menuju kedua orang itu, "ini pakaianmu. Aku akan menunggu di sana, oke." lalu Sean berbalik, menyisakan punggungnya yang semakin menjauh.

Lyra masuk seraya menaruh box pemberian wanita itu di dekat meja yang rasanya memang di peruntukkan untuk menaruh barang tersebut dan pakaian itu. Di sana terdapat sebuah cermin besar yang berembun setinggi tubuhnya, dia berangsur mendekati bak mandi dan mengisinya penuh dengan air dingin. Sementara menunggu bak mandi itu benar-benar penuh, Lyra membuka pakaiannya dan membuka box tersebut sekaligus, lalu menggantungkan handuk di gantungan dinding yang di cat hitam. Sayang sekali tulip di sana tidak mengeluarkan aroma karena mungkin yang di taruh di dalam sana bukan varietas yang mengeluarkan bau harum. Namun, tumbuhan herbal yang tersusun rapi di rak kayu yang berada sebelah cermin besar berhasil menyempurnakan ruangan itu, aroma terapinya sangat membantu.

Beberapa waktu setelahnya, usai dia berpakaian dan merapikan ruangan, Lyra kembali berkaca. Bajunya yang agak longgar pada bagian dada seolah membuat Lyra nampak memiliki dada yang rata, padahal dia punya ukuran yang terbilang cukup besar. Namun, pakaian itu cocok untuknya dan setidaknya dia memiliki penampilan yang tidak buruk seperti sebelumnya. Celana jeans yang agak ketat berhasil membentuk bokongnya, lalu sepatu miliknya sendiri yang sudah kotor—yang sama sekali tidak membantu—tetapi dia tidak mempermasalahkannya sama sekali. Dia kemudian menutupi bekas luka cakarannya menggunakan jaket Onyx lagi, dia tidak mungkin membiarkan bekas luka itu terlihat banyak orang. Lyra merapikan sekali lagi rambutnya dan memastikan tidak ada lagi hal yang dia lewatkan, jemarinya menyentuh lembut kalungnya yang mengeluarkan kilatan cahaya, kemudian Lyra tersenyum. Dia bahkan paling dengan keadaannya yang sedikit memiliki perubahan, seolah telah terjadi presesi di dunianya sendiri yang mana orang lain tidak mengetahuinya.

Lyra melangkah keluar dan menghirup udara dalam-dalam, box yang tadinya tersusun rapi kini agak berantakan dan dia menyerahkannya begitu saja ke pada si wanita seraya mengatakan terimakasih dengan senyuman lebar. Dari sudut matanya dia menemukan Sean sedang berbicara dengan seseorang yang mana hal itu membuat Lyra sempat ragu untuk menghampirinya tapi Lyra tetap melakukannya karena dia sudah kelaparan.

Lyra berdeham untuk meminta perhatian dan kedua orang itu menoleh padanya serentak, Sean langsung bangkit dari sana dan menghampiri Lyra yang jaraknya tidak jauh.

"Ini Lyra," ujarnya kepada orang itu yang akhirnya ikut berdiri juga. "Lyra, ini Suisen." Lyra baru sadar kalau Sean memperkenalkannya dengan temannya itu.

Lyra tersenyum seraya menjabat tangan orang itu, dia laki-laki berkulit putih dengan mata yang kecil alih-alih sipit seperti orang Jepang. Sepertinya dia memang berasal dari sana. Dia tersenyum membalas Lyra yang membuat matanya hanya tinggal garis dan kemudian menyebut namanya dengan aksen Eropa yang fasih. Lyra agak terkejut mendengar itu.

"Kau sudah lama tinggal di Eropa?" celetuk Lyra tanpa basa basi.

Suisen mengangguk, "ya, sejak lahir aku di Eropa. Jangan hiraukan wajahku karena ini hanya keturunan saja." dia menunjukkan wajahnya lalu menyengir lebar.

"Oh, ya, tentu saja." lirih Lyra pelan yang dia harap kedua orang di hadapannya tidak mendengar.

"Apa kau ingin langsung ke sana?" tanya Sean akhirnya.

