Konten di novel ini tidak mengandung bawang bombay. Yang ada cuma cabe-cabean dan terong -terongan. Othor nulis ini untuk seseruan aja sambil menghalu bilu.
"Wo Ai Ni. Aku tresno karo kowe, Sha"
Satria, laki-laki bucin, yang terpaksa menikahi adik angkatnya demi sebuah bakti dan balas budi pada ayah dan ibu angkatnya yang sudah menopang hidupnya sedari kecil sejak ditinggal ayah kandungnya ke pangkuan Illahi.
Sementara di sisi lain, dia tak mungkin meninggalkan kekasih hati yang sudah lama menjalin hubungan cinta dengannya, dan sudah saling mengikat janji untuk ke pelaminan.
Dapatkah dia bertahan dengan prinsip hidupnya bahwa menikah hanya berdasarkan cinta, bukan karena terpaksa. Namun mana yang akan dia pilih akhirnya. Membayar hutang budi atau menikahi kekasih hati?
Damn! I love You
IG : novianti_maura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianti Maura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Gencatan Senjata
POV SATRIA
Aku buka kaca mata hitam ku dan ku tenggerkan di atas kepala setelah langkahku tiba di depan pintu lobi kampus Fakultas ekonomi perguruan tinggi swasta ternama dan terkenal mahal di Ibukota ini.
Ku edarkan pandanganku mencari direktory atau petunjuk arah yang biasanya terdapat di beberapa sudut dinding di teras lobi. Tujuan ku adalah coffe shop.
Pernah ku dengar selentingan dari Viona dan Rara bahwa mereka biasanya kongkow di cofee shop yang terdapat di sekitaran Lobby kampus setelah jam kuliah mereka usai. Dan kini sudah jam dua lewat sepuluh menit, biasanya di jam segini mereka sudah keluar dari ruang kelas.
Menurut petunjuk arah, Coffe shop berada tepat di belakang teras Lobi, ku susuri pelataran nya menuju ke sana. Setibanya disana, ku masuki coffee shop yang bergaya cozy itu seraya mengedarkan pandanganku ke setiap sudut nya.
Dan benar saja, cewek-cewek error yang ku cari memang berada di sana, di meja yang terletak di sudut kanan tengah tertawa-tawa cekikikan, entah apa yang mereka sedang tertawakan, paling-paling asik menggoda cowok-cowok yang lewat di hadapan mereka.
“Vi, Ra....” panggil ku ketika aku sudah berdiri tepat di depan meja mereka. Keduanya seketika menghentikan tawa dan mendongak ke arah ku, lalu kompak terperanjat menatap ku.
“Bang Sat? Ngapain ke sini?” Rara yang masih terbelalak bertanya padaku dengan penuh rasa herannya.
“Cari Sha. Mau ngajak makan siang. Mana dia? Tumben gak sama kalian?” Aku balik bertanya karena tak kudapati Sha bersama dua punggawa nya ini.
“Oh, hmmm, kayak nya dia sibuk banget ama skripsinya, Bang. Gak ada waktu untuk mejeng sama kita. Hari ini aja udah dua kali dia bolak-balik temuin Pak Joseph, dosen pembimbingnya,” jawab Rara lagi.
Kali ini tatapannya begitu gugup ke arahku. Terlebih lagi nada suaranya yang terbata-bata sambil sesekali melirik Viona yang masih terbelalak menatapku.
Hmmm, dia ketemu lagi sama dosennya ya. Rasa cemburu mulai kembali menyelimuti hati ku.
“Rajin yah Sha sekarang ke kampus.” sindirku dengan suara menahan geram.
“Ooo, iya Bang, rajin banget dia. Apalagi kalo udah urusan skripsi, pasti semangat banget dia. Ya kan, Vi?” sahut Rara lagi antusias seraya menepuk lengan Viona.
“Eh, Iya. Bener,“ timpal Viona tergagap.
“Coba di telpon aja, Bang. Biar dia kemari nemuin Abang,” saran Rara padaku.
“Ponsel nya gak aktif,” jawabku singkat. Memang tak aktif sejak pagi tadi, karena itulah aku datang ke kampusnya ini ingin mengajaknya makan siang dan sekalian bicara padanya.
