Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Benjamin benar-benar datang keesokan harinya dan membuat Mia tidak senang. Apalagi dengan pura-pura tidak ada yang terjadi selama ini. Menyebalkan. Dia hanya bisa tersenyum karena tidak ingin ibunya resah.
"Bu, aku pergi"
"Mia, apa kamu yakin mau hidup seperti ini?"
"Bu"
Ibunya melepaskan tangan Mia dan memiliki kesedihan di wajahnya. Membuat Mia merasa sangat bersalah.
"Selamat pagi, ibu mertua" sapa Benjamin menjijikkan.
"Pagi' jawab ibu ketus.
"Aku akan bersikap baik pada ibu mertua mulai sekarang. Dan juga, kami akan segera memiliki anak agar membuat para orang tua senang" kata Benjamin benar-benar mengejutkan Mia. Tentu saja tubuhnya merinding mendengarnya.
"Hahaha" Ibu juga tertawa karena tidak mempercayai apa yang didengarnya.
"Aku tidak tahu apa rencanamu kali ini Benjamin, tapi aku akan mengorbankan semuanya dan membawa putriku pulang kalau kau menyakitinya" ancam ibu Mia lalu membalikkan badannya. Seperti tidak ingin lagi melihat mereka berdua. Terpaksa Mia keluar dari rumah dan mengikuti Benjamin ke mobilnya.
"Tinggalkan saja mobilmu, aku sudah menyiapkan mobil baru" kata suaminya, Mia dengan cepat menolak dan mengatakan akan tetap memakai mobil hasil kerja kerasnya sendiri. Tidak ada alasan untuknya memakai fasilitas pemberian Benjamin, karena kemungkinan mereka akan benar-benar bercerai tidak lama lagi. Begitulah pikir Mia saat ini. Suaminya ternyata tidak memaksa dan memperbolehkan Mia melakukan keinginannya. Dan itu aneh bagi Mia. Tapi, apa Benjamin yang sebenarnya memang memiliki sifat seperti ini.
"Aku juga ingin langsung bekerja, karena hari ini da pekerjaan pagi. Bisakah aku membawa barang-barangku nanti saja?"
Saat Mia merasa kalau Benjamin akan memperbolehkannya lagi, dia salah.
"Apa aku tampak begitu mudah dipermainkan untukmu?" tanya Benjamin lalu mendekat ke arah Mia.
'Dipermainkan? Memangnya kapan aku mempermainkannya?' pikir Mia.
Karena tidak ingin ada masalah lebih lanjut di depan rumah ibunya, Mia berusaha melepaskan diri kali ini.
"Tidak. Aku benar-benar ada pekerjaan yang sudah lama kutangani. Aku tidak mungkin meninggalkannya"
"Apa kau akan bekerja bersama laki-laki yang kulihat di pantai waktu itu?"
Mia berpikir sebentar dan yakin kalau yang dibicarakan suaminya adalah Kay.
"Iya, pegawaiku hanya dia dan Mari"
"Kenapa bukan pegawaimu yang perempuan yang pergi denganmu?"
Mia merasa Benjamin menanyakan sesuatu yang tidak penting. Apa maksudnya dengan bertanya seperti ini? Dan dia juga tidak mengenal Mari dan pekerjaanku.
"Karena ini adalah klien Kay" jawab Mia jujur, tanpa bnyak berpikir lagi.
Terdapat kerutan yang muncul di dahi Benjamin lalu menghilang dengan cepat.
"Aku akan menunggumu di apartemen malam ini. Pulanglah sebelum matahari tenggelam" Benjamin akhirnya meninggalkannya sendiri dan Mia segera berangkat bekerja setelah memastikan ibunya baik-baik saja.
Olivia marah-marah sejak kemarin karena tidak bisa menghubungi kekasihnya sampai sekarang. Dia juga berusaha datang ke perusahaan tapi ditolak saat masuk ke dalam oleh keamanan. Tidak ada rumah, mobil, apartemen yang ditarik oleh keluarga Clay. Bukankah itu berarti Benjamin masih tetap menjadi kekasihnya? Tapi kenapa Benjamin sama sekali tidak dapat dihubungi dari semalam?
"Kenapa? Kenapa dari semalam kamu marah-marah putriku?" tanya ibunya yang masuk ke dalam kamar.
"Benjamin tidak menghubungiku dari semalam"
"Kenapa kamu marah? Pasti ada masalah di perusahaan gara-gara kamu yang bilang pada orang tuanya kalian akan berpisah"
Olivia hanya bisa duduk di atas ranjang dan diam. Sama sekali tidak bisa memikirkan alasan kekasihnya tidak menghubungi.
"Aku akan pergi ke apartemennya" Olivia segera melompat dari ranjangnya dan berganti pakaian. Dia memoles wajahnya secantik mungkin lalu berangkat.
