Mendapat kabar akan kematian kekasihnya membuat Lucy Hart hancur. Dunianya mendadak gelap, dia jatuh ke dasar yang paling dalam namun seseorang, menariknya dari tempat gelap itu. Jared Levin, adalah sahabat baik kekasih Lucy. Dia telah bersumpah pada Daniel untuk menjaga dan mencintai Lucy. Dia selalu ada untuk Lucy bahkan ketika Lucy mengalami kecelakaan yang membuatnya mengalami kelumpuhan, Jared selalu ada untuknya. Dapatkah Lucy melihat ketulusan Jared dan melupakan kekasihnya yang telah pergi dan ketika Jared memutuskan kembali ke Amerika, apakah Lucy akan mencegahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Menerima Kenyataan
Lucy tidak banyak bicara setelah kakinya diamputasi. Dia juga tidak menyentuh makanan yang diberikan oleh perawat. Tatapan matanya kosong, dia tidak pernah menjawab setiap kali Jared mengajaknya berbicara.
Melihat keadaannya justru membuat Jared khawatir. Dia tahu semua itu tidaklah mudah tapi dia tidak suka melihat keadaan Lucy yang seperti itu.
“Tolong jangan berdiam diri seperti ini, Lucy. Jika aku tahu kau akan jadi seperti ini, maka aku tidak akan setuju dengan operasi itu!” Lucy masih diam, tatapannya pun masih terlihat kosong.
“Lucy!” Jared menggenggam tangannya dengan begitu erat, “Mau sampai kapan kau seperti ini? Katakan sesuatu supaya aku tidak merasa bersalah karena telah menyetujui keinginanmu untuk melakukan amputasi,” dia lebih suka Lucy marah padanya daripada Lucy mendiamkannya seperti itu.
Lucy berpaling. Dia tahu dia tidak boleh bersikap seperti itu karena dialah yang menginginkan kakinya diamputasi padahal Jared sudah mencegahnya.
“Please, kau bisa marah padaku dan kau bisa menyalahkan aku atas apa yang telah kau alami tapi jangan mendiamkan aku seperti ini!”
“Maaf,” ucap Lucy dengan pelan, “Maafkan aku,” dia kembali mengulangi ucapan yang sama dan tak dapat menahan air matanya. Dia memang menyetujui untuk mengamputasi kakinya tapi dia tidak pernah menduga setelah melakukan hal itu, dia justru begitu terpukul.
“Aku tidak bermaksud merepotkan dirimu dan aku tidak bermaksud membuatmu berada di dalam masalah. Maaf jika aku tidak berguna dan aku minta maaf telah membuatmu khawatir,” dia mulai mengoceh tidak jelas.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak suka lagi-lagi kau merasa tidak enak hati padaku, Lucy!”
“Jared, kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini dan kau tidak tahu, aku angat merasa bersalah pada dirimu.”
“Untuk apa kau merasa seperti itu? Jika aku tahu begini, maka aku tidak akan mendengarkan perkataanmu dan seharusnya aku tidak menyetujui keinginanmu itu!”
“Ini bukan masalah kakiku, Jared!” Jared benar-benar tidak peka. Bukan masalah kaki yang sedang dia pikirkan saat ini tapi dia memikirkan Jared.
“Lalu apa? Kau berdiam diri seperti ini dan tak mau makan apa pun, jika bukan masalah kakimu. Lalu apa?”
“Aku merasa bersalah padamu. Apa kau tidak mengerti akan hal itu?” Lucy memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Yang Jared pikirkan hanyalah dirinya saja dan pria itu tidak memikirkan diri sendiri. Kenapa?
“Untuk apa kau memikirkan aku, Lucy? Aku baik-baik saja jadi kau tidak perlu memikirkan aku. Aku ingin kau beristirahat yang cukup supaya keadaanmu cepat pulih. Aku akan mencarikan sebuah kaki palsu untukmu agar kau bisa beraktivitas dan kau tidak perlu khawatir karena kaki kirimu bisa disembuhkan.”
“Lihatlah, kau pria paling bodoh yang pernah aku temui. Untuk apa kau mengurus seorang wanita cacat yang hanya akan merepotkan dirimu saja? kenapa kau tidak meninggalkan aku, Jared? kenapa kau selalu memikirkan keadaanku tapi kau tidak pernah memikirkan keadaan dirimu?”
“Kau sangat benar. Aku adalah pria paling bodoh,” Jared diam sejenak, dia seperti memikirkan sesuatu.
“Saat aku mengucapkan sumpah itu pada Daniel, aku sudah menjadi pria bodoh dan sekarang aku benar-benar bodoh karena aku menginginkan wanita cacat ini!” Jared tersenyum dan mengusap wajah Lucy dengan lembut.
