Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Master Penempa 4
Di luar nalar siapa pun yang menyaksikan kegilaan tersebut, Wu Xuan justru menatap lahar yang mendidih itu dengan pandangan buas, lalu kembali memasukkan tangannya jauh lebih dalam, menembus langsung ke pusat inti tungku magma kosmik tersebut.
Tangan kiri Wu Xuan sepenuhnya tenggelam ke dalam pusaran api putih kebiruan yang mengamuk di inti pilar reaktor.
Suhu di titik itu telah melampaui batas leleh material level 30 mana pun yang ada di ruangan tersebut. Kulit Wu Xuan langsung hangus, mengelupas, dan terkelupas hingga memperlihatkan tulang putihnya yang segera retak oleh panas ekstrem. Darah yang mengalir dari lukanya menguap sebelum sempat menetes.
Kengerian mencekik tenggorokan semua orang. Para penempa dan sang asisten membelalakkan mata mereka, wajah mereka seputih kertas melihat pemandangan gore yang disiarkan langsung di depan mata mereka.
Namun, yang lebih gila dari pemandangan itu adalah senyum yang terukir di wajah pucat Wu Xuan.
Pemuda itu tidak sedang menghancurkan dirinya sendiri tanpa tujuan. Otak jenius sang mantan Dao Agung sedang melakukan kalkulasi tinggi. Ia tidak sedang membiarkan api itu membakarnya; ia sedang melahap api tersebut!
Melalui jaringan tulang dan meridian tangannya yang hancur, Wu Xuan memutar Qi emas kehitamannya layaknya sebuah pusaran vakum. Ia menyedot api biru—api yang telah berevolusi berkat ribuan batu spiritual tingkat tinggi—langsung ke dalam aliran darahnya.
"Ini belum cukup," raung Wu Xuan dalam batinnya, berpacu melawan kematiannya sendiri. "Tambahkan lagi!"
Volume Qi di dalam tubuh Wu Xuan terkuras dengan kecepatan mengerikan. Ia membakar hampir seluruh energinya hanya untuk beregenerasi dan menahan api itu agar tidak membakar jantungnya secara instan.
"Tuan Muda kami akan membawa potion penyem—" teriak Xu Xin panik.
"Jangan ganggu aku!" teriak Wu Xuan memotong ucapan Xu Xin, suaranya parau menahan rasa sakit yang bisa menghancurkan kewarasan, matanya memancarkan pendar emas yang liar. "Tambahkan... tambahkan lagi batu spiritualnya!"
Para penempa di belakangnya saling berpandangan dengan lutut gemetar. Tungku itu kini memancarkan hawa panas yang begitu destruktif hingga zirah dan mana pelindung mereka mulai mendesis. Tidak ada satupun penempa, bahkan yang senior sekalipun, yang berani melangkah maju ke dalam radius dua meter dari pilar kaca itu.
Melihat kepengecutan mereka, Tong Peng menggeram marah.
"Menyingkir dari jalanku, cacing-cacing lemah!" raung sang Penempa Nomor 5 Dunia.
Bersama dengan Juhao yang wajahnya mengeras oleh kekhawatiran yang mendalam, kedua pria Mountain Tier itu melangkah menembus gelombang panas. Zirah mana mereka bergetar hebat menahan radiasi api biru tersebut. Dengan tenaga penuh, Tong Peng dan Juhao mengangkat tiga peti batu spiritual tingkat tinggi yang tersisa dan melemparkannya langsung ke dalam mulut tungku.
WUSSSSHHH!
BLAAAR!
Pilar magma itu meledak dalam cahaya biru safir yang membutakan. Panasnya kini benar-benar mencapai ambang batas material Level 40 yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Di pusat ledakan cahaya itu, Wu Xuan menyerap seluruh energi murni tersebut. Matanya terpejam rapat. Di setiap sel miliknya—atau Dantian selulernya—sebuah medan perang energi sedang terjadi. Api biru spiritual bentrok dengan organisme parasit pembentuk tubuh Wu Xuan.
Di bawah kendali Wu Xuan, kedua elemen yang bertolak belakang itu dipaksa memadat, berputar, dan menyatu menjadi sebuah inti energi yang ribuan kali lebih padat dari sebelumnya.
Di dalam retinanya, Sistem Tower merespons pencurian energi paksa ini dengan histeria digital.
[Peringatan FATAL: Anomali Mendeteksi Penyerapan Energi!]
[Target tidak menggunakan metode EXP! Target menciptakan pertumbuhan diluar Sistem!]
[Sistem Tower: Sistem Leveling Luar... Mengurangi kenaikan level sebanyak 80%.]
Namun, kali ini, Akar Spiritual Perpustakaan milik Wu Xuan yang telah ditingkatkan oleh api biru bereaksi dengan kebrutalan yang tak kalah mengerikan.
[Sistem Akar Spiritual: Mengonsumsi Api Spiritual! Kapasitas Meluap!]
[Membalas Debuff Sistem Tower!]
[Kenaikan level ditingkatkan menjadi 100%...]
Di mata para penempa yang menggunakan alat pemindai tambahan, sebuah keajaiban yang menampar logika sains dan sihir terjadi. Sambil menunjuk ke arah pemuda yang bermandikan api biru itu, seorang penempa senior berteriak histeris.
"L-Levelnya! Lihat levelnya!"
Angka di status sistem Wu Xuan yang terpindai oleh sistem tower melompat dengan brutal.
[Level Up! Saat ini Level 12.]