"Sampaikan salam mama pada Ben. Katakan padanya kalau mama ingin berjalan-jalan ke Paris bulan depan"
Olivia tidak menjawab ibunya, dan membawa mobil mewahnya pergi ke apartemen Benjamin. Dia melihat mobil kekasihnya masih ada di basement. Segera dia berlari ke lift dan pergi ke apartemen Benjamin. Tapi, dia tidak bisa membuka pintu, sepertinya kode kuncinya berubah.
"Benjamin, buka pintunya!" teriak Olivia di depan pintu apartemen. Tidak ada seseorang yang membuka pintu secepatnya membuat Olivia semakin kesal. Dia semakin keras memukul pintu dan berteriak-teriak membuat suasana lorong depan apartemen mewah itu sangat berisik.
Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok Benjamin berdiri di depan Olivia tanpa merasa bersalah.
"Apa-apaan ini? Kau mengganti kode pintunya? Dan kemana kau semalaman?" Olivia ingin masuk ke dalam apartemen tapi Benjamin tidak mengjinkannya.
"Jangan pernah kemari lagi. Aku sudah mengatakannya kalau hubungan kita telah berakhir"
Olivia tertawa mendengar penjelasan kekasihnya yang tidak masuk akal. Laki-laki yang sudah mencintainya selama lebih dai tujuh belas tahun tidak akan mungkin berubah hati dalam semalam.
"Kau bercanda Sayang. Hubungan kita tidak akan pernah berakhir karena kau mencintaiku seumur hidupmu" Lagi-lagi Olivia berteriak seakan tidak ingin mendengar kata-kata Benjamin.
Dia menghadapi laki-laki yang tampak lain dari yang biasanya. Benjamin tidak lagi memiliki mata yang bersinar saat bertemu dengannya. Sikap dingin dan kata-kata kalau hubungan mereka telah berakhir tidak akan mungkin bisa diterima oleh Olivia. Karena ... karena dia telah menggantungkan hidupnya selama ini di tangan laki-laki ini. Dia dan semua keluarganya.
"Olivia, kita akan bicara nanti, aku harus pergi ke perusahaan" kata Benjamin lalu masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu di depan Olivia.
Rasa takut tiba-tiba merasuki dirinya. Apa Benjamin akan menghentikan semua uang yang mengalir ke sakunya? Apa ini artinya dia bersama keluarganya tidak akan merasakan kemewahan hidup lagi? Apa akhirnya Olivia harus bekerja di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tiga tahun ini?
Tidak ... tidak ... Tidak.
Semua ini hanya mimpi
Benjamin tidak akan pernah meninggalkannya karena laki-laki itu selalu mencintainya.
Dia tidak akan kehilangan uang sakunya yang melimpah hanya karena kesalahan kecil yang dibuatnya lusa kemarin.
"Benjamin Sayang. Aku minta maaf. Aku minta maaf. Bisakah kita membicarakan hal ini lagi?"
Kali ini Benjamin keluar dengan setelan jas coklat dan terlihat sangat tampan. Sepertinya, ada yang berubah dari dalam diri laki-laki yang selalu mengejarnya itu, tapi Olivia tidak tahu apa.
"Kita akan bicara nanti" kata Benjamin lalu meninggalkannya sendiri dengan cepat. Tentu saja Olivia mengejarnya ke lift dan melompat ke badan kekasihnya. Sebuah ciuman di bibir laki-laki itu, diberikan Olivia dengan harapan membuat mimpi buruknya berakhir.
Dia tidak mengira kalau Benjamin dengan segera mendorongnya menjauh dan menatap Olivia dengan kejam.
"Lebih baik kau tidak pernah mencariku lagi. Hubungan kita telah berakhir dan aku beserta keluargaku telah sepakat memberikan apa yang ada di tanganmu kepadamu. Jangan buat aku menjadi kejam dan meninggalkanmu tanpa uang sepeserpun"
Olivia gemetar mendengar ancaman Bejamin dan terjatuh dalam posisi duduk. Ketika laki-laki yang selalu berada disisinya itu keluar dari lift, Olivia masih ada di posisi yang sama. Dia tidak mengerti. Kenapa Benjamin tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.
Olivia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Alasan dia menolak lamaran Bejamin hanyalah karena dirinya tidak ingin terikat dengan sebuah pernikahan yang menurutnya membuang waktu. Toh, dia sudah seperti istri Benjamin selama ini. Meskipun Benjamin tidak pernah mengatakannya di depan umun, semua orang tahu kalau Olivia adalah istri Benjamin, bukan perempuan kecil yang ada di rumahnya.
Perlahan, air mata jatuh di pipinya, entah karena menyesal atau merasa sangat takut untuk hidup tanpa adanya Benjamin di sekitarnya.
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla