Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual
“Hooaamzz...”
Evelyn mengucek kedua matanya sambil menguap lebar.
“Aku ngantuk,” ucapnya kepada yang lain.
Tatapannya mengarah kepada Evander,
Valerius, Ciel, Kaizer, Raven, dan Lucthen yang terlihat serius sejak tadi.
“Kenapa ritualnya harus jam dua belas malam sih?”
Protes Evelyn sambil mengusap matanya lagi.
Deg.
Seketika semua orang langsung menoleh kepadanya. Mereka saat ini berada di ruang bawah tanah kastel.
Ruangan kuno yang selama ratusan tahun tidak pernah dibuka. Di tengah ruangan itu terdapat peti mati hitam yang masih utuh.
Peti mati tempat tubuh Aria disimpan selama ini. Namun di tengah suasana yang menegangkan itu.
Evelyn justru mengantuk.
“Karena ini malam purnama,” jawab Ciel sabar.
“Dan?”
“Ritualnya hanya bisa dilakukan saat energi bulan berada di puncaknya.”
“Ooh.”
Evelyn mengangguk pelan. Lalu menguap lagi.
“Hooamzz...”
Lucien yang berdiri di dekat peti mati langsung memegang dahinya.
“Ratu.”
“Hm?”
“Ini ritual menghidupkan orang mati.”
“Iya.”
“Kenapa kau terlihat seperti menunggu kelas pagi?”
“Karena memang ngantuk.”
Deg.
Lyrielle langsung menahan tawanya. Sementara Selena memalingkan wajah. Evander sendiri hanya menghela napas kecil.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Iya.”
Evelyn mengangguk.
“Tapi kalau ritualnya lama, aku mungkin tertidur.”
Brummm.
Seketika simbol di tangan kanan Evelyn menyala.
“Aduh.”
Evelyn langsung menatap tangannya.
“Dia marah lagi.”
“Siapa yang marah?” tanya Lucien.
“Suara itu.”
Sunyi.
Lalu Evelyn menirukan nada kesal yang didengarnya.
"Tidak sopan mengantuk saat akan membangkitkan Ratu Nocturne."
Deg.
Lucien langsung tertawa.
“Untuk pertama kalinya aku setuju dengan suara itu.”
“Lucien!”
Namun sebelum mereka kembali bercanda.
Brummm!!
Seluruh ruangan tiba-tiba bergetar.
Aura hitam dan merah mulai memenuhi ruang bawah tanah. Seketika wajah semua orang berubah serius.
“Akhirnya dimulai,” gumam Valerius.
Di depan mereka. Peti mati hitam perlahan bersinar.
Simbol-simbol kuno mulai muncul di lantai batu. Membentuk lingkaran raksasa yang mengelilingi seluruh ruangan.
“Tujuh pilar, ambil posisi kalian.”
Suara dari simbol Evelyn terdengar jauh lebih kuat sekarang.
Seketika.
Valerius berdiri di sisi utara. Evander di sisi selatan.
Ciel, Kaizer, Raven, dan Lucthen mengambil posisi di empat penjuru lainnya.
Menyisakan satu tempat. Tepat di depan peti mati Aria.
Untuk Evelyn.
Deg.
Evelyn menelan ludah. Rasa kantuknya langsung hilang.
Karena sekarang.
Dia bisa melihat dengan jelas.
Tubuh Aria benar-benar berada di dalam peti mati itu. Masih utuh. Masih terlihat seperti sedang tertidur.
“Astaga...” gumam Evelyn.
Dan untuk pertama kalinya malam itu.
Dia benar-benar menyadari bahwa ritual menghidupkan kembali Mantan Yang Mulia Ratu akan segera dimulai.
“Jadi aku harus apa?” tanya Evelyn dengan nada polosnya.
Dia berdiri tepat di depan peti mati Aria sambil melihat ke arah yang lain. Suara dari simbol itu kembali terdengar.
“Pegang dadanya.”
Deg.
Seketika Evelyn membeku.