[Level Up! Saat ini Level 13.]
[Level Up! Saat ini Level 14.]
[Level Up! Saat ini Level 15.]
Setiap kali levelnya naik, gelombang kejut Qi meledak dari tubuhnya, meniupkan debu besi di seluruh ruangan. Namun, saat angkanya hendak menyentuh Level 16, Sistem Tower Semesta mengirimkan tekanan absolut dari server yang lebih tinggi. Tulang belakang Wu Xuan berderak keras, dipaksa berlutut satu kaki oleh gravitasi dimensi yang menindihnya.
Sistem Tower memaksanya berhenti di Level 15, menekan peretasan Akar Spiritual. Kebuntuan terjadi.
Wu Xuan tidak melawan tekanan terakhir itu. Ia tersenyum, keringat bercampur darah mengalir di dagunya. Ia tahu kapan harus mendorong dan kapan harus menerima hasil panennya.
"Level 15 sudah lebih dari cukup sebagai fondasi awalku," batin sang ahli strategi.
Namun, Wu Xuan dipaksa mundur sementara oleh Otoritas Menara, pertahanan sistem Wu Xuan sedikit melemah. Sebagian dari layar 'Status Menara' pribadinya, tak sengaja terproyeksikan secara visual ke udara terbuka di tengah ruangan penempaan!
Goliath, Tong Peng, Juhao, dan Xu Xin yang berada paling dekat langsung membelalakkan mata mereka saat membaca teks biru yang melayang di atas tubuh Wu Xuan.
[Nama: Wu Xuan]
[Level: 15]
[Bakat Utama: Perpustakaan - Kelas C (Akar Spiritual)]
[Sub-Bakat Terbuka: Pengendali Jiwa - Kelas B]
[Sub-Bakat Terbuka: Api Biru - Kelas B (Baru Terbentuk!)]
Ruangan itu hening seketika. Bahkan suara gemuruh tungku magma seolah lenyap dari pendengaran mereka. Akal sehat para petinggi itu diremukkan menjadi debu.
Sebuah Bakat Utama yang naik kelas?! Asosiasi kemarin menetapkan 'Perpustakaan' sebagai bakat Kelas E. Namun layar itu dengan jelas menunjukkan Kelas C! Bagaimana mungkin sebuah bakat bawaan berevolusi?!
Dan yang lebih membuat mereka gila... dua buah Sub-Bakat di Level 15?! Di dunia ini, seorang hunter jenius dengan bakat Kelas S sekalipun, hanya akan membangkitkan satu sub-bakat saat mereka menyentuh (Level 21) atau Awakening kedua.
"Dewa Menara..." gumam Goliath, tubuh raksasanya bergetar. Pikirannya berusaha mencerna ini semua. "Bakatnya berubah... Caranya naik level sangat aneh... Monster apa sebenarnya anak ini?!"
Menyadari kebocoran informasi fatal tersebut, aura Juhao dan Tong Peng meledak bersamaan.
Niat membunuh yang sangat kental dan menyesakkan memenuhi ruangan, mengunci setiap penempa di tempat mereka berdiri.
"Tutup mata kalian!" raung Tong Peng, urat di lehernya menonjol.
Juhao melangkah maju, matanya yang biasanya setenang air danau kini sedingin es. "Siapa pun... jika ada satu saja suku kata dari informasi ini yang keluar dari ruangan penempaan bawah tanah ini... aku sendiri yang akan memastikan bukan hanya kalian yang mati, tapi seluruh keluarga kalian akan menyusul tanpa sisa. Mengerti?!"
Para penempa senior dan junior itu serempak menjatuhkan diri, berlutut menyentuh lantai yang panas dengan tubuh gemetar ketakutan.
"M-Mengerti, Tuan! Kami bersumpah atas nama nyawa kami!" teriak mereka serempak.
Di tengah ketegangan mematikan itu, Wu Xuan dengan sangat pelan menarik tangan kirinya keluar dari pilar api biru.
Api di tungku perlahan mereda, kembali menjadi magma merah biasa seolah esensinya telah disedot habis. Wu Xuan mengangkat tangannya ke depan wajahnya. Hanya sedikit luka bakar yang tampak mulai hilang. Kulit pucatnya kini terlihat sangat cerah, namun di balik pembuluh darahnya, aliran api biru redup sesekali berpendar, memancarkan hawa panas yang mematikan.
Ia telah berhasil. Fondasi pertamanya telah terbentuk kokoh, dan hukum api telah masuk ke dalam sistem menara miliknya.
Wu Xuan menepis layar status di udara hingga menghilang. Ia sama sekali tidak mempedulikan kepanikan atau pertanyaan yang berkecamuk di kepala orang-orang di sekitarnya. Pria itu menyilangkan kakinya dan duduk dalam posisi teratai (lotus) tepat di depan meja landasan tempa.
"Paman Juhao," ucap Wu Xuan santai, matanya terpejam menikmati sirkulasi Qi baru di tubuhnya yang kini mengalir layaknya sungai besar. "Jaga aku sebentar. Aku hanya butuh lima menit untuk menstabilkan dan memulihkan sisa energiku."
Wu Xuan kemudian membuka sebelah matanya, menatap lurus ke arah tumpukan logam legendaris di atas meja obsidian. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Setelah energiku pulih," bisik Wu Xuan, nadanya seringan bulu namun seberat gunung, "aku akan menempa ketiga rongsokan di atas meja itu."
Bersambung...