"Tapi Onyx?" sergah Lyra bingung.

"Itu bisa menyusul, lagipula perutmu juga sudah lapar sekali, kan?" goda Sean.

Lyra menghembuskan napas panjang kemudian mengikuti Sean berjalan keluar bangunan itu bersama dengan Suisen di sampingnya. Dia memang tidak bisa mengkhianati rasa lapar pada perutnya, kalau dia ingin mati kelaparan, mungkin saja dia tidak melakukan apapun yang diminta Sean. Lyra hanya mencoba beradaptasi dengan keadaan di sekelilingnya karena dia memang tidak pernah bertemu terlalu banyak orang selain di sekolah. Rasanya, memang ada yang berbeda untuk sekarang.[]

1
Uti Dewi
suka ceritanya👍👍
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
IntanhayadiPutri
Hy, aku udah mampir lagi nambah like dan jangan lupa mampir pake novel baruku 🙏

RAEL BELLA

Termiakasih🙏
IntanhayadiPutri
Aku mampir nih kak, udah 5 like dan 5 rate juga.. jangan lupa mampir ya ke ceritaku

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

makasih 🙏🙏
Auriell Zeta
Bagus kak❤❤

Maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya
Nureti
Hai kak 👋
Sukses iya untuk karyanya.

Jangan lupa mampir di karya pertamaku, yang menceritakan seorang cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Terimakasih 🙏
Helena Samuel
Unik ceritanya ...bagus
IndahNC: Permisi kak, numpang promo ya♡ mari buat kakak2 semua yang suka novel bergenre romance and teen. Bisa singgah ke karya saya, baik yang judul 'Kamu Tidak Sendiri' ataupun 'Benci Jadi Cinta'😉 kritik dan saran dari kalian adalah apresiasi untuk saya. Buat kakak2 semua yang berkenan jangan lupa mampir♡ di tunggu kak. Mksh
total 1 replies
Ai
next up! semangat nulisnya thorr🤗
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
Ulva Dillah
hai kak aku mampir nih bawa boom like+rate+comment. oh iya kak cerita kak bagus banget👍😍. di tungguh yah kak up selanjutnya. boleh nih mampir di lapak aku"antara cinta dan pengorbanan". makasih kak🤗🤗
Yelda Artika Saputri
hai kakak author , aku mampir nih bawa 36 like + rate+comment .Ceritanya bagus banget , penulisan nya juga rapi .Enak dibaca .Semangat terus ya kak up nya .Ditunggu up selanjutnya .Boleh nih mampir di lapak aku" Dendam atau cinta" .Makasih kakak🤗🤗🤗🤗🤗
Author Vanda: izin promo Thor

mampir yuk di novelku The president daughter and mafia

terima kasih 🌹
total 2 replies
Auriell Zeta
Bagus kak❤

Maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Nalika Junaedi
Ditunggu kelanjutannya
PROMISE🌺
Hallo kk aku mampir membawa like rate fav untukmu 🤗 semangat terus kk feedback karya aku yuk ditunggu kedatangannya 🤗
Nalika Junaedi
Semangat Lyra
fleurlovin
Duhhh kemana aja aku nih! Seseru ini ceritanya~
☁️ ▸ ℝℂℍ ⋆ ࣪. ⩇⩇ || Hiatus
Hai kak,jangan lupa feedback nya "Terlahir menjadi ratu Antagonis" aku tunggu ya!
.
Oh ya cerita nya bagus kos 😆
Nalika Junaedi
Serasa nonton film
dia_
TEMPERATUR OF LOVE 🍁 (18+) dan JEBAKAN UNTUK PERNIKAHAN 🌵 (18+) izin memberikan boom like..

terus semangat berkarya Author terkece 🤩
Pratiwi Rahmadani: izin promosi kak saya baru saja membuat novel tentang cinta & benci mari kak mampir kenovel saya
total 3 replies
Nalika Junaedi
Semangat thor
Nalika Junaedi
Semangat thor...
keren novelnya
Rina Marlia: terimakasihhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!