“Hah?”
“Pegang bagian dadanya.”
“E-eh?”
Wajah Evelyn langsung memerah.
“Kenapa harus di sana?!”
Lucien langsung menutup mulutnya menahan tawa. Sementara Lyrielle dan Selena langsung saling berpandangan.
“Karena itu akan terhubung dengan jantungnya,” jawab suara itu dengan tenang.
“Jantung adalah pusat kehidupan.”
“Oh...”
Wajah Evelyn masih sedikit merah. Namun akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
“Lalu?”
“Tutup matamu.”
“Iya.”
“Dan mereka yang lain harus saling berpegangan.”
Deg.
Tatapan semua orang langsung mengarah kepada suara itu.
“Untuk apa?” tanya Ciel.
“Karena aliran kekuatan kalian harus menyatu.”
“Agar bisa masuk ke tubuh Evelyn.”
“Hah?!” teriak Evelyn spontan.
“Kenapa harus masuk ke tubuhku?”
“Karena kau adalah inti ritual ini.”
Sunyi.
“Tahta Kekuasaan milikmu adalah penghubung antara kehidupan dan kematian.”
“Sedangkan kekuatan mereka adalah bahan bakarnya.”
Deg.
Valerius langsung menyipitkan matanya.
Karena penjelasan itu masuk akal.
“Lakukan sekarang.”
Brummm.
Simbol-simbol kuno di lantai mulai bersinar semakin terang. Seketika semua orang mengambil posisi.
Valerius menggenggam tangan Evander. Evander menggenggam tangan Ciel. Ciel menggenggam tangan Kaizer.
Kaizer menggenggam tangan Raven. Raven menggenggam tangan Lucthen. Membentuk lingkaran kekuatan yang mengelilingi Evelyn.
“Kenapa aku merasa ini ide yang buruk?” gumam Lucien yang berdiri menjaga peti mati.
“Karena biasanya memang begitu,” jawab Lucthen datar.
“Terima kasih atas dukungannya.”
Sementara itu.
Evelyn perlahan mendekati tubuh Aria. Jantungnya mulai berdebar kencang. Karena meskipun tubuh itu terlihat seperti sedang tidur.
Dia tahu.
Wanita di hadapannya telah meninggal ratusan tahun yang lalu.
Dengan gugup, Evelyn mengulurkan tangannya. Lalu perlahan meletakkan telapak tangannya di atas dada Aria.
Deg.
Seketika simbol di tangan kanannya menyala terang.
“Sekarang tutup matamu.”
Evelyn mengangguk. Lalu memejamkan kedua matanya.
Brummmmmm!!!
Dalam sekejap.
Seluruh ruang bawah tanah dipenuhi cahaya merah dan hitam yang sangat terang.
Dan aliran kekuatan dari Valerius, Evander, Ciel, Kaizer, Raven, serta Lucthen mulai mengalir menuju tubuh Evelyn.
Setelah beberapa menit kemudian.
Cahaya merah dan hitam yang memenuhi ruangan semakin kuat.
Evelyn bisa merasakan aliran kekuatan dari Valerius, Evander, Ciel, Kaizer, Raven, dan Lucthen mengalir terus ke dalam tubuhnya.
“Akh...”
Tubuhnya sedikit gemetar. Namun suara dari simbol itu kembali terdengar.
“Berikan darahmu kepadanya.”
Deg.
“Hah?”
Evelyn langsung membuka sebelah matanya.
“Darahku?”
“Iya.”
“Darahmu akan membantu proses ritual lebih cepat.”
Evelyn langsung panik.
“T-tapi bagaimana aku memberikan darahku?”
“Tentu saja dengan—”
Sebelum suara itu selesai menjawab.
Tiba-tiba.
Crttt!
Ujung jari telunjuk kanan Evelyn terluka dengan sendirinya.
Deg.
Setetes darah langsung keluar dari jarinya.
“Heeeeeee!”
Teriakan polos Evelyn langsung menggema di seluruh ruang bawah tanah.
