Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Minimarket
Mika tambah cemberut.
Tring-tring!
Bunyi bel di atas pintu kaca minimarket berdering nyaring, memotong keheningan malam dan langsung membungkam keluhan Mika.
Sedetik kemudian, suasana yang tadinya sepi langsung berubah berisik ketika serombongan cowok bertubuh tinggi melangkah masuk. Mereka semua masih mengenakan jersey basket sekolah yang tampak basah oleh keringat.
"Kyaaa! Demi apa ini surga dunia?!" pekik Mika histeris sambil menangkup kedua pipinya yang pucat. Melayang berputar-putar di dengan gembira. "Ly! Lihat Evan, Ly!"
Mendengar nama itu, Lylac justru enggan menoleh.
Rupanya, mereka baru saja menyelesaikan latihan fisik di lapangan basket umum yang letaknya memang cuma beda Beberapa gang dari minimarket ini.
"Sumpah, seret banget tenggorokan ku! Pokoknya aku mau borong minuman dingin yang paling jumbo!" seru Jay heboh, memimpin di barisan paling depan dengan gaya hebohnya seperti biasa.
Niki mengekor tepat di belakang Jay. Berjalan santai sambil sesekali memutar-mutar bola basket di ujung jari telunjuknya. "Jangan serakah. Sisain buat yang lain," sahut Niki dengan suaranya yang terdengar dingin tapi santai.
Sementara anak-anak tim basket yang lain langsung berpencar menyerbu kulkas minuman di pojok ruangan, Evan berjalan paling terakhir. Cowok itu tampak sedikit kelelahan, namun sisa tenaganya justru membuat auranya makin kelihatan cool.
Sambil melangkah masuk, Evan mengangkat sebelah tangannya, menyisir rambutnya yang basah oleh keringat ke belakang menggunakan jari-jari tangan. Tindakan acak itu membuat rambutnya jadi agak berantakan, tapi justru malah bikin penampilannya kelihatan berkali-kali lipat lebih keren dan ganteng di bawah sorotan lampu minimarket.
Mika kemudian melayang turun, mendekatkan wajah transparannya hingga hanya berjarak beberapa senti dari pipi Evan yang berpeluh. "Aduh, aromanya maskulin banget! Campuran keringat sama parfum mahal. Gila, cowok ini bener-bener definisi damage-nya gak main-main kalau habis olahraga!"
Hantu cantik itu melesat lagi ke atas pundak Evan, pura-pura bersandar di sana sambil mengedipkan matanya genit ke arah Lylac. "Ly, buruan dong tatap matanya! Masa aset negara secakep ini dicuekin sih? Lihat tuh dada bidangnya di balik jersey, astaga... kalau aku masih hidup, udah aku pepet duluan. Kamu mah kelewat lempeng jadi cewek!"
Mika terus mengompori dengan berisik tepat di samping telinga Lylac, sementara Lylac tetap fokus menatap layar mesin kasir, sekuat tenaga menahan diri agar tidak mendelik jengkel pada hantu genit itu di depan Evan.
Lylac menipiskan kesal. Anda suara Mika bisa didengar nanyak orang, pasti geng basket menoleh ke arah dia serempak.
Mata tajam Evan langsung bergerak, lurus menatap ke arah meja kasir. Sejak awal melangkahkan kaki melewati pintu, dia memang sudah tahu siapa yang akan dia temui di balik meja itu.
Jay memimpin rombongan anak basket menuju meja kasir dengan kedua tangan yang penuh memeluk botol-botol minuman dingin. Namun, begitu langkahnya tinggal dua meter dari meja, cowok itu mendadak mengerem mendadak sampai anak-anak di belakangnya hampir bertabrakan.
"Hei, kamu?" Jay melongo. Matanya mengerjap tidak percaya menatap cewek berseragam kasir di depannya. Dia langsung menoleh ke belakang, menyenggol lengan Evan dengan heboh. "EVan! Lihat deh! Ini bukannya anak sekolah kita?"
Mendengar seruan Jay, Niki dan beberapa anak basket lain langsung ikut menengok. Suasana kasir seketika berubah agak riuh oleh bisikan-bisikan penasaran mereka. Mereka tidak menyangka cewek penyendiri yang sempat bikin heboh sekolah tadi siang ternyata ada di sini.