“Jangan membenarkan ucapanku!”
“Tidak. Aku mengakuinya. Jadi biarkan pria bodoh ini mengurus dirimu. Kau adalah tanggung jawabku jadi sebagai seorang laki-laki, aku tidak bisa meninggalkan dirimu begitu saja. Daripada aku menjadi seorang pecundang lebih baik aku menjadi pria bodoh.”
“Sebaiknya kau memikirkan hal ini baik-baik, Jared. Aku sudah memberikan kesempatan padamu untuk mengambil keputusan jadi ambil keputusan yang tepat agar kau tidak menyesal di kemudian hari karena kau harus terlibat dengan wanita cacat ini untuk seumur hidup. Masih ada waktu, jadi pikirkanlah!”
“Aku tahu maksudmu. Apa kau pikir aku akan memilih Mikail hanya karena satu kakimu yang tidak ada?”
“Bukankah wanita itu jauh lebih baik daripada aku?”
“Ya, kau benar. Dia memang jauh lebih baik tapi aku tidak memiliki perasaan padanya jadi aku lebih memilih dirimu dibandingkan Mikail dan aku tidak keberatan sama sekali akan keadaanmu ini.”
Lucy tak bisa menahan diri lagi. Tangisannya pun pecah. Dia berkata demikian supaya Jared sadar dan segera meninggalkan dirinya tapi pria itu masih saja memilih wanita cacat seperti dirinya
Lucy menangis meraung. Tangan Jared dipeluk dengan erat. Dia membutuhkannya, tempat untuk menumpahkan segala perasaan yang dia pendam selama ini.
Hanya pria itu satu-satunya yang dia miliki sekarang karena hanya pria itu saja yang peduli dengannya. Jika begitu, dia tidak akan melepaskan Jared sekalipun pria itu mulai jenuh dan bosan dengannya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merebut darinya karena pria itulah yang telah memilih dirinya.
Jared menenangkan dirinya sampai tangisan Lucy berhenti. Rasanya sedikit membaik dan sekarang dia tidak akan ragu lagi menerima pria itu. Dia sudah memberikan kesempatan pada Jared untuk memilih tapi pria itu mengabaikan kesempatan yang dia berikan. Jangan salahkan jika dia mulai terobsesi pada Jared.
“Sekarang makan, aku tidak ingin kau jatuh sakit. Kau bukan balerina lagi jadi makanlah sedikit lebih banyak supaya tubuhmu sedikit berisi.”
Lucy mengangguk. Dia akan bersikap patuh dan tidak akan lagi bertanya kenapa karena pertanyaan itu tidak dapat mengubah apa pun. Mulai sekarang dia akan menerima kenyataan yang ada.
Setidaknya masih ada yang peduli dan menginginkan dirinya. Bukankah dia harus bersyukur? Entah kenapa Daniel meminta bantuan pada Jared, sampai sekarang tidak ada yang mengerti tapi dia sangat berterima kasih pada Daniel karena dia telah meminta bantuan pada orang yang tepat.
Jared memberikan perhatiannya, menyuapinya makan. Dia juga mengganti baju Lucy. Pria itu benar-benar bertanggung jawab dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Perhatian yang dia berikan tidak berkurang sedikitpun. Dia sangat ingin menemani Lucy tapi sayangnya, Robert menghubunginya dan mengatakan jika dia telah menemukan penghianat yang melarikan diri itu.
“Aku harus pergi,” mau tidak mau dia harus meninggalkan Lucy karena dia harus membantu Robert.
“Ke mana, apa akan lama?”
“Tentu saja tidak. Katakan padaku, apa ada yang kau inginkan? aku akan membelikannya untukmu ketika aku kembali nanti.”
“Tidak ada, Jared. Aku hanya menginginkan dirimu saja!”
“Ketahuilah, Lucy. Perkataanmu itu bisa aku artikan dengan cara yang berbeda.”
“Bu-bukan seperti itu maksudku,” wajah Lucy merona, sepertinya dia salah bicara.
“Aku hanya menggodamu,” Jared menghampirinya lalu memberikan sebuah kecupan di dahi, “Aku akan kembali secepat mungkin agar kau tidak bosan. Panggil perawat jika kau membutuhkan sesuatu.”
“Aku tahu, terima kasih,” Pria itu kembali mengecup dahinya sebelum dia pergi.
Jared memerintahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga. Dia tidak mau ketika dia pergi terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Dia Pergi dengan terburu-buru supaya musuhnya tidak lolos dan ketika dia pergi, Mikail datang dengan tujuan ingin bertemu dengan Lucy.
#Lucy