NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Pewaris

Jodoh Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Office Romance / Cintapertama
Popularitas:67.9k
Nilai: 5
Nama Author: Diana Putri Aritonang

Reta Cahya Pariwara. Terlahir sebagai pewaris tunggal kerjaan bisnis sang Kakek, membuat Reta sudah harus memahami dunia usaha sejak dari usia muda.

Karena memiliki tanggung jawab yang begitu besar terhadap perusahaan, membuat kehidupannya selalu disetir oleh sang Kakek yang berwatak tiran, termasuk dalam urusan Jodoh. Reta bahkan dipaksa untuk menerima sebuah perjodohan yang Kakeknya lakukan.

Dan saat perjodohan sudah terjalin. Reta malah kembali dipertemukan dengan Rio-Pria yang merupakan cinta pertamanya. Pertemuan yang sebenarnya sudah didambakan ke-duanya hingga mereka tanpa sengaja melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, sampai mengakibatkan janin tumbuh dirahim Reta.

Akankah Reta memilih bersama Rio setelah mengetahui dirinya yang tengah mengandung? Atau lebih memilih tetap bersama dengan Pria yang telah dijodohkan padanya karena begitu banyak halangan yang datang menghalangi mereka agar tidak bisa bersama. Penasaran? Langsung baca yuk!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32. Susan Dan Nolan.

"Sepertinya kau ingin mencari masalah denganku."

Pria itu tersenyum karena mendapati Wanita cantik yang kini ada dihadapannya terlihat kesal. Tangannya terus saja bergerak menikmati pancake blueberry, suapan demi suapan begitu ia nikmati sembari menatap lekat wajah cantik yang mampu menambah rasa manis pada makanannya.

"Dasar buaya."

Nolan meletakkan alat makan setelah berhasil menghabiskan dua porsi pancake blueberry. Mengusap mulutnya dan segera menegak air minum, Nolan semakin menatap lekat pada Susan.

"Kenapa mengatakan aku buaya?"

Susan mencibir mendengar pertanyaan Nolan. Ia bahkan mengalihkan pandangan ke sembarang arah di sekitar area kafe. Rasanya begitu kesal, sudah hampir satu jam ia duduk di kafe bersama Nolan, tapi ternyata hanya untuk menemani asisten Rio itu menikmati kudapannya.

Tidak seperti saat di sambungan telepon. Susan mengira Nolan meminta bertemu untuk membicarakan hal penting, terutama hal yang bersangkutan dengan atasannya-Reta.

"Jangan menyebut ku buaya. Jika aku menerkam mu, kau akan berakhir dalam waktu lima detik."

Susan memutar bola matanya saat mendengar perkataan Nolan. "Bersikaplah profesional. Aku rasa kau sudah memiliki jam terbang yang padat untuk hal itu."

Nolan tersenyum. Perkataan Susan begitu ambigu di telinganya. Jam terbang yang padat, apakah yang dimaksud Susan saat ia sebagai asisten profesional, atau malah saat ia bertingkah sebagai buaya yang penuh pesona.

"Maafkan aku karena sudah membuat mu kesal," ucap Nolan tulus dan membuat Susan terdiam mematung. "Aku sungguh lapar. Aku bekerja terlalu penuh dan melupakan jam makan siang ku."

Nolan berkata jujur. Dirinya memang tidak sempat makan siang. Asisten Rio itu harusnya makan di apartemen bosnya dengan menikmati makanan yang Ibu Rio bawa dari kampung, tapi karena tidak adanya kehadiran Rio di kantor membuat Nolan harus segera kembali ke perusahaan dan tenggelam dalam setumpuk pekerjaan.

Susan segera tersadar dari diamnya. Ia melirik pada tangan Nolan yang kini tengah menggenggam tangannya yang ada di atas meja.