Evan yang berdiri di barisan belakang hanya diam. Alih-alih ikut terkejut seperti teman-temannya, cowok cool itu tetap tenang dan memilih untuk tutup mulut. Dia sama sekali tidak berniat memberi tahu Jay atau yang lain kalau dirinya sudah tahu soal pekerjaan paruh waktu Lylac ini sejak lama.
Baginya, itu bukan konsumsi publik. Evan hanya menatap Lylac dengan pandangan lurus yang sulit diartikan, mengabaikan Jay yang masih sibuk menyenggol bahunya meminta jawaban.
"Hai, Lylac!" sapa Nuno sopan.
"Hai." Lylac tersenyum ramah.
"Hei," sapa Niki ikut-ikutan. Mereka juga pernah ngobrol dikit saat di sentrap karena kurang lengkap atributnya. Jadi Nikierasa kenal.
"Ya," sahut Lylac sambil mengangguk datar.
"Kalian dah pada kenal?" Jay heran. Karena dia bermaksud menggoda Evan malah lainnya menyapa cewek ini duluan. jadi serasa dia asing sendiri karena tidak kenal.
"Sudah ini saja?" tanya Lylac.
"Ya," sahut Jay.
Dengan gerakan yang sangat efisien, tangan Lylac mulai mengambil botol minuman dari hadapan Jay satu per satu, men-scan kode batangnya hingga bunyi pip-pip mesin kasir terdengar teratur memenuhi ruangan. Dia benar-benar tidak peduli pada kasak-kusuk mereka.
"Anak-anak sering kesini ya?" tebak Jay penasaran.
"Aku enggak terlalu hapal," jawab Lylac masuk akal.
Melihat Lylac yang super cuek, Jay hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu mundur teratur.
Giliran Evan yang melangkah maju ke depan meja kasir untuk mengeluarkan dompetnya. Cowok itu berdiri tegap menatap Lylac dengan sangat tenang tanpa ada rasa terkejut sedikit pun di matanya.
Jika biasanya dia sekedar melihat, kali ini agak lama. Bahkan sesekali ia melihat ke sekitar Lyalc. Dia sedikit curiga sama Lylac yang sering bicara sendiri. Menurutnya, cewek ini tidak akan melakukan hal konyol dan sia-sia tanpa ada artinya. Tapi dia tidak menemukan apa-apa disekitar Lylac.
"Kenapa dia melihat ke sekitar kamu, Ly? Kayak lagi mencari sesuatu. Apa dia pikir kamu yang suka bicara sendiri itu pasti lagi bicara pada seseorang yang tak kasat mata? Bicara sama hantu, gitu." Rupanya Mika sedikit sadar.
Benarkah? Lyalc yang sedang melakukan transaksi pembayaran di komputer ikut berpikir. Evan memang sempat curiga dan malah bertanya apa dirinya indigo.
Mika mencoba mengetes. Dia melayang-layang di depan Evan, di atas, dan disamping tapi nyatanya cowok ini tidak bisa melihatnya.
"Bersih. Dia enggak bisa lihat aku, tapi tatap matanya kayak sengaja mencari sesuatu yang hanya bisa dilihat kamu, Ly." Mika menyimpulkan.
Benar, kan? Pasti dia curiga aku memang bicara sama hantu. Mungkin dia enggak bisa lihat tapi dia merasakan.
"Jadwal kerjanya malam terus, Ly?" tanya Evan.
"Ya." Meski Lylac enggan tidak sopan. Makanya dia tetap menjawab meski malas. Lylac menyerahkan barang belanjaan pada Evan setelah selesai transaksi. "Terima kasih," ucap Lylac formal.
Evan tersenyum sebelum melangkah keluar minimarket.
Sepeninggal geng anak basket, Lylac mengenal nafas. "Benarkah dia mencoba mencari sesuatu seperti aku mencoba bicara padamu?" tanya Lylac pada Mika.
"Benar." Mika yang tadinya berada di dinding kaca untuk melihat kepergian Evan kini melayang mendekat.
"Apa nanti dia bakal lihat kamu?" terka Lylac.
"Aku berharap iya." Mika langsung girang. Padahal ini hanya andai-andai saja.