Keira adalah gadis dengan masa lalu yang menghantui, kehilangan adik satu-satunya membuatnya hidup dengan rasa bersalah.
Evan adalah bagian dari masa lalu Keira yang ingin membunuh masa lalu dengan membalas dendam termasuk pada Keira.
Bara adalah seseorang yang tak peduli masa lalu dan hanya ingin menyiapkan masa depan bersama Keira. Nada dan Dizza adalah dua orang yang terikat hubungan dan konflik dengan Keira.
Mereka adalah korban dari kekejaman dan keserakahan orang tua yang berusaha mencari kebahagiaannya masing-masing. Namun, seperti pepatah tidak ada mawar tanpa duri, tidak akan ada kebahagiaan tanpa rintangan.
Sanggupkah Keira melewati semua duri dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freezgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Lebih Kental Dari Air
Dizza mengemudikan mobilnya menuju kantor. Ia ingin meminta penjelasan Keira. Tapi baru saja ia akan naik ke lantai atas, perutnya melilit.
"Ah, mengapa perut ini nggak bisa diajak kompromi?" Dizza memutar untuk pergi ke toilet.
Toilet yang dituju Dizza sedang rusak, ia memutar ke toilet lain, dan karena satu toilet rusak, yang lain menjadi penuh. Dizza akan naik memakai toilet di ruangan Keira ketika ia melihat ruangan pegawai kebersihan.
"Yang penting cepat!" Dizza segera berlari memakai toilet milik pegawai kebersihan.
Dizza sudah menyelesaikan ritualnya di dalam toilet, ia baru saja akan keluar ketika ia mendengar suara-suara. Ia mengurungkan niatnya, ia malu bila ketahuan memakai toilet pegawai.
"Ahhhh rapat para dewan direksi sungguh membuat lelah."
"Benar, karena mereka terus rapat, kita jadi nggak bisa makan siang diluar."
"Sebenarnya apa yang mereka bahas?"
"Mereka mendesak agar pernikahan Nona Keira dipercepat."
"Oh ya? Apa hubungannya pernikahan itu dengan dewan direksi?"
"Apa kamu bodoh? Bila Nona Keira menikah dengan pewaris Grup Wijaya maka grup wijaya juga akan menjadi investor terbesar kita. Nyawa kita bergantung pada Nona Keira. Saham perusahaan terus turun akibat kekacauan yang lalu. Pernikahan itu akan membawa banyak perubahan."
"Pimpinan menjual anaknya untuk perusahaan."
"Husssh jangan berkata seperti itu. Bahaya kalau ada yang mendengar. "
"Siapa yang akan mendengar di toilet ini?"
Mereka tertawa.
"Ah, mengapa orang-orang di atas harus menjual diri demi kekayaan?"
"Tidak akan ada yang menjual bila tidak ada yang menawarkan untuk membeli. Itu hukum jual beli, kan? Mereka semua sama saja."
"Kabarnya pimpinan bahkan akan memberikan beberapa persen sahamnya pada Nona Keira sebagai hadiah pernikahan."
"Bukankah itu aneh? Kalau Nona Keira menerima saham itu berarti ia memiliki saham lebih besar dari anak kandung pimpinan? Bukankah itu artinya dia yang akan menjadi pewaris perusahaan?"
Dizza memegang erat pintu toilet. Hatinya bergejolak tak karuan.
Dizza memandang Keira yang berjalan di antara para pemegang saham. Mereka baru saja selesai rapat. Keira berdiri dengan sikap hormat untuk mengantar para pemegang saham meninggalkan perusahaan. Kusuma menepuk-nepuk bahu Keira lalu meninggalkannya.
Keira masih berdiri lalu pandangannya terarah pada Dizza yang menatapnya tajam dari kejauhan.
Beep. Beeep.Beeep. Ponsel Keira bergetar di saku. Ia melihat Dizza sedang menelpon, Keira mengambil ponselnya dan benar Dizza yang menelponnya.
"Ada ap ...."
"Kita harus bicara!" Dizza berkata tajam.
*
Keira menghampiri Dizza yang sudah menunggunya di sebuah danau. Danau itu adalah danau buatan milik Kusuma, salah satu ikon proyek mega hotel. Dizza tak ingin membahas masalah mereka di kantor.
"Dizza, ada apa? Mengapa harus pergi sejauh ini untuk bicara?"
Dizza menatap pengawal di belakang Keira. Ia tertawa sinis.