“Iya, selalu deh dia begitu. Pokoknya kalo udah ketemu Pak Joseph pasti hanphone-nya di non aktifkan. Mungkin dia takut terganggu kali, ya,” oceh Rara lagi sambil mendelik pada Viona yang masih menyiratkan kegugupannya.
Ucapan Rara makin membuat hatiku panas membara. Apa maksudnya tak mau terganggu saat ketemu dosen pembimbing skripsinya itu? Apa se-privat itu hubungan Sha dengannya hingga tak mau ada satu hal pun yang mengganggu?
“Sebelah mana ruang dosen nya itu?” tanya ku tiba-tiba pada kedua gadis dihadapanku ini.
Keduanya saling berpandangan bingung.
“Eh, abang mau ngapain?" Viona justru balik tanya padaku.
“Aku mau jemput Sha di sana. Gak boleh?”
“Ehm, mending abang tunggu di sini aja. Nanti Rara yang panggilin Sha, Ya kan Ra?”
“Gak usah, biar aku aja yang ke sana. Dimana ruangannya?” Aku bersikeras.
Kedua gadis yang masih senang- senangnya main ini kembali saling bertukar pandang sebelum memberiku jawaban. Tampak jelas kegugupan di sorot mata mereka. Mungkin mereka sudah menduga- duga sebentar lagi akan ada pertempuran sengit antara aku dan dosen itu.
“Nih, abang dari sini keluar dulu, masuk lagi ke Lobi, terus lurus aja sekitar seratus meteran, cari ruangan dosen manajemen. Ada plang nama nya kok.” Akhirnya Rara berdiri menghadap aku dan menjawab pertanyaanku dengan singkat dan jelas.
“Oke, sip. Thanx ya.“
Tanpa membuang waktu lagi aku langkahkan kaki ku cepat menuju tempat yang ditunjukkan oleh Rara tadi. Ruang dosen. Akan aku temui dosen pembimbingnya Sha itu. Aku yakin pasti ada hubungan spesial antara Sha dan dia. Kalau laki-laki itu macam-macam dan berani menantangku, aku pastikan dia ke IGD atau sekalian ke TPU.
Aku tiba di depan ruang dosen manajement, seperti yang tertera pada papan nama di atas pintu. Tertulis nama Joseph Leonardo, MM. Keren juga namanya. Tapi apa orangnya sekeren Satria Sechan, ST? Let’s see.
Ku tempelkan telingaku di daun pintunya, tak terdengar suara apapun dari dalamnya. Kecurigaan ku makin menjadi-jadi. Ada apa ini? Sepertinya aku mencium bau- bau Scandal di dalam sana.
Ku tekan gagang pintunya perlahan, tak sabar ku kuak lebar-lebar. Dan tampaklah Danisha ku berduaan dengan seorang laki-laki yang sangat..... Tua?
Keduanya seketika menoleh padaku. Pandanganku tak lepas pada laki-laki yang duduk di hadapan Sha yang hanya dibatasi dengan meja kerjanya. Begitu juga dia yang membetulkan posisi kacamatanya demi memperjelas penglihatannya pada ku.
Kemudian aku beralih pada Danisha yang menatapku tajam. Dia tampak begitu kagetnya karena keberadaanku yang tiba-tiba di ruangan ini.
“Anda gak bisa ketuk pintu dulu?” tanya laki-laki berumur lanjut itu padaku dengan suara nya yang serak dan berat.
“Ehmm, maaf. Saya mau....” Aku tergagap menjawabnya. Lidahku terasa kelu tak sanggup berkata-kata. Hanya bisa menatapnya kikuk dan menelan salivaku berat.
“Anda siapa? Mau ketemu siapa? Dan keperluannya apa?” cecarnya lagi tanpa merubah tatapan selidiknya padaku.
“Ehm, ini ruangan pak Joseph?” Aku balik bertanya.
“Iya, betul, ini ruangan saya. Anda siapa?”
What? Dia ini yang namanya Pak Joseph? Dosen pembimbing Danisha yang kata si duo kucrut itu dosen yang ganteng, muda dan seksi. Bahkan tergila-gila pada Danisha ku? Menurutku ini dosen terganteng dijamannya, di angkatan tahun empat lima.