“Astaga!”
“Jariku!”
Lucien yang melihat itu langsung memegang dahinya.
“Kenapa dia malah fokus ke jarinya?”
“Karena itu darahnya sendiri,” jawab Selena pelan.
Sementara itu, Evelyn masih menatap jarinya dengan syok.
“Ini berdarah!”
“Yang Mulia Ratu,” sahut Ciel sabar. “Memang itu tujuan ritualnya.”
“O-oh iya.”
Evelyn langsung tersadar. Membuat Lyrielle hampir tertawa.
“Oleskan darah itu ke bibirnya.”
Deg.
Evelyn langsung menoleh ke arah Aria.
“Eh?”
“Cepat.”
“Baik...”
Dengan sedikit gugup, Evelyn perlahan membungkuk. Lalu mengoleskan darah dari ujung jarinya ke bibir Aria yang pucat.
Setetes.
Dua tetes.
Tiga tetes.
Brummm!!
Seketika seluruh simbol di lantai menyala lebih terang.
“Astaga!” teriak Lucien.
Karena untuk pertama kalinya. Warna pucat di wajah Aria perlahan mulai memudar.
“Lalu tutup kembali matamu.”
Suara itu kembali memerintah. Evelyn langsung mengangguk. Lalu perlahan memejamkan kedua matanya.
Brummmmmm!!!
Dalam sekejap.
Seluruh kekuatan yang ada di ruangan itu langsung mengalir menuju tubuh Aria. Udara bergetar.
Lantai batu mulai retak. Bahkan peti mati hitam tempat Aria berbaring perlahan hancur menjadi debu.
“Ini berhasil...” gumam Valerius tidak percaya.
Sementara Evander terus menatap tubuh ibunya. Dan untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun.
Jantung Aria mulai berdetak kembali.
Deg.
Deg.
Deg.
Satu suara kecil. Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku.
“Ritual selesai.”
Seketika suara itu menggema di seluruh ruang bawah tanah.
Brummm.
Cahaya merah dan hitam yang memenuhi ruangan perlahan menghilang.
Simbol-simbol kuno di lantai mulai memudar.
Aliran kekuatan dari Valerius, Evander, Ciel,
Kaizer, Raven, dan Lucthen juga terputus.
Dan tepat saat itu.
Buk!
Tubuh Evelyn langsung terjatuh ke lantai.
“Evelyn!”
Evander seketika menghilang dari tempatnya dan muncul di samping gadis itu. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Evelyn ke dalam pelukannya.
Tatapan merahnya dipenuhi kepanikan.
“Evelyn!”
Namun Evelyn tidak menjawab. Matanya tertutup rapat. Membuat aura dingin Evander mulai keluar tanpa sadar.
“Ciel!”
“Saya di sini.”
Ciel langsung berlutut di samping mereka dan memeriksa keadaan Evelyn. Sebelum dia sempat mengatakan apa pun.
Suara itu kembali terdengar.
“Tidak perlu khawatir.”
Deg.
Semua orang langsung terdiam.
“Dia hanya kelelahan karena mengantuk.”
Sunyi.
Sangat sunyi. Bahkan Ciel sampai menghentikan gerakannya.
“.Apa?”
Lucien menjadi orang pertama yang bereaksi.
“Dia pingsan karena mengantuk?”
“Iya.”
Suara itu terdengar tenang.
“Sejak awal dia sudah mengantuk.”
Deg.
Lyrielle langsung menundukkan kepalanya.
Bahunya mulai bergetar.
“Jangan...” gumam Selena. “Jangan tertawa.”
“Aku berusaha!”
Sementara itu Ciel akhirnya selesai memeriksa Evelyn. Lalu dia menghela napas panjang.
“Benar.”
“Apa?” tanya Evander.
“Tubuhnya baik-baik saja.”
“Lalu?”
Ciel terlihat seperti tidak tahu harus berkata apa.
“Dia benar-benar tertidur.”
Deg.
Sunyi.
Lalu.
“Hahahaha!”
Lucien langsung tertawa keras.
“Dia membuat semua orang panik hanya karena mengantuk!”
“Lucien.”
Suara Evander terdengar dingin.
“Baik, aku diam.”
Namun senyumnya sama sekali tidak hilang.
Sementara itu.
Valerius yang sejak tadi memperhatikan Aria perlahan membeku.
Deg.
Jari Aria bergerak.
“Aria...”
Suara Valerius bergetar. Seketika seluruh perhatian mereka beralih ke arah wanita yang terbaring di altar batu itu.
Perlahan. Sangat perlahan.
Kelopak mata Aria mulai terbuka.
Dan untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun. Mantan Yang Mulia Ratu kembali menghirup udara dunia yang hidup.
“Selamat datang kembali di dunia, Aria.”
Suara itu tiba-tiba terdengar di seluruh ruang bawah tanah.
Namun kali ini.
Suara tersebut tidak lagi berasal dari simbol.
Deg.
Seketika semua orang langsung menoleh.
Dan untuk pertama kalinya.
Sosok itu benar-benar muncul. Seorang pria berambut hitam panjang dengan jubah hitam kemerahan.
Matanya berwarna merah gelap yang terasa jauh lebih tua daripada siapa pun yang berada di ruangan itu.
Bahkan aura Raja Vampir milik Evander terasa kecil dibandingkan aura yang dimilikinya.
“...”
Tanpa aba-aba.
Valerius langsung berlutut. Diikuti Evander.
Lalu Lucien.
Kemudian Ciel, Raven, Kaizer, Lucthen, Selena, dan Lyrielle.
Tak seorang pun berani berdiri di hadapannya.
Karena mereka semua tahu. Siapa sosok yang selama ini bersembunyi di balik Simbol Kekuasaan milik Evelyn.
“Yang Mulia” ucap Valerius dengan hormat.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Lalu tatapannya beralih kepada Aria yang baru saja membuka mata.
“Aku harap kau bisa membantu Evelyn menangkap pengkhianat itu.”
Aria yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan tubuhnya yang baru hidup kembali perlahan mengangguk.
“Aku akan melakukannya.”
“Bagus.”
Senyum tipis muncul di wajah pria tersebut.
Kemudian.
Tatapannya beralih kepada sosok yang sedang tertidur pulas dalam pelukan Evander.
Evelyn.
“......”
Beberapa detik dia hanya diam memperhatikannya. Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Dia benar-benar berbeda dari yang kubayangkan.”
Lucien langsung menundukkan kepalanya lebih dalam.
Karena jika Evelyn bangun sekarang.
Kemungkinan besar seluruh ruang bawah tanah akan menjadi kacau. Pria itu seolah mengetahui apa yang dipikirkan mereka.
Dan benar saja. Dia tertawa kecil.
“Jika Evelyn melihatku, dia pasti akan heboh.”
Deg.
Lyrielle langsung membayangkan reaksi Evelyn.
"EH?!"
"Jadi selama ini yang bicara itu orang sungguhan?!"
"Kenapa baru muncul sekarang?!"
Membuat bahunya sedikit bergetar menahan tawa.
Sementara itu pria tersebut kembali menatap Evelyn. Tatapannya jauh lebih lembut dibanding saat melihat yang lain.
“Biarkan dia beristirahat.”
“Dia sudah bekerja keras malam ini.”
Kemudian perlahan ia melangkah mundur.
Tubuhnya mulai berubah menjadi cahaya hitam kemerahan.
Sebelum menghilang, ia kembali berkata,
“Dan jangan katakan apa pun kepadanya dulu.”
Deg.
Semua orang langsung terdiam.
“Karena aku ingin melihat reaksinya sendiri saat dia mengetahui siapa diriku.”
Seketika Lucien memejamkan matanya. Karena dia sudah bisa membayangkan betapa hebohnya Evelyn nanti.
Dan untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun. Tawa kecil terdengar di ruang bawah tanah Nocturne.