Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Arini baru saja menidurkan ketiga anaknya. Karena keasyikan bermain bersama Aziza tadi, mereka akhirnya tertidur cepat padahal waktu masih menunjukkan pukul 8 kurang.
Keluarga Davin baru pulang pada pukul 3 sore, karena Aziza yang tidak mau pulang. Kalau tidak diingatkan tentang sang kakek dan tantenya yang mau balik ke Bandung sore itu, mungkin Aziza tak juga mau pulang.
"Sabar, Kak. Nanti Kakak bakalan bisa main sepuasnya sama Aya, Adit dan juga Alif," bujuk Arini kala Aziza terlihat enggan untuk pulang.
"Iya, nanti kita main lagi ya, Ay," ucap Aziza pada Aya. Mereka berdua saling berpelukan dan melambaikan tangan sebelum akhirnya Aziza menghilang dengan mobil yang dikendarai oleh Davin.
Arini keluar dari kamar anak-anaknya. Ia berjalan menuju kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar anak-anak. Arini merasa sangat lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya. Amak juga telah masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam tadi. Walaupun tak banyak, namun acara tadi cukup menguras tenaga mereka.
Baru masuk ke dalam kamar, Arini mendengar suara dari ponselnya. Nada khusus tanda pesan masuk berbunyi. Arini mengambil ponselnya yang terletak di atas meja rias. Terlihat nama Davin di layar ponsel Arini.
Saya ganggu, ngga?
Arini kemudian mengetik pesan balasan untuk Davin.
Ngga, Pak. Ada apa ya, Pak?
Tak lama ponsel Arini berbunyi kembali. Namun bedanya kali ini bukan nada untuk pesan sms, melainkan nada dering penanda telepon masuk yang berbunyi.
"Assalammualaikum," sapa Arini.
"Waalaikumsalam. Saya ngga ganggu kamu kan, Rin?" tanya Davin di ujung telepon.
"Kan udah saya bilang tadi ngga, Pak," jawab Arini.
"Saya takut aja kalau ngeganggu kamu. Anak- anak mana?" tanya Davin.
"Sudah tidur, Pak. Kecapean sepertinya karena main tadi. Aziza udah tidur juga, Pak?" tanya Arini lagi. Ia kini tengah duduk di depan meja riasnya
"Hmm. Siap makan ngga lama langsung tidur. Oh iya, Rin ada yang mau saya tanyakan sama kamu." Karena tadi harus menemani Adit bermain Davin jadi melupakan sesuatu yang harus ia diskusikan dengan Arini.
"Ada apa, Pak?" Wanita itu menghidupkan tombol pengeras suara karena ia ingin membersihkan wajahnya sebelum tidur.
"Apa kamu akan tetap bekerja setelah kita menikah nanti?"
"Hmm, kalau Bapak maunya gimana?" tanya Arini balik.
"Sampai kapan sih kamu mau manggil saya Bapak? Saya calon suami kamu lho!" tegur Davin. Karena kini statusnya sudah menjadi tunangannya Arini, ia merasa terganggu dengan panggilan Bapak yang Arini lontarkan untuknya.
Mendengar keluhan Davin, Arini yang kini tengah membersihkan wajahnya dari milk cleanser dengan kapas terhenti. Ia bahkan tertawa mendengar keluhan itu.
"Hehehe, iya maaf. Panggil apa bagusnya?"
"Ya terserah kamu aja. Asal jangan panggil Bapak."
"Apa ya? By the way kita seumuran, kan?" tanya Arini.
"Terus kamu mau manggil nama aja?" tanya Davin dengan nada bicara sedikit kesal.
"Ya enggak juga. Memangnya saya se tidak sopan itu, manggil nama aja sama suami sendiri."
"Cieee, suami ni," ejek Davin.
"Yaudah ngga jadi aja nikahnya biar ngga jadi suami," rajuk Arini.
"Eh eh eh, serem amat merajuknya sampai-sampai mau batalin pernikahan," ucap Davin sedikit panik. Ternyata yang namanya perempuan tetap sama tingkahnya walaupun usia bertambah, pikir Davin.
"Nanti akan jadi 3 perempuan dalam hidupnya, semoga tetap diberikan kesabaran," batin Davin.
"Bapak sih, ngeselin banget."
"Kan, Bapak lagi." Kali ini Davin yang kembali dibuat kesal dengan Arini. Prahara orang yang lagi kasmaran.
"Ya terus? Davin?"
"Hey, ngga sopan!" tegur Davin.
"Ya terus apaan dong?" tanya Arini dengan nada yang sudah frustasi.
Mendengar suara Arini yang berubah membuat Davin tersenyum disana. Selama kenal dengan Arini, tak pernah Arini berbicara dengan nada yang dibuat-buat manja atau dilebih-lebihkan. Namun hari ini Davin melihat sisi lain dari Arini yang tidak pernah ia ketahui.