Sialan! Dua kutu kupret itu ngerjain aku kayaknya. Mereka sengaja bikin aku cemburu berat. Awas aja kalian, aku kawinin kalian berdua baru tau rasa.
Tapi tunggu, jadi cowok ganteng yang kemarin di lihat Alex jalan sama Sha di mall itu siapa dong? Alex gak mungkin ngerjain aku juga. Otak nya masih sangat waras dibanding duo kucrut itu.
Aah, kusingkirkan dulu kecurigaan ku yang satu itu. Aku urus dulu yang satu ini.
“Ehmmm, maaf, Opa, eh, Pak. Saya supirnya Non Danisha. Saya mau jemput majikan saya ini.” Tiba-tiba satu alasan dadakan seperti tahu bulat yang digoreng dadakan itu muncul dibenakku karena terdesak oleh keadaan yang memalukan yang harus ku hadapi sekarang ini.
“HAH?” Kali ini Danisha terperangah membelalakan matanya geram padaku.
“Ooo, supir. Ada apa?” tanya Pak Joseph sambil melepaskan kacamatanya dan meletakkannya ke atas meja.
“Ini, Pak. Ada keperluan mendesak. Nenek nya Non Danisha meninggal dunia, jadi Non Danisha harus pulang segera.” bilangku sengaja dengan gaya yang sangat sopan dan sedikit ekspresi seolah-olah tengah berduka.
“HAH?” Danisha makin terperangah dengan ucapanku. Bibir pinknya itu makin membulat lebar.
“Ya sudah, Ayo Sha kamu silahkan pulang. Besok saja kamu ajukan lagi bab 3 nya,” ucap Pak Joseph pada Danisha.
“Tapi, Pak. Dia___” Telunjuk Sha mengarah padaku.
“Sudah, sudah. Kamu silahkan pulang. Dan Saya ikut berduka cita atas kepergian nenek kamu, Sha. Semoga kamu tetap sabar dan tabah.” Ucapan belasungkawa dari Pak Joseph meluncur dengan nada nya yang terdengar sangat tulus.
“Ayo, Non. Cepetan, Nenek Non Danisha belum mau dikubur sebelum Non datang, begitu pesannya tadi,” ajakku ikutan memasang raut wajah sedih dan memelas. Tak lupa aku lemparkan kerlingan mata kiri ku padanya dan itu membuat dia makin melotot geram padaku.
Dengan wajah yang cemberut dan kesal, akhirnya Danisha menuruti juga perintah dosennya itu. Dan bergegas keluar ruangan setelah mengucapkan pamit padanya.
Aku mengikuti langkah Danisha di belakang punggungnya dengan lagakku masih berperan sebagai supir yang sedang menjemput majikannya.
“Apa-apaan sih kamu?” ketus Sha geram ketika kami sudah berada di depan mobilnya di pelataran parkir. Dia menatapku sangat gemas seolah-olah ingin menelanku bulat-bulat.
“Panggilan Bang nya mana?” godaku tak peduli pada pertanyaannya.
“Ngapain kamu nekad ke ruangan Pak Joseph!” bentaknya lagi.
“Mau jemput kamu,” Aku masih santai menjawabnya.
“Pake bawa-bawa Oma yang udah meninggal lima tahun lalu, lagi. Ntar di gentayangin Oma baru tau rasa,” umpat Sha gemas.
“Abis alasanku apa lagi? Tiba-tiba kepikiran alasan itu.“ jawabku ringan, membuatnya makin geram menatapku.
“Kamu tau gak, dengan kelakuan kamu itu bisa bikin Sha jadi susah. Itu dosen sensi nya bukan main. Kalo ada kesalahan sedikit aja bisa bahaya sama skripsi Sha. Kamu sengaja mau bikin Sha gak lulus ya?” omelnya lagi lebih sengit.
“Ya maap. Aku gak niat bikin kamu susah, Sha. Aku pengen ngajak kamu makan siang. Yuk.” ajakku lekas berharap bisa meredam emosinya yang tampak masih menggelayut di sorot matanya.
“Ngapain ngajak aku. Ajak sana istri kamu,”
“Ini aku lagi ngajak istri aku,”
“Istri kamu yang satunya lagi.”
Aku menarik nafasku dan menghelanya dengan berat. Keras juga ini anak.