"Maaf," kata Nolan lagi dan segera melepaskan genggamannya. Ia sungguh refleks menyentuh tangan Susan. Setelah pernah memberikan ciuman pada Susan dan berakhir dengan mendapatkan tamparan, Nolan sedikit menjaga kontak fisik dari asisten Reta itu. Meski sikap tengilnya tidak bisa ia sembunyikan.

Susan hanya mengangguk. Ia juga dengan cepat menarik tangannya dan meremat pelan di atas pangkuan. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dan keringat dingin menghinggapi dirinya.

"Kau pasti tahu kediaman Tuan Zico di sini, kan?"

"Ha?"

Setelah beberapa saat terjebak dalam suasana hening akibat genggaman yang menggetarkan. Nolan akhirnya memilih untuk mulai membuka suara, namun sayang, Susan sepertinya masih belum bisa mencerna dengan baik pertanyaan Nolan.

"Aku ingin mengetahui tempat tinggal Tuan Zico."

"Aaaa...tempat tinggal Tuan Besar," kata Susan dengan mengangguk-angguk kecil. "Aku akan memberikan alamatnya."

Susan bergerak cepat membuka tas, meraih memo kecil beserta alat tulis dan menorehkan beberapa catatan di sana.

"Itu alamatnya," kata Susan Seraya memberikan kertas kecil pada Nolan. "Mereka hanya memiliki dua hunian di sini. Kediaman lama orang tua Nona Reta dan mansion Tuan Besar."

Nolan lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Susan. "Secepat ini kau memberikan alamat pribadi atasanmu, Cantik?" tanya Nolan dan Susan hanya diam mendengarkan. "Bagaimana jika aku berniat jahat dengan atasanmu?"

"Maka kau akan langsung berhadapan dengan bosmu." Dengan cepat Susan memberikan reaksi. "Tapi jika itu... Tuan Besar, aku rasa tidak masalah. Kakek tua itu sepertinya memang perlu segera diberikan sedikit terapi."

Kali ini Nolan tidak hanya tersenyum. Asisten Rio itu tertawa lepas mendengar perkataan Susan.

"Kenapa tertawa?"

"Ternyata kau juga menaruh rasa kesal terhadap Kakek tua itu." Susan mengangguk mendengar perkataan Nolan. Jika tidak mengingat Tuan Zico adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja, bisa saja Susan benar-benar akan memberikan sedikit terapi jantung pada kakek atasannya itu. "Beri tahu aku semua tentangnya," kata Nolan lagi.

"Semua tentangnya? Untuk apa?"

"Aku ingin mencoba membuat jantungnya bergetar," jawab Nolan absurd.

Sontak saja Susan mengerutkan kening. Apa Nolan ingin membuat jantung Tuan Zico bergetar seperti jantungnya beberapa saat yang lalu?. Susan sampai membayangkan hal tersebut dalam benaknya, namun dengan cepat ia tepis dengan menggeleng kecil.

Setelahnya Susan mulai menceritakan apa yang ia ketahui tentang Tuan Zico pada Nolan, termasuk sikap Pria tua itu selama ini pada cucunya-Reta maupun pada karyawan perusahaan. Sikap dingin, tidak punya hati, dan sangat arogan.

"Tidak pernah mau menerima penjelasan apa pun. Dia benar-benar kejam." Perkataan yang menjadi akhir dari panjang lebarnya Susan bercerita tentang Tuan Zico. "Sebenarnya Nona Reta selama ini sama sekali tidak pernah mengungkit Tuan Rio. Apa Tuan Rio dari kalangan biasa?"

"Kalangan biasa?" ulang Nolan. "Maksud mu Kakek tua itu mempermasalahkan asal usul atasanku?"

"Aku tidak tahu pasti, tetapi yang jelas keluarga besarnya adalah orang-orang yang termasuk berkuasa di negara ini." Nolan diam mendengarkan semua cerita Susan. "Tentang hubungan dengan Tuan Maximilan, aku rasa juga didasari hal itu."