"Ya terserah kamu, Rin. Mau manggil uda, ayok. Panggil abang, boleh. Panggil mas juga boleh. Bebas kamu aja," ungkap Davin.
"Hmmm, apaan ya? Pak Davin, kan orang sunda, masa dipanggil uda," ucap Arini.
"Ya kamu kan orang minang. Di minang panggilnya uda, kan?"
"Emang mau dipanggil uda?"
"Ya mau aja. Ngga masalah," ucap Davin santai.
"Yaudah, saya panggil Akang aja kalau gitu," putus Arini.
"Akang?" tanya Davin memastikan. Dari semua panggilan tadi kenapa jadi akang, pikirnya.
"Iya akang. Teman di kampung saya ada juga yang nikah sama orang sunda. Di manggil suaminya dengan sebutan Akang," jelas Arini.
"Jadi kamu ikutan manggil saya Akang juga, gitu?"
"Iya. Ngga apa-apa, kan?" tanya Arini memastikan.
"Coba langsung kamu panggil. Kamu praktekkan langsung," pinta Davin.
"Sekarang?" tanya Arini yang terkejut. Kenapa harus langsung sih, pikir Arini.
"Ya iyalah sekarang. Ayo coba panggil."
Arini beranjak dari duduknya. Dari yang awalnya duduk di kursi meja riasnya kini ia berjalan menuju ranjangnya. Ia berbaring, dan tak lupa mengambil bantal guling yang ada berada di dekatnya. Ia peluk sembari menutup setengah wajahnya. Malu-malu Arini kini seperti anak SMA yang sedang bertelepon dengan pacarnya. Sungguh lucu dilihat.
"Ayo dong, Rin," desak Davin.
"Kang Davin," ucap Arini dengan suara setengah berbisik, seakan akan ada seseorang yang berada disampingnya yang akan mendengar perkataannya. Padahal saat ini ia sedang sendirian di dalam kamarnya.
Suara Arini begitu pelan, namun dapat menggetarkan hati Davin di ujung sana.
"Kecil banget. Ngga kedengeran."
"Eh udah dong jangan godain orang kayak gitu." Volume suara Arini telah kembali seperti semula. Tentu saja hal ini semakin membuat Davin semangat untuk menggoda calon istrinya itu.
"Yang godain kamu siapa juga. Saya cuma minta kamu panggil saya seperti tadi tapi dengan suara yang lebih keras, ngga bisik-bisik kayak tadi," ucap Davin.
"KANG DAVIN!"
"Eh itu teriak namanya," tegur Davin.
"Yaudah dong makanya jangan gangguin orang terus."
Tawa yang sedari tadi Davin akhirnya keluar karena tak tertahan lagi. Lucu sekali dia, batin Davin.
"Yasudah lanjut ke pembicaraan sebelumnya. Kerjaan kamu bagaimana setelah nikah nanti?" tanya Davin yang kembali dalam mode serius.
"Maunya Akang gimana?" tanya Arini balik.
Davin tersenyum manis disana mendengar Arini yang memanggilnya dengan sebutan Akang. Terdengar sangat merdu di telinga Davin.
"Maunya saya kamu di rumah aja, ngurus saya dan anak-anak. Insya Allah gaji saya lebih dari cukup untuk menghidupi kamu dan juga anak-anak kita. Mau nambah anak 1 lagi juga masih bisa," ucap Davin.
"Memangnya masih mau nambah anak lagi? Empat masih kurang?"
"Kalau memang dikasih sama Allah, ya kenapa tidak. Usia kita juga belum tua-tua banget untuk punya bayi," ungkap Davin.
"Jauh banget obrolannya sampai bayi. Akad aja belum," kata Arini.
"Ya ngga apa-apa dong dari sekarang kita bicarakan rencana ke depan kita seperti apa. Kita berdua sama-sama punya pengalaman sebelumnya, walaupun akhirnya berpisah dengan cara yang berbeda. Dengan pengalaman itu aku harap kita berdua bisa menjalankan rumah tangga kita ini jadi lebih baik," harap Davin.
"Aamiin, Kang. Saya mohon juga bimbingan Akang," ucap Arini tulus.
Davin tertawa diujung sana dan tentu saja membuat tanya Arini.
"Kok ketawa?" tanyanya.
"Kamu masih aja kaku. Kayak lagi ngomong sama atasan."
"Kan memang masih atasan saya," jawab Arini.
"Ya terserah kamu aja. By the way kapan rencananya kamu ajukan surat pengunduran dirinya?"
"Dilihat dari tanggal tadi, kayaknya Senin udah harus saya ajuin deh. Kan ada aturan perusahaan juga, kan tentang pengunduran diri."
"Hmm yasudah, sekarang kamu istirahat aja lagi. Pasti kecapean banget hari ini."
"Iya, Kang. Akang juga langsung istirahat. Selamat berlibur dan bersantai juga besok. Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam." Telepon antara Davin dan Arini diputuskan oleh Davin.