“Sha, aku pengen kita bicara baik-baik. Aku gak suka keadaan kayak gini.” Mohon ku setengah memelas.
“Biar aja keadaan kita kayak gini. Kan gak lama juga, tinggal beberapa bulan lagi. Abis itu kamu bebas dari Sha.”
“Dan kamu juga bebas dari aku, gitu ya maksud kamu.” sergahku dengan nada meninggi.
“Ya iya dong.”
“Dan kamu nikah lagi sama cowok lain?”
“Ya pastinya dong.”
“Terus, anak kamu punya bapak baru selain aku?”
“Ya iya lah.”
Pupus sudah harapanku begitu Danisha tampaknya sudah sangat yakin dengan keputusannya. Fix. Dia sangat membenciku. Apalagi yang harus ku perbuat sekarang untuk melunakkan hatinya?
“Sha benci sama aku ya?” tanya ku lirih.
Namun Sha tidak menjawab, bibirnya terkatup rapat. Pandangannya dingin ke arahku.
“Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, Sha. Ini semua salah aku. Terserah Sha mau apain aku, mau tampar aku sekalian itu lebih baik, daripada Sha diemin aku kayak gini,” ucapku lagi. Ku tatap maniknya yang bening. Dia pun menatap ku lekat. Pandangan kami menyatu sangat dalam.
Lalu Danisha menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang tiba-tiba sendu seraya mengusap-usap perutnya yang tampak membuncit walaupun tak terlalu besar, namun itu sangat menggemaskan bagiku.
“Bang,___”
Yes, dia panggil aku ‘Bang’ lagi. Bunga-bunga bertebaran lagi di hatiku. Dan dia mengangkat wajahnya menatapku dengan bola mata yang berkaca-kaca.
“Sha juga udah cape dengan keadaan ini. Sha gak bisa benci sama abang. Gimanapun juga Bang Sat adalah Abangnya Sha yang harus Sha hormatin. Sha akan jalanin sisa-sisa kebersamaan kita dengan damai, Bang. Demi Ibu, demi papa mama, dan demi bayi Sha juga. Jadi. Lebih baik hubungan kita seperti dulu aja, bang. Seperti sebelum kita nikah. Sha adik abang, dan abang ya kakaknya Sha. Supaya gak ada lagi cemburu buta di antara kita.” tutur Sha lirih mengungkapkan isi hatinya.
Kali ini aku yang tertunduk. Mencoba meresapi setiap kata-katanya. Walaupun ucapannya itu terdengar seperti kepasrahan dari diri Sha, namun aku menghargainya. Jika itu bisa membuat Sha lebih baik, aku pasti menerima. Yang penting aku tidak kehilangan Sha seperti hari-hari kemarin yang begitu menyiksaku.
Aku mengangguk samar, lalu kembali menatap beningnya bola mata nya. Dia masih setia menatap wajahku. Aku tarik bibirku menggambarkan senyum untuknya, dia pun membalas walaupun dengan kekakuan yang masih terlihat jelas.
“Baik, Sha. Kita seperti dulu lagi, Oke.” ucapku akhirnya.
Dan ku ulurkan tanganku untuk meminta jemarinya. Dia pun mengerti. Dia letakkan tangannya di genggamanku dan ku remas lembut seraya menyungging senyum termanisku. Begitupun dia, terasa dia meremas jemariku juga.
Yess, gencatan senjata selesai. Kami berdamai.
Haiiii, Readers.... Othor Update satu- dua bab per hari yah.
Novel ini dibikin dengan alur dan konflik yang ringan aja ya.
Mudah-mudahan suka.
Jangan lupa : Like, Vote, Love, KriSar di kolom komen ya
Terima kasih. Happy Reading.
gak bakal gue hapus dari favorite.. dadaaaah jeki and jeko😁😁😁😁😁
Salute utk Author...🏆🏆🏆
Ide cerita nya mengalir dengan brilliant....👏🏼👏🏼👏🏼🏆🏆
Author plus plus pluuuuss...
Salute sy....
Cerita yg keren abiez...
eeehh.... Bang Sat masih aja ngajak Anna...
emang bener2 gak punya perasaan tuh Bang Sat
Seru abiez nih...
Lanjut Thor...