"Jadi apa karena sekarang Kakak akan menjadi pewaris, maka Kakak selalu pergi dengan pengawalan?"
Keira menoleh ke belakang dan meminta pengawalnya untuk meninggalkan mereka.
"Kakak belum bisa menyetir sendiri, bukankah kamu tahu itu?" Keira menyinggung tentang luka di perutnya. Ia merasa tak enak hati pada Dizza, sesungguhnya perlakuan Kusuma memang berlebihan. Tak mungkin ia menjelaskan pada Dizza sesungguhnya pengawalan itu hanya karena Kusuma takut Keira membuat kesalahan, bukan untuk keselamatan Keira.
"Tentang pewaris, itu hanyalah .... "
"Aku tahu." Dizza memotong. Keira menjadi serba salah, ia tahu bahwa bila ia yang menjadi penerus, itu akan melukai hati Dizza.
"Kakak akan mengembalikannya padamu."
"Tidak perlu. Itu nggak penting untukku. Aku sudah tahu bahwa aku bukan penerus."
Keira memandang Dizza dengan curiga
"Darah selalu lebih kental dari air," Dizza berkata lirih.
"Dizza, kamu ...."
"Aku sudah tahu. Aku sudah tahu semuanya ...." Dizza terisak.
Keira membuang muka sesaat, lalu ia mendekati Dizza untuk memeluknya.
"Sejak kapan kamu tahu? Mengapa kamu menyimpannya sendirian?" Keira menenangkan Dizza.
"Sejak saat Kakak koma, aku tanpa sengaja mengetahui bahwa sesungguhnya Kakak adalah putri kandung ayah, sedangkan aku justru bukanlah anak kandungnya."
Keira tak menyangka bahwa ternyata Dizza sudah mengetahuinya. Ia tak membayangkan bagaimana perasaan Dizza saat mengetahui kenyataan itu sendirian. Ia merasa bersalah pada Dizza, belakangan ini justru ia yang sering menyusahkan Dizza padahal sesungguhnya Dizza juga terluka.
Dizza memang bukanlah anak kandung Kusuma, ayahnya sendiri yang memberitahu Keira. Kusuma tidak pernah memiliki anak dengan wanita lain selain Lestari. Itulah salah satu alasan mengapa sejak lahir Dizza tinggal bersama kakeknya di luar negeri. Kakek Dizza mengijinkan Kusuma menikah dengan Lestari hanya jika Kusuma mengakui Dizza sebagai anak kandungnya. Keira merahasikan hal itu karena tak ingin Dizza terluka. Keira teringat pembicaraannya dengan Kusuma saat pria itu membahas tentang saham.
"*Ayah akan berikan sebagian saham Ayah untukmu."
Keira terperanjat dan agak bingung dengan keputusan Kusuma. Tapi dia mengira semua itu hanya karena dia akan menikah dengan Bara. Demi meyakinkan keluarga Wijaya bahwa dia layak menjadi menantu mereka.
"Sebenarnya Ayah nggak perlu ...."
"Kenapa? Kamu menolak? Kamu sudah tahu kalau Ayah adalah ayah kandungmu, jadi Ayah ...."
"Aku takut menyakiti Dizza, biar bagaimanapun dia ...."
"Dizza bukan saudara kandungmu."
Keira terperangah ke sekian kalinya. Seolah belum cukup dia mendengar tentang kenyataan terkait orang tua kandungnya dan Zea, kini dia pun mendengar kenyataan lain tentang Dizza.
"Tak perlu membahasnya, yang penting kamu tahu bahwa anak kandung Ayah hanya kamu seorang."
Keira terdiam begitupun Kusuma yang kemudian berdiri lalu menatap ke luar jendela.
"Jangan membantah, ini bukan permintaan. Suka atau tidak, kamu tetap harus menerimanya."
"Tapi, Dizza ...."
"Jangan khawatirkan Dizza, Ayah akan mengurusnya. Dia tidak akan terlantar atau kekurangan apa pun. Ayah berjanji pada ibunya untuk merawatnya tapi walau begitu kamu tetap pewaris utama Kusuma Grup!"
"Tapi aku mohon untuk saat ini jangan sampai Dizza tahu ...."
"Itu urusanmu dan ibumu. Ayah tak pernah berniat mengutarakan apa pun pada Dizza. Mengingat dia begitu menyayangimu, Ayah rasa dia tak akan terluka."
Ayah salah, Dizza tetap terluka*.