"Kau mengenalnya?" Mendengar Susan yang mengatakan nama Maximilan membuat Nolan segera mempertanyakan tentang pria itu. Dan Susan pun menceritakan semua tentang Max pada Nolan, tetapi hanya sebatas dunia bisnis karena Susan tidak mengenal Max secara pribadi. Yang paling ia tahu adalah Max salah satu pengusaha di Swiss yang begitu ingin mendapatkan hati Nona Reta.

"Aku rasa pasangan pengantin baru itu memerlukan bantuan kita." Mendengar semua cerita Susan, Nolan memiliki sedikit rencana.

"Aku menginginkan Nona Reta bahagia. Dia sudah cukup lama menderita dengan segala keinginan kakeknya."

"Berarti kau setuju untuk membantuku?" tanya Nolan dan segera mendapat anggukan dari Susan.

"Deal." Nolan meraih tangan Susan cepat dan menjabatnya. "Kita sepasang kekasih sekarang."

Susan melotot sempurna, ia jelas tercengang mendengar apa yang dikatakan Nolan. Susan berusaha melepaskan genggaman tangan, Pria di hadapannya ini benar-benar tengil.

"Jangan dilepas." Genggaman tangan itu masih bertaut dengan Susan yang terus berusaha melepaskannya. Ia bahkan melirik sekitar karena sekarang mereka berhasil menarik perhatian pengunjung kafe.

"Lihatlah! kau tidak malu sudah membuat keributan."

"Tidak. Memangnya salah kalau aku menggenggam tangan Wanita yang aku suka?" Gerakan tangan Susan terhenti. Ia menatap Nolan yang kini menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Penuh cinta.

Lagi. Jantung wanita bersurai panjang itu berdegup kencang, keringat dingin pun mulai menghampiri. Susan bahkan merasakan kesal yang berlipat ganda karena dirinya yang mudah merasakan sesuatu jika Nolan mulai bersikap manis.

1
cuma baca
haa? gmna2? /Doubt/
Yuni Uni
mana kelanjutannya thor
Resti Yuliani
ihhh najis ama si rio... oon nya ga ketulungan... pasti salah paham lah.
euuhhh pengen getok aja itu kepalanya
Ray Aza
serius nih... reta sm rio itu cuma hidup berdua ya? dimana teman n relasi n klrga mrka? udah tau situasinya knp tetap menutup mata? dan mrka berdua tau posisi lemah tp tdk ada usaha apapun utk keluar dr mslh.,cm baca aja kok rasanya lelah banget yaa.. 😂
Satri Eka Yandri
👍👍
Satri Eka Yandri
yah kok ga di lanjut yah
Annisa Ica
kok gantung thor? kapanlanjutan kisahnya?
Heri Achmadi
lanjut kak
Zuriana Nisa
jangan di gantung kak
Zuriana Nisa
kak kenapa ngak up lagi
Eka Burjo
Luar biasa
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝ мαкmiss ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
setipis tisu di bagi sepuluh gak tuh/Facepalm/
Juna Dong
luar biasa
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
bukannya Nolan yang tadi menyetir? kenapa jd Rio? emang bisa dlm keadaan mobil melaju kencang gantian mengemudi? kecuali flm mission imposible
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞
mencelakai jadi mecelakai

trus aksi knp jd aski????/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
si kakek tertuduh kan... salah sendiri kebanyakan minus🤧🤧🤧
🌞𝓜𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻𝓲𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪🌞: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
〈⎳ FT. Zira
hati mereka saling terhubung ya..🥺🥺🥺
〈⎳ FT. Zira
pelan pelan asal sampe tujuan🚶‍♀️🚶‍♀️🚶‍♀️
〈⎳ FT. Zira
suruhan si plesteran sih kalo ini🤧🤧🤧..

di sini plesteran di sebelah balsem... cocok amatt/Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
Gagallll/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!