"Dizza, jangan khawatir, tak akan ada yang berubah. Sejak awal, Kakak nggak pernah berpikir untuk merebut perusahaan itu darimu."
Dizza mendorong Keira agar menjauh.
"Aku bukan ingin membicarakan pewaris!" Dizza tersinggung. Keira menjadi tak mengerti.
"Mengapa sekarang yang ada dalam benak Kakak hanya tentang harta?"
"Dizza...!" Keira ikut tersinggung.
"Mengapa Kakak harus menjual diri demi perusahaan?!"
PLAK.
Keira menampar wajah Dizza. Dizza terkejut, begitupun Keira. Ia tak menyangka ia sanggup melayangkan tamparan di wajah adiknya. Dizza memegang pipinya. Keduanya terdiam menahan emosi.
"Dizza, maafkan Kakak ...."
"Cukup!" Dizza berteriak marah.
"Sepertinya aku telah benar-benar kehilangan Kakakku ...." Dizza terisak.
"Dizza, dengarkan Kakak ...."
"Stop! Mengapa aku harus selalu mendengar Kakak? Mengapa bukan Kakak yang sekali-sekali mendengarkan aku? Apa karena kau seorang Kakak? Apa karena merasa lebih tua dari aku hingga Kakak harus mengambil keputusan sendiri? Mengapa Kakak harus keras kepala dan tidak mau membagi beban bersama?Apakah sebenarnya Kakak tidak pernah menganggapku sebagai saudara?"
Dizza meluapkan emosinya.
Keira kehabisan kata-kata.
"Batalkan pernikahan itu! Jangan menikah hanya karena harta! " Dizza menuntut
"Kakak tidak menikah karena harta!" Keira berteriak.
"Apa kamu nggak memikirkan apa yang terjadi bila perusahaan itu bangkrut? Jangan katakan kamu tega melihat ayah yang sudah membesarkanmu menderita. Jangan bilang kamu nggak memikirkan nasib ribuan karyawan ...."
"Tapi Kakak nggak perlu menjadi malaikat untuk semua orang!" Dizza masih berteriak.
"Ribuan karyawan yang Kakak selamatkan, apa mereka berterima kasih? Mereka bahkan mencela Kakak menjual diri demi harta!"
Dizza jatuh ke tanah dan menangis.
"Keluarga kita menjadi bahan pembicaraan di belakang. Mereka bahkan tega menyebut Kakak wanita murahan."
Keira memejamkan mata. Ia tahu Dizza benar.
"Kalau Kakak tidak keras kepala, Kakak tidak perlu menjadi lilin. Membakar diri demi orang lain. Apa Kakak bahagia melakukannya? Menikah dengan seseorang yang jelas-jelas membuat Kakak sebagai alat pembayaran. Apakah menurut Kakak, Kakak akan bahagia?"
"Dizza, hentikan!"
"Kalau Kak Bara mencintai Kakak sepenuhnya, dia akan berkorban untuk kebahagiaan Kakak. Dia tidak akan meminta Kakak menikah dengannya sebagai jaminan investasi! Itu bukan cinta, itu obsesi!"
"Dizza, hentikan!" Keira tak sanggup mendengar segalanya.
"Kakak sudah memilih jalan ini. Tak ada jalan untuk kembali. Kamu jangan memikirkan kehidupan Kakak. Kamu harus hidup dengan bahagia."
"Bagaimana aku bisa bahagia bila orang yang aku sayangi akan menderita karena kebodohannya?" tanya Dizza menangis.
Keira memejamkan mata, tak bisa mendebat Dizza lagi. Ia memilih meninggalkan Dizza yang masih terisak sendirian.
Salam –Belong to Esme–
Aku mampir lagi, jangan lupa feedback nya kak.
Cuss baaccaa jan lupa tinggalkan jejaak🤗
tkan prfil q aja yaa😍
vielen danke😘
kutunggu feedback like & komenmu di 3 episode terakhir novelku yaa ><
semangatttt💪💪
cinta pak bos hadir😊
Hai kak, aku dah mampir. Ditunggu feedback nya ke ceritaku yg judulnya "If You Hate Me So" ya 💖 Terus semangat berkarya💖
sambungan dukungan boomlike jejak-jejak penduduk bunian 35 episode 😘 saling mendukung ya Thor 😇
salam dari My Cold Guardian Angel♡♡
Yg udah baca, boleh dong minta jempol like, vote, n love favoritenya...
Tq... 😘 Happy Sunday All..